Kesetiaan, Persahabatan, dan Kebersamaan

Sejak 10 hari terakhir ini saya makin akrab dengan suasana rumah sakit, yang telah menjadi seperti rumah kedua. Sejak adik bungsuku menjalani operasi Bentall Procedure di rumah sakit Harapan Kita pada tanggal 10 Februari 2011, agenda sehari-hari adalah menunggu di depan ruang ICU.  Pengalaman selama menunggu ini benar-benar menguras emosi dan energi, di sisi lain merupakan pengalaman spiritual tak terhingga besarnya, betapa kita ini tak ada artinya di hadapan Yang Maha Kuasa. Batas hidup dan mati sangatlah tipis, para keluarga pasien saling menguatkan, jika ada di antara keluarga yang keluarganya tak tertolong lagi. Hal yang mungkin sudah jarang kita temui di jalanan, dimana para pengendara saling serobot ingin cepat,  para penumpang busway yang berdesak-desakan saat naik atau turun. Kita juga menjadi lebih dekat kepada Nya, karena hari-hari selama penantian, dilakukan dengan berdoa pada Nya. Mushola kecil di lantai tiga selalu penuh, apalagi jika jam-jam tengah malam, dan waktu sholat. Antri di tempat wudhu, di toilet merupakan pemandangan sehari-hari.

Ibu yang sudah sepuh itu diam memeluk bantal sambil bersandar di sandaran kursi yang keras. Matanya menerawang jauh, seperti sedang melamun. Sesekali putranya datang menghampiri, juga putrinya. Saat seperti ini, keluarga itu hanya diam, saling berpelukan. Saat mendapat kesempatan mengobrol, ibu tadi cerita, suaminya di diagnosa kena penyakit jantung setahun yang lalu, dan disarankan untuk operasi. Namun sang suami tidak berani, sehingga hanya berobat jalan, serta menjaga diet dengan ketat. Setahun berlalu dengan tenang, seminggu yang lalu suami, yang senang memelihara burung, pergi ke Pasar Burung di daerah jalan Pramuka. Rupanya  sang suami sangat ingin makan soto Betawi (atau Madura), yang berlemak dan berisi jerohan, sedang  sang isteri agak sakit sehingga tak mendampingi suaminya ke Pasar Burung. “Tak apalah, hanya sedikit,” pikir suami. Ternyata, semangkuk soto nan enak itu berakibat fatal, esok harinya suami anfal dan segera di bawa ke rumah sakit. Sampai adik saya selesai operasi, dan kami menunggu di ruang tunggu keluarga pasien, di depan ICU, suami ibu itu masih di rawat di ICU, dengan kondisi yang naik turun, apalagi sang suami tak betah di rumah sakit, dan ingin pulang terus. Pada akhirnya, terpaksa diikat, karena memberontak di ranjangnya. Seminggu kemudian, Tuhan memanggilnya…….kami merasakan betapa pedihnya ibu tadi. Ibu tadi tak pernah beranjak dari tempat duduknya selain hanya pergi ke toilet…..begitu menyadari suami telah meninggalkannya, ibu tadi langsung menangis, hati ini pilu sekali melihatnya.

Diantara para keluarga pasien, ada bapak sepuh yang jalannya menggunakan tongkat, isterinya sedang di rawat di ICU. Bapak tadi ditemani putrinya yang cantik, dan menurut ceritanya, isterinya telah di rawat lebih dari dua minggu, tanpa ada tanda-tanda perbaikan. Kondisi bapak sepuh ini makin lemah, beliau mulai batuk-batuk. Kebetulan, diantara penunggu pasien ada seorang dokter, putri bapak bertanya apakah ada obat flu yang tidak membuat mengantuk dan tidur? Bapak tadi ingin tetap sadar, dan tak ingin meninggalkan isterinya. Rasanya terharu sekali, padahal bapak tadi sudah sepuh, jalan nya pakai tongkat, dan kelihatannya dekat dengan para dokter, mungkinkan  juga seorang dokter pula? Di rumah sakit ini, saya melihat banyak juga pasien jantung yang berasal dari profesi dokter, penyakit ini memang bisa menghinggapi siapa saja tanpa pandang bulu. Sehari sebelum adik saya dipindah ke ruang intermediate (ruang antara sebelum  dipindah ke ruang perawatan), bapak sepuh ini tak terlihat lagi, kemungkinan sudah jatuh sakit.

Duduk diam di tengah agak kebelakang, ada seorang bapak  (kita namakan bapak A), yang sudah beberapa hari menunggu isterinya. Bu Haji P (nama seorang penunggu pasien yang paling lama, karena suaminya sudah di rawat sejak bulan Januari 2011), menceritakan bapak A ini seorang suami yang sangat setia, setiap malam sholat Tahajud mendoakan isterinya. Bapak A diam berzikir, tanpa mempedulikan pengunjung sekelilingnya.  Pagi itu saya baru datang, menggantikan saudara yang jaga sebelumnya, tak lama kemudian temanku datang untuk ikut menemani. Suasana lengang itu,  dipecahkan oleh panggilan satpam. Bapak A tergopoh-gopoh datang, tak lama kemudian kembali ke kursinya, terus menangis. Pengunjung lain berdatangan, rupanya isterinya telah dipanggil Tuhan. Bapak A mencoba menelpon saudaranya, namun saat mau bicara kesedihan yang menggumpal membuatnya sesak nafas. Dan ternyata sisa uang di kantong tinggal Rp.50.000,-.  Keluarga pasien, dikoordinir oleh bu Haji P, segera memberikan saweran, dalam waktu singkat mendapat uang lebih dari satu juta untuk diberikan pada bapak tadi. Tak lama kemudian, putranya tergopoh-gopoh datang, mungkin tadinya menunggu di tempat lain…..

Di depan ruang ICU ini, situasinya membuat jantung terus berdebar kencang, setiap kali satpam datang, semua pandangan mengarah ke satpam, siapa lagi yang akan dipanggil, dan mendapatkan berita apa. Panggilan dari satpam, ditunggu keluarga pasien (dengan harapan berita baik), namun juga dikawatirkan. Beberapa kali saya membentur kursi hanya gara-gara kaget dipanggil satpam, padahal satpam sopan, memanggilnya pelan. Setelah lima hari di ICU, adik saya bisa dipindahkan ke ruang intermediate, suasana lebih tenang, namun AC  terasa lebih dingin. Di lantai tiga ini, situasi tak mencekam seperti lantai 2 (lantai, dimana terletak ruang operasi dan ICU), namun harus tetap waspada. Dari obrolan dengan para keluarga yang menunggu pasien, banyak sekali kejadian, yang membuat kita tetap harus berhati-hati. Ada pasien, setelah operasi, masuk ICU, pindah ke ruang intermediate, pindah ke ruang perawatan. Dokter mengatakan besok sudah boleh pulang, tinggal rawat jalan dan rehabilitasi. Ternyata malamnya terjadi perdarahan di lambung, akibatnya pasien kembali ke ICU, dan sekarang sedang di teliti apa yang menyebabkan perdarahan tersebut. Ada juga pasien yang sudah pulang, kemudian mulai melakukan latihan untuk rehabilitasi, ternyata terasa sesak nafas….dan kembali ke ICU lagi. Hal ini membuat kami (saya dan adik-adik) harus berhati-hati dan mendorong adik yang sakit untuk mau makan banyak, agar asam lambungnya tak banyak.

Walau penuh ketegangan, kesedihan, namun perkenalan dengan keluarga pasien yang lain membuat kami merasakan adanya kebersamaan, saling tolong menolong dan saling menghormati. Pada saat ada kondisi pasien yang memburuk, di lantai 2 terjadi pemandangan yang mengharukan.  Di depan, duduk serombongan keluarga pasien di lantai, berzikir, memohon pada Allah swt agar semua berjalan lancar, dan percaya bahwa rencana Tuhan pasti baik bagi pasien dan keluarganya. Duduk di kursi bagian tengah, ibu-ibu dan bapak berkerumun, mendendangkan lagu rohani….betapa terharu hati ini. Tiada perbedaan, sekat-sekat agama runtuh, dan semua saling menggenggam dan berdoa untuk kesehatan pasien. Saat ada pasien yang  naik pangkat (istilah kami untuk pasien yang membaik kondisinya), keluarga yang lain menyelamati dan berdoa agar terus membaik. Keadaan ini membuat saya percaya, bahwa kita bangsa yang besar dan punya toleransi besar. Saat dibutuhkan tambahan darah segar, teman-teman, mahasiswa, bahkan orang yang tak dikenal datang berduyun-duyun untuk menyumbangkan darahnya. Setelah sadar sepenuhnya dan bisa bicara, adik saya bertanya…”Kenapa dokter bilang, kalau hanya seleb yang mengalahkan saya?” Rupanya adik saya tak tahu bagaimana kesibukan di lab RS Harkit saat diserbu para temannya, mahasiswanya,  teman-teman saya, juga teman-teman narablog yang siap menyumbangkan darahnya. Dan telepon serta sms masih terus masuk ke hape saya, bahwa teman-teman siap memberikan bantuan apa saja jika diperlukan. Ya Allah, betapa baiknya mereka, dan kami hanya bisa mengucapkan terima kasih dan rasa syukur yang sebesar-besar nya, semoga budi baik mereka mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah swt. Amien.

Catatan:

Mohon maaf jika belum bisa berkunjung ke blog teman-teman, karena hari-hari ini masih sibuk giliran jaga di RS Harapan Kita. Mohon doa restunya, semoga adik saya segera mendapatkan kesembuhan, dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

27 pemikiran pada “Kesetiaan, Persahabatan, dan Kebersamaan

  1. Mungkin benar ya bu, jika kita mau belajar tentang hidup, kesabaran dan toleransi, belajarlah di RS….. Meskipun seharusnya tak perlu HANYA di sana.
    Jaga kesehatan ya bu… jangan pikirin blogwalking dulu, kita semua mengerti kok.

    EM

  2. bacanya jadi terharu,
    di rumah sakit biasanya emang terasa lebih erat kekeluargaannya,
    mungkin karena senasib sepenanggungan
    saya juga ngerasa-in hal itu waktu ibu saya di cuci darah dan di rawat inap,
    gtu juga waktu adik saya masuk icu,

    smoga Tuhan slalu memberikan yang terbaik ya, mbak…
    🙂

  3. Aku pernah berada di posisi kayak Bu Enny…
    Waktu masuk bulan pertama kan si Odi sempat dirawat di rumah sakit karena diare dan harus menginap di ICU untuk bbrp lama…

    Rasanya memang gimanaaa gitu ya Bu ya…
    Tetap tegar Bu, kudoakan adik ibu segera sembuh dan pulih kembali.

  4. Berbagi kesedihan kadangkala semakin menguatkan tali silaturahmi. tetap berdoa semoga adik ibu segera sehat kembali dan juga ibu beserta seluruh keluarga senantiasa diberi kekuatan dalam menghadapi ujian ini.

  5. bu enny, saya bisa membayangkan situasinya. bbrp waktu lalu, teman dekat saya harus berjaga di ruang tunggu ICCU. adiknya kecelakaan, parah. suasananya tegang, sedih, dan di antara mereka saling menguatkan. malah setelah itu, mereka jadi dekat. tetap saling berkontak dan mendukung. ah, tapi memang menguras emosi dan energi ya, bu. semoga ibu sehat ya… dan adik bu enny segera pulih.

  6. Duh ikut sedih dan terharu bacanya Bu. Memang kita harus siap bila kapanpun dipanggil oleh Sang Pemilik, namun tetap saja kesedihan itu tak bisa dielakkan.
    Ternyata di tengah2 ketegangan dan rasa ketidakberdayaan, sifat dasar manusia yg lemah dan penyayang bisa keluar sehingga semua bs sama2 menjadi sahabat yg saling mendoakan.
    Semoga adiknya segera pulih ya Bu.

  7. Saya pernah di situasi yang sekarang Ibu rasakan, ketika adik dirawat dalam keadaan koma selama 2minggu, di saat yang bersamaan juga ada keluarga yang kondisinya persis seperti saya. Saat2 yang menegangkan, tapi saat2 seperti itu justru menimbulkan rasa empati dan simpati yang luar biasa di antara keluarga pasien.

    Doa saya untuk adik Ibu, semoga segera pulih dan kembali beraktivitas 🙂

  8. aduh bu, ceritanya bener2 mengharukan banget….

    semalem baru saya ngobrol ama temen kantor yang papanya (udah umur 96 th) juga lagi sakit dirawat di nursing home. temen saya cerita tiap kali dia ngejenguk papanya di nursing home, ngeliat orang2 tua lain yang lagi sakit disana tuh bikin hati jadi sedih banget bahkan dia gak pernah berani nengok2 ngeliat kalo lagi disana. pas cerita tentang kondisi papanya aja temen saya sampe nangis. saya sampe gak enak ati, karena saya yang nanyain gimana kondisi papanya…

    kesehatan emang selalu nomor 1 ya bu. harus dijaga banget.
    dan tentunya juga gak boleh lupa selalu minta perlindungan dari Yang Di Atas.

    moga2 adiknya bisa segera pulih dan sehat kembali ya bu…

  9. Saya terhanyut baca tulisan Bunda Enny…
    ikut ngebayangin suasana di ruang tunggu. pasti perasaan campur aduk..

    tapi saya setuju dengan Bunda..
    semakin menyadarkan kita, betapa kecilnya kita, betapa lemahnya kita di hadapan Allah. Hidup ini milikNya.. kita hanya mampu berusaha sebaik mungkin, agar keluarga yang kita cintai itu sehat kembali..

    semoga adiknya diberikan kesehatan dan tidak sakit lagi…
    karena kesembuhan juga milik Allah… *peluk bunda Enny*

  10. kalo sudah namanya berhubungan dengan rumah sakit, perasaan jadi sedih dan galau, saya cuma berharap dan berdoa untuk ibu agar diberikan ketabahan dan kekuatan mental menghadapinya walau bukan ibu yang sakit. cobaan bagai awan hitam yang menghiasi angkasa, pasti ada waktunya digantikan dengan awan putih.

  11. Saya hanya bisa berdoa semoga mBak Ratna dan keluarga diberi kesehatan sehingga bisa mendampingi adik mBak Ratna yang sedang sakit. Dan semoga adik mbak Ratna segera sembuh sehingga bisa melakukan aktifitas seperti sedia kala. Amin.

  12. Saya tak bisa berkomentar panjang Mbak …
    Saya hanya ingin mengatakan, bahwa air mata saya menitik ketika membaca tulisan Mbak Enny. Semoga Pak tri segera pulih, dan seluruh keluarga juga dikaruniai kesehatan dari Allah SWT. Amin …

  13. maaf tidak bisa menyumbang darah bu karena tidak cocok. saya doakan semoga adik ibu lekas mendapatkan kesembuhan. yang sabar ya, bu.

    nuansa mencekam selalu saya rasakan ketika berada di rumah sakit. kadang takut, kadang ngeri.

  14. banyak sekali harapan , kebersamaan dan doa yg tak putus2 ,ketika kita berada di rumkit ya Bu.
    itupun saya alami ketika ibu saya hrs mejalani perawatan ketika anfal sakit jantungnya .
    Walaupun tak sempat masuk ICU , namun banyak sekali dorongan semangat dan harapan yg diberikan sesama keluarga penunggu pasien.
    duh, seandainya kita bisa bersikap bersahabat pd semua orang, tdk hanya dlm ruang tunggu rumkit, betapa indah hidup ini ya Bu.
    salam

  15. tini

    Bu Enny, semoga Allah mengangkat segala penyakit adik ibu ya. Diberi kesembuhan, ketabahan dan kesabaran.
    Dan juga Ibu diberikan kesehatan. Amin.

  16. Saya bisa mengerti kondisi ini, Bu…
    April tahun lalu, saya dan suami ke Solo untuk membezoek Tantenya suami yang sedang kritis. kebetulan saya sempat menunggu selama sehari.
    Ruang tunggu utk keluarga pasien benar-benar jauh dari layak. karena hanya ada dua ruang tak berpintu, panas, ventilasi kurang bagus, dan tidak nyaman karena tengah renovasi. dengan inisiatif para keluarga pasien, dibagilah dua ruang itu.. sedih rasanya melihat penunggu yang menangis dan histeris saat keluarga mereka meninggal. Tanpa perkenalan resmi, tanpa kami tahu masing-masing nama, kami semua berbaur, saling berceita dan menguatkan.

    terharu sekali saat ada yang meninggal, sesama penunggu saling menghibur, ikut membantu membereskan sangu, tikar dan perlengkapan keluarga yang berduka..

    Semoga Adiknya Ibu Enny segera sehat dan pulih kembali ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s