Oleh: edratna | April 10, 2011

Kenangan

Siapa yang suka menyimpan kenangan? Menurut saya, baik hanya dalam hati ataupun ada dalam bentuk foto, banyak dari kita suka menyimpan kenangan, baik manis maupun pahit. Kadang, setelah bertahun-tahun kemudian, kita bisa mengingat kenangan pahit tersebut, dengan lebih tenang Terkadang bersyukur bisa melalui semua cobaan waktu itu, ada kalanya kepahitan itu disebabkan oleh kekonyolan kita yang seharusnya tak perlu terjadi. Sebagai ibu, tentu saja saya suka menyimpan kenangan, berupa foto kedua anakku. Kadang hati ini ikut kembali ke masa silam, saat melihat foto-foto saat mereka masih kecil, dan kemudian merasa betapa bersyukurnya saya karena mereka telah melalui masa-masa yang penuh suka duka dan keduanya telah beranjak dewasa.

Si bungsu belum ada satu tahun

Foto di bawah ini, memperlihatkan  bagaimana hubungan si sulung dan si bungsu saat kecil. Saya masih tinggal di rumah dinas tipe kecil, sesuai dengan jabatan saya saat itu, namun bersyukur tak perlu kawatir dikejar hantu kontrak rumah. Rumah berkamar dua menghadap ke selatan ini, di halaman nya ada pohon jambu air yang selalu berbuah, dan jambu air ini yang setiap hari nya saya buat rujak saat hamil si bungsu. Halaman yang sempit, namun cukup lebar untuk belajar naik sepeda roda empat bagi si sulung.

Di Ancol

Pertama kali punya mobil, saya dan suami mengajak anak-anak ke Ancol, bermain air sepuasnya.  Betapa menyenangkannya, melihat kedua anak bermain air, dan si bungsu yang ketakutan saat pertama kali kakinya menjejak ke air.

Saat anak-anak makin besar, sulit untuk menyamakan waktu, apalagi untuk foto sekeluarga. Pertama kali bepergian lengkap sekeluarga (ayah ibu dan kedua anak) adalah ke Denpasar, sayangnya entah kemana foto tersebut. Dan saat si sulung SMA, banyak kesibukan meningkat, saya ambil kuliah S2 di dalam negeri, si sulung sibuk mempersiapkan diri untuk  bisa lolos ke UMPTN.  Kemudian si sulung  melanjutkan kuliah selama 3 (tiga) semester di Luar Negeri, akibatnya saat masa-masa itu, foto saya banyak yang hanya bersama si bungsu.

Latar Belakang Danau Maninjau

Saat ada kesempatan, bersamaan dengan kembalinya  si sulung ke Indonesia, saya dan kedua anak bisa jalan-jalan ke Padang-Solok-Batusangkar-Bukittinggi. Sungguh kenangan yang tak terlupakan, saat itu mereka masih belum lulus S1, yang sulung masih kuliah di Jakarta, dan si bungsu di Bandung. Bukan hal yang mudah untuk mengajak mereka, apalagi kuliah padat sekali. Kebetulan hari Jumat libur, namun saat itu belum yakin apakah Sabtu ada kuliah apa tidak. Saya nekat membeli tiket pesawat pp, berangkat hari Jumat, dan anak-anak kembali hari Minggu pagi. Saya sendiri meneruskan pekerjaan, karena kebetulan ada tugas ke Padang, dan baru pulang hari Kamis minggu berikutnya.

Danau Singkarak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mendekati akhir masa jabatan, di perusahaan tempat saya bekerja ada program pelatihan untuk yang akan pensiun. Pelatihan ini selama seminggu, diselingi piknik, juga melihat beberapa industri kecil.

Ibu dan putri bungsunya

Saya mengajak si bungsu, saat itu program seminar diadakan di Surabaya, kemudian dilanjutkan meninjau berbagai industri kecil di Malang dan sekitarnya.

Di Batu, Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Betapa menyenangkannya mengenang masa itu, dan sekarang keduanya ibarat burung yang telah terbang di awan. Si sulung dengan keluarga barunya, sedang si bungsu masih menikmati kuliahnya di negara nun jauh di sana. Kesepiankah saya? Jika saya mengatakan tidak, itu berarti saya bohong, namun saya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, ikut sebagai pengajar di beberapa pelatihan, membantu yayasan untuk meningkatkan pelayanan para pensiunan, menulis di blog, berjalan-jalan bersama teman. Dan jika kita bisa menghargai setiap waktu yang ada, ternyata kehidupan selalu ada daya tariknya, berapapun usia kita.

Iklan

Responses

  1. Betul bu, kesepian itu memang harus dikurangi dengan kegiatan yang bermanfaat. Dengan ngeblog saya rasa cukup bisa menghibur. Kadang saya ingin sekali ibu saya menulis dan menceritakan isi hatinya, terutama akhir-akhir ini. Tapi karena membaca dan menulis bukan hobinya, apalagi sudah pernah stroke, hal itu susah. Saya usahakan untuk sering menelepon, itupun awalnya dia sulit sekali berbicara, dan yang keluar bahasa belanda.

    Ibu, yang kesepian bukan hanya ibu saja, anak-anak juga kesepian. Memang paling enak kalau bisa terus bersama. Tapi saya selalu ingat kata-kata papa, bahwa kita masing-masing mempunyai jalan hidup masing-masing yang harus dijalani. So… life goes on…

    BTW, Saya juga kangen ibu loh. Semoga nanti kita bisa atur waktu untuk lebih sering ketemu ya.

    EM

    Tahu nggak Imel, akhirnya saya menyempatkan berbincang dengan si bungsu melalui telepon, dia mengira ibu lagi kesepian. Bahkan di FB bertanya, apa ibu ingin dia pulang sebentar? Waduhh saya kaget…sebenarnya karena bingung mau posting apa (terlalu banyak ide yang dipikirkan, tapi nulisnya yang susah), ada banyak draft, setelah dilihat lagi kok rasanya kurang pas. Lihat foto lama, terus ingin cerita, dan sebetulnya saya juga mengharapkan anak-anakku baca, untuk melihat perkembangan mereka sejak kecil, dan juga memahami perasaan ibunya. Sayangnya saya tak bisa menulis untuk mengungkapkan rasa yang tepat, malah setelah telpon2 an dengan si bungsu, kami berdua bisa ketawa-ketawa.

    Iya Imel, kesepian terasa jika tak punya kesibukan, tapi kalau sibuk banget, fisik yang harus dijaga….saya sendiri kok sekarang rasanya udah dikejar tenggat waktu ya…memang sih ke kantor cuma 3 hari dalam seminggu, tapi lainnya dikerjakan di rumah, dan kadang seharian malah keluar rumah. Namun semua dilakukan dengan hati riang, macetnya jalanan aja yang terkadang bikin lelah..kalau jalan tak macet, mungkin lebih banyak lagi waktu yang bisa bermanfaat.

    Kalau ke Jakarta, kita nanti banyak mengobrol ya Imel. Anak jauh yang saya rasakan adalah masalah teknologi, tak ada lagi yang bisa ditanya jika saya menghadapi kesulitan..lainnya malah tak ada masalah, karena saya juga sibuk.

  2. mirip banget dengan si bungsu bu, hehehe, salah ya, si bungsu yang mirip ibunya 😀

    Hehehe..banyak yang bilang begitu, terutama foto pertama itu ya….
    Dulu waktu kecil, si bungsu cengeng, sering nangis, …..hehehe. Sekarang udah berani pergi sendirian.

  3. Bu
    kau saksi tumbuh dan berkembangnya buah hatimu
    Bu, dalam perjalanan kehidupan
    Kau menyimpan kenangan
    Dan bagi buah hatimu
    kenangan itu adalah cinta

    Betul Achoy, dan saya bersyukur masih diberikan kesempatan melihat mereka tumbuh dan mandiri.

  4. Nikmatnya menyimpan kenangan adalah ketika kita sudah melewatinya, karena mengenang adalah hal yang memang sangat manusiawi. Itulah pemberian Tuhan yang tak bisa kita beli, yaitu memori dan sifat mengenang.

    Betul Zee, mengenang bahwa perjalanan selama ini tidak mulus, naik turun yang kadang menggerogoti perasaan …namun akhirnya saya bahagia melihat mereka tumbuh dan bisa mandiri.

  5. Betul bu…saya juga selalu menyimpan beraneka foto2 dari beragam masa. Kenangan adalah salah satu harta berharga bagi saya. Tidak untuk larut dalam masa lalu namun menjadi penyemangat utk hari ini & esok. Sungguh senang ikut melihat foto2 kenangan bukti kebersamaan yg hangat dalam keluarga ibu 🙂

    Setuju Mechta, kenangan hanyalah sebagai pedoman untuk melangkah ke depan, ke arah yang lebih baik.
    Namun kita juga tak boleh melupakan sejarah, terutama saat kita berbuat kesalahan….agar anak cucu tak melakukan kesalahan yang sama.

  6. Ya, kiranya begitu cepat kehidupan berlalu

    Tak terasa memang….

  7. waaa…bungsunya identik banget bu?
    kayak di fotokopi hehehe
    senangnya foto2 lama masih tersimpan rapi ya bu,
    saya juga sejak pindah rumah baru kelihatan nih foto2 lama
    hehehe culun-culun …
    tapi kok foto ibu ga culun2 ya?!

    kesepian sudah pasti ya bu,
    tapi ibu kan orang sibuk, palingan juga pas mau tidur aja tuh baru berasa ga ada anak2, yang paling merana adalah kalau tidak berkegiatan, baru deh berasa waktu itu berjalan lambaaaaaat sekali 🙂

    Klo anak ibu jauh2, angkat anak lagi aja bu, saya udah ga punya Ibu, mau kok saya jadi anak ibu hehehe …

    Hehehe…banyak yang bilang si bungsu mirip saya. Sebetulnya malah kalau dilihat satu-satu banyak mirip atyahnya, namun karakter, gaya jalan, lebih mirip ke ibu.
    Memang kangen karena dulu sering jalan bersama, namun sebenarnya bisa lewat telepon, bisa mengobrol lama, atau melalui YM….
    Saya cukup sibuk, malah kadang terpaksa mengurangi kesibukan agar tak lelah…kesepian hanya terasa kadang-kadang, karena hari-hari cepat berlalu, banyak pekerjaan yang dikerjakan di rumah.

  8. itu lah pentingnya foto ya bu! buat dikenang lagi cerita2 di masa lalu. karena ternyata emang waktu itu cepet sekali berputar ya bu… tiba2 anak2 udah pada besar aja.. 😀

    makanya saya seneng banget motret2in si andrew juga. untungnya sekarang udah jaman kamera digital. tinggal jeprat jepret, ntar dipilih baru dicetak. 🙂

    saya di rumah banyak banget nyetak foto trus di frame. kadang kalo iseng suka saya liat2in, inget2 kenangan dari ngeliat2 foto2 itu… menyenangkan sekali… 🙂

    Iya Arman, sekarang era digital, jadi foto tak berubah warnanya. Foto pertama dan kedua masih foto lama, warna berubah….tapi masih layak dilihat.
    Arman saya lihat banyak koleksi foto-foto, nanti pasti bermanfaat jika Andrew besar..bahkan si bungsu udah lupa foto masa kecilnya itu. Dan bilang, kok ibu dulu saat muda, wajahnya mirip aku ya…hahaha

  9. Wah … foto Mbak Enny waktu muda kok beda ya dengan sekarang?

    Saya banyak mengamati orang-orang di sekeliling saya, dan saya melihat bahwa rasa kesepian itu bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan seorang ibu yang memiliki banyak anakpun bisa merasakan kesepian ketika anak-anak semua sudah keluar dari rumah. Padahal perginya anak dari rumah adalah hal yang tidak bisa dihindari. Maka, untuk menghilangkan rasa sepi adalah dengan memiliki kesibukan sendiri, yang bisa menjadi sumber kebahagiaan. Saya sudah belajar, bahwa kita harus bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri, sehingga jika suatu saat harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, kita tetap survive, tidak terpuruk …

    Salam hangat Mbak 🙂 . Semoga hari-hari selalu cerah bagi Mbak Enny dan seluruh keluarga …

    Wajahnya beda ya…mungkin yang bisa lihat orang lain ya…
    Mbak Tuti, jika tak ada kegiatan pasti akan terasa sepinya. Kebetulan saya masih sibuk, syukur alhamdulillah masih sehat, namun juga tak boleh terlalu sibuk agar tak terlalu lelah. Yang penting memang harus menjaga keseimbangan, agar tetap aktif, namun kegiatan yang menyenangkan dan tidak stres. Yang bikin stres bukan kegiatannya, tapi kemana-mana macet, apalagi sekarang jalan Antasari lagi dibangun……duhh kacau balau deh. Jadi kalau ada kerjaan saya pilih berangkat pagi-pagi..tapi pulangnya tetap kena macet. Ya, harus sabar..hanya itu jalan keluarnya.

    Terimakasih mbak Tuti…salam hangat juga buat mbak Tuti….

  10. met siang bu 🙂

    Met siang juga

  11. Saya termasuk orang yang jarang mengumpulkan foto2 kenangan, tapi begitu lihat postingan lengkap dg foto2nya, jadi kepikiran untuk mengkoleksi foto2 kenangan saya kembali 🙂

    Ternyata menarik juga melihat foto lama dan mempostingnya.

  12. Saya biasa menyimpan suatu kenangan dengan aromanya, Bu. 😀

    Menyimpan dengan aroma itu caranya bagaimana Farijs? Pakai parfum…?

  13. Waktu terus berjalan. Makin besar abak-anak punya kebutuhan dan jadwal sendiri. Saya ingat ketika masih reporter, dan punya anak kecil, seorang narasumber yang saya wawancarai menanyakan soal anak kepada saya. Lalu nasihatnya, “Dik, kalauanak masoih kecil, minta dipangku, pangkulah. Minta digendong, gendonglah. Minta ditemani, temanilah. Nanti setelah besar dia akan jauh daru kita.”

    Nama si narasumber, seorang ibu, itu adalah Rahayu Effendy, ibunya Dede Macan Yusuf. 🙂

    Betul paman, memang kita harus bisa dekat, bersahabat dengan anak, karena tak terasa tahun-tahun cepat berlalu. Walau demikian, pada tahap perkembangan usia anak yang makin dewasa, orangtua masih bisa dekat, namun kita juga harus memahami kesibukan mereka. Jadi seperti janji untuk kencan, jika saya akan menengok ke kota tempat mereka kuliah, harus janji dulu minimal seminggu sebelumnya, dan nyatanya…sangat menyenangkan mengobrol dengan anak saat usia remaja, dengan teman-teman nya. Justru setelah mereka besar, saya banyak belajar dari mereka. Dan saya bersyukur pada Tuhan, mendapat karunia anak-anak seperti anakku, sehingga dunia ini terasa indah.

  14. terakhir kali foto bareng ortu dan adik2: saat nikahan saya..

    terakhir lagi sebelum itu: 10 tahun yang lalu di Danau Toba, hahaha.. parah banget deh Bu

    Itulah Clara, acara dalam keluarga, seperti pernikahan, menyatukan keluarga yang anak-anak nya sudah besar.

  15. Kenangan memang terasa jauh tapi dekat karena ia melekat dalam ingatan..
    Oo lihat fotonya saya jadi ingin ke Padang lagi, sudah hampir setahun meninggalkan bumi Minang..

    Berarti asalnya dari Minang?
    Minang sungguh wilayah yang indah….saya pengin juga ke sana lagi.

  16. anak2ku aja sekarang sudah susah kalau mau diajak pergi bareng, he..he…
    padahal masih ada di dekat kita,
    kepengennya saya bisa seperti ibu yang bisa mengantar anak sampai mandiri

    Saya yakin mbak Monda bisa….
    Dan memang orangtua juga harus memahami anak, semakin besar mereka makin dekat dengan temannya, namun mereka juga ingin dekat dengan orangtua. Jika ingin mengajak anak, saya biasanya menawarkan minimal seminggu sebelumnya, serta mengajak anak menimbang apakah bersedia meluangkan waktu sebentar bersama keluarga. Biasanya mereka tak keberatan asal tidak sibuk dengan urusan sekolah.

  17. Subhanallah… ternyata inilah tahapan yang dilalui oleh orang tua ya, bu…
    Saat melepas anak-anak…

    Betul Akin, rasanya campur aduk.
    Ada rasa haru, bangga dan kawatir…tapi saya yakin Allah swt akan menjaganya.
    Dan doa ibu tak putus dipanjatkan pada Nya, agar selalu melindungi anak-anak dimanapun berada.

  18. Di rumah orangtua saya sekarang, jadi tempat penitipan cucu-cucunya yang orangtuanya bekerja 😀
    Katanya sih, daripada sepi, walau malah kadang saya lihat malah jadi cape.

    Sebaiknya kalau nitip cucu sekaligus didampingi yang momong masing-masing anak. Walau orangtua senang mengasuh cucu, namun fisiknya tak sekuat dulu. Saya juga bilang pada anak-anak, bahwa jika ada yang mau meneruskan kuliah lagi, anak bisa dititipkan di rumah saya, tentu saja dengan catatan, ada yang momong….lha kan bisa kelelahan, apalagi untuk anak kecil yang sedang aktif-aktif nya.

  19. Ya misalnya ada suatu kejadian, terus saya hidu benar-benar aroma yang bisa terhidu pada saat itu, Bu. Lantas kaitkan aroma tersebut dengan kejadian tersebut. 😀

    Kadang berhasil, kadang pula tidak. 😦

    Wahh ini hanya khusus untuk orang yang hidungnya sensitif seperti Farisj…..

  20. Ah suka paragraf terakhirnya, Bu!
    Saya sedang sering teringat kenangan2 saya dengan Papa almarhum, Bu 🙂

    Hmm betul Donny….kenangan itu pasti memberikan kita suatu pembelajaran….dan lebih menyayani orang-orang yang kita sayangi.

  21. saya setuju kalo pada bilang si bungsu mirip layaknya fotokopi bunda enny 🙂

    baca tulisan ini, saya bisa membayangkan kenangan2 indah bunda enny bareng anak2 waktu kecil.. dan waktu berjalan.. mereka udah gede..

    saya malah jadi terharu… hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: