Oleh: edratna | Juli 28, 2011

Persiapan: sabaar….sabaar….

Sejak belasan tahun lalu, malah sejak awal menikah, saya memendam keinginan itu. Namun apa daya, banyak hal yang mesti dipikirkan, dan istilah “mampu” berarti sangat luas. Mampu dalam arti keuangan, fisik, ketetapan hati, juga lingkungan yang mendukung. Tak putus saya berdoa, semoga suatu ketika doa saya terkabul. Pada akhirnya, sejak tahun kemarin, kami berdua (saya dan suami) berketetapan hati, untuk mulai mendaftar. Kondisi saat ini tentu sangat berbeda dibanding sepuluh tahun silam, mungkin karena kesadaran, ataupun karena ekonomi yang makin meningkat, banyak sekali antrian yang telah mendaftar, bahkan telah antri sejak tiga tahun lebih dan belum tahu pasti kapan bisa berangkat.

Sejak awal, niat saya hanya ibadah, dan kesabaran ini harus terus menerus ditingkatkan, karena kenyataan nya banyak hal di luar perhitungan kita. Jadi, walau belum pasti berangkat, saya dan suami sudah mulai ikut test kesehatan. Dan usia yang makin bertambah rupanya juga menurunkan ketelitian dalam membaca surat undangan. Kebetulan saya mengikuti suami, yaitu menggunakan penyelenggara yang berada di kota kembang. Dalam surat undangan tertulis, bahwa para peserta harus melakukan test kesehatan (urine, darah, dan yang telah berusia > 50 tahun ditambah rontgen dan EKG). Kebetulan hari itu, teman si bungsu (yang sama-sama pernah menikmati kuliah di TUT) menikah, kami berniat hadir apalagi undangannya di daerah Buranrang yang dekat dengan tempat tinggal kami.

Puskesmas Salam

Puskesmas di jalan Salam

Pagi-pagi sekali, kami berangkat ke Puskesmas di jalan Salam, agar segera mendapat giliran diperiksa, sehingga bisa datang ke kondangan teman si bungsu. Sebelum waktunya kami berdua sudah datang, tentu saja petugas dari penyelenggara keberangkatan Haji belum datang. Saya terpesona melihat Puskesmas, tempat kami melakukan test kesehatan ini.

Lingkungan yang asri

Terletak dilingkungan perumahan yang bersih, Puskesmas ini sangat asri, dan bagi saya yang suka beser ……. nomor satu yang dilihat adalah toilet nya. Toiletnya ada dua, semua bersih, air mengalir dengan lancar.

Setelah menunggu nyaris satu jam, para petugas datang, dan kami mengambil nomor. Awalnya saya agak bingung, kok banyak yang membawa hasil rontgen….tapi saya pikir, kemungkinan mereka memang mau konsultasi ke dokter, apalagi saya lihat ada empat ruang periksa dokter, berarti ada 4 (empat) dokter. Kami berdua tenang-tenang saja, menikmati pembagian kue, dan suami mulai menikmati kue nya, karena suami memang belum sempat makan pagi. Pas tiba giliran saya dan diperiksa tinggi, berat badan, serta tekanan darah, mulai terjadi percakapan yang membingungkan.

“Ibu, mana hasil lab nya?”
“Hasil lab?, saya ganti bertanya, karena nggak nyambung.

Begitu tahu harus periksa darah dll, saya panik….mungkinkah selesai hari itu. Untung mbak petugas membantu dengan menilpon “Pramita” yang lokasinya dekat Puskesmas tempat pemeriksaan. Apa boleh buat, saya dan suami ambil paket “Cito” dan terbayang kan betapa berlipat harganya…namun saya pikir lebih baik, daripada saya mesti kembali lagi ke Bandung minggu depan nya. Karena suami baru saja dirawat di rumah sakit awal bulan Juni, maka tak perlu periksa rontgen dan EKG. Dan yang membuat saya sempat “agak syok” ternyata dokternya yang bertugas di lab ini tak ada, sehingga hasil EKG baru bisa diambil malam hari..waduhh bagaimana ya. Syukurlah dokter Puskesmas (terimakasih dr. Mel..) mau memberikan nomor hapenya dan mau diganggu setiap kali muncul pertanyaan. Selesai diambil darah, urine, kemudian rontgen dan EKG, saya dan suami duduk-duduk di ruang tunggu lab, sambil terkantuk-kantuk.

Mbak-mbak dari KT yang murah senyum

Melewati jam dua siang, saya iseng bertanya (karena sebelumnya kata petugas baru selesai jam tiga sore), ternyata hasil test darah dan urine sudah selesai, juga hasil rontgen, sedang EKG bisa disusulkan kemudian. Saya telepon dokter yang masih menunggu di Puskesmas Salam, kata beliau saya bisa diberikan vaksin meningitis dan flu, jika hasil lab bagus…kami segera kembali ke Puskesmas. Dan syukurlah saya bisa diberikan vaksin meningitis di tangan kiri dan vaksin flu di tangan kanan. “Jangan kaget kalau nanti rasanya pegal-pegal ya bu, bisa dikompres air hangat, jika terlalu pegal,” kata perawat. Pas giliran suami, rasanya lama sekali diperiksanya, saya sempat deg-deg an, apakah suami diperbolehkan berangkat, jika memang nantinya kami diperkenankan berangkat oleh Allah swt. Ternyata suami hanya diberikan vaksin meningitis, untuk dilihat apakah ada alergi apa tidak. Jika aman, vaksin flu baru diberikan minggu depannya.

Sore hari kami baru pulang ke rumah, tak sempat pergi ke kondangan, namun syukurlah, paling tidak saya tak harus kembali ke Bandung minggu depan untuk di vaksinasi. Besoknya, kami menghadiri pembukaan manasik, mendengarkan ceramah, kami dibagi berdasarkan kelompok. Sejak awal pimpinan penyelenggara sudah menjelaskan, bahwa sampai saat ini belum ada kepastian, jadi kalau ada yang bertanya, yang penting kita berdoa, semoga diperkenankan Allah swt untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini. Kami semua memahami, dan memang kondisi nya seperti ini. Saya dan suami sepakat, yang penting kami mengikuti semua aturan, divaksinasi, membaca buku panduan, diukur bajunya, serta mendengarkan ceramah. Sedang  urusan berangkat atau tidak kami serahkan kepada Allah swt. Mohon doa teman-teman semuanya, semoga saya dan suami mendapatkan karunia bisa berangkat tahun ini.

Sore hari,  kami kembali ke rumah, setelah beres-beres, sore itu juga kami berangkat ke Jakarta, karena besok nya saya bekerja, sedang suami harus kontrol ke dokter apakah diperbolehkan berangkat, andaikata memang mendapat kesempatan berangkat tahun ini. Sampai Jakarta sudah malam sekali, rasanya badan ini sudah sangat capek, saya sadar, bahwa berangkat naik haji bukan saja sekedar kesiapan rohani, namun fisik juga harus sehat, karena nantinya akan banyak kegiatan ibadah yang memang memerlukan  fisik yang sehat. Semoga kami mendapatkan kemudahan dan kelancaran….

Catatan:

Kami belum tahu apakah bisa berangkat, saya ingin menuliskan bagaimana kesan-kesan saya selama perjuangan untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Saya percaya bahwa semua ada dalam rencana Tuhan, semoga kami memang sudah dalam rencana Tuhan  bisa berangkat menunaikan ibadah Haji tahun ini. Mohon doa nya.

Iklan

Responses

  1. Aamiin, semoga dimudahkan, supaya bisa berangkat tahun ini.

    Terimakasih mbak Monda, doanya….

  2. Semoga niat berangkat ke tanah suci terkabul yah bunda 🙂

    Iya Linda..doakan ya…

  3. insya Allah dimudahkan ya Bu, dan bisa berangkat tahun ini bersama Bapak, aamiin!

    Insya Allah….Amien….

  4. moga2 bisa berangkat tahun ini ya bu… dan semua urusannya lancar…

    kalo berangkat tahun ini, berangkatnya kapan bu?

    Tanggal 24 Oktober 2011…..entah nih Arman, yang penting jalani saja dengan sabar dan ikhlas.

  5. Saya doakan Bu, semoga semuanya lancar dan Ibu dan Bapak bisa naik haji. Sebuah tujuan mulia pastilah diberkahi Allah SWT.

    Terimakasih Donny….semoga memang saya dan suami mendapat perkenan Nya

  6. bantu doa supaya ibu jadi naik haji…. tapi saya yakin Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kita. Berserah pada Tuhan

    EM

    Iya Imel, saya dan suami menjalani saja sampai akhir, dan ikhlas menerima apapun putusan Nya.

  7. subhanallah ibu, begitu berat perjuangan dan pengorbanan untuk sebuah pengabdian diri kepada rabb jalil. tetangga saya ada yang cuma jualan pisang molen ( pisang yang dililitin adonan tepung dan digoreng) dengan gerai kecil bisa berangkat haji dengan hal-hal yang tentunya tidak diduga-duga juga. semoga ibu dan suami juga saya tentunya dapat menjadi tamu-Nya di kemudian hari. amin..semangat ya bu…

    Ternyata ibadah Haji, tak melulu kemampuan finansial, fisik, namun juga atas panggilan Allah swt. Semoga saya dan suami diberikan kemudahan dan kelancaran, berharap bisa berangkat tahun ini.

  8. ..
    semoga semuanya lancar dan dimudahkan ya Bu..
    ..

    Insya Allah…Amien.
    Makasih doanya Ata.

  9. semoga di lancarkan bu ya…

    Terimakasih doanya….Insya Allah, Amien.

  10. semoga dilancarkan ya bu…jangankan u ibadah haji ya bu..untuk ibadah umroh saja sudah banyak persyaratannya. periksa kesehatan tidak ada hanya harus suntik meningitis. waktu itu saya sdh mepet mau suntik, bisanya hanya hari kerja. pagi2 kesana sudah penuh, ada calo segala…harus sabaar jadi tidaknya kita berangkat tergantung tingkat kesabaran..krn bisa aja udah malas ketika di tahap itu…salam saya bu eni…

    Betul Puteri….
    Tak sekadar mampu finansial, fifik juga harus sehat…
    Juga panggilan dari Allah.
    Semoga saya dan suami dilancarkan, terimakasih doanya.

  11. Insya Allah kapanpun berangkatnya sudah merupakan suratan dari Allah SWT sebab hanya Dia yang tahu kapan waktu terbaik buat Ibu Enny berangkat. Yang paling penting kita semua berdoa agar ibu Enny dan suami selalu dalam keadaan sehat saat mau berangkat menunaikan ibadah hajinya. Saya juga ingin berangkat bu…doain juga yah …:-)

    Betul Necky…
    Yang penting menjalankan persiapan dengan penuh keihlasan …soal berangkat atau tidak, merupakan keputusan Nya.
    Semoga Necky juga bisa segera berangkat Haji.

  12. Astagaaaaaaa Bu, itu jalan Salam komplek perumahan tempat tinggal keluarga ibu saya!! 😀
    Keluarga besar ibu saya dulu tinggal di sana, rumah Jl. Salam No. 31! 😀 Sekarang rumah itu milik budhe saya, dipakai tinggal anaknya (sepupu saya).
    Ada juga sodara saya di Jl. Salam yang lain, yaitu om saya, adik ibu. :mrgreen:
    Wah wah, setiap kami sekeluarga ke sana, masih banyak tetangga2 sekitar yang ingat dengan kelaurga kami. Pas lebaran, cukup banyak yang silaturahim jika kebetulan acara kumpul kelaurga diadakan di rumah Jl. Salam kami. 🙂

    Wahh betulkah?
    Lokasi yang sejuk, dan nyaman…serta masih di dalam kota, dekat dengan mana-mana tapi tidak bisiing. Sungguh berbahagia yang mempunyai tempat tinggal di daerah tersebut.

  13. semoga segalanya dimudahkan ya….
    segala sesuatunya akan indah sesuai dengan rencanaNya dan pada waktuNya. amiiiin…
    sekaligus saya mohon maaf lahir bathin jika ada salah perkataan maupun perbuatan. selamat menuaikan ibadah puasa untuk bu enny + keluarga.

    Terimakasih doanya…..
    Semoga saya dan suami diberi karunia bisa berangkat tahun ini
    Saya juga mohon maaf, semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima oleh Allah swt. Amien.

  14. Semoga kita bisa berangkat tahun ini…siapa tahu jita bisa kopdar di tanah suci buu.. 🙂 Semoga mendapat kelancaran & kemudahan dalam proses persiapan, pelaksanaan hingga selesai nantinya…. Aamiin…

    Iku mendoakan ya Mechta…..Insya Allah mudah2an Allah swt memberikan perkenannya, yang penting saya dan suami sudah ikhlas apapun rencana Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: