Pasang surut sebuah usaha

Rumah saya  di daerah Jakarta Selatan, dikelilingi daerah pertokoan dan berbagai bidang usaha, dari angkringan, warung tegal, sampai Mal. Setiap keluar dari jalan, di ujung jalan mulai ada jajaran usaha, dari martabak,  steak, belakangan ada ikan bakar dan berbagai restoran lain.  Selain jalan Fatmawati yang makin sesak dari ujung ke ujung, padahal saat awal pindah ke sini, di jalan Fatmawati masih banyak rumah tinggal dengan halaman hijau yang luas, sekarang semua nyaris berganti dengan toko atau Mal. Mungkin pemiliknya sudah tak nyaman untuk tinggal di situ, dan bergeser ke arah perumahan lainnya. Jalan Cipete Raya, dulu berupa daerah perumahan dengan rata-rata halaman luas yang rindang,  bahkan si sulung  saat SMP masih bisa dengan teman-teman nya tiduran di jalan ini karena sepi sekali. Angkot yang melewati jalan ini hanya 30 menit sekali. Namun entah sejak kapan, jalan Cipete Raya saat ini dipenuhi bisnis restoran dan beberapa salon kecantikan, sesuai Hoki kah? Di ujung jalan Cipete Raya, dulu ada dokter yang praktek dekat apotik, dokternya ramah sekali dan merupakan langganan kami, saat anak saya sakit dan susah diajak ke dokter, beliau bersedia datang ke rumah dinasku yang kompleknya dekat jalan Cipete Raya. Rupanya apotik ini sekarang bersaing dengan  dua apotik lagi yang berada di jalan yang sama.

Sesuai dengan roda kehidupan, perkembangan bisnis di sepanjang Fatmawati dan Cipete Raya ini juga naik turun. Ada beberapa usaha yang saya amati makin membesar, seperti usaha “salon It” dan “AB….steak”. AB steak ini diawali mengontrak rumah sederhana, sampai punya restoran besar bertingkat dengan lahan parkir yang luas. Bahkan restoran steak yang ada di dekat nya, yang menurut saya rasanya juga enak, tak bertahan lama.  Supermarket yang terlerak di ujung jalan Cipete Raya,  juga mengalami pasang surut dengan berganti kepemilikan. Supermarket ini sangat menolong di saat pembantu pulang kampung, karena tetap buka di hari libur, bahkan di hari Idul Fitri. Saat krisis ekonomi melanda Indonesia, bisnis  supermarket tersebut  surut, kemudian berganti menjadi DB. Namanya juga Mal dekat rumah, jadi merupakan tempat saya belanja bulanan, walau ada juga Mal lain yang letaknya agak jauh sedikit. Belakangan saya lebih suka ke DB, karena ada Gramedia yang cukup besar, hampir sepertiga lantai. Bagi saya, pergi ke sebuah Mal tak akan menarik kalau tak ada toko buku yang cukup besar, karena disini kita bisa bersantai, memilih-milih buku, dan satu dua buku pasti di beli…. Justru karena itulah saya termasuk jarang ke Citos, walau Mal ini sangat terkenal di Jakarta Selatan, kecuali memang janjian makan dengan teman. Maklum di Citos toko bukunya kurang menarik, hanya deretan restoran yang banyak dan gedung bioskop. Saya sering ke Citos saat si sulung masih di Jakarta, karena anakku yang satu ini memang suka menonton film dan Citos dapat dicapai hanya sekitar 5-10 menit jalan kaki dari rumah.

Sekarang, setelah ada Pejaten Village (PV), saya beberapa kali diajak makan oleh teman kesana. PV saat ini telah ramai, saya lihat konsepnya juga berbeda, jika dulu ada beberapa counter untuk makanan murah meriah, sekarang telah digantikan oleh makanan menengah ke atas, seperti restoran  Jepang, yang saat saya janji temu dengan Yoga mengobrol di restoran ini. Biasa, janji temu selalu diawali dengan ketemu di Gramedia, karena kita akan tak terasa jika menikmati buku, membuka lembaran nya dengan penuh antusias, sambil duduk di kursi. Dan paling senang jika bukunya telah ada yang dibuka, karena bisa mengintip akhir cerita, apakah ceritanya lucu, menyenangkan dan happy end?

Seperti pagi tadi, selesai berurusan dengan Bank, membayar tagihan kartu kredit dan lain-lain, saya mengunjungi Gramed di Mal dekat rumah. Gramed terlihat sepi, mungkin karena hari kerja, hanya terlihat beberapa ibu rumah tangga, serta ibu yang telah berumur membaca buku. Pandangan yang makin sering saya lihat di beberapa toko buku, jika saya berkunjung pas hari kerja, makin banyak ibu-ibu sepantaran usia saya, menikmati duduk-duduk sambil membaca buku di toko buku, kadang sambil mengajak cucunya. Saya mencari Keppres 80/2003 dan Perpres 54/2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, karena rasanya tak puas jika hanya membaca melalui internet. Setelah membolak balik buku, akhirnya saya membeli buku tersebut, kemudian mencari novel untuk obat tidur. Maklum saya biasa menyediakan novel ringan, yang menyenangkan, dan happy end, sebagai pengantar tidur. Akibatnya satu buku sering dibaca berulang-ulang, karena sudah tertidur sebelum buku selesai, dan lupa dimana halaman terakhir yang telah dibaca. Ada lagi sifat saya yang bagi suami dan saudaraku termasuk aneh, kalau membaca buku novel, saya tidak membaca berurutan, tapi dari awal, siapa pengarangnya, kemudian ditengah untuk melihat apakah menarik, dan akhir..untuk melihat apakah happy end. Jika sudah punya gambaran, barulah saya menikmati membaca dengan tenang, menikmati untaian kalimat pada novel tersebut, membayangkan masa saat cerita tersebut terjadi.

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya tertarik membaca historical romance, membayangkan para bangsawan naik kereta kuda di jalan bersalju. Pada saat mau membayar, saya tanya sama kasir, kenapa Gramed di Mal ini tak ada diskon, karena saya tahu Gramed di GI sedang menggelar diskon sampai dengan tanggal 26 Des 10, cuma males kesana dan membayangkan ramai nya sehingga tak bisa menikmati memilih buku. Mbak nya menjawab, “Yang diskon stationery bu.” Saya tanya lagi, kenapa hanya stationery? Si mbak cerita bahwa Gramed bakalan pindah dari Mal itu, karena seluruh gedung akan dibeli oleh Lotte Mart. “Wahh, padahal saya suka ada Gramed disini“. Saya pernah berbincang dengan managernya, bahwa pelanggan di Gramed tsb rata-rata keluarga, akibatnya relatif lebih sepi pada saat hari kerja.  Mal itu dikelilingi ruko, menyebabkan parkir sulit. Ini mempengaruhi pengunjung, selain saat ini pengunjung akan menyenangi Mal yang one stop shopping, karena mudah mencari segala sesuatu, disamping tempat parkir yang luas. Jika saya pergi sama sopir, yang jadi pertimbangan adalah tempat parkir yang mudah, sedangkan jika pergi sendiri adalah taksi tersedia di Mal tersebut.

Paket: Nasi Bali dan segelas jeruk hangat, seharga Rp.23.000,-

Saat jam makan siang, saya mencoba makan di Depot Tegal, saya pesan paket berupa nasi Bali dan jeruk hangat. Kembali saya mengobrol sama pelayan, ternyata memang benar, bahwa gedung itu akan dibeli oleh Lotte Mart. Terus bagaimana dengan pegawainya? Si mbak menjawab, katanya akan dialihkan ke tempat usaha yang lain. Saya membayangkan, bagaimana jika usaha yang berada di mal tersebut tak punya cabang yang lain, tentu akan sulit mencari lokasi baru. Di satu sisi, saya juga melihat bahwa Mal tersebut memang makin sepi, walau saat ini sedang digelar diskon besar-besaran. Memang persaingan di bisnis retail makin ketat, apalagi semakin banyak didirikan Mal baru dalam radius yang tak terlalu jauh. Bagi konsumen semakin banyak pilihan, namun bagi pengusaha perlu strategi untuk memenangkan pelanggan agar tetap datang di mal tersebut. Di satu sisi, Mal harus berbenah, terus dilakukan renovasi agar menarik pelanggan. Dan bagi pengusaha yang menyewa di Mal tersebut, perlu menyesuaikan konsep usahanya apakah sesuai dengan konsep dalam Mal tersebut.

Saya mampir ke tukang fotokopi dalam perjalanan pulang ke rumah, di sela memfotokopi, bapak itu cerita bahwa usahanya akan di tutup dan pindah ke daerah Pamulang. “Lho! Kenapa pak?” Si bapak cerita, bahwa kontraknya mau habis dan tak bisa diperpanjang, lokasinya akan dipakai oleh pemilik rumah, karena usaha pemilik rumah yang tepat berada di jalan Fatmawati akan terkena pelebaran jalan 4 (empat) meter ke kiri dan ke kanan. Pelebaran jalan ini dimaksudkan untuk pembangunan monorel, yang gemanya telah saya dengar sejak bertahun lalu, antara Pondok Labu-Dukuh Atas. Kelihatannya, pembangunan ini memang hampir dimulai, saya juga berharap begitu, sehingga memudahkan para pekerja kantor yang menuju tengah kota untuk bekerja. Jika pembangunan ini segera berjalan, bersamaan dengan pembangunan jalan layang non Tol di Pangeran Antasari, saya bisa membayangkan bagaimana keruwetan jalan saat pembangunan kedua jalan tersebut, karena kedua jalan tersebut merupakan penghubung orang yang akan bepergian ke arah Depok, Pasar Minggu, Bogor maupun ke arah Bintaro karena adanya jalan Tol Cikunir-Simatupang-Bintaro.

Saya membayangkan, wajah usaha di daerah jalan yang dilewati monorel ini nantinya akan berubah. Para pelaku usaha, harus terus mencari peluang dan memperluas target pasarnya. Yang jelas warung Tegal akan tetap laku, apalagi jika sedang ada pembangunan jalan, karena harganya masih terjangkau oleh para pekerja pembangunan jalan. Bagaimanapun, para penjual di pasar,  dan usaha kecil seperti: warung Tegal, tukang sate, penjual bubur ayam, masih mempunyai peluang untuk mendapatkan keuntungan pada situasi ekonomi apapun, walaupun hanya sekedar bisa terus bergulir dengan margin yang tipis.

 

13 pemikiran pada “Pasang surut sebuah usaha

  1. berapa lama mal itu bisa bertahan ya bu? Di dekat rumah saya toko-toko kecil justru bertahan lama, mungkin karena pelanggan sepuh yang masih setia. Tapi kalau ke stasiun besar, wah tidak pergi sebulan saja sudah berubah banyak.

    Nasi Balinya pedas ngga bu?

    EM

    Mal memang pasang surut Imelda..dan harus memperhatikan segmen pasar mau diarahkan kemana, selalu menjaga kelangsungan pelanggan setia. Persaingan di Jakarta juga makin ketat.
    Jika hanya karena diskon, ini akan mudah disaingi dengan yang lain, walau di Indonesia, saya lihat kebanyakan orang datang ke Mal memanfaatkan diskon, bahkan ada yang bersedia datang tengah malam untuk belanja, mengejar diskon.
    Toko-toko kecil kadang bisa terus berjalan, bisnis restoran yang penting keramahan dan menjaga kualitas rasa makanan. Toko atau warung kecil disekeliling saya banyak yang bertahan, walau ya begitu-begitu saja, karena segmennya jelas, yaitu kaum pekerja tingkat bawah, yang memang tak banyak pilihan dan punya daya beli cukup.

  2. AB steak sih emang udah terlanjur beken jadi gak kena pasang surut kayak tempat2 lain ya bu.
    kayak Joni steak yang ada di pasar baru juga gitu tuh. dari yang tadinya cuma tenda di depan ruko, akhirnya rukonya dibeli dan sekarang jadi 2 lantai restonya plus udah ada cabang. padahal menurut saya rasa steak nya biasa aja. dan sebenernya banyak steak2 murah sekarang kan.. tapi ya itu, balik lagi entah faktor keberuntungan atau apa, ada yang jadi ngetop model kayak AB dan joni steak, tapi ada juga yang gak survive ya…

    bu, kalo beli buku ngintip dulu endingnya, jadi gak seru dong bu pas baca? karena kan jadi udah tau akhirannya gimana… hahaha.

    Arman,
    Memang AB steak terlanjur beken terutama untuk kaum muda….menurutku rasanya biasa aja, artinya sebanding dengan lainnya
    Soal buku..justru enaknya yang ngintip-intip itu…sambil deg-deg an

  3. Aku juga kaget setelah 10 tahun baru lewat cipete lagi, benar2 berubah. Steak AB itu menurutku justru lebih enak pas masih di warung kecil yang dulu itu.

    Mungkin karena bau asapnya ya mbak Monda? Hehehe

  4. itu pentingnya mempersiapkan kemungkinan2 ke depan, apakah perkembangan atau alternatif ketika usaha2 ini sedang stag2nya… atau malah menurun…

    ah sy jg masih membaca blum mengalami hal demikian, jadi blum bisa memberikan solusi terbaik…. 😉

    Menjadi wirausahawan memang tidak mudah, otak kita berputar 24 jam, selalu mencari celah untuk kreativitas, celah untuk pemasaran….dan tetap mempertahankan pelayanan pelanggan.
    Disamping itu harus diversifikasi risiko, agar jika gagal tak semuanya menjadi berantakan.

  5. Bu Enny, cerita ttg hal ini mengingatkan saya pada situasi di sekitar rumah saya di Madiun. Ibu tahu kan rumah saya di mana. Di situ sekarang ramai dan menurut apa yang saya lihat, sepertinya banyak rumah2 lama yg berganti wajah. Sebagian jadi tempat usaha. Harga tanah pun kata ayah saya jadi melambung. Tapi kok saya jadi agak “takut” ya. Takut kalau lingkungan di sekitar rumah saya nanti jadi sangat ramai dan tidak nyaman lagi, padahal tempat tinggal saya ini enak, ke mana-mana dekat….

    Terakhir kali ke Madiun, menjelang bulan puasa. Saya tak mengenal lagi kotaku, dimana-mana orang jualan…bahkan dikiri kanan rumah orangtua, tak ada lagi tanah kosong, semua sudah penuh bangunan.

  6. hidup di jakarta emang harus kreatif ya Bu…, Kreatif berfikir dan kreatif berusaha.

    Iya…justru itulah kreativitas harus didorong pada anak-anak sejak usia dini.

  7. usaha online sekarang lebih digemari Bun..karena nggak perlu tempat, hanya modem dan modal dagang omong 😛

    Bunda bahas modernnya kota besar pas banget pas Ndutz bis mbaca postingannya mas pepeng tentang damainya kehidupan pedesaan 😦

    Kehidupan pedesaan memang tenang menyenangkan….
    Masalahnya kita terbiasa tinggal dimana….kalau saya balik ke kampung, malah bingung karena semua teman sudah keluar kota….tak ada yang kenal

  8. wirausaha memang kadang tak seperti dengan apa yg diharapkan
    Tapi di situlah seninya
    Kita dihadapkan pada kemampuan mengoptimalkan potensi dan mempercantik sinergi 🙂

    Wirausaha penuh tantangan…jika ditekuni dan senang, maka kita akan melalui hari-hari yang selalu berbeda, justru disitu letak indahnya sebuah tantangan

  9. betul sekali..
    bahwa bisnis selalu naik dan turun.. menyesuaikan dengan trend pasar atau pun faktor2 lain seperti yang diceritakan bunda. kontrakan yang gak bisa diperpanjang lagi.

    kebetulan suami saya juga kerja di swasta di bidang IT.
    naik turun bukan hal yang aneh lagi.
    tapi bagaimana menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk agar konsumen tidak berpaling.

    Menjadi wirausaha memang dituntut lebih kreatif, selalu berpikir positif dan punya visi ke depan agar bisa selalu memenangkan persaingan merebut pelanggan.

  10. *masih bingung*
    kok engga ada yg mau buka di Ragunan? *LOL*

    Bagaimana kalau Aldi yang mulai buka usaha di sana?
    Biar udah ada katering, teman-teman Diklat lebih suka keluar…katanya bosan

  11. Zizima

    mengenai Pejaten Village, bener banget bu.. dulu teh mall ini sepii bangeet. Tapi sekarang udah engga karuan ramenya. Harga bioskopnya dari 25br sampe sekarang 50rb. Luar byasa 🙂

    Iya..saya juga jadi sering kesini…makanannya enak-enak, dan Gramed nya lengkap (ini yang penting)…hehehe

  12. Begitulah bu, untukbisa mempertahankan usaha apalagi untuk menjadi yang terbaik di antara usaha sejenis ya harus rajin puter otak, berinovasi demi memberikan yang terbaik bagi pelanggannya.

    dan dalam kondisi ekonomi yang sekarang ini, mampu bertahan aja sudah bagus, yang penting jangan sampai nyungsep aja hehehe

    Justru itu kan tantangannya menjadi wirausaha, otak kita berputar terus…ini yang memperkaya kita, memberikan dorongan untuk terus kreatif. Melelahkan, menantang, namun juga menyenangkan bagi orang-orang yang suka tantangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s