Leverage

Apa yang ada di pikiran kita jika mendengar kata leverage? Untuk orang finance, leverage is a general term for any technique to multiply gains and losses (Wikipedia).  Atau, menurut kamus  Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily), leverage adalah pengungkitan, pengaruh. Dalam menganalisis rasio keuangan perusahaan, untuk menghitung leverage perusahaan, yang umum digunakan adalah menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), yaitu perbandingan antara total kewajiban dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan bagaimana modal sendiri menjamin seluruh utang perusahaan.

Pentingnya leverage dalam meningkatkan karir

Kita mengenal leverage yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat peningkatan karir seseorang. Saat test wawancara dalam rangka masuk sebuah BUMN, saya diberitahu psikolog, bahwa walau seseorang pintar dan berkinerja baik, tanpa adanya dukungan atasan, atau adanya link, maka ibaratnya hanya seperti orang yang berdiri di luar lingkaran, artinya tak pernah mendapat perhatian. Di satu sisi, link dengan atasan yang tidak tepat juga membahayakan, saat atasan tadi berjaya, karir bisa terangkat, namun saat atasan tersebut jatuh atau pindah ke perusahaan lain, maka orang-orang dalam link tersebut juga bisa berjatuhan. Bagi pribadi yang hendak diungkit, juga harus mempunyai kompetensi yang sesuai, bukan karena sekedar dekat dengan atasan, agar karirnya bisa awet, bukan ikut roboh setelah atasan yang mengungkitnya dipindahkan.

Dalam ilmu manajemen kepemimpinan, leverage dikenal sebagai sesuatu yang dapat membantu untuk mengungkit derajat seseorang. Oleh sebab itu tak heran, jika banyak kaum muda yang ingin bekerja pada pemimpin yang hebat, kedudukan tinggi dan cakap bekerja, sekaligus rela berbagi. Hal ini disebabkan, pemimpin seperti ini akan menjadi leverage, yang ikut mengungkit karir seseorang lewat proses pembelajaran bermutu. Inilah pemahaman leverage yang benar, dalam arti peningkatan karir karena memang telah melalui proses dan sesuai dengan kemampuannya.

Dalam 28 tahun karir saya bekerja di sebuah perusahaan, saya mengenal pemimpin yang seperti ini, yang menjadi mentor bagi anak buahnya, dan dapat dilihat bahwa sebagian besar mantan anak buahnya sukses dalam meniti karir selanjutnya. Pemimpin seperti inilah yang sebenarnya kita perlukan, pemimpin yang bersikap melayani anak buah, mau menjadi guru bagi anak buahnya, mengarahkan, membimbing, menjaga agar anak buahnya mampu dan kemudian berani memberikan ruang peningkatan karir bagi anak buahnya. Kita mengenal bahwa “a great leader will create greater leaders”.

Dalam meniti karir, kita tak diharamkan untuk mencari pengungkit  agar dapat mengakselerasi peningkatan karir. Namun yang lebih baik adalah menyiapkan diri sendiri, agar pada saat karir meningkat, maka peningkatan karir tersebut memang sesuai dengan kemampuannya. Jika hanya sekedar adanya pengungkit, jika pengungkit tadi lepas, maka karir seseorang bisa jatuh berantakan. Pemimpin yang baik harus mau berkorban untuk anak buahnya. Harus mampu mengambil keputusan, sekalipun keputusan itu bisa saja salah, namun tetap lebih baik daripada tidak berani mengambil keputusan sama sekali. Setelah mengambil keputusan harus siap menanggung risikonya, yang muncul akibat keputusan yang dibuat. Pemimpin harus berada di barisan terdepan, untuk membendung kemungkinan reaksi di kemudian hari atas keputusan tersebut, dan menjadi bumper bagi bawahannya.

Pemimpin hendaknya juga seorang yang visioner, mampu melihat ke depan, berani memberi kepercayaan dan wewenang pada kaum muda, memberi kesempatan berkembang yang luas bagi anak buahnya. Kita tahu, bahwa kesuksesan masa lalu tak menjadi jaminan bagi keberhasilan masa depan. Banyak perusahaan yang runtuh, dari ada menjadi tidak ada. Oleh karena itu, pemimpin yang baik, akan melatih anak buah untuk menyongsong tantangan yang menanti di masa depan.

Untuk menjamin kelangsungan perusahaan, Corporate Social Responsibility (CSR) hendaknya tidak sebagai program tempelan, namun sebagai prasyarat bagi kelangsungan organisasi bisnis yang bermanfaat bagi lingkungan. Dengan memberikan ruang bagi lingkungan sekitar, maka para stake holders akan ikut menjaga agar perusahaan tetap hidup dan berkembang, karena menguntungkan bagi warga sekitarnya.

Sumber Bacaan:

  1. Ekuslie Goestiandi.Telur mata Sapi. Kontan, Edisi 8-14 November 2010 hal. 25
  2. Ekuslie Gustiandi. Pemimpin Bisnis Indonesia. Kontan, Edisi 17-23 Januari 2011 hal 23

 

 

Iklan

17 pemikiran pada “Leverage

  1. Selama saya bekerja saya memang melihat dengan nyata lingkaran di sekitar pimpinan. Bagi yang berada dalam lingkaran itu sudah dapat dipastikan aman dan nyaman. Di luar lingkaran, bahkan ada teman saya yang trhalang naik pangkat karena nilai DP3 yang diturunkan 😦
    Entah bagaimana nasib orang2 dalam lingkaran saat si bos dipindah tugaskan…

    Sebetulnya…jika kita punya kemampuan yang memang sesuai dengan jabatan yang dipangku, maka punya atasan yang mendukung akan memudahkan karir, di sisi lain juga bisa bermanfaat utuk perusahaan. Sayangnya, ada juga yang memnafaatkan ini untuk hubungan pribadi, tanpa melihat kompetensinya.

  2. utaminingtyazzzz

    yang pertama tercetus di benak saya malah: Leverage TV Series di AXN :D, hehe melenceng jauh.
    Saya setuju dengan quote “a great leader will create greater leaders”. Dan kalimat Ibu yang “Namun yang lebih baik adalah menyiapkan diri sendiri, agar pada saat karir meningkat, maka peningkatan karir tersebut memang sesuai dengan kemampuannya.” menjadi inspirasi buat saya 🙂

    Hehehe….”Leverage” memang ada di AXN…..saya hanya sesekali nonton….
    Leverage ternyata punya arti yang macam-macam…
    Jika kita punya atasan yang mendukung, kebetulan kita punya kompetensi yang bagus dan tepat, maka karir bisa naik lebih cepat…karena tanpa dukungan karir akan jalan lambat atau justru tak terlihat. Jadi ada istilah, kalau kita juga harus “petok” setelah bertelur atau prestasi kita juga harus terlihat.

  3. Ping-balik: Radio-Bayuputra.com siap mengudara « BayuPutra

  4. Saya melihat langsung kasus seperti itu Bu di sekeliling saya.. ada orang2 yang menempel terus pada orang tertentu dan jaya, dan ketika yang ditempelin pensiun, orang2 itu berjatuhan.. ironis

    Iya…ini betul…namun jika orang tersebut punya kompetensi bagus, maka sekelilingnya juga akan menilai. Memang penting, jika kita punya jabatan, kita diakui oleh peer’s bahwa kita memang mampu, dipercaya anak buah, kita Pimpinan yang baik, disukai atasan karena kita dapat dipercaya dan mampu menyelesaikan pekerjaan yang jadi tanggung jawab kita. Leverage akan menolong karir orang yang punya kompetensi “unggul”, karena banyak juga orang yang unggul tak terlihat. Perusahaan yang sudah mempunyai “Assessment Center” dapat mengurangi ketidakseimbangan dalam menetukan karir pegawai nya, sehingga para karyawan akan bekerja dengan baik dan loyal pada perusahaan.

  5. cicianggitha

    hehehe…di meja saya masih berserakan dvd-nya leverage 🙂
    being a leader tidak berarti dia selalu benar, leadership-nya akan teruji ketika dia mau mengakui dan bertanggungjawab atas kesalahan yang mungkin diperbuatnya. great leaders know how to encourage his/her fellows to be even a greater leader than him/herself.
    saya juga sepakat banget sama quote Ibu.. ““a great leader will create greater leaders”.

    salam kenal 🙂 ,

    Salam kenal juga Cici, teman Aldi dan Mieke ya….
    Engkau harus bersyukur kerja di perusahaan yang learning center nya bagus, punya assessment center, sehingg aorang yang ditempatkan di kota besar, di Kantor pusat maupun daerah terpencil mempunyai kesempatan yang sama. Tak semua perusahaan seperti ini…namun harus disadari, bahwa prestasi harus dijaga, dan berharap punya atasan yang mampu mengarahkan dan mendukung kita, sehingga karir lancar dan selamat. Kata selamat ini sekarang menjadi penting terutama jika kita bekerja di lingkungan yang high risk….seperti lingkungan pekerjaan saya, yang engkau teruskan sekarang.

  6. utaminingtyazzzz

    ah Cici ternyata sampai ke sini juga. Bu Enny, Cici ini temen kantor saya juga, Bu. *maap malah OOT*

    Hehehe…iya, ketemu di Blog.
    Mieke, kok blognya jarang di update, malah wordpress nya di tutup. Ayoo nulis lagi…

  7. Sepakat saya dengan bunda Ratna. Itulah tugas dari pemimpin menjadi suri tauladan yang baik untuk bawahannya, sehingga bisa terjadi “a great leader will create greater leaders”. Dan pemimpin yang baik tidak menilai dan menghargai seseorang karena kedekatannya, tapi karena kemampuan.

    Pemimpin tanggung jawabnya besar, harus ikhlas menjalaninya karena merupakan amanah. Dan pemimpin harus menyiapkan kader untuk melanjutkan kepemimpinan berikutnya yang lebih baik…agar perusahaan menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

  8. Ping-balik: [Jepang dalam Foto] The Beauty of The Blogging « Fety

  9. jadi tau leverage, dapet satu sks nich dari bunda 🙂

    Hehehe…leverage ternyata banyak arti nya ya…
    Dan filmnya di AXN juga menarik, walau saya jarang nonton

  10. Ah, jadi itu inti dari leverage dalam manajemen kepemimpinan. Setuju sekali dgn pendapat ibu bahwa bagi pihak yg diungkit harus mempersiapkan potensi yang sesuai dengan standar posisi dimaksud agar bisa tetap bertahan setelah pengungkitnya tak lagi bekerja. Sebenarnya saat ini saya sedang dalam suatu dilema yg mirip dg ini, apakah akan memanfaatkan ‘pengungkitan’ ini / tidak. Doakan saya bisa memutuskan dengan tepat ya Bu…

    Banyak diantara kehidupan kita, dilalui dengan keputusan satu dan keputusan lainnya.
    Pikirkan baik-baik, uji pro’s dan con’s nya, dan setelah memutus, jangan pernah menyesalinya..terkadang ada banyak hal baik di depan kita, asal kita mau menerima dengan lapang hati.

  11. kalo didunia expat, jarang sekali ada leader yg mau bagi2 ilmunya bu..makanya kita hanya bisa mencuri dari setiap tindakan dan keputusan yang dia buat serta tiingkah lakunya walaupun yang terakhir ini masing2 punya kebiasaan yang berbeda.

    Begitu ya? Di kantor sering ada konsultan yang di hire untuk pekerjaan tertentu, biasanya mereka yang lebih banyak dapat ilmunya dibanding kita. Tapi saya juga belajar dari para konsultan ini, bagaimana pekerjaan sehari-hari, bisa dikemas dalam bentuk presentasi yang memukau dan ilmiah….dan pekerjaan ku sekarang mirip konsultan ini, belajar daroi para expat yang dulu sering ke kantor.
    Tapi, para expat ini banyak memberikan masukan…atau karena mereka memang dipilih karena untuk mengajari kita, berdiskusi, sehingga kedua pihak sama-sama mendapatkan hikmahnya

  12. Iya bun… dalam berkarir, pintar2nya kita men.leverage apa yang bisa di.leverage.
    Tapi jelas harus dengan perhitungan cermat juga 🙂

    Hahaha…bukankah semua harus dengan perhitungan cermat…..karena kita harus berhitung, jika atasan memilih kita karena kompetensi, maka kita tak ada masalah. Tapi jika karena hal lain, itu bisa riwet, istilah Jawa nya.

  13. Sangat menarik dan penuh inspirasi…
    → Namun yang lebih baik adalah menyiapkan diri sendiri, agar pada saat karir meningkat, maka peningkatan karir tersebut memang sesuai dengan kemampuannya.

    Bagian itu pernah diutarakan oleh bekas bos saya. Pada awalnya dia memberikan setumpuk delegasi yang yang membuat jengkel, tapi ternyata itu membuat saya siap untuk jenjang berikutnya dan akhirnya saya berterimakasih kepadanya.

    Bersyukurlah punya bos yang baik. Bos yang berani memberikan kesempatan kita untuk mengerakan berbagai pekerjaan..bos juga bisa kena risiko telat karena dikerjakan oleh bawahan yang masih baru lho…tapi bos yang baik akan selalu memberi kesempatan bawahan untuk belajar, dengan menangung risiko dimarahi bos atas nya lagi jika salah atau terlambat..

  14. Leverage?
    Dalam kehidupan kantor, alih-alih mengungkit karir, jika tak luwes dan pro kelihatannya seperti kiss ass dan menjilat. Interpersonal skill besar kaitannya ya Bu. Sebab belum tentu orang yang pintar yang bisa memanfaatkan pengungkit ini, biasanya malah orang-orang yang pintar dan luwes bergaul.

    Komunikasi memang perlu Yog….dan tak semua orang bisa mengkomunikasikan secara baik kompetensinya, salah-salah malah bisa terlihat seolah menjilat. Justru disinilah perbedaan antara satu orang dan lainnya. Dan bukankah yang pintar dan luwes bergaul memang menonjol, karena untuk menjadi Pemimpin harus luwes karena tantangan makin berat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s