Oleh: edratna | April 12, 2011

Obrolan siang hari

“Halo, bisa maksi bareng?” kata suara di seberang sana. Sudah lama saya tak mendengar suaranya, maklum masing-masing punya kesibukan sendiri. Akhirnya kami mencapai kata sepakat, untuk melihat jadual masing-masing, dan tentatif ditetapkan akan ketemu hari Senin minggu depan. Sebegitukah hidup di Jakarta, hanya sekedar maksi bareng mesti dibuat jadual? Bukan sok sibuk, namun kemacetan yang luar biasa, dalam satu hari hanya bisa janji  untuk dua acara, kecuali  disambung lagi malam hari.

Kami janjian ketemu di Gramed sebuah Mal, agar bisa makan siang di restoran yang memang saya suka, apalagi kalau bukan American Grill. Pasti Imelda ketawa, habis saya memang hobi berat makan disini, apalagi jika kondisi badan lagi kurang fit….makan bubur ayam, ditambah mengobrol, tak terasa perut akan kenyang. Namanya juga obrolan ngalor ngidul, jadi ya kemana-mana. Apalagi temanku ini sedang  hendak memilih, mau ke arah mana jalan yang akan dipilihnya. Menurut saya, alternatifnya semua menantang dan menyenangkan, namun namanya memilih, pasti ada rasa ragu, kawatir. Bekerja memang tak sekedar mendapatkan upah besar, namun justru suasana kantor yang sangat diperlukan. Kenapa terkadang kita melihat, orang berteman dengan yang itu-itu saja, mungkin karena mereka memang cocok, sehingga apapun yang dikerjakan terasa nyaman.

Memilih teman, memang bukan perkara gampang. Apakah dalam team work di kantor, dalam pergaulan, atau juga hanya sekedar jalan-jalan. Pernahkan anda diserang rasa bosan dalam suatu acara, karena obrolan tak nyambung? Mungkin saya termasuk tipe orang yang  tidak terlalu suka datang ke acara reuni, kecuali ada tujuan atau hal penting lain yang bisa dikerjakan. Kalaupun datang, mesti tanya dulu siapa saja yang mau datang, karena kalau sekedar datang, kadang hanya bengong saat disana. Padahal mereka adalah teman-teman kita, apakah kita sudah berubah? Mungkin tidak, namun karena jarang ketemu, maka kita menjadi tidak tahu perkembangan, juga mungkin tak terasa kita sudah berubah jauh, sehingga obrolan yang dulu menyenangkan, sekarang terasa datar saja.

Saya mencoba melihat diri sendiri, sebetulnya teman seperti apakah yang terasa nyaman untuk diri saya? Sambil mengobrol dengan temanku tadi, saya merenung, rupanya saya justru bisa bersahabat dengan orang yang tepat waktu, entah kenapa saya sulit sekali memahami orang yang telat. Mungkin karena kebiasaan sejak kecil, saya sering datang di sekolah nomor satu, bahkan pada saat sekolah masih sepi. Saya menikmati naik sepeda, tak terburu-buru, sehingga bisa melihat keadaan sekitar, serta sampai di sekolah masih pagi. Kebiasaan ini terbawa terus sampai sekarang, walau awalnya sulit menyesuaikan dengan pasangan, namun pada akhirnya justru pasangan yang terpengaruh dan menyukai hadir lebih pagi. Jangan heran, saya sering menunggu di bandara 2 (dua) jam lebih, daripada saya senewen di jalan. Untuk menunggu waktu, saya selalu sedia notes untuk menulis, mencatat, atau membaca buku bacaan, sehingga waktu berlalu tak terasa.

Teman yang janji makan siang ini termasuk teman yang disiplin, jadi sesuai dengan saya, sehingga perbedaan umur kami tak membuat kami berjarak. Obrolan sambung menyambung, bahkan kadang suara tawa kami membuat orang yang sedang makan menoleh, jika sudah begitu kami langsung memelankan suara. Saya mengatakan, pada suatu titik dalam karir, kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, dan saya mengakui kadang ada perasaan bersalah atau sesal, namun hal tersebut tak boleh berlarut-larut. Kondisi saat ini memerlukan gerak cepat, penyesuaian yang terus menerus, karena kondisi lingkungan cepat sekali berubah,  perusahaan dipaksa untuk  terus menyesuaikan diri. Saya cerita, yang sebetulnya merupakan obrolan saya dengan mantan bos, bahwa setiap orang punya zamannya. Orang yang pintar sekali saat memasuki awal dunia kerja, dalam perjalanannya belum tentu dapat menyesuaikan diri, jadi mau tak mau kita harus terus meng up grade diri, harus mengikuti perubahan, agar ilmu dan kompetensi kita tidak usang, serta tetap dapat menyesuaikan irama perubahan lingkungan sekitar. Jadi pintar saja memang tidak cukup, namun kita harus menjadi orang yang selalu bisa melihat peluang.

Temanku bertanya, apa yang membuat saya mengambil S2 pada usia yang tak muda lagi, padahal saat itu posisi saya sudah lumayan? Saya menjelaskan, ada yang kurang, atau setelah kesibukan berkarir, sambil sibuk membesarkan anak, ada yang hambar dan hal ini tak boleh dibiarkan karena kita bisa apatis. Saat ada peluang, saya memberanikan diri untuk mengambil peluang itu, walau saya akui, kuliah lagi sambil bekerja benar-benar melelahkan baik fisik maupun mental. Namun hasil yang diperoleh sangat bernilai untuk diperjuangkan, bukan dari sisi materi, namun justru dari sisi kemampuan dan pengalaman. Jadi, saya selalu menganjurkan bagi para anak muda, entah junior ku atau anak-anakku, bahwa jika sudah jenuh, maka perlu dipertimbangkan untuk menyetrum baterai alias mengambil kursus atau bahkan kuliah lagi.

Catatan:

Tulisan ini untuk temanku yang mengajak maksi bareng, agar optimis memandang ke depan, dan tak ragu untuk mulai mengambil langkah. Semoga jalan yang diambil memang sesuai dengan dirimu. Selamat melangkahkan kaki, mencoba hal-hal baru!!

Iklan

Responses

  1. bu, saya juga suka makan di American Grill. saladnya banyak dan bisa makan sampai puas 🙂

    duh, kapan nih saya bisa makan siang sama bu enny? hehe. masih sibuk ya bu?

    Biasanya saya punya waktu hari Jumat atau akhir pekan..tapi kebetulan hari Senin waktu itu longgar karena tak ada janji temu. Kita telpon-telpon an ya…ntar kita bisa mengajak temanku itu, Menik belum ketemu tapi namanya tak asing karena dia juga ngeblog.

  2. waduh kayak nyindir saya nih bu. hauahhaa.
    dari dulu saya mau ngambil s2. tapi gak ngambil2 sampe sekarang…
    males nya itu lho kok tambah lama tambah parah ya bu. hahaha. kaco dah.. 😛

    Lho! Kok nyindir….bisa kuwalat dong saya…
    Kalau belum pengin berarti belum jenuh…..jadi kerjaan nya masih menantang….

  3. Saya juga ingin S2 tapi ya itu, cuma keinginan saja, malas melakukan pendaftaran 😀
    Kalau ada kopdar lagi, ajak-ajak ya Bu Enny.

    Iya deh…kapan ya…
    Kadang kopdarnya suka dadakan, maklum kalau pakai dijadual sering nya malah ada aja halangannya……atau Indah yang mau jadi EO nya……
    Cari lokasi yang mudah atau ditengah…..dan ada kendaraan umum (taksi, bis, angkot dsb nya). Bagaimana?

  4. hahaha ibu…. AG lagi hihihi. Enaknya di sana memang makanannya beragam dan tak ada batas waktu sih. Tapi bubur ayamnya masih kalah dengan buryam barito bu. Nanti kalo aku mudik, aku mau ajak ke situ (barito) deh bu.

    Kebetulan kemarin aku ajak Riku dan Kai waktu mengajar, krn tidak ada yg bisa menjaga mereka. Kelas terakhir di musim semi. Pesertanya memang sudah dewasa/berumur. Lalu Riku tanya padaku, “Mama, kenapa orang sudah tua masih mau belajar?” Nah loh hihihi. Kalau aku jelaskan pasti panjang lebar, padahal kalau Riku bisa baca blogku malah lebih afdol :D. Tapi aku cuma bilang singkat, yaitu bahwa orang mau lebih pintar dari orang lain, mau berkembang terus, dan untuk itu perlu belajar.

    Dan aku percaya belajar itu bisa di mana saja, bahkan di blog. Bahkan di FB, bahkan di twitter. Di twitter aku ikuti akun sejarah dan klinik hukum, dan byk belajar dari sana. Tinggal kitanya aja mau belajar atau tidak kan 😉

    EM

    Tahu nggak, nyaris seminggu dua kali saya lewat Barito, pulang dari Gandaria City ke rumah..tapi kok nggak tahu ya tempat bubur ayamnya sebelah mana? Tanya sopir taksi nggak tahu juga…di depan makam banyak deretan tenda makanan berbagai jenis….
    Mungkin suatu ketika Riku akan tahu, bahwa belajar itu terus menerus, dan tak harus di kelas…bisa dari mana saja….

  5. saya rencana akan sekolah lagi tahun ini bu. mudah-mudahan saja saya diterima. dan memang alasan saya untuk sekolah lagi karena saya merasa perlu menambah pengetahuan saya.

    Semoga berhasil ya Ira, saya doakan dari jauh…

  6. pingin juga makan ama bu enny pas lagi di jakarta dan rekan blogger yang lain nih…bulan kemarin saya tugas di jakarta tapi jadwalnya padet banget…seumur2 belum pernah kopdar nih….

    Ayoo kapan pulang mudik ke Indonesia kang Boyin, ntar kita janjian kopdar…ketemu teman2 yang lain.

  7. Jadi teringat perkataan seorang kawan: “Buku adalah sebaik-baik teman duduk”. Baginya begitu.

    Kalau di keramaian begitu, semacam acara reunian, terus tidak ada yang dikenal, tidak ada teman mengobrol, ya saya nikmati suasana saja. Bisa mengobrol sendiri (doh) atau mengajak mengobrol orang sembarang, mengajak kenalan, dsb. Atau yang paling gampang dan sering saya lakukan sih pergi mendekat ke tempat makanan, terus makan sepuasnya di situ. Hwehe…. 😀

    Hehehe…iya, buku memang paling tepat, biar kita juga nggak kayak orang bengong. Kalau makanan sih repot, apalagi saya tak suka ngemil….

  8. Saya paling sebel dg orang yg sudah telat tapi sama sekali tak merasa bersalah, apalagi minta maaf… huh!
    Bu, meskipun tulisan ini utk teman ibu, tapi ada banyak hal yg turut saya catat dalam hati… trima kasih ibu….

    Hehehe…walau cerita tentang teman, tujuannya juga bisa dibaca orang lain, syukur jika ada manfaatnya.

  9. American Grill atawa Sizzler gak ada di Bali. Padahal kangen ama salad bar-nya. 😦

    Ntar kalau liburan ke Jakarta (jika Ara udah minimal 6 bulan)…jalan-jalan ke AG.
    Di Bali banyak makanan enak..di Jimbaran

  10. wah Ibu, saya jadi kepengen ke Sizzler juga…
    btw.. semoga kesempatan saya yg kedua utk beasiswa S2 di kantor bisa lulus Bu, amin hehehe

    Aldi ntar traktir ke Sizzler ya kalau udah diterima beasiswa S2…ajak Mieke, teman-teman dan nyonya, serta si kecil…

  11. S2? bingung juga, kayaknya kepala sudah tak sanggup lagi untuk dijejali ilmu, mana di tempat kerja sebenarnya belajar banyak hal yg lama sudah dilupakan dan juga banyak hal baru yang menarik 🙂
    semoga suatu saat menjadi pilihan, ketika sudah punya cukup kemampuan baik kemampuan otak maupun duit :mrgreen:

    Hehehe…santai aja. Saya dulu melamar kerja bukan sebagai dosen karena rasanya udah capek ujian terus, ternyata di Bank malah ujian nya terus menerus, ditambah risikonya tinggi. Mau sekolah lagi anak-anak masih kecil..tapi di masa-masa yang rasanya kepala ini sudah tak bisa lagi memenuhi kebutuhan pengetahuan yang makin lari kencang, mau tak mau harus kembali ke bangku kuliah.

  12. Harus saya catat baik-baik nih : kalau janji dengan Mbak Enny nggak boleh telat 🙂
    Saya, kalau tidak bisa menepati janji, selalu memberi kabar, sehingga orang yang punya janji dengan saya tidak menunggu-nunggu, atau bisa mengerjakan sesuatu yang lain dulu.
    Saya sendiri kalau janji dengan orang lihat-lihat orangnya. Kalau dia suka molor, saya agak santai juga. Tapi kalau dia disiplin, saya berusaha untuk juga disiplin.

    Mencari ilmu memang tidak terbatasi oleh umur, dan tidak harus melalui pendidikan formal …

    Hehehe…mbak Tuti kan termasuk disiplin dan kalau janji jelas. Saya sendiri juga tak berani janji, seperti saat acara sidang terbuka pak Eko yang lalu, karena saat itu kerjaan lagi membeludak, tapi saya hanya bilang, jika memungkinkan saya akan menyusul mbak Tuti. Jadi sama-sama enak, dan akhirnya kita bisa ketemu.
    Saat ke Yogya saya juga nggak berani woro-woro karena sedang tugas mendampingi bos…..

  13. ..
    budaya orang-orang negara tropis emang suka nyantai Buk..
    kalo jalan lambat, suka mampir2 dan berhahahihi dengan orang di jalan.. 😀
    kalo budaya orang-orang yang punya musim dingin..
    biasa suka on time dan jalannya cepet, soalnya kalo jalannya lambat bisa beku.. hehe..
    * analisa ngasal.. *
    ..
    apa kabar Bu Enny, semoga sehat..
    salam saya..
    ..

    Analisamu bener-bener ngasal deh Septa……hehehe.
    Saya justru sejak kecil (karena kebiasaan?), jarang pergi tanpa tujuan jelas…
    Sesekali santai memang iya…dan benar-benar santai….

  14. Seumur2 baru 1x ke AG, kayaknya IBu boleh dapet privilege card dari AG nih, promo in terus soale 😀 bener deh, jadi pengen ke sana lagi hehehe sayangnya lokasi kita dari ujung ke ujung ya bu, nunggu mba INdahJuli bikin kopdaran aja deh

    Soal tepat waktu, saya tuh paling ditakuti temen2 Bu, katanya klo mo janji ama Nique mendingan dilebih2in deh jamnya. Klo mo ketemuan jam 10 misalnya, tapi ke saya bilangnya jam 12 bu 😀 biar mereka bebas telat2, karena klo smp bilang jam 10 dan saya sudah ada, sementara yang lain blom pada muncul, yang ada pasti saya ngomel2 hahahaha …. apalagi klo pas saya yang njemput mereka, pasti dah rata2 milih dandan di mobil aja daripada ngedengerin omelan saya karena tak sudi menunggu2 xixixi … saya tega’an juga bu, pernah janjian di mal dan temen saya telat sampai 2jam, ya saya tinggal pergi, akhirnya dia nyusulin saya ke tempat lain hahaha …bagus sih klo ngerasa bersalah, karena ada juga yang udah ga tepat waktu eh ga datang pula eh ga bilang2 pula. ampun ga tuh 😦
    aneh juga sih klo ada orang yang sulit sekali tepat waktu, padahal di mana susahnya coba? 😀

    Hahaha…Nique….dulu ada restoran dekat kantor, kalau tak salah namanya “Daisho”….saking seringnya kesana dan selalu bawa teman, bahkan jika temenku bilang kalau temenku, dapat diskon 10%. Salmon terayaki nya enak banget deh…..sayang sekarang udah pindah dan tak tahu kemana, maklum saya sendiri juga udah pensiun.
    Berarti Nique cocok dengan saya soal janji…..sebetulnya kalau kita menempatkan diri pada orang lain, kita akan lebih baik. Seperti, betapa kasihan teman kita yang sudah menunggu, sedang kita masih santai. Tapi kalau orang yang biasa santai, ya jangan janji yang tepat…kasihan teman lain.

  15. wah, klo gitu, sepertinya setiap ada postingan Ibu tentang AG sebaiknya di-link ke sana, siapa tau satu hari beneran dikasi privilege card, jadi siapapun yang kesana tinggal nyebut nama Ibu terus dapet diskon deh hahahaha *pagi2 gini emang paling asyik dah ngayal hahaha*

    Hehehehe..kalau ke sana nya tiap minggu, mungkin baru diberi privilege card

  16. benar, bu enny. hidup selalu dihadapkan pada pilihan2. lain kali boleh nih, bu, ikut konsultasi dengan ibu 🙂

    Yup….kapan Fety mudik ke Indonesia…..?

  17. Saya juga senang dengan orang yang tepat waktu. Tapi sayangnya orang yang tepat waktu seringkali juga tidak sempurna, yah maklumlah, semua orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Mudah2an mereka yang suka telat waktu punya kelebihan lain yang menonjol sehingga dapat menutupi kelemahannya, walaupun kebiasaannya telat tetap harus diperbaiki.

    Mengenai S2? Ah… tak masalah dengan usia. Bahkan jangan pernah mentertawakan orang yang masih berjuang mendapatkan gelar S1-nya di kala usia yang tidak lagi muda, asal ia memang niat untuk belajar. Pokoknya masalah belajar, apakah itu cara formal ataupun informal tidak ada batas usia. Teruslah belajar dan juga kalau bisa membagi ilmunya kepada orang lain sesedikit apapun…

    Baca blognya kang Yari, sempat ketemu orangnya, sudah bisa di duga kalau kang Yari orang yang tepat waktu. Iya, belajar tak ada batasan usia, dan tak harus lanjut ke sekolah formal, tergantung bidang kegiatan yang digelutinya.
    Dan, belajar akan mnumbuhkan keingintahuan yang baru, yang membuat semangat untuk mengetahui hal-hal baru….

  18. dulu sebelum punya anak aku sangat disiplin tak pernah terlambat sekolah dan brgkt kerja tapi belakangan sering kesiangan karena cape dan anak yang sedikit rewel hehe

    Hmm punya anak kecil, memang ada risiko. Tapi kita bisa membuat situasi nyaman dengan janji yang telah dipertimbangkan dulu…..sehingga yang diajak janji tak menunggu lama. Apalagi sebetulnya, saat ini macet dimana-mana, bagi orang yang sudah berusaha datang dan menepati janji harus dihargai.
    Saat anak-anak kecil, saya kalau janji, diusahakan yang longgar, dan ada embel-embel, nanti telpon lagi ya….sebelum berangkat. Ini untuk jaga-jaga agar jika ternyata nggak jadi mereka tak kecewa.

  19. Saya tersenyum …
    AG ini rupanya tempat favorit ibu ya …
    Yang jelas … saya selalu salut pada orang yang komit untuk sekolah lagi di usia yang tidak muda … ini pasti sulit bagi waktunya … perlu tekat yang kuat

    salam saya Bu

    Hehehe…AG lagi..AG lagi…
    Maklum, kadang cuma ingin makan yang hangat, tak terlalu bersantan atau pedas…yang cocok ya di AG ini.
    Kalau udah kebiasaan, komitmen akan mudah dilakukan, dan mesti dipikirkan dulu apakh kita bisa memenuhi komitmen tersebut. Risikonya saya tak mudah untuk janji temu dengan seseorang

  20. Kapan yah saya diajak makan siang bareng hehehe
    wah lama nggak ketemu yah ketemuan waktu Pesta blogger 2008 kalau nggak salah 🙂

    Ehh kita ketemu ya di PB 08?
    Wahh mudah2an tahun ini bisa ikutan lagi….2 tahun berturut-turut saya berhalangan, pas tugas ke luar kota.

  21. masalah rajin itu juga selalu dimulai dari waktu kecil kan bu? saya selalu diajarkan untuk datang tepat waktu saat masih kecil dulu.. entah kenapa kebiasaan itu berubah karena seringnya saya tidur malam.. 😦

    tapi obronal dan cerita ini penuh makna 😀 terimakasih bu.

    Memang harus dimulai sejak kecil..
    Walau tidur telat, saya tetap bisa bangun pagi..bahkan pusing kalau bangun nya siang, keuali memang kondisi sakit.

  22. Kebiasaan yang baik Bu! Memang lebih baik lebih awal daripada telat 🙂
    ===
    Jiwa kita memang seharusnya tak pernah puas akan “ilmu”.

    Salam 😀

    Yup betul ….. belajar tak pernah berhenti

  23. hai, bu enny yang cantik…
    tulisan ini menyemangati banget deh.
    jadi ingat bagaimana saya, seperti banyak orang lainnya, memiliki obsesi atau cita-cita untuk diwujudkan, tetapi selalu berpikir akan kendala dan risiko.
    tentunya baik untuk memikirkan rencana yang minim risiko, tapi jangan karena terlalu banyak berpikir membuat rencana tidak kunjung terwujud ya, bu?

    Hehehe…berpikir tentang risiko itu wajib, namun jagan sampai terkendala….karena apapun yang kita lakukan selalu ada unsur risiko kan? Yang penting kita sudah bisa memitigasi risiko yang mungkin ada, menghitungnya, dan menyiapkan langkahnya..kalau meleset, yah itulah risiko…..

  24. wow semangat yang luar biasa bu, semoga saya bisa seperti itu……
    ================
    berhentilah sekolah sebelum terlambat

    Komentarmu, dengan link tulisan kok nggak nyambung…jadi setuju yang mana? Karena banyak yang bisa dikupas dari tulisanku dan juga link tulisan yang anda bikin

  25. senang rasanya bila bisa bersama dengan kawan, sambil menyantap hidangan, pencerahanpun didapat 🙂
    Saya pengen ketemu Bu Enny lagi rasanya 😀

    Ayo ketemuan, kalau Akin ke Jakarta lagi…..:P

  26. aku setuju soal memilih teman itu mba….
    suka cocok cocokan…
    psssstttt…dan kadang aku suka rada curang juga sih…hihihi…
    contoh nih…
    si A enaknya diajak jalan bareng karena seru dan fun…
    si B cocok diajak curhat karena bijak dan pendengar yang baik…
    si C paling pas diajak kerja bareng karena gesit dan bisa diandalkan…
    dll,…
    Nah…kalo aku instrospeksi lagi…aku justru gak ngerti kenapa mereka masih mau temenan ama aku…hihihi…

    Hmm padahal saya seperti Erry…
    Saya tak punya sahabat yang benar-bener sahabat di segala bidang. Namun saya punya banyak sahabat sesuai kompetensinya. Jadi seperti Erry…jika mau jalan-jalan beli baju, ngajak si A, karena A pintar memilih warna ngepasi ke bentuk badan dan pandai menawar. Sedang saya tak bisa urusan seperti ini. Namun dimata teman-teman, saya punya kompetensi lain yang diperlukan oleh mereka pada waktu tertentu..

  27. Upgrade diri memang wajib ya Bu, dan bisa dilakukan dgn banyak cara, karena sekarang ada banyak pilihan yg memudahkan kita u/ belajar.

    Yup...up grade bisa dimana saja, kapan saja.
    Dan perlu agar kita bisa seirama dengan sekeliling kita, dengan suami kita agar kita bisa bicara dan diskusi dua arah secara baik. Juga dalam kegidupan kita, dalam hubungan orangtua dan anak, dalam hubungan kekerabatan, pertemanan dan lain-lain.

  28. saya suka tulisan ibu yang ringan2 gini, tapi mengenaaa bangett 😀 terimakasih bu atas setruman tulisannya 😀

    Wahh syukurlah Vivink, jika ternyata tulisanku bisa bermanfaat….

  29. merasa kesindir juga..
    dari dulu cuman niat mo S2 tapi gak jadi kenyataan juga mpe sekarang…

    sedikit cerita juga Bunda..
    ibu mertua saya aja, walopun udah gak muda lagi .. beliau mau lho nyari beasiswa dari kantornya dan kuliah S2 ..

    Ayoo Anna…semangat
    Saya ambil S2 juga sudah tidak muda, saat masih muda, sibuk berkarir, mengurusi keluarga….setelah anak remaja baru deh berani ambil S2.

  30. wah saya mau juga S2..lagi agak bosan dan jenuh dg kondisi kerja…mungkin akan ada cas lg kalo ambil kuliah..makasih shraingnya bu..

    Sama-sama

  31. […] ramai? Setidaknya temans blogger pasti bisa menebak deh, restoran ini adalah tempat di mana Bu Enny suka memesan semangkok bubur ayamnya. Bagi yang sudah sering mampir ke rumah Bu Enny, pasti […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: