Oleh: edratna | Mei 3, 2011

Mengapa Kartu Kredit masih diperlukan?

Walau cerita Kartu Kredit (KK) dan Debt Collector akhir-akhir ini begitu mengharu biru, banyak orang tetap mantap untuk punya Kartu Kredit, karena sebetulnya yang salah bukan Kartu Kreditnya, namun pemahaman yang kurang tepat dalam menggunakan Kartu Kredit. Gencarnya pemasaran Kartu Kredit membuat konsumen ikutan lelah, berkali-kali mendapat telepon atau sms yang mengganggu. Namun bagi konsumen yang imannya kuat, tak mudah tergiur untuk mengikuti berbagai tambahan fasilitas di Kartu Kredit, apalagi mengambil uang tunai dari Kartu Kredit, maka KK bisa sangat bermanfaat. Konsumen yang berhati-hati, akan mengelola uangnya dengan baik, dan menganggap bahwa Kartu Kredit hanyalah sebagai pengganti alat pembayaran.

Kartu Kredit (gambar diambil dari mas google)

Akhir-akhir ini penawaran Kartu Kredit memang agak sepi, setelah berbagai kejadian mengenai Bank penerbit KK  yang terkenal, jadi konsumen bisa bernafas lega tak menjadi sasaran sms atau telepon penawaran KK. Suatu hari saya mendapatkan telepon. “Bu, ibu mendapat keberuntungan, untuk mengambil uang tunai dari KK. Ibu bersedia?” kata suara di ujung sana. Saya cuma tertawa, dan menjawab..”Mas, lha Bank sekarang  kan harus hati-hati menambah nasabah KK yang baru. Kok malah menawari saya?” Suara disana menjawab lagi, “Kalau nasabah lama, apalagi seperti ibu, yang tak pernah menunggak bayar, kami tambahkan berbagai fasilitas.” Saya hanya menjawab, “Mas, tambahan fasilitas kan berarti utang, dan utang harus dibayar, dengan tambahan bunga, tentu saja. Jika saya ingin mengambil pinjaman, saya akan datang ke Bank, minimal saya bisa mengambil pinjaman pegawai yang bunganya lebih rendah, berjangka 3-5 tahun, bunga annuitet, diangsur per bulan langsung potong gaji, serta ada asuransi jiwa. Jadi tolong pahami ya, anda menawarkan sesuatu dengan iming-iming, tanpa menjelaskan risikonya, ini tak benar“.

Masing-masing Bank punya kebijakan sendiri, terutama dalam hal suku bunga kredit (kalau sekarang sudah ada SBDK=Suku Bunga Dasar Kredit), dan ini harus kita pelajari sebelum kita melakukan transaksi menggunakan kartu kredit. Sebagai contoh: a) Bank  A memberikan suku bunga pembelanjaan 42% pertahun atau 3,5 % per bulan. Penarikan tunai bunganya 48% pertahun atau 4% per bulan. Pembayaran minimal 25% dari total tagihan. b) Bank B, memberikan suku bunga pembelanjaan 24% per tahun atau 2% per bulan, dan suku bunga penarikan tunai 30% atau 2,5% per bulan. Pembayaran minimal 10% dari total tagihan. Dari analisa perbandingan kedua Bank tersebut kita bisa melihat, walaupun Bank A termasuk pioner dalam KK, namun risiko terhadap KK lebih besar karena suku bunga nya lebih tinggi dan pembayaran minimal 25% dari total tagihan.  Namun di satu sisi, Bank A lebih memberikan kepercayaan kepada konsumen, sedang Bank B manajemen risikonya lebih ketat. Apa yang mendasarkan pemikiran saya? Jika saya membeli Handphone menggunakan Kartu Kredit dari Bank A, dengan cicilan 6 bulan dan bunga 0%, maka plafond KK saya yang diperhitungkan hanya sebesar cicilan pertama, yang jatuh tempo pada bulan berikutnya. Sedangkan untuk Bank B, saya pernah membeli 2 laptop merk HP secara cicilan 12 bulan, kedua laptop tadi seharga Rp.7.000.000,- Ternyata plafond KK saya langsung di log sebesar harga laptop yaitu Rp.7 juta, walaupun tagihan per bulannya hanya Rp.600.000,-.  Artinya, Bank B lebih konservatif, yang berarti jika plafond KK saya Rp.10 juta, maka saya hanya maksimal dapat belanja Rp. 3 juta lagi.

Hal lain lagi yang harus diperhatikan adalah jika anda telat membayar, berapa biaya keterlambatan pembayaran, rupanya Bank B memberikan biaya lebih murah. Jika anda hanya membayar sebagian dari tagihan, apakah Bank tersebut membebankan biaya dari saldo yang belum tertagih atau dari plafond semula. Kedua Bank tersebut ternyata menggunakan dasar yang sama. Sebagai contoh, saya membelanjakan uang Rp.5.000.000,- dan pada saat penagihan, saya hanya membayar Rp.1.000.000,- yang berarti sisa utang saya Rp.4.000.000,- Pada bulan berikutnya, saya akan ditagih sebesar sisa hutang ditambah pembelanjaan baru, dan suku bunga dihitung berdasarkan plafond sebesar Rp.5.000.000,- bukan kok sisa plafond Rp.4.000.000,-  dan bunganya dihitung harian sehingga anda dikenakan bunga harian dalam jangka waktu 2 bulan. Penjelasan ini sebetulnya telah dituangkan pada tagihan KK, di lembar berikutnya atau di halaman belakang tagihan, dengan huruf kecil-kecil yang membuat anda malas membaca. Jika anda tak membayar penuh lagi, tagihan akan semakin bergulung, tanpa pernah disadari, tahu-tahu anda sudah kelelep dalam hutang. Banyak contoh, orang terpaksa menjual rumah hanya untuk melunasi tagihan KK, ini kan risiko yang mahal sekali untuk anda bayar. Jadi, berhati-hatilah dalam membelanjakan uang memakai KK.

Jika ada masalah, sebaiknya anda dapat segera menghubungi Bank penerbit kartu kredit tersebut, karena anda berhak memohon restrukturisasi, dan dalam hal kredit telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. Lha nasabah besar saja, berhak dilakukan restrukturisasi jika usahanya menurun, mengapa nasabah KK tidak berhak? Masalahnya, kadang begitu anda menelpon Bank yang bersangkutan, anda bisa disambungkan ke bagian penagihan yang sebetulnya merupakan perusahaan outsourcing yang kerja sama dengan Bank penerbit Kartu Kredit tersebut.  Namanya juga perusahaan outsourcing yang berusaha di bidang penagihan, yang mendapatkan fee dari besarnya uang masuk, jadi anda bukan mendaptakan penjelasan secara baik untuk restrukturisasi hutang, namun anda  berdebat yang bisa membuat jantung anda lemah atau risiko buruknya tak kuat menerimanya. Iseng-iseng, setelah rame-rame tentang masalah KK, saya mencoba menelpon ke salah satu Bank penerbit kartu kredit….dan tepon saya sulit tersambung. Makanya saya jadi “agak sewot” saat mendapat telpon lagi dari Bank ybs, untuk diiming-imingi mudah menarik uang tunai.

Walau bagaimanapun, KK masih diperlukan, apalagi untuk keadaan darurat. Paling tidak anda bisa segera pergi  ke UGD  dengan tenang saat ada keluarga sakit, tanpa bingung mengambil uang tunai lebih dahulu, karena beberapa Rumah Sakit mensyaratkan untuk menaruh uang muka sebelum pasien di rawat. KK juga bermanfaat jika ada penawaran secara kredit dengan bunga 0% untuk barang-barang yang memang sangat anda butuhkan. Saya sebenarnya lebih suka sepeti bank B, dengan risiko plafond menjadi terbatas, namun saya dibatasi untuk belanja yang aneh-aneh, karena begitu kita berniat membeli barang menggunakan KK, walau diangsur dengan bunga nol, plafond KK langsung di blok sebesar nilai barang tersebut. Hal ini bisa untuk meredam nafsu belanja kita, yang kalau tidak hati-hati mengelolanya bisa berbahaya.

Dan bagi anda yang kondisi uangnya hanya pas-pas an, lebih aman tidak menggunakan Kartu Kredit, karena prinsip dasar KK adalah untuk alat bantu pembayaran, bukan untuk berhutang. Marilah kita berharap, Bank Indonesia segera menerbitkan peraturan tentang Kartu Kredit, yang memudahkan bagi para penerbit KK maupun bagi nasabahnya, lengkap jika terjadi permasalahan, bagaimana prosedur restrukturisasinya.


Responses

  1. yah sebenernya segala macam pilihan pasti ada plus minus nya ya bu. seperti juga KK, bisa menyelamatkan, bisa mematikan. tinggal kita si penggunanya harus bener2 bisa menggunakan secara bijak.

    yang penting kalo buat kita sih prinsip nya untuk KK gak akan pernah mau menunggak bayar. semua harus dibayar lunas. karena bunganya itu yang mencekik leher. kecuali kalo ada cicilan 0% ya.

    tapi tetep perlu punya KK. yang kayak ibu bilang, kalo perlu2 kayak ke UGD, kan kalo ada KK lebih gampang. KK juga lebih praktis jadi gak perlu kemana2 bawa cash banyak. kalo sampe dompet dicuri, kalo bawa cash kan ilang semua, kalo KK kan bisa tinggal diblokir. belum lagi bisa dapetin diskon2 dan point reward. 🙂

    Betul Arman, asal kita disiplin mengelolanya, Kartu Kredit banyak gunanya

  2. Bagi yang tinggal di luar Asia sepertinya harus punya KK sebagai suatu jaminan bahwa namanya diakui Bank. Hotel pasti akan menanyakan KK, menggeseknya dan merobek tagihan jika mau membayar cash. Belum lagi untuk memesan tempat atau belanja online. Tapi mungkin memang mental dan pengertian orang Indonesia mengenai KK belum memadai sehingga terjadi hal-hal yang negatif.

    Di Jepang tidak ada yang menawarkan KK ke rumah-rumah atau sms. Biasanya si sales hanya berdiri di depan pintu bank/departemen store menawarkan orang yang lewat, tanpa memaksa. Yang berminat saja yang mengajak bicara dan mengisi formulir. TAPI setelah itu kan ada pemeriksaan kebenaran fakta gaji, pekerjaan, rumah tinggal dsb yang menentukan si pemohon bisa dapat KK atau tidak. Nah, itu sangat ketat di sini. Waktu saya yang masih single apply sampai ditelepon ke mana-mana untuk meyakinkan saya bisa bayar 😀

    Satu-satunya yang saya suka dari KK adalah pengumpulan point yang bisa ditukar menjadi barang atau mileage penerbangan 😀 Eh, satu lagi asuransi jiwa juga tercover dari KK tertentu jika membeli tiket pesawat dengan KK. Selebihnya hanya “penundaan” pembayaran saja 😀

    EM

    Jika kita rajin dan teliti, punya KK tak masalah. Teman saya bisa jalan-jalan keliling Asia sekeluarga karena dapat bonus pengumpulan reward….kebetulan pekerjaannya jadi instruktur yang terbang terus memberikan pelatihan ke seluruh Indonesia.

  3. Saya pernah punya pengalaman teramat buruk dengan credit card, Bu.
    Penyebabnya ya sebenarnya bukan bank nya atau credit cardnya itu sendiri melainkan perilaku saya dalam berbelanja dan ketidakdisiplinan saya dalam membayar tagihannya hehehe…

    Menurut saya sih tak adil jika kita menyalahkan credit card atau bank atau debt collector (kecuali cara kekerasan yang dipakainya untuk menagih ya!), yang perlu digalakkan itu adalah ‘pendidikan’ mentalitas masyarakat kita supaya ‘wise’ dalam menggunakan credit card.

    Saya pernah punya banyak credit card, lalu pada satu masa saya kapok lalu saya tutup semuanya hingga beberapa bulan silam akhirnya saya baru “berani” bikin baru lagi 🙂

    Memang kita mesti disiplin, apa yang kita gesek sesuai kebutuhan dan sebetulnya dananya sudah ada dalam tabungan kita.
    Kalau tak disiplin memang risikonya tinggi….

  4. hahaha KK memang ada plus minusnya yach bun. Tapi jujur bun…sekarang ini saya belum mau punya KK meski seringkali ditawari utk buat KK. Krn suami saya pernah pengalaman pahit punya KK. Duch benar2 pahit bun…dan hal itu membuat saya kapok. Setahu saya suami saya hanya punya 1 KK sekarang.

    Saya…belum mau punya KK, entah kalau nanti2 pikiran berubah…saya lebih memilih punya bbrp atm dech bun…hahaha….

    Best regard,
    Bintang

    Jika sering bepergian ke luar kota, atau keluar negeri, sebaiknya punya KK karena lebih aman daripada membawa uang tunai. Jadi, punya KK memang tergantung apa pekerjaan kita…

  5. Bener Bu, tergantung yang memakai juga.. yang salah kadang2 orang yang punya kartu kredit tidak sadar dengan kemampuan pribadinya, merasa punya kartu kredit punya uang tambahan, padahal tidak begitu.. kita kan cuma memakai uang yang nantinya akan ada di tangan kita tapi belum kita pegang.. susah juga sih karena kadang2 hal ini berhubungan dengan gaya hidup dan pergaulan..

    Betul Clara, apa yang terjadi pada salah satu nasabah Bank di Indonesia, semoga membuka mata kita semua, bahwa punya KK bukan sekedar gagah-gagah an, namun karena kebutuhan, dan barang yang dibeli menggunakan KK juga harus sesuai kebutuhan serta ada dana untuk membayar sebelum jatuh tempo.

  6. saat ini kartu kredit saya hanya digunakan untuk membayar tagihan tipi, maklum saya pelupa. tetapi saya selalu mengusahakan untuk membayar lunas tagihan KK. memang KK berguna terutama misalnya saat saya pergi keluar kota dan harus membayar pembelian tiket pesawat terlebih dahulu.
    dulu sih pernah tidak membayar penuh, tapi hati saya rasanya tak tenang. sejak itu saya berusaha untuk selalu membayar penuh tagihan saya.

    Bagus Ira…bayarlah lunas sebelum jatuh tempo, ini yang harus diingat. Kecuali jika ada pembelian barang dengan suku bunga nol, kerjasama penerbit KK dengan penjual barang tsb, tapi juga baca perjanjiannya.

  7. sebetulnya kartu kredit itu sangat membantu dikala kita membutuhkan dana mendadak dengan konsekuensi kita harus rutin melakukan pembayarannya serta membayar dengan jumlah di atas batas minimum pembayaran. kita harus kommit untuk menggunakan kartu kredit dibawah penghasilan kita sehingga kita dapat menyelesaikannya dan menggunakan dengan bertanggung jawab.

    Betul..masalah KK karena sebetulnya disebabkan oleh ketidak disiplinan kita sendiri.

  8. promosi bunga kredit 0%, beli tiket pesawat dan keadaan darurat itu saya setuju bu untuk penggunaan KK. Kalo yang lain itu saya kira tidak bijaksana. sampai sekarang sudah tahun ke 5 saya tidak pake KK dan kesulitan kalo beli tiket pesawat online….jadi kudu ke kantor airlinenya langsung….

    Walau punya KK, saya tetap pesan ke kantor airline nya langsung…hehehe…
    Entah kenapa saya belum terlalu yakin kemananan pesan on lain lewat KK di Indonesia.

  9. Wah, makasih Bu, atas penjelasannya. 🙂

    Ini jadi pelajaran buat saya. 🙂

    Sama-sama Asop

  10. Dan terutama keamanannya, Bu. Pemalsuan atau penggandaan KK masih marak.

    Ah, andaikan kartu debit sudah mencakup fungsi-fungsi KK seperti itu, alangkah enaknya. 😀

    Saya malah kawatir dengan kartu debet…lha kalau tahu-tahu account kita udah di debet, padahal transaksi gagal bagaimana?
    Kalau pakai KK, saat keluar tagihan KK, saya selalu mencocokkan dengan bukti pembayaran yang ada, dan kalau tak cocok bisa komplain, dan tak bayar dulu.

  11. Alhamdulillah, nggak punya KK. Suami sih yang punya, tapi jarang dipakai juga, apalagi setelah banyak kasus terjadi.

    Saya malah selalu pakai KK, asalkan memang belanja sesuai kebutuhan.
    Juga sangat bermanfaat jika untuk bepergian, tak perlu banyak bawa uang….terutama jika keluar negeri…begitu masuk hotel yang ditanya KK, dan langsung harus bayar. Pernah ke Singapura, langsung KK di blog Rp.7 juta..lha kalau uang tunai kan repot bawanya.

  12. […] Bunda Edratna […]

  13. Salam Takzim
    saya ga punya Kartu Kredit bund. karena saya takut ga bisa ngatur hehehe
    Salam Takzim Batavusqu

    Sebetulnya punya KK atau tidak, tergantung keperluan

  14. saya pernah jadi nasabah salah satu kartu kredit dan untung segera menutupnya saat mendekati limit
    ternyata membayar cash itu memang lebih memuaskan
    namun sebenarnya KK itu dibutuhkan juga misalnya saat ada musibah masuk rumah sakit untuk keperluan membeli obat
    ada sisi positifnya selama kita bijak menggunakannya ya mbak

    Yang penting adalah kita bijak menggunakan KK, karena banyak manfaatnya.

  15. Buatku KK memang masih dibutuhkan. Kalau mendadak ada keperluan dan tidak bawa cash, KK bisa dipakai. Artinya kalaulah benar2 terpaksa, maka ada KK….
    Tapi saya tidak punya KK banyak2…. dua saja cukup.

    Sewaktu masih aktif, saya punya banyak KK, sekarang tinggal 2 saja, termasuk KK yang dikeluarkan bank penerbit yang sekarang sedang dihebohkan. Dan selama pakai KK tsb saya banyak mendapat manfaatnya.

  16. Salam Takzim
    Menyapa pagi, semoga sehat ya bund
    Salam Takzim Batavusqu

    Selamat siang..maklum lagi sempat buka hari Sabtu, seminggu kemarin sibuk banget, pulang malam-malam terus

  17. akhirnya memang the behind the gun yang paling menentukan ya?

    Yup

  18. Ketika traveling ke Asia selatan kemarin, aku satu-satunya yang membayar tur dengan uang cash. Teman-teman lain dari berbagai negara menggunakan KK semua (untuk masuk ke Tibet harus menggunakan travel agent, tidak bisa datang begitu saja seperti ke negara lain).

    Aku jadi nyengir sendiri. Karena teman-teman traveler lain menggunakan KK memang untuk hal-hal seperti itu. Kepraktisan ketika di perjalanan tanpa harus repot menukar dengan mata uang lokal, kecuali untuk belanja kecil sehari-hari.

    Yang lebih repot lagi tanpa KK, aku kesulitan untuk membeli tiket maskapai internasonal 😀

    Untuk hal-hal tertentu, aku tetap mengakui: KK memang perlu.

    KK memang perlu, terutama untuk bepergian di luar negeri. Karena untuk masuk hotelpun mereka maunya KK, yang langsung di blog sebesar tagihan perkiraan selama kita tidur di hotel tsb (diganti/kembalikan jika kita keluar hotel sebelum waktunya), ada pula beberapa negara yang mencurigasi jika kita mengeluarkan dolar dalam jumlah besar…..

  19. “…i konsumen bisa bernafas lega tak menjadi sasaran sms atau telepon penawaran KK.”

    Ga sepi kok bu, tambah galak iya 😀
    baru 2hr yang lalu ada yg telp ke hp suami, dan ketika saya bilang kami sudah punya dan tidak berniat menambah lagi, maka begini jawabnya :

    “nanti saya mau telp bapak lagi, karena cuma bapak yang berhak memutuskan untuk menolak atau menerima penawaran ini.”

    adooooooh…….. langsung berdiri semua tanduk di kepala bu, sangat tidak sopan menurut saya, tadinya mau tak tulis tuh di detik.com tapi ya udahlah, mungkin salesnya udah desperate tidak memenuhi target bulan kemarin hehehe

    Walaah…..malah galak ya, syukurlah saya aman dari gangguan, semoga begitu seterusnya.

  20. bu seumur2 saya belum pernah punya KK. tapi sekarang suami saya punya. saya pikir, untuk kami cukup suami saya saja yang punya. 🙂

    Sepanjang pandai mengelolanya, KK bisa bermanfaat…..

  21. yupz, untuk keperluan mendadak. dan tidak harus berlari kesana kemari, ngambil uang ke bank dulu… 😥

    Betul…..

  22. Wah, benar juga ya, Bu. Kira-kira mekanisme yang tidak merugikan pelanggan semacam itu bagaimana, ya? Tiap kali transaksi debet begitu kalau di-SMS pihak bank sepertinya bagus juga, tuh.

    Bank nya yang repot Farisj, apaplagi jika transaksi harian sampai ribuan…

  23. Jadi sedikit banyak tahu tentang KK. Makasih bu, atas pencerahannya. 🙂

    Sama-sama

  24. hehe, makasih pencerahannya * nubi ikut menyimak dan belajar nih

    Silahkan…

  25. wah…mencerahkan.. ^_^
    makasih tante..
    sy pasang linkny k fesbuk y?

    Silahkan Dina…

  26. betul bu. kartu kredit itu sebenarnya terbilang WAJIB dimiliki. alasannya: 1. ada transaksi yang cuma menerima kartu kredit, 2. untuk meng-establish credit record kita di bank, supaya kita lebih mudah atau lebih cepat dapat kredit non kartu kredit.

    saya gak ngerti ketakutan berlebihan tentang kartu kredit. semua cerita horor di media massa itu nyaris semuanya diawali oleh kesalahan nasabah sendiri. walaupun memang banknya juga salah dalam melakukan penagihan.

    Kadang, media kita suka berlebihan, atau akibat persaingan?
    KK bukan hal yang menjadi menakutkan, karena banyak gunanya, namun harus dimaintain dengan benar.

  27. Tante, restrukturisasi itu maksudnya gimana yaa?

    Waduhh….ini perlu beberapa waktu untuk menjelaskan. Mau main ke rumah?

  28. […] pernah menulis di sini dan di sini, betapa penawaran kartu kredit, yang kemudian menggunakan referensi dengan cara […]

  29. Halo ibu, apa kabar? 😀
    Kalo tidak punya kartu kredit, wah repot banget saya, secara saya demen backpackingan. Pesawat, hotel or hostel biasanya mensyaratkan traksaksi menggunakan KK. Tapi selama ini, KK memang biasanya cuman saya gunakan untuk keperluan tersebut: membeli tiket pesawat dan bayar hotel or hostel saja, selebihnya kalau untuk transaksi saat jalan2 saya menggunakan cash yang memang sudah dibudgetkan sebelumnya. Kalau transaksi jual beli lain bukan pada saat traveling, saya prefer pake debet (biar kalo liat total saldo tabungan jadi bisa “ngukur diri”… hehehe)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: