Menunggu buka puasa di Sevel

Cerita di blog ini, pada bulan puasa ini lebih banyak yang ringan, maklum setiap hari sudah lelah berkutat dengan jalanan yang macet di Jakarta, yang rasanya semakin bertambah parah. Minggu pertama bulan puasa kemacetan makin menggila, semua orang ingin segera sampai di rumah dan berbuka bersama keluarga.  Jadi, biasanya saya selalu membawa permen atau teh kotak,  untuk memudahkan membatalkan puasa jika terjebak kemacetan pada saat bedug tanda buka puasa berbunyi. Begitu  Azan Magrib, saya melihat, banyak pengendara meminggirkan kendaraannya (sepeda motor, mobil), agar bisa membatalkan puasa dengan minuman yang dibawanya. Jika kita perhatikan, di pinggir jalan berjejer penjual menawarkan berbagai makanan berbuka puasa, yang sangat berguna bagi pengendara yang lupa tak membawa makanan untuk membatalkan puasa. Jika kita melewati jalan tikus (bukan jalan utama), banyak anak muda membagikan tajil  kepada para sopir kendaraan umum, seperti taksi, bajaj, dan sebagainya.

Kehidupan di Ibukota, menuntut warganya tetap bekerja giat walau dalam kondisi berpuasa, dan masing-masing menyiasati dengan gaya berbeda. Teman saya selalu siap aqua di mobil, agar jika saat Azan Magrib masih di tengah jalan, bisa membatalkan puasa. Ada juga yang lebih suka meminggirkan kendaraan, atau mampir di cafe atau restoran, sekedar untuk mengganjal perut sebelum meneruskan perjalanan. Ini yang membuat jalanan lumayan lancar, setelah Azan Magrib, dan kemudian ramai lagi setelah orang selesai sholat Magrib.

Lanjutkan membaca “Menunggu buka puasa di Sevel”