Oleh: edratna | Desember 3, 2010

Secangkir teh panas manis …..

Awal kehamilan, sebagian besar para ibu merasakan mual di pagi hari. Saya lupa buku yang saya baca, disitu dianjurkan agar para suami ikut berperan membantu isteri, dengan membuatkan secangkir teh panas manis di pagi hari dan sepotong biskuit, untuk meredakan rasa mual ini. Saat hamil muda terkadang rasa mual ini sangat mengganggu, dan kita sulit mamasukkan makanan, bahkan bau nasipun bisa membuat mual. Namun jika perut kosong, rasa mual makin bertambah.

Nahh ini cerita tentang seorang ibu muda, yang sedang hamil. Apakah para bapak tak membutuhkan secangkir teh panas manis?  Saya  teringat cerita seorang teman, dia berkenalan dengan isterinya sejak masih mahasiswa. Dengan semakin lamanya umur perkawinan, hubungan menjadi seperti sahabat. Saya ingat, kedua suami isteri ini mempunyai temperamen yang berbeda, isterinya ramah dan periang, sedang suaminya tenang dan dewasa. Perpaduan menarik, yang pasti menyenangkan untuk disatukan. Namun dalam perjalanannya, kedua suami isteri makin sibuk, kadang isteri pulang dari kantor dalam keadaan lelah. Yang menjadi masalah, kita sering tak menyadari, masalah yang melelahkan di kantor di bawa ke rumah, dan di rumah yang seharusnya bersantai malah menjadi ajang adu debat. Hal ini menyenangkan jika kedua suami isteri pada posisi tidak stres, sehingga adu debat tadi hanya merupakan ajang diskusi dan pengetahuan, serta menambah wawasan. Yang berbahaya, jika adu debat dalam kondisi stres, maka salah satu atau bahkan keduanya melupakan bahwa keduanya adalah pasangan yang saling mencintai, namun menjadi berdebat sungguhan. Jika salah satu segera menyadari, maka hal itu tak berlarut-larut.

Saya pernah ketemu teman dalam suatu perjalanan, dia terlihat sedang tertekan. Setelah mengobrol kesana-kemari, dia cerita masalahnya….rupanya dia capai, karena setiap hari isterinya mengajak berdebat dalam hal apa saja, sepulangnya dari kantor. “Salahkah jika saya hanya ingin dia tersenyum manis saat pulang kantor? Saya tak minta banyak-banyak, kami punya pembantu, tak bisakah isteriku rehat sejenak menemani minum secangkir teh manis panas, sambil mengobrol santai seperti saat masih pacaran?”, kata si suami. Saya terdiam, betapa sepele sebetulnya permintaannya, dan saya juga merasa tertohok, kapan terakhir saya bersama suami duduk bersama, mengobrol santai, seperti saat masih muda dulu? Kita sering lupa, jika rumah tangga telah berjalan lama, dianggap masing-masing pasangan telah memahami karakter masing-masing. Padahal, keinginan seseorang untuk diperhatikan tetap ada, hal ini yang kadang menjadi berbahaya, jika  akhirnya yang memperhatikan pihak ketiga.

Secangkir teh panas manis….

Sederhana, namun bisa membuat hati menjadi tenteram. Tidak sulit, namun kenapa kita seperti dikejar waktu? Tak bisakah istirahat sejenak? “Ahh, itu kan budaya Belanda yang dibawa ke sini mbak,” kata teman sekamarku saat masih lajang. “Dan itu budaya Jawa, kalau sore duduk-duduk di teras rumah minum secangkir teh manis panas (bisa diganti secangkir kopi) sambil makan nyamikan, coba lihat, di budaya etnis lain tak ada,” kata temanku yang memang bukan orang Jawa. Saya kaget, merenung, benarkah?  Saat itu, ibu kost kami beserta suaminya orang Jawa. Sebagaimana orang Jawa, terutama yang lahir tahun 30 an, sangat santun terhadap suami. Jika pulang kantor, tak lupa bude selalu menyediakan nyamikan (makanan kecil) sebagai teman minum teh. Namun jika  saya ingat-ingat, tante tempat kost saat saya kuliah di Bogor, asli Cianjur dan suaminya asli Jatibarang (Cirebon), setiap sore juga menyediakan teh panas manis dan makanan kecil untuk anak-anak kost. Jadi makan malamnya baru sekitar jam 8 malam, karena sore masih agak kenyang setelah makan nyamikan tadi. Minum teh ini menjadi  ajang obrolan yang seru antara anak kost dan pemilik rumah,  walau kadang membuatku sungkan,  jika om menanyakan bagaimana hasil quiz tadi pagi. Ya, om yang dosen di IPB, selalu memperhatikan kemajuan anak-anak kost nya. Bahkan om ini merekomendasikan tempat makanan enak dan murah, jika kami mau pergi kencan, beliau cerita suka makan bakso sepulang kencan  nonton film saat muda dulu.

Secangkir teh panas manis, selalu berarti buatku, terutama jika tekanan darah drop. Suatu hari saya mendatangi dokter kantor, keluhan saya tak pernah berubah yaitu sering pusing. Dokter pun bertanya, “Suka malas makan ya?” Saya mengangguk, bagaimana mau makan, kalau pusing sedang menyerang, inginnya hanya merem. Dokter memberikan resep,  bagi orang yang punya tekanan darah rendah seperti saya, untuk meningkatkan tekanan darah bisa minum teh panas manis atau kopi, kemudian usahakan makan makanan walau sedikit-sedikit. Sejak itu, saya suka sedia teh, yang mudah diseduh, ternyata resep ini manjur untuk meredakan pusing.

Saat ini adik bungsuku sedang dalam kondisi menjaga kesehatannya, setelah ditemukan bahwa jantungnya bermasalah. Sebelum diadakan tindakan lanjutan, harus diperiksa gigi, THT dan kesehatan lainnya. Saat ke dokter gigi, adikku nyaris pingsan, untungnya ada yang mendampingi, yang segera lari keluar untuk mencari secangkir teh panas manis dan roti. Sekarang, setiap kali ada kegiatan, tak lupa yang mendampingi harus mengingatkan untuk membawa termos berisi teh manis, biskuit, juga makanan lainnya.

Jadi,  jangan lupa minum secangkir teh panas manis …. terutama bersama orang-orang yang kita sayangi

 

Iklan

Responses

  1. walopun terlihat sederhana..
    ternyata secangkir teh hangat bia mendekatkan hubungan dengan orang2 yang kita sayangi yaa…

    walopun sederhana.. bisa jadi bernilai dan berarti besar 🙂

    Betul Anna..sederhana…namun saat itu merupakan saat menyenangkan karena bisa mengobrol apa saja dalam kondisi santai

  2. Di bulan puasa juga dianjurkan minum secangkir the manis panas 🙂
    Tulisan Bu Enny menohok 😦
    Dulu, saya juga jarang sekedar minum the bersama suami, alasannya sibuk kerja dan sibuk ngurus anak 😀
    Sekarang nggak kerja, walau sering ngobrol, tetap jarang punya waktu berduaan.

    Hehehe…saya nggak bermaksud menohok lho.
    Kadang suami kan ingin juga berduaan sama isteri….agak sulit memang jika lagi punya anak kecil.
    Tapi usahakan sesekali ada waktu untuk berdua dengan suami..jika tak bisa di rumah, bagaimana jika sesekali ngeteh bareng atau ngopi di cafe, sambil mengobrol santai?
    Sssst…ini sering saya lakukan lho…

  3. Seperti dalam iklan, secangkir teh kepada pasangan memang bisa menjadi pembuka awal pembicaraan. Melepas penat setelah bekerja seharian.

    Setiap sore/malam saya sering dihidangkan secangkir kopi oleh istri, namun ketika pagi terkadang sayalah yang menyiapkan sarapan karena istri berangkat ke kantor lebih pagi, sedangkan saya masih sempat untuk mengantarkan anak ke sekolah. Saling berbagi memang indah.

    Wahh indahnya kebiasaan di rumah kang Indra…pasti menyenangkan menyiapkan sarapan buat orang tercinta.

  4. Iya ya Bu.. padahal yang penting kan perhatiannya, dan mau mendengarkannya tiu.. bukan tehnya.. dan kalo kerjaan dibawa pulang memang repot, tapi gimana lagi kalo udah sama-sama sibuk.. aduhh.. semoga bisa melewati masa-masa seperti itu kelak

    Betul Clara….
    Jika sama-sama sibuk, tak harus setiap hari kan ngetehnya..bisa sekali seminggu, bisa sekalian bersantai di luar.
    Di rumah, kami punya ruang kerja, yang jika salah satu sibuk di ruang kerja nya, yang lain tak mengganggu…jadi suami isteri tetap dapat menenggelamkan diri pada pekerjaan lembur di rumah, namun tetap punya waktu paling tidak sekali sehari makan bersama…saya dulu pas sarapan, bisa bareng anak dan suami. Kadang suami hanya menemani, karena berangkat agak siang. Risikonya, sarapan pagi dihidangkan jam 5.30 wib pagi…..

  5. secangkir teh panas manis cocok buat yg lagi sakit tak merasakan enaknya makanan yg masuk mulut…
    Pokoknya enak banget kalo pagi hari baca koran sambil menikmati panas dan manisnya teh 😀 hehe

    Hahaha betul Arul…baca koran sambil menunggu jemputan berangkat ke kantor…

  6. small thing but counts ya bu… 🙂

    tapi kalo saya tiap hari minum teh, bisa2 malemnya gak bisa tidur. hehehe.

    Mungkin bisa diganti hal lain..yang penting ada waktu untuk kegiatan keluarga bersama…
    Dan kadang memerlukan waktu berduaan saja kan?

  7. Simpel tapi bermakna ya Bu…
    Suami saya bukan orang yang rewel minta diladenin ini itu.. kami juga sama-sama bukan penggemar makanan/minuman yang terlalu manis. Jadi ritual nge-teh hampir nggak ada dalam rumah kami. jarang kami nge-teh bersama..
    Kebetulan tadi pagi suami saya mengeluh pusing… jadi saya bikinin teh manis panas. Saya akhirnya bikin teh hangat juga…

    siangnya baca tulisan Bu Enny ini… pas banget,,,
    utk selanjutnya bisa dijadikan kebiasaan bagus nih nge-teh begini..

    Ngeteh bareng ini kan sebenarnya perlu dibuat waktu, dimana suami isteri bisa duduk dan mengobrol santai…
    Dan bisa diskusi apa saja…malah kadang salah satu baca koran, satunya bawa jahitan…hehehe (ini alm ayah ibu)

  8. Kami nggak punya kebiasaan ngeteh bareng, krn doi nggak suka teh he..he.., sebaliknya aku adlh tea addict, tanpa teh rasanya ada yg kurang. Jadi kl duduk santai di teras berdua satu ngeteh satu ngupi sambil makan ruti he..he..

    Hehehe…tak harus ngeteh kan mbak? Yang penting santai bareng itu kan..
    Yang satu bisa minum teh, yang satu minum kopi…atau minum jus buah….

  9. sederhana tapi sangat bermakna..minum secangkir teh hangat bersama orang tercinta, bisa membuat suasana jadi hangat dan santai.
    Ohya bu, saya mau bertanya. apakah diperbolehkan bagi wanita hamil untuk meminum teh?karena saya pernah baca salah satu artikel di internet bahwa minum teh adalah pantangan bagi ibu hamil..
    tapi kurang tau kebenarannya

    Artikel kesehatan biasanya dibuat berdasar penelitian…
    Pernah ada artikel, kalau teh mengurangi penyerapan zat besi…jalan keluarnya, minum teh jangan barengan dengan minum vitamin.
    Terus ada artikel lagi, minum teh dalam jangka panjang mengurangi risiko kanker buat wanita…
    Namanya juga penelitian, akan terus ada…
    Tapi, yang jelas, saya tak dilarang dokter minum teh saat hamil…..kalau kopi memang tak dianjurkan, apalagi untuk yang tekanan darah tinggi.
    Jika ragu, bisa ditanyakan pada dokter kandungan, karena beliau yang terus mengikuti kemajuan ilmu kedokteran tentang kehamilan dan berkaitan dengan masalah kandungan lainnya

  10. dirumah setiap ore atau malam biasa ngeteh hangat hangat
    salam hangat dari blue

  11. ada kok…opungboru dulu selalu menyediakan teh pahit buat opung kalok dia abis pulang dari kebon sawit, begitu pula ketika saya pulang ke cangkringan, saya juga liyat mbah ti selalu mbikin kupi pahit –yang kadang saya colong– buat mBah Kung yang abis pulang dari sawah

    Iya, menyediakan minuman merupakan bentuk perhatian…

  12. bukan teh panasnya,tapi kebersamaannya,bukan begitu kan bu enny?? 😛

    Yup…Didot, engkau dapat point nya…

  13. Kalau di rumah saya memang sejak dulu kala ada kebiasaan minum teh bersama, lengkap dengan camilan pisang goreng atau biskuit.
    Kalau dulu sambil mendengarkan sandiwara radio Satria Madangkara, kini sambil nonton tv 😀

    Satria Madangkara? Ini memang seru ya Akin…apalagi sambil ngopi….atau minum teh dan camilan

  14. wah itu kebiasaan kami dulu bu, setiap ngontrak rumah sampai punya rumah sendiri selalu punya beranda depan yg kami pergunakan untuk minum kopi sambil ngobrol. semenjak di perantauan, rumah dak punya balcony atau beranda, minum kopi bahkan soft drink saja selalu terganggu oleh si kecil…heee…

    Justru gangguan si kecil ini yang menyenangkan, dia belajar melihat interaksi orangtuanya, yang nanti akan terekam pada benaknya

  15. sederhana sekali, bu, resepnya. walaupun hampir jarang sekali bareng suami minum secangkir teh manis, karena kita memang todak terlalu suka minum teh. yang ada lumayan agak sering makan sepiring berdua 🙂 lumayanlah untuk pengganti saat-saat berdua di tengah-tengah kesibukan.

    Resep yang sederhana kan Fety…namun jika telah sibuk, hal kecil dan sederhana seperti ini sering dilupakan.
    Padahal jika sibuk, bisa juga kan janji ketemu di Cafe…..wahh saya juga mau kok ditraktir suami di cafe….

  16. Wah, saya jarang mimum teh manis panas. Sukanya air putih saja bu

    Wahh minum putih lebih sehat Ifan….
    Intinya bukan pada minumnya, tapi waktu kebersamaannya….

  17. sehangat kebersamaan… 😀

    Yup…justru disitu intinya…kebersamaan

  18. untuk kami yang masih punya balita, sulit rasanya untuk bisa “ngeteh” dalam suasana santai. Yang ada malah saya menemani suami makan malam, krn dia pulang jam 10 malam, sesudah anak-anak tidur. Di saat itu baru bisa “santai” sedikit, kalau sayanya tidak ngantuk.
    Kami berdua peminum kopi dan sangat merindukan bisa pergi berdua ke kedai kopi yang dilayani barista. Menikmati kopi pilihan dalam cangkir keramik mahal….

    EM

    Susah ya EM untuk menikmati santai berdua dengan suami….tapi masa anak-anak kecil cepat beralu lho….jadi sekarang dinikmati dulu

  19. Hwaa … teh panas manis ini minuman favorit saya Mbak. Pagi, bangun tidur langsung minum teh panas manis. Mata yang masih ngantuk jadi mak byaar … 😀
    Sekarang pagi hari kadang minum kopisusu instan dulu, baru ngeteh. Tapi teh selalu ada di meja. pagi dan sore (malam juga ding … lho, berarti sepanjang hari 🙂 ).

    Minum teh bersama suami, kadang-kadang masih sempat juga. Biasanya malam hari sambil nonton teve, meskipun cuma sebentar, sekitar setengah jam. Habis itu kembali sibuk di depan komputer masing-masing 😀

    Betul mbak…pagi-pagi di meja makan sudah ada teh manis dan susu….
    Kalau belum minum teh, rasanya belum hidup ya….hehehe

  20. Sejak pindah kemari saya ndak terlalu suka teh lagi… Bukannya bosan dengan teh tapi lebih karena semua teh di sini itu adanya teh instan dan saya rindu teh tubruk 🙂

    Tiap hari saya minum kopi minim dua kali hehehe

    Dulu saya juga suka kopi kok..tapi sejak punya penyakit maag, jadi berhenti minum kopi dan hanya sesekali…
    Tak adakah teh tubruk? Pasti teman di Bne saat anakku pulang kampung, minta dikirimi teh tubruk “TongTji”
    Rasa teh tubruk memang lebih enak…sedaaap

  21. selama hamil saya malah dicekokin susu hamil. Bumilnya nolak … suaminya keukeuh nyuruh minum, hehe..tapi skrg berlanjut ke arah minum teh, pagi2, bareng, sambil nonton spongebob..

    Wahh suami yang perhatian..
    Saya dulu, teh manis iya, susu iya…hehehe

  22. terimakasih atas sharingnya bu.insyaallah bermanfaat..dokternya cm bilang suruh makan banyak2 yang bergizi..gt aja..hehe

    Sama-sama

  23. […] Bu edratna yang sering berkunjung ke blogku. Akupun berusaha untuk menjadi teman maya yang baik, balik […]

  24. kelihatannya sangat sederhana ya Bu, hanya secangkir teh panas diminum bersama orang terkasih.
    namun, ternyata efeknya luar biasa, bisa menautkan kembali hubungan yg mulai terasa datar2 saja krn telah lama bersama2.
    mungkin bukan hanya tehnya , tapi suasananya yg hrs juga ikut dinimati ya Bu 🙂
    salam

    Betul Bunda..
    Minum teh hanya sarana…
    Yang penting berikan waktu berdua untuk kebersamaan….
    Agar bisa saling memahami dan mengagumi…
    Dan juga bisa merasakan kenikmatan perjalanan kehidupan kita..

  25. Saya termasuk orang yang tidak suka secangkir teh. Kalau dibuatin secangkir teh, pasti saya tidak terima. Sebab secangkir terlalu sedikit untuk diminum. Kalau yang buatin orang dekat, saya minta pakai gelas jumbo. Ya gelas yang agak gede paling ga. Begitu juga dengan kopi. Dan meski gelasnya gede, bisa dijamin kalau dalam forum minum-minum bareng pasti saya yang lebih duluan habis dibanding teman ngobrol yang hanya pakai cangkir. Pernah dan sering seorang teman protes: “Kamu tu minumnya gimana se! Minum kopi/teh koq kayak minum air putih dingin. Langsung diglegek semuanya. Sedikit-sedikit dum caranya!”. Hehehe. Ya kan haus.

    Berarti kalau segelas besar, memang lagi haus.
    Intinya bukan secangkir teh nya, tapi waktu untuk kebersamaan bagi orang-orang yang dekat dihati.

  26. kalo nikah nanti, saya juga ingin punya momen rutin bersama suami u/ sebuah kebersamaan

    Semoga berhasil ya

  27. […] link, kompi bermasalah, jadi dari hape saja updatenya). Beberapa waktu lalu bu Enny menulis tentang kebiasaan minum teh. Waktu mengomentari artikel beliau, aku belum ingat ada lagi kebiasaan minum teh di […]

  28. nice post bu, akan saya coba menemani suami sepulang kerja sambil minum teh 😀

    Makasih Vivink…semoga bermanfaat
    Bukan minum tehnya, tapi waktu untuk bisa mengobrol berdua…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: