Maksi dimana?

Dulu….makan siang adalah urusan yang sederhana, sejak masih kecil sampai mahasiswa. Karena kost dekat kampus, saat waktu makan siang masih sempat pulang ke tempat kost atau asrama. Hanya kadang-kadang saja terpaksa makan di luar, jika waktu jam makan sedang berada di lokasi yang jauh dari tempat kost. Sejak bekerja, pagi-pagi setiba di kantor pikiran sudah merencanakan mau makan apa dan dimana. Pilihan berbagai ragam, namun sejak pagi sudah harus diputuskan jika makan makanan tertentu, karena antri dan sering kehabisan. Pilihan itu juga didasarkan atas budget makan siang, seberapa banyaknya uang yang disisihkan untuk makan siang. Setelah pada posisi tertentu, makan siang disediakan di kantor, disini saat makan siang adalah juga ajang ketemu teman dari Divisi lain, karena sehari-hari sibuk pekerjaan, jarang ketemu teman dari Divisi lain, ketemu hanya jika ada rapat yang berkaitan dengan unit kerja teman tersebut. Sayangnya makan bersama di kantor ini tak berlangsung seterusnya, karena banyak yang bosen, dan setelah diadakan angket, sebagian besar ingin mendapat kembali uangnya dan memilih memesan makanan  sendiri.

Lanjutkan membaca “Maksi dimana?”

Iklan

Pindah kost, pindah rumah, apa saja yang harus dipertimbangkan?

Dalam kehidupan kita, sebagian besar dari kita banyak yang mengalami pindah kost saat masih mahasiswa, pindah rumah saat masih mengontrak rumah, atau bisa juga pindah ke rumah sendiri setelah bertahun-tahun kontrak rumah. Setiap perpindahan, akan merasakan bagaimana rasa berat di hati kita, apalagi jika kita telah mengenal kondisi lingkungan kontrak rumah dengan baik, lingkungan yang nyaman, namun karena sesuatu hal, harus pindah rumah atau pindah kost. Dan apa yang saya sarankan, saat anak-anakku kuliah di luar kota, kemudian kuliah di luar negeri? Tentu setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda, tak bisa disamakan antara satu dan lainnya, tergantung kepentingannya, juga prioritas hidupnya.

Lanjutkan membaca “Pindah kost, pindah rumah, apa saja yang harus dipertimbangkan?”

Sulitkah untuk membuat keputusan?

Malam itu cuaca agak dingin karena sejak sore hujan turun dengan lebatnya di Jakarta. Bau tanah yang tersiram air hujan terasa segar, membuat rasanya nikmat duduk-duduk di teras rumah menikmati kesegaran alam, yang akhir-akhir makin terasa jarang bisa dinikmati di ibu kota ini. Kesibukan uusan keluarga, urusan pekerjaan, dan jalanan yang makin macet, membuat waktu 24 jam terasa tak cukup untuk melakukan semua aktivitas sehari-hari.  Terdengar dering hape, saya melihat jam, tak terasa sudah jam 20.35 wib, dan dari nomor yang tak kukenal,  saya menjawab sambil masih menduga-duga dari siapa yang menelpon malam-malam seperti ini.

Lanjutkan membaca “Sulitkah untuk membuat keputusan?”

Menjaga keseimbangan

Neraca (gambar diambil dari http://www.google.com)

Keseimbangan, kata-kata ini sekarang banyak diperbincangkan. Bagaimana hidup sehat dengan menjaga gaya hidup yang seimbang. Betapa banyaknya orang menjadi sakit karena gaya hidup yang tak seimbang, bekerja terlalu keras, kurang istirahat dan  asupan gizi yang tak seimbang.  Gaya hidup  tidak seimbang, sering disebabkan karena tuntutan yang ada disekeliling kita. Jalanan macet, pekerjaan yang tak ada habisnya, membuat pola makan tidak sehat, serta waktu istirahat tak terpenuhi. Ini membuat stres dan menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu, banyaknya Mal, pusat perbelanjaan, yang selain memudahkan kaum pekerja untuk belanja barang  kebutuhan pokok sepulang kantor, membuat orang menjadi konsumtif, ini didukung pula adanya kemudahan untuk mendapatkan kartu kredit. Tanpa pemahaman yang cukup, pemegang kartu kredit membelanjakan uang nya tanpa pikir panjang, yang akhirnya berakibat pada malapetaka, entah karena dikejar penagih hutang, atau terpaksa menjual asetnya untuk melunasi hutang yang seharusnya tak perlu dilakukan, jika melakukan gaya hidup seimbang, yaitu seimbang antara pendapatan dan pengeluaran.

Lanjutkan membaca “Menjaga keseimbangan”

Obrolan siang hari

“Halo, bisa maksi bareng?” kata suara di seberang sana. Sudah lama saya tak mendengar suaranya, maklum masing-masing punya kesibukan sendiri. Akhirnya kami mencapai kata sepakat, untuk melihat jadual masing-masing, dan tentatif ditetapkan akan ketemu hari Senin minggu depan. Sebegitukah hidup di Jakarta, hanya sekedar maksi bareng mesti dibuat jadual? Bukan sok sibuk, namun kemacetan yang luar biasa, dalam satu hari hanya bisa janji  untuk dua acara, kecuali  disambung lagi malam hari.

Lanjutkan membaca “Obrolan siang hari”

Kenangan

Siapa yang suka menyimpan kenangan? Menurut saya, baik hanya dalam hati ataupun ada dalam bentuk foto, banyak dari kita suka menyimpan kenangan, baik manis maupun pahit. Kadang, setelah bertahun-tahun kemudian, kita bisa mengingat kenangan pahit tersebut, dengan lebih tenang Terkadang bersyukur bisa melalui semua cobaan waktu itu, ada kalanya kepahitan itu disebabkan oleh kekonyolan kita yang seharusnya tak perlu terjadi. Sebagai ibu, tentu saja saya suka menyimpan kenangan, berupa foto kedua anakku. Kadang hati ini ikut kembali ke masa silam, saat melihat foto-foto saat mereka masih kecil, dan kemudian merasa betapa bersyukurnya saya karena mereka telah melalui masa-masa yang penuh suka duka dan keduanya telah beranjak dewasa.

Si bungsu belum ada satu tahun

Lanjutkan membaca “Kenangan”

MENDORONG PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR, MENDORONG PEMBANGUNAN EKONOMI DAN SEKTOR RIIL?

Pembangunan infrastruktur adalah sebuah keharusan bagi setiap pemerintahan. Mengapa?  Pembangunan infrastruktur menjadi andalan suatu Negara, karena merupakan salah satu penggerak ekonomi, disebabkan oleh: a) Menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. b) meningkatkan konsumsi pemerintah dan masyarakat sekitarnya, sehingga memutar roda perekonomian, c) dapat menstimulasi sektor riil, sehingga berdampak multiflier effect. Jika membangun infrastruktur, selalu ada faktor ekstenal, karena: jumlahnya besar, serta mempunyai keterkaitan sangat banyak.

Pertanyaan selanjutnya, dari mana dana untuk pembiayaan tersebut? Jika melihat kemampuan Bank, Dana pihak ketiga pada akhir tahun 2010 mencapai Rp.2.339 triliun. Jika sekitar 70% saja dari semua dana tersebut untuk membiayai infrastruktur, maka akan diperoleh dana Rp.1.637 triliun. Namun tentu saja, perhitungannya tak semudah itu, apalagi Bank tidak semuanya akan terjun untuk membiayai infrastruktur, karena masing-masing Bank mempunyai Visi/Misi ke arah mana strategi bisnis yang harus dituju, ada Bank yang 80% dari portofolio nya harus ke arah sektor mikro, kecil dan menengah. Sebagaimana diketahui, pembiayaan infrastruktur memerlukan dana sangat besar, serta jangka panjang, sedangkan dana dari pihak ketiga yang diperoleh Bank, yang berasal dari dana masyarakat, berupa dana jangka pendek. Rata-rata dari dana yang tersimpan di Perbankan, sebagian besar berupa deposito berjangka 1 bulan.

Lanjutkan membaca “MENDORONG PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR, MENDORONG PEMBANGUNAN EKONOMI DAN SEKTOR RIIL?”