Mudik ke Jakarta….?

Ara (gambar dari FB Dwita)

Ingatanku kembali berpuluh tahun silam, mungkin alm ibu dulu perasaannya mirip perasaanku sekarang. Jika pada bulan-bulan Idul Fitri sebelumnya, hanya kami rayakan berdua karena anak-anak sudah besar dan tinggal di luar rumah semua, Lebaran tahun ini rumah kami akan ramai, karena cucu pertama akan datang bersama ibundanya, merayakan Idul Fitri di Jakarta.

Setelah menikah saya tinggal di Jakarta, berperan sebagai karyawati, ibu, dan isteri, benar-benar menghabiskan waktu. Dan saat itu, kami hanya punya mobil seken, sehingga tak berani untuk pulang mudik ke Jawa Timur. Ditambah saat kecil si sulung kurang sehat (atau mungkin saya sebagai ibu kawatir terus…konon kekawatiran ini akan terhubung pada anak), sehingga tak berani menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Jawa Timur. Si sulung sempat diajak menengok neneknya saat kecil, naik pesawat dari Jakarta-Solo, diteruskan dengan naik mobil, itupun terasa sekali lelahnya, serta sepanjang perjalanan rewel.

Lanjutkan membaca “Mudik ke Jakarta….?”

Pelayanan pada pelanggan, belum menjadi prioritas?

Berkali-kali saya ingin menulis tentang soal pelayanan pelanggan, yang masih sering diabaikan, entah kenapa masih ada rasa tak pas…betulkah? Atau hanya perasaan saya? Di satu sisi saya juga melihat upaya-upaya perbaikan dari beberapa instansi atau perusahaan untuk mengedepankan pelayanan pada pelanggan, tapi saya melihat masalah sebetulnya bukan pada strategi, tetapi pada implementasinya yang kurang mendapatkan pemantauan, sehingga terkesan  kurang koordinasi, kalau tak dibilang amburadul. Tulisan ini akhirnya saya posting juga setelah mas yang saya datangi kemarin, mengatakan…”Bu, mohon ditulis saja, kami capek dengan omelan pelanggan, padahal kami tak tahu apa-apa.” Dan saya jawab, …”Mas, saya tak ngmel lho, hanya menyerahkan surat agar ada perbaikan, serta pembebanan pembayaran kembali seperti semula, karena saya tak pernah memberikan konfirmasi secara tertulis, dan tak pernah mengatakan setuju.”

Lanjutkan membaca “Pelayanan pada pelanggan, belum menjadi prioritas?”

Merayakan kemerdekaan di tengah bulan Ramadhan

diambil dari picbadges.com

Sungguh, bulan ini penuh berkah. Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan tepat pada hari ke-17 bulan Ramadhan. Perayaan kemerdekaan yang biasanya diramaikan dengan berbagai lomba, diganti menjadi renungan, doa bersama setelah sholat Tarawih…..yang menurut saya malah makin bermakna. Tidak berlebihan, namun mensyukuri apa yang telah kita capai. Memang benar, kita masih banyak PR yang kurang, masih ada KKN, Korupsi, dan hal-hal lain yang membuat hati sengsara, namun mari kita coba mengingatkan diri pada berpuluh tahun silam, takkala para pejuang bahu membahu hanya untuk satu tujuan, yaitu merdeka dari penjajahan dan penindasan.

Lanjutkan membaca “Merayakan kemerdekaan di tengah bulan Ramadhan”

MyPadz: New Generation Cafe

Minggu kemarin si sulung bertanya, apa ibu mau menemani buka puasa bersama teman-teman seangkatan  nya di Fak Komputer Int’l UI tahun 2002? Dan karena minggu sebelumnya si sulung sudah menemani kopdar di Food Court Pasaraya, serta saya belum ada acara yang penting, saya menyanggupi untuk datang. Apalagi saya memang mengenal teman seangkatannya ini,  karena sering ada acara yang memungkinkan saling ketemu. Mereka juga pernah mengunjungi rumah kami di Cilandak, dan hubungan pertemanan ini sangat akrab. “Ntar ibu bisa coba ngepadz.” kata si sulung. “Permainan apa itu,” tanya saya. “Nanti deh, ibu akan tahu sendiri.” Kalau ibu mau menemani, aku mau bawa mobil, tapi kalau ibu tak bisa menemani, aku mau naik kendaraan umum saja,” kata si sulung melanjutkan.

Lanjutkan membaca “MyPadz: New Generation Cafe”

Menunggu buka puasa di Sevel

Cerita di blog ini, pada bulan puasa ini lebih banyak yang ringan, maklum setiap hari sudah lelah berkutat dengan jalanan yang macet di Jakarta, yang rasanya semakin bertambah parah. Minggu pertama bulan puasa kemacetan makin menggila, semua orang ingin segera sampai di rumah dan berbuka bersama keluarga.  Jadi, biasanya saya selalu membawa permen atau teh kotak,  untuk memudahkan membatalkan puasa jika terjebak kemacetan pada saat bedug tanda buka puasa berbunyi. Begitu  Azan Magrib, saya melihat, banyak pengendara meminggirkan kendaraannya (sepeda motor, mobil), agar bisa membatalkan puasa dengan minuman yang dibawanya. Jika kita perhatikan, di pinggir jalan berjejer penjual menawarkan berbagai makanan berbuka puasa, yang sangat berguna bagi pengendara yang lupa tak membawa makanan untuk membatalkan puasa. Jika kita melewati jalan tikus (bukan jalan utama), banyak anak muda membagikan tajil  kepada para sopir kendaraan umum, seperti taksi, bajaj, dan sebagainya.

Kehidupan di Ibukota, menuntut warganya tetap bekerja giat walau dalam kondisi berpuasa, dan masing-masing menyiasati dengan gaya berbeda. Teman saya selalu siap aqua di mobil, agar jika saat Azan Magrib masih di tengah jalan, bisa membatalkan puasa. Ada juga yang lebih suka meminggirkan kendaraan, atau mampir di cafe atau restoran, sekedar untuk mengganjal perut sebelum meneruskan perjalanan. Ini yang membuat jalanan lumayan lancar, setelah Azan Magrib, dan kemudian ramai lagi setelah orang selesai sholat Magrib.

Lanjutkan membaca “Menunggu buka puasa di Sevel”

Ber Bajaj ria

Bagi saya, juga suami, segala sesuatu diharapkan mengikuti aturan. Jadi, setiap kami pindah alamat, ikutannya banyak sekali, seperti ganti Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan lain-lain nya. Begitu juga saat pindah alamat di komplek rumah dinas, walau masih satu RT, tetap saja semua kartu identitas diganti dengan alamat yang baru. Memang repot, namun memudahkan urusan selanjutnya. Kali ini, karena dalam tahun ini ayahnya dua kali masuk rumah sakit, si sulung sangat kawatir, sehingga memutuskan kembali bekerja di Jakarta, mengingat adik satu-satu nya sedang kuliah di luar negeri.

Lanjutkan membaca “Ber Bajaj ria”

Food Court Pasaraya, 30 Juli 2011

Pagi-pagi saya menanyakan pada si sulung, apa siang ini ada acara? Dia menjawab, belum….. namun mungkin saja dia harus kerja jika ditelepon oleh bos nya. Setelah sholat Dhuhur, saya dan si sulung segera berangkat ke Pasaraya naik taksi. Sopir taksi yang kami tumpangi sebelumnya bekerja di BUMN dan karena sesuatu hal, dia harus keluar dan menjadi sopir taksi. Dan sopir ini suka cerita, punya berbagai anekdot, sehingga saat sudah sampai Pasaraya, rasanya waktu cepat sekali berlalu. Masuk ke area food court yang relatif sepi, hati ini ikut sedih, padahal jika jam makan siang, dulu susah sekali mendapatkan kursi di sini. Saya dulu suka mengajak tamu dari luar kota atau luar negeri ke Mal ini, kemudian makan di food court nya. Setelah clingak-clinguk saya ketemu dengan Imelda dan Kai, ternyata sudah ada Yessy dan Diajeng di situ. Kami langsung terlibat obrolan seru, kemudian saya pesan makanan bersama si sulung.

Lanjutkan membaca “Food Court Pasaraya, 30 Juli 2011”