Suatu malam di tepi kolam renang Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda

Kira-kira hampir setahun yang lalu saya mendapat tugas mengajar di Samarinda, saat itu yang terpikir adalah Akin dan Ifan, sayang waktunya padat sekali sehingga tak sempat ketemu Akin. Jadi, saat minggu ini mendapat kesempatan tugas mengajar lagi di BPD Kaltim, saya sms Akin, dia senang sekali. Tapi saya juga mengirim email dan sms bahwa waktu saya padat, namun masih berharap bisa ketemu Akin. Kebetulan saat ini minggu terakhir libur sekolah, bos saya ingin mengajak putrinya yang sedang libur sekolah untuk ikut ke Kaltim. Perjuangan yang berat untuk mendapatkan tiket, Alhamdulillah akhirnya kami bisa mendapat tambahan tiket dengan risiko penerbangan ke Balikpapan jadualnya mundur dua jam dibanding dua tiket sebelumnya.

Mae, Enny dan Akin...di tepi kolam renang Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda

Pada hari kedua yang menurut perkiraan saya agak longgar saya mencoba menelpon Akin, tapi tak berjawab. Saya akhirnya sms om NH dan mbak Monda, apa nomor teleponnya Akin ada yang lain? Mbak Monda membalas sms saya, mengatakan kalau Puskesmas tempat Akin bekerja signal nya lemah, jadi sebaiknya sms saja. Syukurlah akhirnya saya bisa kontak Akin dan janji untuk ketemu, mengingat saya tak kenal medan  di Samarinda, Akin yang datang ke hotel bersama Mae,  saudara sepupunya yang baru saja lulus dari Teknik Kimia ITS. Betapa senangnya ketemu Akin, sayangnya tak sempat ketemu blogger yang lain, yang saya tahu  blogger yang satu ini sibuk dan sering bertugas ke luar daerah. Karena besoknya saya masih harus mengajar 7 (tujuh) sesi, saya menyarankan agar kita mengobrol di hotel saja sambil menikmati makan malam, kawatir terlalu lelah jika keluar lagi.

Dan pilihan ini ternyata tepat, walau saya telah dua kali menginap di hotel ini, biasanya saya hanya menikmati makan pagi di restoran, yang saya tahu ada meja di tepi kolam renang yang bisa dilihat dari dalam restoran. Saya biasanya memilih di dalam, karena ada AC, apalagi para bapak sering merokok jika mengambil tempat duduk di meja tepi kolam renang ini. Ternyata…malam itu suasana restoran relatif tenang, walau banyak yang duduk di tepi kolam renang, tak terlihat ada yang merokok,  suasana terasa menyenangkan untuk mengobrol santai.

Di tepi kolam renang

Kami mengobrol “ngalor-ngidul” dari urusan pengeblogan, yang makin sulit untuk konsisten, waktu yang terbatas untuk blogwalking, juga cerita tentang sesama teman yang dikenal di blog. Akin bilang, bahwa teman blog saya dan Akin berbeda, namun saya menjadi kenal Akin, gara-gara diajak makan siang oleh Didot, saat itu Akin sempat mampir  ke rumahku di daerah Cilandak. Pertemuan ini dilanjutkan dengan saling berkunjung di blog masing-masing, walau kadang kesibukan membuat makin jarang saling mengunjungi. Mae yang baru lulus, sedang menjajagi enaknya bekerja dimana. Awalnya saya dengan semangat memberikan berbagai gambaran, tentang pilihan karir sesuai yang saya tahu, namun Mae yang anak tunggal serta punya calon  yang bekerja di Balikpapan, membuat saya berpikir sebaiknya Mae mencari pekerjaan di sekitar Samarinda-Balikpapan, agar dekat dengan calon suami dan orangtua.

Mae dan Akin

Akin cerita, bahwa sebenarnya dia ingin menulis di blog tentang dunia kesehatan, namun Akin melihat sudah banyak yang menulis tentang hal itu, sehingga Akin memilih menulis cerita keseharian. Pilihan yang tidak salah, namun juga tak ada salahnya menulis tentang kesehatan, karena hal yang sama bisa berbeda jika ditulis oleh penulis yang berbeda. Bagaimanapun, setiap penulis mempunyai karakteristik masing-masing, yang membuat masing-masing tulisan punya nilai yang berbeda. Saya mendorong Akin untuk menulis apapun yang dia suka, baik tentang masalah kesehatan atau yang lain, karena dengan menulis, kemampuan kita juga terasah.

Mae

Ada komentar Akin yang membuat saya “agak kaget”…karena ada persepsi dari teman narablog yang baru, bahwa para blogger  dipisahkan oleh sekat-sekat. Menurut saya bukan oleh sekat, namun secara tak langsung kita akan memilih teman yang sesuai dengan karakter tulisan kita, dimana kita merasa nyaman untuk saling berkunjung ke blog masing-masing. Juga saya katakan pada Akin, kadang waktu jua yang membuat kita sulit untuk saling berkunjung…waktu seharian untuk BW tak cukup juga, padahal kita juga perlu waktu untuk hal lainnya. Pada akhirnya, kita harus bisa saling memahami keterbatasan masing-masing, bukankah pertemuan saya dan Akin menunjukkan tak ada sekat? Akin mungkin seumur dengan si bungsu, jadi sebetulnya Akin seperti anakku…..dan betapa senangnya beda usia ini tak menghalangi saling mengobrol santai.

Sayang…tahu-tahu sudah jam sepuluh malam, saya masih harus membaca bahan yang akan dibahas besok pagi, Akin sendiri juga masuk pagi…dengan berat hati, kami berpisah dengan pesan agar bisa saling mengunjungi jika masih ada umur dan di kesempatan yang lain. Tentu saja, pertemuan ini perlu didokumentasikan, jadilah kami bertiga berpose di tepi kolam renang malam itu.

Iklan

19 pemikiran pada “Suatu malam di tepi kolam renang Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda

  1. Iya bu, seakan-akan memang ada sekat, semacam komunitas atau grup deh. Padahal sebetulnya kita tidak membuatnya, otomatis terjadi begitu saja. Misalnya saja komunitas/grupnya ibu, lain dengan mas NH, lain dengan pakdhe Cholik (meskipun saya lihat komunitas keduanya itu sudah cukup berbaur), lain lagi dengan komunitas TE (meskipun sekarang pembaca lama (jaman awal TE) sudah tinggal sedikit, ibu dan mbak Tuti saja yang tetap setia :D). Well itulah dinamikanya deh, pertemanan di dunia nyata pun demikian kan bu….

    Saya sendiri belum kenal Akin, meskipun pernah membaca di tempat mbak Monda. Paling bagus memang langsung membalas komentar pengunjung yang datang, lalu langsung masukkan blogroll, sehingga bisa tetap “setia” dan terjalin hubungan. Saya juga sekarang sulit BW ke blog lain yang masih kategori teman baru. Waktunya juga semakin minim. Posting saja yang bulan lalu masih bisa sehari sekali, sekarang sulit. Mudah capek di udara panas dan lembab spt sekarang, tanpa AC (dalam rangka penghematan listrik negara).

    Yang pasti nanti kopdar lagi ya bu… bukber saja.

    EM

    Betul EM, sekat itu tak sengaja terbentuk…namun tersegmentasi dengan sendirinya.
    Banyak blogger lama yang makin sibuk di dunia nyata, sehingga jarang menulis. Banyak blogger baru bermunculan…namun mau bertandang ke semuanya, waktu tak mencukupi. Akhirnya saya memilih mengutamakan yang berkunjung ke blog saya…..bukan kok apa-apa, karena saya tak punya link (tak bisa buat link nya, maklum thema blog inipun tetap sama sejak 4 tahun 8 bulan yang lalu), sehingga susah untuk
    mentrasirnya lagi.

  2. blogger ada sekat? berharapnya sih ngak, tapi sepertinya memang begitu 😀 *semoga ngak masuk sekat2 itu* 😀

    Istilah saya bukan sekat, namun segmentasinya yang berbeda-beda. Masing-masing tulisan punya cara/karakter sendiri, yang akhirnya membentuk suatu segmentasi, bisa didasarkan usia, minat, latar belakang pekerjaan dan lain-lain. Hal ini berbeda jika dibanding saat awal mulai dikenal blog, karena saat itu yang menulis di blog belum banyak.

  3. waktu bw memang semakin sulit kalau punya banyak teman baru,
    makanya saya juga masih fokus ke teman2 yang datang duluan ke blog saya, bukan saya yang cari teman baru,
    bukannya nggak mau kenal blogger lain, tapi intinya pengen kenal lebih dekat dulu dengan yang sering kasih komen ditempatku saja dulu, teman baru insya Allah dikunjungi, meskipun tak selalu saat itu juga

    Saya sendiri hanya punya waktu akhir pekan, itupun kalau tak ada acara keluarga. Kadang tahu-tahu sudah seharian nangkring di depan kompie, itupun tak semua blogger bisa dikunjungi…ditambah sekarang harus menghemat mata, jangan sampai terlalu lelah.

  4. gak dipungkiri sih bu, kadang emang terasa ada sekat2 di antara para blogger. berasanya kayak ada kelompok2 tertentu yang punya eksklusivitas sendiri. cuma mau BW di antara kelompoknya sendiri.

    tapi ya kita gak bisa memaksa orang sih ya bu. mungkin emang mereka gak merasa sreg dengan blog kita, jadi walaupun kita suka BW ke mereka tapi mereka gak mau BW ke kita. yah harus bisa dimaklumi karena itu hak asasi tiap orang kan ya mau BW kemana. hehehe.

    jadi yang penting kitanya sendiri gak perlu terlalu mikirin. pokoknya ngeblog kalo buat saya sih buat having fun aja. begitu juga BW. kalo emang blog nya saya suka ya saya pasti suka BW ke situ, terlepas blogger itu BW ke tempat saya atau gak ya gak masalah… 🙂

    Betul Arman…saya sendiri tak pernah memikirkan itu..lha kadang waktu pun harus diselip-selipkan…kalau pas punya langsung komentar di beberapa postingan sekaligus.

  5. Menurut saya bukan mengelompok sih Bu, tapi lebih kepada kesempatan BW. Seiring dengan berjalannnya waktu, sahabat blog kita semakin banyak, sehingga kesempatan untuk mengunjungi satu persatu tentu sangat terbatas. Oleh karenanya, kita cenderung untuk mengunjungi terlebih dahulu kawan-kawan yang sudah sangat sering kita kunjungi. Walhasil, kesannya jadi mengelompok seperti itu… 🙂

    Semoga kita ada kesempatan untuk ketemuan lagi ya Bu..

    Betul Uda…bukan memilih ya, tapi memang waktu makin terbatas.
    Ntar deh kalau Uda ke Jakarta, kita mudah2an bisa ketemu lagi..syukur kalau sekaligus ada Uni.

  6. Sekat? Boleh jadi. Akan tetapi memang bila sudah sedemikian banyak teman bloger yang kita punya, akhirnya kita harus memilih. Memilih mana yang benar-benar peduli dengan tali silaturahmi antarblog, mana yang tidak. Jadinya ya, begitu. Yang tidak atau kurang peduli perlahan pasti terlupakan

    Mungkin analisa Uda Zul benar..tak terasa kita tersegmentasi dengan sendirinya..dan sebagai makhluk sosial, manusia cenderung akan memilih teman yang sesuai dengan karakter dirinya.

  7. Menarik memmbahas sekat di antara blogger. Saya sendiri meskipun tidak merasakan langsung tapi biasanya sekat itu berasal dari blog yang ngasal seperti di rumahku dan rumah sahabat yang lain dengan blog yang sudah di monitize secara kontinyu dan profesional. Karena semua di itung dengan untung rugi, jadi kalau mereka gak merasa ada untung yang di dapat ngapain nyempet-nyempetin waktu untuk BW. Mending dipakai yang bisa membesarkan rumahnya, tapi itu sekedar pemahaman ku semoga saja salah.
    Btw, memang blogger tidak mengenal batas umur, kadang yang ABG bisa berteman dengan yang sudah aki-aki 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Salam hangat juga…..Ngeblog adalah sebuah kegiatan yang sukarela…dan sukarela pula memilih teman yang sesuai.
    Itu wajar saja dalam kehidupan.

  8. sekat? Hehehe …. cerita Ibu membuat saya merenungi perkenalan saya dengan banyak blogger di dunia blog ini …
    saya sendiri merasa tidak menemukan sekat dimana2, mungkinkah tergantung personality seseorang? Mungkin karena saya orangnya cerewet, dan tembak langsung saja dimana2 komentar hehehe … tapi ga ingat2 apakah yang saya kunjungi balik mengunjungi saya atau tidak.

    terkadang, ketika bewe, hasrat awal mau mengutamakan yang sudah berkunjung, tetapi kadang2 belok sendiri hihihi terutama ketika membaca komentar seseorang yang agak2 gimana … jadi saja tergelitik untuk mengunjungi rumahnya, terus terus terus begitu sampai waktu yang mengingatkan untuk menyudahi aktivitas bewe, padahaaaaaaaaaal blom dikunjungi semua hehehe …

    semoga saja sampai kapanpun saya tetap merasakan seperti sekarang, merasa bisa menjadi sahabat dengan semua yang berkunjung dan yang saya kunjungi 🙂

    Saya juga tak merasa ada sekat..tapi saya sendiri merasakan makin sulitnya waktu untuk BW ke semua teman….

  9. Kita tidak bisa menafikan bahwa … mungkin saja ada kecenderungan kita untuk relatif lebih dekat kepada yang satu dibanding kepada yang lainnya …
    demikian juga di Blog … dan saya pikir ini biasa terjadi …

    Yang jelas … tali silaturahmi itu tidak boleh putus ya Bu Enny ..

    This is the beauty of Blogging

    Salam saya Bu

    Betul Om…tali silaturahmi jangan sampai putus..di saat yang memungkinkan antara blogger bisa saling berkunjung

  10. Senang banget bisa ketemu Bu Enny lagi 😀
    Saya merenungi ucapan ibu tentang postingan dengan tema kesehatan itu…
    Bener banget, Bu, isi kepala tiap orang itu beda-beda, meskipun hal yang dibahas adalah sama (kecuali memang menggunakan sumber yang sama). Misalnya saja postingan narablog tentang award, padahal awardnya sama, namun sisi yang dibahas adalah berbeda 😀

    Ayolah Akin, jangan ragu-ragu..
    Sama tentang cerita kopdar ini, cerita Akin dan saya tetap berbeda kan, walau cerita intinya sama…yaitu kopdar. Gaya bahasa masing-masing berbeda, sudut pandang yang dianalisa dan ditulis berbeda.

  11. ..
    wah asik kopdarnya.. sama saya kapan dong Bu..? ^^
    ..
    sebenarnya bukan ngegroub sih, tapi bakal repot kalau BW ke semua bloger..
    jadi masalahnya soal gak ada waktu aja.. 😉
    ..
    salam Bu Enny, semoga sehat..
    ..

    Betul Ata, waktu bw terbatas……karena kita harus baca dulu baru bisa komentar, agar tak asal komentar.
    Lha kapan Ata ke Jakarta? kasih tahu jauh hari, agar waktu saya bisa di blog…..
    Alhamdulillah sehat, makasih doanya.

  12. Bu, bicara soal keterbatasan waktu dan menjaga konsistensi nge blog memang menarik ya…

    Akhir2 ini saya bikin kategori baru, 150 kata. Artinya, saya nulis satu posting di bawah 150 kata khusus untuk kategori itu.

    Tujuannya? ketika saya lagi males ya tinggal nulis sependek itu lalu publish 🙂

    Saya salut dengan penjelasan ibu soal pembatasan2 dalam dunia blogger… sejatinya tak ada.. cuma bagaimana memilih teman aja kan ya

    Pembatasan menurut saya juga tak ada, tapi karena waktu terbatas, biasanya kita memilih menjawab orang yang komentar ke blog kita….baru ke teman lain. Entahlah, saya sendiri tak merasakan perbedaan itu…apalagi jika datang ke Pesta Blogger, rasanya semua jadi teman, padahal rata-rata seumur anakku…hehehe

  13. wah, ibu ketemu lagi dengan mbak akin. jadi pengen ketemu ibu suatu saat 🙂

    Pasti dong..kalau Fety ke Jakarta, kita buat acara kopdar ya….atau Fety yang main ke rumahku, bersama suami, dan si kecil (nanti pasti udah lahir kan).

  14. Akhirnyaaaa…
    postingan kopdarnya tayang jugaaaa…
    Pasti seru bisa ketemuan sama Akin ya mbaaa…
    *udah siap siap mau ngebahas drama korea kalo ketemu Akin…hihihi..*

    Masalah sekat nih yaaah…
    Aku sempet ngalamin kasus, yang mana satu blogger sering dateng dan rajin kasih komen di rumahku, sedangkan postingannya dia selalu membahas tentang…ehm..PR, alexa, atau apaan itulah tentang teknologi yang aku gak ngerti *dan gak tertarik sebenernya*, sekali 2 kali aku bisa kasih komen model…*emak emak gaptek gak ngerti isi postingan inih*…tapi lama lama kan gak lucu juga kalo komen nya gitu terus….

    O ya…satu lagi…aku tuh paling bego kalo disuruh baca postingan puisi lho mba…gak pernah bisa ngerti artinya…jadi kalo dapet postingan gituan suka sok manggut manggut biar dianggap ngerti, dan komen nya selalu “keren”..hihihi…pssttt…tapi jangan bilang bilang ya mba 🙂

    Jadi kalo menurutku mah gak bisa dipaksain juga sih, mungkin ada juga blogger yang gak suka dan menganggap kalo postingan ku itu hanya berisi curhatan gak jelas dengan gaya bahasa yang kacau dan gak beraturan…yang mana emang bener adanya…hihihi…bebas bebas ajah 🙂

    Saya juga mirip dengan Erry..jika berkunjung ke Blog, hanya karena mereka mengunjungi blogku, tapi saya nggak bisa komentar karena isinya bidang ilmu yang saya gak tahu, jadinya ya nyaris tak pernah lagi.
    Saya juga nggak ngerti puisi, jadi susah komennya, tapi kalau mendengarkan pembacaan puisi …saya suka..aneh ya.

  15. O iyaaaa…
    sepertinya kita memang belum temenan di FB ya mba…
    berhubung aku masih belum tahu nama jelasnya mba…

    mba aja yang add aku yaaa….
    search ajah Erry Andriyati…dan cari potonya yang paling cakep…hihihi…

    Udah ketemu….di confirm ya….Thanks

  16. Memang ada sekat dalam “pergaulan” blogger, sebab sederhana adalah fokus tulisan blogger itu sendiri. Open mind sajalah.

    Iya..mungkin ya….tapi saya tak terlalu memperhatikan, karena berkutat dengan waktu untuk menulis postingan yang terbatas, juga waktu sempit untuk BW.

  17. Ibu, yang sering menjadi masalah memang kesempatan untuk BW itu yang agak sulit. Biasanya karena waktu yang terbatas, namun saya berusaha untuk berkunjung ke blog teman-teman. Kesibukan di dunia nyata biar bagaimana tak dapat dinafikkan ya bu…harus benar2 seimbang, jangan sampai bw pun hanya sekedar lalu, dan hanya sekedar berkunjung, berusaha sekali bisa mengenal tiap2 narablog yang saya kunjungi, sedikit demi sedikit.salam saya bu enni

    Betul…bagaimanapun, pekerjaan di dunia nyata yang diprioritaskan, karena memang pekerjaan utamanya masih di dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s