Unit Gawat Darurat, yang benar-benar gawat darurat

Pernahkah anda pergi ke UGD, mengantar saudara, teman, atau anda sendiri yang sedang sakit mendadak? Tentu tak ada siapapun yang ingin sakit, apalagi sampai diantar atau mengantar ke Unit Gawat Darurat. Pengalamanan pertama saya berhubungan dengan UGD adalah saat teman sekamar di asrama putri sakit usus buntu. Beberapa hari dia merasa perutnya sakit, setelah dibawa ke dokter diagnosa nya sakit lambung (maag). Tengah malam dia sudah nggak tahan, kesakitan…kami, penghuni asrama putri di Bogor rame-rame mengantar ke RS PMI Bogor dengan mencarter bemo. Bisa dibayangkan malam itu, para pengantar dan yang sakit rata-rata pakai daster (pakaian tidur), ada yang sempat pakai jaket, ada yang masih pake baju tidur menerawang (yang langsung dipinjami jaket oleh teman lain), ada yang masih pakai rol-rol an rambut. Tentu saja RS PMI Bogor langsung heboh diserbu para cewek.

Lanjutkan membaca “Unit Gawat Darurat, yang benar-benar gawat darurat”

Kesetiaan, Persahabatan, dan Kebersamaan

Sejak 10 hari terakhir ini saya makin akrab dengan suasana rumah sakit, yang telah menjadi seperti rumah kedua. Sejak adik bungsuku menjalani operasi Bentall Procedure di rumah sakit Harapan Kita pada tanggal 10 Februari 2011, agenda sehari-hari adalah menunggu di depan ruang ICU.  Pengalaman selama menunggu ini benar-benar menguras emosi dan energi, di sisi lain merupakan pengalaman spiritual tak terhingga besarnya, betapa kita ini tak ada artinya di hadapan Yang Maha Kuasa. Batas hidup dan mati sangatlah tipis, para keluarga pasien saling menguatkan, jika ada di antara keluarga yang keluarganya tak tertolong lagi. Hal yang mungkin sudah jarang kita temui di jalanan, dimana para pengendara saling serobot ingin cepat,  para penumpang busway yang berdesak-desakan saat naik atau turun. Kita juga menjadi lebih dekat kepada Nya, karena hari-hari selama penantian, dilakukan dengan berdoa pada Nya. Mushola kecil di lantai tiga selalu penuh, apalagi jika jam-jam tengah malam, dan waktu sholat. Antri di tempat wudhu, di toilet merupakan pemandangan sehari-hari.

Lanjutkan membaca “Kesetiaan, Persahabatan, dan Kebersamaan”

Rasa terimakasih yang sebesar-besar nya

Sejak menulis di Blog saya merasakan betapa banyak kemudahan, kebersamaan, kebahagiaan bersama teman-teman nara blog. Semua adalah kebersamaan rasa suka. Demikian juga kegiatanku di dunia nyata, yang memungkinkan banyak bergaul secara luas dengan orang lain, membuat kehidupan ini menyenangkan.

Rasa itu makin teruji saat adikku harus operasi jantung di RS Harapan Kita. Uluran tangan tak ada putus-putusnya, serombongan orang datang silih berganti, siap menjadi pendonor darah. Yang darahnya tak sesuai,  menemani saya dan keluarga menunggu di ruang keluarga pasien di depan Recovery room. Tanpa mereka, hati saya akan makin ciut…. Semua datang tanpa diduga, berita pasien yang setiap kali “Up and Down” makin membuat hati miris dan makin mendekatkan hati kita pada Allah yang Maha Pencipta, serta menyadari bahwa batas antara hidup dan mati sangat tipis. Ya. Allah, selamatkan adikku….doa kami terus berulang-ulang.

Saat itu, kami diberitahu harus standby donor darah, sebelum operasi, juga jika terjadi perdarahan. Operasi berjalan lancar, kami menghela nafas lega…saya pulang sampai rumah jam 22.30 wib, karena besoknya giliran jaga pagi-pagi sekali. Baru saja duduk makan malam, telepon berdering-dering, mengabarkan adikku perdarahan. Padahal selama operasi, ada 12 orang yang standby diambil darahnya, namun karena operasi berjalan lancar, teman-teman sudah pulang. Saya sibuk mengontak teman-teman, baik dari almamaterku, almamater adikku, rekan kerja, juga para mahasiswa adikku. Disinilah keajaiban terjadi…apalagi setelah Yoga memposting di FB dan twitter, diperlukan darah segar golongan O+ …. saya  duduk dilantai depan ruang ICU yang ada colokan listriknya, menerima telpon sambil men charge baterei. Berpuluh orang datang silih berganti…..maaf ya mbak perawat, yang jadi ikut sibuk dibuatnya. Teman-teman ini setelah diambil darah pulang, yang belum diambil darah namun darahnya sesuai sebagai pendonor,  ikut berjaga sampai jam 3 pagi dini hari.

Jam 4.15 wib, kembali petugas memberitahu ada perdarahan. Anak adikku dan adik iparnya sebetulnya punya golongan darah yang sama dan setelah diperiksa sesuai, namun karena lelah, tak bisa diambil darahnya…..syukurlah Jakarta masih sepi, teman-teman pendonor naik ojek, ada yang dari Tanjung Priok, Cibinong, Bekasi, Pondok Labu…berdatangan ke RS Harapan Kita. Untuk sementara kami bernafas lega….

Syukurlah menjelang pagi sampai siang hari, walau saya dan isteri adikku tak berani meninggalkan tempat kecuali ke toilet dan sholat, kondisi adikku makin tenang. Beberapa kali memang dikejutkan tangisan keluarga lain, yang kondisi keluarganya memburuk. Akhirnya….adik saya sadar sepenuhnya…betapa bahagianya kami semua….

Teman-teman sekalian,

Beribu-ribu ucapan terimakasih pada teman-teman,

Baik dari teman nara blog (Pito cs), teman sealmamater (IPB), IPB Astagian, Bank Indonesia (bapak Mulia Siregar),  BRI (Boge, cs), BPPT, Kementerian Ristek, Fasilkom UI, Binus (Staf dosen dan mahasiswa Informatika dll), TNI AD, Balitbang Pertanian, serta teman lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Ada Yoga yang siap memberikan berita perkembangan kondisi adikku, ada mbak Cindy (isterinya mas Nug, yang saya kenal dari dunia maya) yang mendampingi adikku terus menerus saat operasi dan sesudahnya, karena kebetulan mbak Cindy bertugas sebagai dokter di RS Harapan Kita, ada kelompok Astagian (teman angkatan adikku: Bu Gayatri, Anna, Eva, Aska) yang setia menemani di ruang tunggu depan ICU….dukungan teman-teman ini sangat membantu memperkuat mental kami sekeluarga.

Atas perkenan Allah swt, adik saya sudah sadar sepenuhnya, semoga makin membaik keadaannya.

Terimakasih teman-teman…semoga Allah swt membalas budi teman-teman semua.

Mencoba berdamai dengan diri sendiri

Kapankah kita merasakan damai di hati? Sering, atau nyaris tidak pernah? Pertanyaan tentang perasaan damai ini seperti pertanyaan tentang bahagia. Apakah kita telah merasa bahagia? Banyak dari kita berpikir bahwa kedamaian, kebahagiaan baru akan tercapai jika keinginan dan standard hidup kita terpenuhi. Kenyataannya, keinginan manusia bergerak naik tanpa ada batasannya, jika yang satu terpenuhi, ada keinginan lain yang ingin dicapainya. Justru disinilah letak daya tariknya, keinginan yang terus meningkat menyebabkan manusia terus berusaha meningkatkan prestasi dan kinerjanya untuk mencapai keinginan tersebut. Di satu sisi, karena keinginan manusia tak ada batasnya, kita bisa menjadi stress, yang bisa pula berakibat apatis.

Lanjutkan membaca “Mencoba berdamai dengan diri sendiri”

Leverage

Apa yang ada di pikiran kita jika mendengar kata leverage? Untuk orang finance, leverage is a general term for any technique to multiply gains and losses (Wikipedia).  Atau, menurut kamus  Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily), leverage adalah pengungkitan, pengaruh. Dalam menganalisis rasio keuangan perusahaan, untuk menghitung leverage perusahaan, yang umum digunakan adalah menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), yaitu perbandingan antara total kewajiban dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan bagaimana modal sendiri menjamin seluruh utang perusahaan.

Lanjutkan membaca “Leverage”