Oleh: edratna | Maret 18, 2011

Jalan-jalan: Jika orang daratan pergi ke kepulauan

Dalam perjalanan menghadiri The 2 nd Annual Conference yang diselenggarakan oleh ARMP (Association of Risk Management Practitioner), saya mendapatan pengalaman yang sungguh luar biasa. Maklum sebagai orang daratan, saya nyaris jarang berhubungan dengan laut, hanya sesekali menikmati wisata laut dari pinggirnya, maklum nggak bisa berenang. Seminar diadakan di Nirwana Resort Hotel, yang terletak di kawasan Lagoi, Bintan. Ada dua alternatif ke sana, naik pesawat dari Jakarta-Batam, langsung naik speedboat ke Lagoi, tapi saya agak kawatir terhadap ini, memikirkan koper dan lain-lain. Akhirnya kami memilih pilihan kedua, yaitu naik pesawat dari Jakarta ke Batam, kemudian naik ferry menyeberang dari Batam ke Tanjung Pinang, dilanjutkan perjalanan darat ke Lagoi. Total perjalanan jika terus menerus sekitar 3,5 jam.

Peta Pulau Bintan

Mendengar kata Bintan, yang berada di kepala saya adalah kota Tanjung Pinang yang sangat terkenal pada tahun 70 an, karena kualitas barangnya yang bagus namun murah. Pagi itu saat menjelang keberangkatan, hujan deras mengguyur kawasan bandara. Penumpang dipersilahkan menyusuri koridor yang tampias oleh air hujan, sehingga baju dan lengan sebelah kanan saya basah kuyup, syukurlah saya sempat mengeluarkan selendang untuk menutupi kepala. Sepanjang perjalanan di udara cuaca kurang bersahabat, sehingga lampu sabuk pengaman nyaris menyala terus. Syukurlah mendekati bandara Hang Nadim, Batam, cuaca membaik dan pesawat mendarat dengan mulus. Teman saya dari Batam menjemput di bandara, yang selanjutnya menemani kami untuk ikut menyeberang naik ferry. Sebelumnya kami makan dulu di Batam Centre Mal, di Yong Kee  Istimewa Restaurant yang terkenal dengan sop ikannya. Teman saya telah berpesan pada sepupu suaminya (kebetulan suami temanku berasal dari Tanjung Pinang, lahir dan besar di Tanjung Pinang), untuk menjemputnya di Pelabuhan Telaga Punggur, Batam. Dalam perjalanan, selain diisi foto-foto, juga diselingi diskusi membahas apakah pelayaran antar pulau merupakan bisnis yang menguntungkan.

Penumpang boleh bercanda, kapten kapal harus serius

Ferry Citra Indah yang kami tumpangi, berkapasitas penumpang 168 orang, penumpang saat itu hanya sekitar 30% dari kapasitas, saya melihat persediaan banyak pelampung, sehingga hati ini tenang. Di dinding kapal ada petunjuk penyelamatan, juga pintu mana yang harus dilewati untuk menyelamatkan diri jika terjadi sesuatu, walau tanpa diumumkan secara lisan pada penumpang. Nakoda kapal, pak S, telah berpengalaman 6 (enam) tahun dalam membawa kapal melayari antar pulau, di ferry Citra Indah ini baru bergabung enam bulan sebelumnya.

GPS untuk mengecek kedalaman laut

Beliau melayani pertanyaan saya dengan senang hati, menunjukkan cara melihat GPS, selain untuk mengetahui arah kapal, juga untuk melihat apakah lautnya cukup dalam, serta apakah ada karang yang harus dihindari.  Antara Batam dan Lagoi tidak ada pelayanan Ferry secara langsung, namun jika ingin menggunakan ferry dapat mencarter dengan biaya Rp.8 juta sekali jalan.  Ferry ini ber AC, bersih, toiletnya juga bersih, airnya lancar, sungguh menyenangkan. Kata temanku, saat terakhir kali pergi ke Tanjung Pinang belum ada ferry besar yang melayani jalur Batam-Tanjung Pinang, sungguh saya bersyukur sekarang ada ferry, jadi hati tenang.

Sepupu temanku menyarankan, agar sebelum kapal berangkat mengajak berfoto di geladak, tahu-tahu berbunyi seruling yang menandakan ferry mau berangkat. Saya kaget dan langsung jongkok karena nyaris jatuh, temanku tertawa…”Inilah jika orang daratan“….sepupunya hanya senyum ditahan, mungkin nggak enak hati. Kami tetap berpose dengan kaki kuda-kuda, sayang foto tersebut ada di kamera teman saya, sehingga belum bisa dipajang disini. Perjalanan tak terasa, karena kami mengobrol sambil sesekali melihat  film yang sedang ditayangkan, dengan aktor Jacki Chen saat masih muda. Kelihatannya ferry ini merupakan pengagum Jacki Chen, karena dua hari kemudian, saat kembali dari Tanjung Pinang ke Batam, dengan menggunakan ferry yang sama,  juga diputar film Jacki Chen, namun kali ini saat Jacki Chen usia sekarang. Biaya ferry Rp.40.000,- untuk setiap orang.

Laut tenang, perjalanan menyenangkan,  saya sungguh terpesona bagaimana air berbuih dan ombak memecah saat dilewati ferry. Dari kejauhan terlihat gugusan pulau-pulau membuat perjalanan tak membosankan. Perjalanan Batam-Tanjung Pinang lebih kurang satu jam, di pelabuhan Sri Bintan Pura telah menunggu teman dari Tanjung Pinang, setelah serah terima maka teman dari Batam kembali ke Batam naik ferry berikutnya, sedang saya dan teman meneruskan perjalanan. Untuk selanjutnya, selama di Bintan ganti teman-teman dari Cabang Tanjung Pinang yang mengawal kami berdua, rasanya sungguh menyenangkan punya teman yang baik, mungkin mereka agak kawatir juga melihat ibu-ibu yang sudah usia ini melakukan perjalanan panjang.

Perjalanan dari Tanjung Pinang ke Lagoi menggunakan mobil, jarak yang ditempuh sekitar 80 km, melalui jalan yang berkelak kelok, dengan pemandangan hutan di kiri kanan jalan. Dari Tanjung Pinang ke arah Lagoi membelah pulau Bintan karena letak Lagoi di utara, lebih dekat ke arah Singapura. Cerita tentang Lagoi akan di posting tersendiri. Selesai seminar, kami sempat jalan-jalan di kawasan wisata Lagoi, selanjutnya kembali ke Tanjung Pinang dan menginap semalam di hotel Comfort.

Tangga ferry (berpakaian lengkap karena kedinginan)

Pagi-pagi Tanjung Pinang sudah diguyur hujan, agak kawatir juga karena pagi ini kami akan kembali menyeberang dari Tanjung Pinang ke Batam. Kami menerobos hujan yang rintik-rintik dengan berpakaian lengkap, ber jaket, ber selendang, serta syal untuk menutup leher agar tak masuk angin. Kembali, teman dari Tanjung Pinang ganti mengawal kami berdua dari pelabuhan Sri Bintan Pura sampai ke pelabuhan Telaga Punggur, kemudian diserahkan kembali kepada teman di Batam setelah ferry merapat di pelabuhan Telaga Punggur. Saya tersenyum sendiri, namun kawatir saat harus melewati jembatan dari kayu yang licin, yang menghubungkan ferry ke darat. Teman dari Batam dengan sigap meraih tangan saya…dan…hupp..sampailah saya di daratan Batam. Saya mengucapkan terima kasih pada teman dari Tanjung Pinang yang telah menyertai kami, selanjutnya kami diantar teman dari Batam mencari oleh-oleh “Kek Pisang Villa” yang merupakan oleh-oleh khas Batam di Nagoya Centre. Kami diajak keliling Nagoya tanpa turun dari kendaraan karena waktu sudah mepet, hanya mampir makan siang di restoran “Sederhana”, pilihan ini diambil karena tak memerlukan waktu untuk pesan. Selanjutnya kami diantar ke bandara Hang Nadim, dan kami berpisah dengan ucapan terima kasih tak terhingga, dengan pesan jika ke Jakarta jangan lupa memberi tahu, agar  kami bisa ganti mengantar keliling Jakarta.

Iklan

Responses

  1. Wah kayaknya sy sudah lama naik transportasi laut, terakhir saat ke lombok..
    nikmat melihat laut bu, tanpa batas, se*halah koq curhat*

    blum pernah ke batam dan sekitarnya… kayaknya menarik, sayang juga sih di sana kan byk pabrik hmm..

    Saya ke Lombok lewat udara, jadi hanya menikmati laut dari pinggir pantai Senggigi….demikian juga saat ke Manado, maupun ke Jayapura.

  2. wah…sungguh perjalanan yang menyenangkan ya bu…
    saya jadi teringat waktu menyebrang dari merak ke bakahueni waktu itu…

    Iya ..menyenangkan, apalagi lautnya sedang tenang…

  3. dulu pas masih sering ke batam karena kerjaan, sering naik ferry nyebrang ke singapur. tapi belum pernah ke bintan. katanya bintan bagus banget ya bu…

    Bintan memang bagus sekali……

  4. Alhamdulillah perjalanan yang menyenangkan ya bu. Sayangnya belum ke Pulau Penyengat. Insya Allah lain waktu ke tempat Mesjid Melayu dan asal usul Gurindam Dua Belas dan Raja Ali Haji. Selalu menarik mempelajari kebudayaan Melayu..Tks atas foto2 dan ceritanya..

    Iya bu..kalau ada kesempatan lagi, mesti menyeberang ke pulau Penyengat….

  5. dulu saat masih kuliah klo pulang liburan dari Yogya ke Manna rutenya kyk gini bu: kereta malam Yogya-Jakarta, bus malam jakarta-manna, nah krn melewati selat sunda saat malam, kita selalu turun dari bus yang biasanya diletakkan di bagian kapal paling bawah, naik ke atas kapal, dan melihat bintang malam 🙂

    Betul Fety…membayangkan indahnya malam hari di atas kapal…tapi kemarin mencoba di geladak kok serem ya, goyangannya terasa….

  6. wah…kayaknya transportasi laut bagus nih..

    Yup

  7. Nakhodanya baik bu, boleh tanya2 langsung ya
    nggak sekalian nyoba feery ke negara tetangga bu…?

    Nakhodanya baik, menjawab semua pertanyaan, dan menjelaskan peralatan yang ada di ruang kemudi.
    Nggak sempat menyeberang ke Singapura, waktunya padat, sebetulnya yang saya inginkan malah menyeberang ke Pulau Penyengat, asal usul orang Melayu dan lahirnya Gurindam 12.

  8. Saya senang banget pas naik fery yang masih baru, masih bersih 😀
    Seru ya, Bu… kesana sini mesti naik kapal fery 🙂

    Sebetulnya ferry nya tidak baru, tapi bersih, toiletnya juga bersih, airnya lancar…..

  9. Saya tak terlalu suka naik ferry, Bu… Bagi saya, meski bisa berenang, lautan itu menyeramkan hehehe..:)

    Terakhir naik ferry akhir tahun lalu dari Hongkong ke Maccau dan sebaliknya.
    Waktu berangkat semua baik-baik saja, tapi waktu balik dari Maccau ke Hongkong.. waduh, laut tiba2 berombak besar dan kapal terguncang-guncang.. Saya? Sukses mabuk laut, Bu! 😉

    Syukurlah, kemarin laut tenang, padahal hujan gerimis. Tak terbayang naik ferry saat laut bergolak, yang tak tahan bisa mabuk.
    Lha naik pesawat cuaca jelek aja serem.

  10. Saya suka lihat pantai / laut, tapi kalau harus naik kapal / ferry suka deg2an mabok, hehe… Apalagi duduk melihat batas air yg seolah naik turun begitu tajam. iih…blom bisa merasa nyaman…

    Kayaknya kalau naik ferry yang ini, enggak deh, kapasitasnya 168 orang…dan jika tak suka lihat air laut, bisa nonton film atau membaca

  11. itu nakhodanya papa saya bu, namanya capt. syahril kan?
    haha

    Mungkin saja..pas pulang dari TPI ke Batam, nakhoda nya juga pak Syahril


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: