Oleh: edratna | Mei 7, 2011

Jalan-jalan ke Pasir Sarongge:Napak tilas kebun percobaan IPB, tea work, dan kebun strawberry

Hujan yang terus menerus membuat hati gamang, apakah akan ikut reuni teman-teman A678. Jika Jakarta saja hujan terus, apalagi di daerah Cipanas-Cianjur sana. Namun keinginan ketemu teman-teman lama setelah 6 tahun yang lalu, terasa menggebu-gebu, sayang acara seminar suami diundur, jadi saya terpaksa kesana berdua Minah, memakai mobil tua, hati kedap kedip kalau ada apa-apa di jalan. Untuk menenangkan hati, kami berangkat pagi-pagi, setelah mengisi bensin, membeli makanan kecil dan minuman untuk jaga-jaga kalau macet di jalan, kami berangkat menyusuri jalan Tol Jagorawi-Puncak-Cipanas-Ciloto-Ciherang. Kemacetan mulai terjadi di ujung jalan tol mau masuk Ciawi, banyak penjual jasa menunjuk jalan ke kiri, mungkin maksudnya jalan alternatif, dan rupanya tak satupun pengendara mobil yang mau mengkuti saran tersebut. Selanjutnya perjalanan lancar, mata harus mulai dibuka lebar-lebar setelah melalui Puncak, karena ancer-ancernya Rumah Makan Rindu Alam yang terletak di kiri jalan dari arah Bogor (ternyata ada dua, di Cipanas dan Ciherang), kemudian SPBU, sekitar 200 m belok ke kanan. Ternyata kami kebablasan sekitar 1 km, setelah tanya orang, terpaksa kembali lagi…maklum saya sendiri terakhir ke Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge 37 tahun silam.

Jalan masuk dari gerbang berkelak kelok naik, hanya jalannya telah beraspal (deg-deg an juga karena pakai mobil  sedan), tak lama kemudian melewati tanda “University Farm” yang merupakan pintu masuk ke arah kebun percobaan IPB, terus naik ke atas sampai ke portal BPT (Balai Penetitian Tanaman) Pasir Sarongge, setelah tanya yang jaga, ditunjukkan rumah teman yang jadi host nya acara reuni. Reuni IPB A678, artinya angkatan Pertanian IPB tahun ke 6, ke 7 dan ke 8. IPB yang awalnya merupakan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, memisahkan diri sejak tahun 1963. Sejak menjadi IPB (Institut Pertanian Bogor), kode fakultas menggunakan huruf: A-untuk Fakultas Pertanian, B-untuk Fakultas Kedokteran Hewan, C-untuk Fakultas Perikanan, D-untuk Fakultas Peternakan, E-untuk Fakultas Kehutanan, dan F-untuk Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (Fatemeta). Melihat rentang waktunya, A-6 masuk tahun 1969, demikian seterusnya, jadi bisa dihitung berapa rata-rata umur kami semua. Pada saat reuni, terasa semakin sedikit teman yang ikut, teman yang sebelumnya ikut reuni tahun 2006 ada beberapa yang telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Di Villa Vil Vic (yang merupakan singkatan nama putra putrinya), merupakan villa teman yang jadi hostnya acara ini, telah banyak berkumpul teman-teman, hujan mulai gerimis. Setelah mencicipi kue-kue khas Bogor, mengingat kembali nama teman yang ketemu (dan parahnya sudah banyak yang lupa), kami semua berjalan meninjau kebun bunga milik teman.

Bunga-bunga dalam pot yang cantik

Indah….

Jenis bunganya banyak sekali, dan karena saya bukan dari jurusan horikultura, saya hanya bisa menikmati keindahannya, tanpa tahu nama bunga-bunga cantik tersebut. Kebun ini dilengkapi dengan rumah kaca, dan beberapa gazebo untuk beristirahat, lapangan rumput luas sehingga anak-anak, para cucu, bisa berlarian di lapangan tersebut. Dan juga ada rumah kambing, jenis Etawa. Kami berkeliling taman bunga ini, dilengkapi mushola, sehingga bisa sholat Dhuhur dan Asar bagi yang muslim, kemudian bersama-sama menuju balai pertemuan di BPT.

Teman keluyuran masa lalu

Pengaturan tidur dibagi 3 kelompok, di villa Vil Vic, di rumah Tomohon (terletak di dalam kebun bunga), serta di BPT, peserta yang datang sekitar 70 an orang, cukup rame untuk sebuah reuni, walau masih banyak yang tidak bisa hadir. Acara yang seharusnya untuk istirahat, ternyata digunakan untuk mengobrol, mengenang masa lalu, serta mendengarkan kondisi teman-teman terkini. Betapa banyaknya hal yang tak saya ketahui, karena kesibukan masing-masing, kami hanya kontak melalui email/milis, itupun tak semua teman aktif dalam diskusi.

Malamnya acara temu kangen, menyanyi, menari/berjoget, diawali dengan makan malam. Sayang malam itu hujan turun dengan derasnya, tapi tak menghalangi semua untuk hadir di kebun bunga. Rombongan para nenek kakek bersama anak, menantu dan cucunya, berjalan beriringan dalam barisan payung, menuju kebun bunga tanpa memperdulikan hujan. Terpaksa acara makan malam yang telah di set di udara terbuka, dipindahkan ke dapur, dan kami semua berdesakan mengambil makanan. Perut lapar, dan hujan menambah semangat makan. Syukurlah, makin malam, hujan berhenti, kami menikmati makan sate, jadah bakar yang dicocol ke dalam sambal oncom, serta sate yang uenak sekali. Benar-benar nikmat, jadi mesti segera diturunkan agar tak jadi lemak di tubuh. Saat acara menyanyi dan menari, banyak teman yang tampil, bahkan sempat ada yang terjatuh karena semangatnya, untungnya tak apa-apa, karena teman ini segera melanjutkan tariannya. Dari dangdut, poco-poco, cha cha, rock n roll….para nenek, kakek, menantu, cucu ikut berjoget semua. Tak terasa malam makin larut, ditambah kabut yang makin tebal, acara berpindah ke ruang pertemuan untuk melihat foto-foto lama yang ditayangkan di layar. Semua berkomentar, mengingat siapa yang ada dalam foto tersebut, sayang tak semua teman dalam foto-foto tersebut bisa datang, atau bahkan telah tak mungkin datang. Jika pada reuni sebelumnya teman kami dari Malaysia (pada saat itu ada beberapa mahasiswa dari Malaysia dan Iran yang ikut kuliah) bisa datang bersama keluarganya, sekarang hanya teman-teman di seputar Jakarta-Bandung-Semarang yang bisa hadir.

Menjelajah kebun teh, mengenang masa silam

Gembira naik mobil bak terbuka (sayang saya tak terlihat). Foto by Rinaldi Siregar

Pamer punggung (foto by Rinaldi Siregar)

Minggu pagi acara nya jalan-jalan melalui kebun teh menuju kebun strawberry. Sejak jam 4.30 wib teman-teman mulai mengobrol di ruang tamu BPT, obrolan yang mengasyikkan, padahal masih pagi sekali. Jam 6.30 wib setiap peserta jalan-jalan mendapat pembagian kaos putih yang belakangnya tertulis A678, entah apa maksudnya, kenapa nama angkatan justru ditulis dipunggung. Jadilah kami berpose dengan memunggungi pemotret agar tulisannya terlihat. Sebelum berangkat berbaris dua-dua, serta dihitung, agar nanti ketahuan kalau ada yang kesasar. Perjalanan diawali oleh ketua regu yang tahu arah, menuju  kebun strawberry yang terlihat beratap putih dari kejauhan. Udara yang menyegarkan membuat semangat, kami berjalan beriringan, satu persatu. Rasanya sungguh indah, teringat masa-masa field trip zaman masih muda. Cucu yang masih kecil digendong papa atau mamanya, alumni yang kurang sehat dibimbing temannya, setiap kali di dorong dari belakang agar maju melangkah, dan setiap kali berhenti untuk …difoto. Ternyata acara foto di kebun teh ini memang diharapkan, karena jadi bisa istirahat sejenak…hehehe… maklum sudah berumur. Jalan yang menanjak terasa makin berat, lutut mulai goyah, rasanya pantat susah diajak jalan cepat, jadi akhirnya kepala regu mengajak jalan mlipir,  tetap di kebun teh tapi mendekati jalan raya, agar jika terjadi keadaan darurat tidak kesulitan untuk mencari pertolongan.

Melepas lelah sejenak dengan berfoto, sebelum berjalan lagi

Rupanya ada beberapa teman yang benar-benar tak kuat, mereka menepi ke jalan, menunggu angkutan lewat…dan naik di mobil bak terbuka. Dan setelah satu dua bak terbuka lewat, rupanya capek makin terasa, atau karena melihat ada yang naik bak terbuka. Syukurlah akhirnya mencapai kebun strawberry, yang sayangnya kami dilarang memotret selama di dalam kebun. Dan sayangnya lagi, karena acara jalan-jalan, saya tak bawa notes kecil dan ballpoint, sehingga tak bisa mencatat penjelasan GM kebun tersebut. Hasil strawberry ini, yang semuanya ditanam dalam rumah kaca, sebagian besar untuk ekspor ke negara ASEAN, termasuk Thailand. Kita rame-rame berseru…Thailand? Ya, rupanya Thailand mengimport strawberry dari kebun ini. Untuk pengairan, perusahaan menampung air hujan dalam kolam yang luas dan dalam, sehingga mempermudah pengairan dalam kebun. Kebun ini juga sangat mengurangi pemberian insektisida, dan untuk mencegah terjadinya hama penyakit yang menyerang strawberry digunakan musuh alami. Saat kami ke sana, kebetulan sedang ada pembiakan, menggunakan tawon, sehingga kami dipesan untuk tidak melakukan gerakan tubuh yang tiba-tiba karena bisa diserang tawon. Awalnya agak ragu masuk ke rumah kaca, namun ternyata tawon yang berdengung-dengung itu tak menyerang manusia, asal kita tak melakukan gerakan tiba-tiba. Kami juga melihat pembibitan tanaman strawberry yang menggunakan pemanasan, sehingga tak menjadi bunga yang akan menjadi buah, namun membuat tanaman keluar sulurnya, yang nanti akan dipotong menjadi bibit tanaman yang baru.

Keluar dari kebun strawberry (yang luas dan menanjak naik, serta turun), badan sudah terasa lelah sekali, apalagi tadi belum sarapan jadi akhirnya saya memilih naik mobil bak terbuka saat turun ke bawah…maklum perjalanan lewat kebun teh saya perkiraan ada sekitar 3-4 km. Sayang dalam foto saya tak terlihat, karena kebetulan saya duduk di tengah bak terbuka. Selama perjalanan tertawa melulu, membayangkan masa silam, coba kalau sendiri pasti malu naik bak terbuka. Sampai di BPT langsung menyerbu makan, dan makanan ludes apalagi sambalnya. Dari pengalaman dua hari ini, kekhas an masakan BPT yang enak adalah sambalnya. Udara yang dingin, berkabut, lelah, makan apa saja terasa enak. Tak lama kemudian ada teman yang membawa sekarung buah alpukat, entah mendapat dari mana, dan alpukat itu langsung dibagi pada teman-teman yang lain. Ada juga yang membawa kotak-kotak strawberry yang langsung ludes dibagikan. Perut kenyang, dan rasanya nikmat sekali…tapi host masih ingin mengajak ke kebun bunganya, karena ada acara yang ditunggu-tunggu, yaitu berburu kelinci yang diperuntukkan bagi anak cucu.

Semangat mengejar kelinci

Mencoba bergaya bak anak muda (Foto by Rinaldi Siregar)

Para cucu menjadi bersemangat, rasanya lucu sekali melihat mereka berlarian mengejar kelinci, jika sudah ada yang bisa memegang kelinci, dilepaskan lagi karena geli. Pada akhirnya masing-masing anak mendapatkan satu kelinci dalam keranjang, hasil tangkapannya, sekaligus diberi rumput segar dan wortel untuk makan kelinci. Sementara anak-anak bermain di lapangan rumput, para nenek kakek berjalan menyusuri jalan nostalgia ke arah kebun percobaan IPB. Rasanya kaki  pegal-pegal, namun keinginan untuk mengenang masa lalu terlampau kuat, tak lama kemudian plang kebun percobaan IPB yang telah nampak kusam mulai terlihat. Kami agak heran, kenapa kebun percobaan begitu sepi, karena dulu, kami yang kuliahnya enam tahun banyak menghabiskan waktu di kebun percobaan,  tidur di rumah panggung yang disediakan universitas.

Berpose di depan kebun Percobaan IPB yang penuh kenangan (Foto by Rinaldi Siregar)

Dan saat itu belum ada listrik, mandi pun harus di sungai yang masih jernih airnya. Kami mencari apakah rumah panggung itu masih ada, melalui jalan setapak, dikiri kanannya ada ladang yang diberi patok-patok, mungkin merupakan kebun percobaan mahasiswa tingkat S2. Jalan makin menurun,  sampai pada saat saya tak berani turun lagi, karena curam sekali, maklum badan sudah sangat lelah. Padahal dulu kami hanya naik bis, berhenti di pinggir jalan, naik ke atas melalui jalan tanah yang licin, melalui sungai yang jembatannya dibuat dari pohon, yang bergoyang jika dilewati, sehingga teman-teman lebih memilih copot sepatu dan menyeberang sungai jika air sungai tak lagi deras. Ada beberapa teman yang masih penasaran, mereka turun lagi ke bawah, katanya rumah panggung masih ada, bahkan perlengkapan kamarnya masih seperti dulu, hanya sekarang telah ada pompa air sehingga tak perlu lagi mandi di sungai. Namun suasana terpencil, dan keamanan saat ini, membuatku ngeri, kenapa ya dulu hal seperti ini merupakan hal yang biasa? Ataukah kami-kami yang telah berubah, menjadi tua, gampang kawatir dan makin hati-hati?

Kami kembali pulang melalui jalan setapak yang melingkar dan menanjak, dan bilang sama kepala regu agar menilpon mobil, karena kaki ini tak kuat lagi untuk berjalan sekitar 3 km lagi. Entah sudah berapa km kaki ini berjalan, tapi jika ada kendaraan, dengan suka rela kami akan ikut, walaupun bergelantungan. Tak lama kemudian, mobil bak terbuka dari BPT menjemput, kami naik satu persatu, dan mobil kembali pulang ke BPT. Hari makin siang, kami makan siang bersama sekali lagi, kemudian mengucapkan terimakasih pada panitia, yang telah bersusah payah menyelenggarakan reuni yang meriah ini. Masing-masing keluarga dibekali sayuran, terimakasih teman….

Kebab A&M buatan bu Hardi, Ciawi

Kami berjanji untuk mampir ke rumah teman di Ciawi, untuk belajar membuat kebab, karena isteri teman ini punya bisnis antara lain restoran kebab A&M di Bogor. Ternyata jalanan macet sekali, beberapa kali berhenti, jarak antara Pasir Sarongge yang pada hari berangkat ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Bogor, menjadi 4 jam. Kami tak lama mampir di rumah teman, karena waktu makin malam, jadi langsung ngedrop teman-teman di jalan Perkutut dan jalan ke arah Cibinong, langsung masuk Tol Jagorawi dari Sentul. Ternyata jalan tol Jagorawi juga macet, alhasil kami baru sampai rumah jam 21.30 wib. Badan capek sekali, namun juga lega dan senang, sudah ketemu teman-teman, yang tak mungkin bisa ketemu tanpa acara seperti ini, apalagi sudah banyak yang mulai pensiun. Mungkin untuk reuni tahun selanjutnya bisa mencicipi kebun durian teman, atau bahkan ke Lampung?

Iklan

Responses

  1. waaaaaaaaaah ibu senangnya reuni. Tapi saya bener tertawa melihat foto dengan punggung bernomor. Untung tidak loreng-loreng bajunya hihihi.
    Stroberinya besar-besar tidak bu?

    EM

    Tulisan di punggung itu memang ide kreatif, tapi yang tak diperkirakan, ternyata banyak yang over size, sedang ukuran kaos hanya L dan XL. Untuk ukuran L pun, terasa ngepas buat saya. Jadi yang badannya besar-besar kaosnya tak bisa dipakai….tapi anak-anak seneng…
    Strawberry nya malah dibuat ukuran standar, untuk diekspor harus ukuran yang sama. Strawberry yang besar dan manis, malah dijual di pasar dalam negeri….padahal manis banget…kita bebas mengambil strawberry yang sudah dipetik. Betul-betul nyesel deh nggak bawa notes, padahal biasanya saya selalu siap pulpen dan notes untuk mencatat, maklum saat itu tas pinggangnya udah penuh.

  2. jadi ngiler mau ke luar kota, liat hal-hal yang menarik mata dan hati serta tentunya berkumpul dengan kerabat atau teman2 seperjuangan 🙂
    kalo di daerah saya bu ada namanya malino, seperti di atas, ada kebun teh dan ada beberapa kebun2 yg lain, sayuran dekat gunung juga, dan istimewanya sekolahku dekat situ *ah jadi kangen dan ngiler ke sana*

    Saya beberapa kali ke makassar malah belum sempat ke Malino…katanya indah dan dingin ya.

  3. Yang namanya kumpul dengan teman2 seperjuangan psti banyak kenangan yang bisa diingat. Dari yang serius sampai yang gokil, sayang saya sendiri tidak bisa kumpul dengan teman seperjuangan bu. Karena kesibukan dan sudah tidak sepulau lagi 😆
    Btw, bunga di gambar kedua itu koq bagus bu. Saya punya juga yang semodel seperti itu tapi koq tenggahnya tidak mau merah merekah begitu ya ❓

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Betul mas Sugeng seneng banget, mengenang masa mahasiswa dulu…..

  4. top banget bu akhirnya ada berita kita bisa ekspor strawberry ke Thailand dan bukan hanya buah dari sana yang masuk ke sini

    jadi membayangkan lokasi pertemuannya bu,
    senang sekali ya reuni model seperti ini, jadi penyegaran juga ya bu,

    btw mbak Minah jago nyetirnya ya bu, sudah sering keluar kota berdua saja ya?

    Betul mbak, dan yang diekspor itu tak bisa dibeli langsung dari kebunnya, karena memang langsung di ekspor. Untuk yang pasar domestik, baru bisa dibeli melalui koperasi.
    Minah udah berkali-kali nyopir rute Jakarta-Bandung, Jakarta-Semarang-Solo-Madiun-Kediri pp. Lebih hebat dibanding majikannya ya…hehehe..
    Fotonya yang naik bak terbuka paling ujung kiri, berkaos putih tanpa topi….dia memang sudah seperti keluarga sendiri.

  5. Aahhh …
    Ini menyenangkan sekali Bu

    Dari fotonya saja saya bisa menikmati keceriaan Mahasiswa-mahasiswi kakak kelas saya ini …
    Naik mobil bak terbuka pula … ingat jaman dulu

    this is very nice Ibu

    Salam saya

    Iya, menyenangkan sekali, walau besoknya kaki gempor dan terasa pegal-pegal ….
    Benar-benar napak tulis, dari nyanyi dan nari sampai malam, jalan-jalan ke kebun teh, ke kebun Percobaan….dan yang seru naik mobil bak terbuka. Itu hari-hari yang dulu dilalui, mahasiswa hortikultura atau tanaman tahunan.

  6. Reuni itu menyambung tali silaturrahmi

    Yup…

  7. rasanya senang sekali melihat foto2nya. ceria semua ya bu. yg terakhir ada foto kebab. waaaa, sepertinya menarik utk dicoba. *lah kok yg dikomentari cuma foto sih?*

    Fotonya emang ceria semua, lupa akan umur….tapi sebelum [ulang sudah nelpon tukang pijat…hihihi
    Kebabnya enak….tapi belum sempat coba buat sendiri.

  8. ibu, senang jalan-jalan. membaca ttg makanan yang dimakan, saya jadi tambah ngiler, bu. pengeeeenn.

    Kebabnya enak

  9. blue jadi pengen reunian sama semua teman blue.
    salam hangat dari blue

    Salam kembali Blue

  10. Acaranya seru banget, Bu 😀
    Foto2nya keren, apalagi yang berderet2 tampak punggung itu 🙂
    Hmm… ngiler ngelihat kebab 😀

    Idenya kreatif ya…lucu juga nama A678 di punggung….
    Kebabnya memang enak..

  11. Senang banget donk tentunya bu…BTW A678 itu apa artinya bu? kok nomornya bisa berurutan gitu…

    Itu nama angkatan ke 6, ke 7 dan ke 8, sejak IPB memisahkan diri dari UI. Kode A, berarti Fakultas Pertanian (dalam tulisan sudah ada penjelasannya)

  12. KEBAB!!! Mau… 😀

    Sampai sekarang saya masih belum mengerti mengapa banyak lulusan IPB terutama dari Fakultas Pertanian konon katanya sebagian besar bekerja di sektor perbankan. Apakah di IPB diajarkan juga bagaimana cara menanam pohon uang, ya? Hwehe. 😀

    Yah, sayang sekali. Padahal suka melihat stroberi-stroberi masih bergelantungan di pohonnya. Perpaduan merah dan hijau.

    Reuni, memang menggembirakan. 😀

    Kebab nya sungguh enak.
    Di IPB diajarkan dasar-dasar pemikiran, jadi bekerja dimanapun tak ada masalah….
    Sayang juga memang..nggak bisa memotret strawberry…mereka kawatir ditiru.

  13. yang ikutan reuni kelihatannya masih bugar semua ya Bu…
    senang juga kalau bisa bertemu lagi dengan teman-teman kuliah dulu. apalagi banyak yang membawa cucu 😀

    Iya…..saya bersyukur teman-teman terlihat sehat.
    Yang sudah dipanggil Tuhan juga banyak…..
    Yang membawa cucu, heboh sama cucunya…hehehe

  14. Reuni memang menyenangkan ya bu. Ramai-ramai soalnya….
    Wah duduk di mobil bak terbuka itu kalau dekat2 saja aman ya hahahaa… kalau da keluar ke jalan raya bisa ditangkap polisi. 🙂

    Karena jauh di atas bukit, dan dipegunungan, dengan jalan sempit berbatu-batu…..mobil sedan tak berani naik. Satu-satunya ya pakai mobil bak terbuka, milik PTP maupun milik petani….tapi senang, ingat masa lalu.

  15. wah..asiknya bu..reuni itu memang menyenangkan deh.. 🙂

    Yup…menyenangkan

  16. waaa seru amat acara reuniannya ya bu… 🙂

    Hehehe…seru dan lucu…kaki sampai gempor

  17. senangnyaaa….ketemu temen2 lama ya bu… dan itu bromelianya cantik2 byangets!!

    Betul…bunganya cantik-cantik
    Pemiliknya masih berjiwa pertanian…hehehe

  18. bentar..bentar..
    37 tahun silam???
    udah lama juga ya mba…

    Tapi kelihatannya ngakrab sekali acara reuninya…
    pake nginep nginepan segala…
    pasti berkesan sekali ya mba:)

    itu yang mobil bak terbuka nya sampe penuh begitu sih mba…
    laris maniiiiis..hihihi..

    Yup…37 silam, terakhir kali ke kebun percobaan Pasir Sarongge. Setelah itu masing-masing jurusan terpisah-pisah, saya penelitian nya di kebun percobaan IPB di Darmaga, relatif dekat dengan Bogor dan mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Udah lama sekali…justru itu yang buat penasaran.

    Kami memang akrab, karena dulu satu angkatan, untuk satu Fakultas hanya 50 orang….jadi seluruh IPB hanya menerima 300 orang, dan hanya SMA tertentu yang dipilih.
    Jadi memang akrab sekali…acara nginep untuk memudahkan akomodasi karena acaranya padat, pake tea walk berkilo-kilo meter, para cucu digendong, terus ke kebun straberry. Jadi pulangnya lagi udah KO, jadi cari tumpangan mobil bak terbuka, milik PTP dan petani.

  19. […] yang telah dipanggil Tuhan. Setelah berpikir-pikir lama, saya akhirnya memutuskan untuk datang di reuni A678, yang merupakan reuni angkatan 69, 70 dan 71, angka A menunjukkan berasal dari Fakultas Pertanian […]

  20. […] Ibu ED Ratna : PASIR SARONGGE Saya kenal bu Enny sudah lumayan lama.  Beliau juga sudah lama ngeblog.  Saya memilih salah satu […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: