Ber Bajaj ria

Bagi saya, juga suami, segala sesuatu diharapkan mengikuti aturan. Jadi, setiap kami pindah alamat, ikutannya banyak sekali, seperti ganti Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan lain-lain nya. Begitu juga saat pindah alamat di komplek rumah dinas, walau masih satu RT, tetap saja semua kartu identitas diganti dengan alamat yang baru. Memang repot, namun memudahkan urusan selanjutnya. Kali ini, karena dalam tahun ini ayahnya dua kali masuk rumah sakit, si sulung sangat kawatir, sehingga memutuskan kembali bekerja di Jakarta, mengingat adik satu-satu nya sedang kuliah di luar negeri.

Nahh cerita urusan KTP ini susah-susah gampang, jika hanya pindah dalam satu RT, atau antar kecamatan masih di wilayah yang sama, urusan nya tak sulit, karena hanya pengantar dari Ketua RT, Ketua RW, Kelurahan dan Kecamatan, kemudian urusan selesai. Jika antar provinsi harus ada surat kelakuan baik, dan juga ada pengantar dari Suku Dinas Kependudukan. Dan seperti biasanya, saya lebih suka mengurus sendiri, agar tak ada kekeliruan nama, alamat, tanggal lahir dan lain-lain yang akan lebih merepotkan nantinya. Ternyata yang berpikiran seperti saya banyak, hari ini di Kelurahan saya ketemu dengan para bapak, juga ibu dari berbagai latar belakang pendidikan, gaya berpakaian, yang sedang mengurus berbagai keperluan di Kelurahan.

Syukurlah saya memutuskan naik bajaj, karena jarak dari rumah ke Kelurahan yang cukup dekat. “Ke Kantor Kelurahan ya pak, “ kata saya pada pak Bajaj yang mangkal di depan Pasar Mede. “Baik, bu,” kata pak Bajaj. Jika naik bajaj dari depan Pasar Mede saya tak pernah menawar karena sebgian besar bajaj yang mangkal disitu sudah pernah saya naiki, karena naik bajaj memudahkan segala urusan untuk jarak dekat.

Pak Bajaj, yang setia menunggu

Melewati jalan  di depan Ace Hardware, pak Bajaj jalan terus…”Lho pak, kok terus, bukannya belok?”, tanya saya. “Iya bu, Kantor Lurah sudah pindah ke jalan Tarogong I, kan yang lama sudah dibongkar,” jawab pak Bajaj. Wahh, syukurlah saya naik bajaj, karena letak kantor sementara ini di gang kecil, kalau sendiri pasti pusing carinya. Waduhh, ini bakalan susah cari kendaraan saat keluar nanti, pikir saya. Saya tanya, apa pak Bajaj mau menunggu, syukurlah bapaknya mau. Saat di kelurahan, saya ditanya apa punya foto kopi KK…waduhh faktor usia ini memang rawan, padahal si mbak sudah memberikan fotokopi rangkap 3 (tiga), namun ketinggalan di rumah, untung saya bawa fotokopi KTP dan mbak di kelurahan mau, karena saya yang menjamin anak saya…lha iya, masakan anak sendiri nggak dijamin.

Dari Kelurahan, setelah antri setengah jam, saya mendapat selembar surat pengantar, bersama berkas-berkas (surat keterangan pindah dari Propinsi asal, surat kelakuan baik dari propinsi asal, surat keterangan bekerja dari kantor, fotokopi KTP penjamin), dan diminta untuk diteruskan ke Kecamatan untuk minta surat pengantar. Mbak di Kelurahan berpesan, agar saya mampir fotokopi dulu, sebelum ke kecamatan. Untung ada pak bajaj, dia dengan ahli melalui jalan kecil-kecil mencari tempat foto kopi terdekat….dari sini setelah di fotokopi saya ke Kantor Kecamatan, mencari seksi kependudukan. Kembali saya menunggu, mendapatkan surat pengantar yang lain lagi, dan dipesan untuk  fotokopi dulu, sebelum ke Kelurahan. Jadi saya ke tempat foto kopi lagi, kemudian ke Kelurahan. Di Kelurahan yang menunggu makin banyak, apa boleh buat saya ikut mengantri….dan baru satu jam lagi dibuatkan surat pengantar, diminta untuk fotokopi lagi dan kembali ke Kelurahan. Kembali pak Bajaj dengan setia mengantar saya, melalui jalan berkelok-kelok, ketemu tukang fotokopi yang nyempil di pojok jalan. Setelah fotokopi, saya kembali ke Kelurahan…menunggu lagi….Tak lama kemudian resi sementara sudah jadi, rupanya mbak di Kelurahan kasihan melihat saya, dia berpesan..”Bu, nanti dua bulan lagi, ibu sendiri saja yang ke sini, untuk mengecek apa KTP sudah jadi. Jika sudah jadi, baru adik nya sendiri kesini untuk difoto, karena harus datang sendiri,” katanya. Dan urusan bolak balik ini biaya administrasi di Kelurahan  hanya untuk mengganti form, yaitu Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Saya mengecek apakah tak ada nama yang salah, kemudian baru pulang…..dan tak lupa mampir di tukang fotokopi lagi, untuk fotokopi resi.

Saya berterimakasih pada pak Bajaj, yang mengantar dengan sabar, panas-panas dan puasa. Pak Bajaj menerima terimakasih saya dengan tersenyum lebar…..betapa banyak hal yang bisa kita syukuri dari hal-hal kecil seperti ini.

16 pemikiran pada “Ber Bajaj ria

  1. waaah jadi ibu bukan HIRE TAXI tapi HIRE BAJAJ… trus trus tukang bajajnya punya HP ngga bu? kan bisa sms minta dijemput heheheh

    BAJAJ oh bajaj… aku belum ajak Riku dan Kai naik bajaj. Hmmm hari ini deh 😀

    EM

    Sayangnya pak Bajaj tak punya Hape, tapi dia yang menawakan untuk menunggu….dan karena dia sopan, saya memberikan lebih sekaligus sodakoh….
    Imel, kalau bisa naik yang kancil aja, biasanya warna biru, goncangannya tak sekuat bajaj…seperti naik mobil, tapi dalam ruang sempit.

  2. Baca postingan bunda, jadi inget jam kuliah dulu bunda..kalo males rebutan metro mini atau kopaja, ny pake bajaj ke kampus..lebih cepet..bisa nyelip2..hehehe..

    Semoga cepet selesai KTP nya bunda…(kok lama amat ya bunda, sampe 2 bulan)

    KTP 2 bulan termasuk cepat…saya dulu malah 6 bulan…di Bali juga harus menunggu 6 bulan. Maksudnya untuk pengecekan….

  3. Luar biasa…. saya salut dengan sopir bajaj itu… 😥
    Saya harus belajar dari sikapnya. 😥

    Kadang kita menemukan kesabaran dari orang kecil, dan harus belajar dari mereka.

  4. Masih banyak orang-orang Indonesia yang baik ya Bu …
    Betapa menyejukkan cerita ini …

    Semoga bapak Bajaj itu … dimudahkan rejekinya oleh Allah

    Salam saya Bu

    Iya om, orang yang nrimo dan ikhlas menjalankan kehidupannya.
    Dan karena penumpang senang, biasanya mau memberi lebih…semoga orang seperti ini dimudahkan rejekinya.

  5. Bu kalau di Madiun saya biasanya naik becak. Ada becak langganan dan mudah carinya. Bapak2 penarik becak itu sudah kenal dg klg kami, dan tujuan kami pun biasanya ya itu2 saja: ke gereja, ke pasar. Lagian, Madiun kan kota keciiiil hehehe.

    Saya termasuk jarang naik bajaj di Jkt. Lebih sering naik angkot kecil sambung jalan kaki. Kalau sedang capeeeek banget, baru deh naik bajaj. Atau sedang kumat malesnya. Tapi memang, bajaj itu membantu sekali ya…

    Naik becak lebih menyenangkan…tapi saya pernah naik becak ngebut di Surabaya…dan pas diingatkan malah makin ngebut.
    Mungkin dia membatin..”Kalau mau enak ya naik mobil sendiri,” ….hahaha
    Saya naik bajaj karena ngejar waktu, dan keputusanku ternyata tepat…dalam waktu 2 jam berputar-putar urusan selesai….coba kalau pakai jalan, cari bajaj lagi, mungkin besoknya harus kembali lagi

  6. senangnya mendapat tukang bajaj yg baik ya bu…pengalaman saya baru2 ini justru sebaliknya, tapi tidak dalam kondisi parah kok.

    Memang pernah juga dapat tukang bajaj yang ngawur,,tapi bagaimana lagi..saya tak berani nyopir sendiri, sedang kadang di daerah tertentu, taksinya susah..

  7. Wah bun… sama! Susah banget deh kalo urusan ganti2 ID inih, udh ngerasain sendiri pas ngurusin pindahannya Adr dari jaksel ke jaktim. Beuuuh bolak-baliknya bikin sedih mana jauh banget.
    Tapi dijalani ya seneng aja jadinya hehehe

    Btw bun, keluar dari bajaj kena sindrom bergetar gak bun? 😛 hehehe

    Sindrom bergetar??? Hahaha…sebenarnya kalau kancil lebih enakan.
    Itu kan risiko tak berani nyopir sendiri, tapi lihat meannya juga males…lihat kan fotonya, lokasinya berada di jalan sempit.

  8. Saya juga sering pakai cara ibu, taksi, bajaj atau ojek disuruh nunggu. Biasanya nggak minta tambahan lagi.

    Mereka memang nggak minta tambah mbak..tapi kalau orangnya baik, tip tambahannya saya beri lumayan banyak. Biar mereka dapat segera istirahat.

  9. Subhanallah, masih ada orang2 yang berbaik hati seperti sopir bajaj ini ya Bu Enny
    semoga Allah swt memudahkan rezeki utk sopir ini ,aamiin
    salam

    Saya juga mendoakan pak Bajaj..orangnya murah senyum, saya suka naik bajaj nya

  10. ribet nih ama proses perpanjangan ktp yang baru. yang mengharuskan orangnya dateng sendiri untuk foto. lha kalo yang tinggal di luar negeri gimana dong perpanjang ktp nya… 😦

    ktp saya jadi udah expired tuh. abis bingung gimana perpanjangnya.

    Ribet namun menjadi lebih aman. Saya sudah tanya di kelurahan, karena anak bungsuku tahun depan KTP nya sudah expired. Katanya nggak apa-apa kok…bisa diurus pas pulang kesini. Dendanya tidak besar kok, dan ada alasannya pula.

  11. Jarang-jarang ada tukang bajaj yang seperti itu Bu….
    Mungkin karena ibu baik sama orang jadi ada yang membantu disaat sedang kerepotan bolak -balik di luar sana.

    Kebetulan Bajaj itu sering saya gunakan, karena mangkal di depan Pasar Mede…

  12. Kalau Jogja memang becak ya Kris…hehehe…saya pernah ke Jogja dan kemana-mana pakai becak, si abang nungguin…Satu kali saya main ke kantor pos, ketemu teman filatelis dan lupa waktu…keluar-keluar becak saya ngilang. Dicari-cari nggak ketemu juga. Pulang ke kos teman saya malah dikasih tagihan becak….Hehehe abang becaknya bingung nyari saya (saya masuk ruang kantor soalnya) dan sudah jam pulang sekolah, dia harus jemput anak sekolah. Jadilah saya ditinggal dan dia nagih ke kos teman saya (untung ketemu teman saya yang langsung bayarin hehehe….)

    Awal pindah di Jakarta lingkungan rumah masih ada becak…lama-lama mereka tergusur ada yang alih profesi jadi sopir bajaj.

  13. Untung ada supir bajaj yang gaul dan ngerti kemana-mana, hehe…
    Rupanya saya bukan warga yang baik, karena KTP saya masih menggunakan alamat rumah ibu, padahal saya sudah bertahun-tahun banget tinggal dengan tante 😦

    Saya juga bersyukur pak sopir bajaj baik sekali….
    Nggak apa-apa Akin, karena rumah ibu kan masih keluarga…lha kalau saya pindah dan KTP masih asal, repot kalau ada apa-apa karena yang tinggal disana orang lain…walau masih satu kantor.

  14. ibu berpindah dari kota apa bu? wah seru ya bu..berbajay ria,,dengan supir yang baik hati pula,,,salut u si abang bajay…
    urusan dengan kelurahan memang banyak administrasinya ya bu,,tapi jika mau bersabar dan sesuai aturan akan selesai juga salam saya bu..

    Yang pindah anak saya Putri…dulunya tinggal di Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s