Reuni, Reuni dan Reuni

Saya biasanya paling malas untuk datang pada acara-acara reuni ini, jika dihitung  dengan jari, belum memenuhi 10 jari sejak lulus kuliah.  Kesibukan pekerjaan, momong kedua anak sepulang kerja sudah menghabiskan waktu dan energi, bahkan yang namanya arisan pun jarang hadir, yang ujung-ujung nya tak ikut arisan. Kata teman saya (suaminya satu angkatan saat kuliah), “Kenapa ya kita sering mengadakan reuni saat suamiku sudah tiada?” Saya tak bisa menjawabnya, karena saya baru datang reuni dua kali untuk reuni teman seangkatan ini, pertama kali datang adalah saat 30 tahun setelah lulus, kemudian 35 tahun setelah lulus.  Kalau diperhatikan, semangat reuni itu muncul pada umur tertentu, 25 s/d 32 tahun adalah saat-saat baru lulus dan sudah bekerja, kumpul dengan teman akan mendapatkan info,  siapa tahu bisa jadi kutu loncat pindah ke perusahaan lain, yang lebih menarik, jika pekerjaan di kantor yang sekarang kurang menarik. Kemudian, adalah usia di atas 50 tahun, saat  usia ini mulai tengok kanan kiri, mencari teman-teman masa lalu, dimanakah mereka gerangan? Di satu sisi, jabatan dan kehidupan berkeluarga sudah mapan, sehingga bisa menyempatkan diri datang ke reuni.

Lanjutkan membaca “Reuni, Reuni dan Reuni”