Oleh: edratna | Agustus 10, 2011

MyPadz: New Generation Cafe

Minggu kemarin si sulung bertanya, apa ibu mau menemani buka puasa bersama teman-teman seangkatan  nya di Fak Komputer Int’l UI tahun 2002? Dan karena minggu sebelumnya si sulung sudah menemani kopdar di Food Court Pasaraya, serta saya belum ada acara yang penting, saya menyanggupi untuk datang. Apalagi saya memang mengenal teman seangkatannya ini,  karena sering ada acara yang memungkinkan saling ketemu. Mereka juga pernah mengunjungi rumah kami di Cilandak, dan hubungan pertemanan ini sangat akrab. “Ntar ibu bisa coba ngepadz.” kata si sulung. “Permainan apa itu,” tanya saya. “Nanti deh, ibu akan tahu sendiri.” Kalau ibu mau menemani, aku mau bawa mobil, tapi kalau ibu tak bisa menemani, aku mau naik kendaraan umum saja,” kata si sulung melanjutkan.

MyPadz Cafe, di malam hari (difoto tanpa blitz)

Entah kenapa, urusan naik mobil ini membuat anak-anakku malas, kedua anakku lebih menyukai naik kendaraan umum, mungkin kalau lagi macet tinggal dinikmati sambil tidur. Si sulung baru mau nyopir kalau akhir pekan pas ngantar ibunya, itupun untuk daerah yang dekat-dekat saja. Karena kami berdua tak terlalu mengenal wilayah Bintaro, maka diputuskan berangkatnya agak siang. Kenyataannya, kami berangkat baru jam 5 sore, setelah si sulung mampir dulu ke ATM BCA di dekat rumah. Begitu keluar dari jalan kecil dan masuk ke jalan Fatmawati, sudah macet sekali padahal hari Minggu, hari yang jika bulan puasa termasuk hari yang jalanannya lengang. Wahh bulan puasa ini benar-benar deh, apakah mereka juga punya tujuan sama untuk buka puasa, sekaligus sholat Tarawih bersama teman-teman nya? Si sulung baru menyadari kalau peta rumah temannya tertinggal di rumah, apa boleh buat, kami jalan terus karena kalau mau balik lagi nanti terlanjur gelap, malah repot cari alamat baru.

Free wifi

Syukurlah ingatan si sulung cara masuk ke daerah Bintaro, walau telah bertahun-tahun lalu masih lumayan tajam, saya agak kawatir dengan bensin yang tinggal separo, tapi si sulung yakin bahwa bensin itu masih cukup, nanti saja pulangnya baru diisi. Kami menyusuri jalan Fatmawati, lewat Tarogong, terus masuk ke Pondok Indah….lurus saja, akhirnya masuk ke jalan Deplu Raya. Memasuki wilayah Bintaro mulai macet, dan memang harus dinikmati. Begitu masuk daerah Bintaro sektor satu, setelah Masjid kami berbelok ke kanan menyusuri jalan di sebelah rel kereta api…kemudian belok kanan lagi, ketemu alamat MyPadz Cafe di jalan Merpati 1 H2/1 Sektor 1.

Di sana telah ada Avi dan Fitri (isterinya, yang juga teman seangkatan),  kami diterima langsung oleh Aziz (suami Tia, Teknik Mesin UI). Tia merupakan teman seangkatan si sulung yang nilainya terbaik (cumlaude), namun ternyata passion nya justru mendirikan bisnis. Mengejutkan, namun juga membuatku salut, karena saya mengenal kedua orangtua Tia, yang merupakan teman satu kampus dengan suami saya.

Daftar Menu

Setelah berbincang-bincang, saya makin mengenal pasangan muda ini (Tia dan Azis), mereka memulai dari bawah, bisnis Cafe ini baru launching 2 (dua) minggu yang lalu. Azis cerita bagaimana cara mencari koki, mengajari mereka memasak, mendatangkan Chef dan barista untuk mengajarkan tim nya agar siap melayani pelanggan. Azis juga cerita bagaimana dia mencari bahan baku agar masakannya terasa enak…. dan sekarang sudah bisa membedakan berbagai jenis bahan baku, seperti bawang putih, bawang merah, tomat dan cabe ….mana yang termasuk KW 1, KW 2, KW 3 dan seterusnya.

Meja mungil di luar, lebih disukai kaum muda karena bisa sambil merokok

Saya ketawa, jadi ingat cerita teman-teman yang jadi auditor, bagaimana cara memeriksa struktur bangunan, apakah betul menggunakan bahan KW 1 atau bukan. Dan saya terpaksa belajar hal ini, saat memimpin Pusat Pendidikan dan pelatihan, karena setiap kali berurusan dengan renovasi bangunan Sentra Pendidikan yang tersebar di daerah termasuk asrama nya, juga bagaimana mesti mencoba rasa masakan yang pas sebelum menentukan apakah sebuah perusahaan katering bisa dipakai apa tidak. Saya juga menjadi ingat bacaan setiaku, yaitu cerita perjalanan dr HOK Tanzil (?)  keliling dunia bersama isterinya, yang dimuat bersambung di “Intisari“, yang setiap kali berkunjung di suatu negara memasak untuk teman-teman nya.  Dalam cerita tersebut, diceritakan bahwa agar masakan lezat, nomor satu adalah bahan mentahnya. Wahh, berarti Azis benar-benar telah menguasai hal ini.

Azis cerita, dia membuat nasi goreng, bumbunya sama namun bahan yang digunakan berbeda, ternyata yang menggunakan bahan mentah KW 1 rasanya jauh lebih enak. Mengapa diberi nama MyPadz, New Generation Cafe? Sebagai anak muda, yang memahami bidang IT, mereka berdua sangat memahami kesenangan anak muda gaul sekarang. Cafe ini dilengkapi dengan Wifi, sebagai promosi  diberikan free Main Android Pad dari 24 Juli sampai dengan 24 Agustus. Setelah itu jika mau ngepadz tentu saja harus membayar. Makanan yang disajikan di Cafe ini merupakan makanan khas anak muda, saya mencoba spagetti bolognese, sedang si sulung memilih spagetti carbonara. Tia dan Azis  meminta pelanggan untuk ikut memberi komentar apa yang kurang dari rasa masakan ini…. saya sudah merasa pas. Cafe ini buka sampai jam 10 malam, sering ada yang baru datang jam 21.30 wib, dan pasangan muda ini tak kuasa menolak, apalagi yang datang seringkali orang muda, pulang dari kerja, dan baru bisa menyisihkan waktu malam hari. Untuk bulan puasa ini,  pasangan muda ini terpaksa sering langsung  sahur setelah menutup cafe karena kawatir tak terbangun pas waktunya.  Azis dengan semangat menceritakan bagaimana dia belanja jam 2  pagi di suatu pasar daerah KL dengan mengendarai sepeda motor, demi  mencari bahan mentah yang KW 1…  ternyata pasar tersebut rame sekali pada saat dini hari.

Tahap awal ini karyawan mereka baru 4 (empat) orang, karena sebagian besar masih ditangani mereka sendiri, namun secara bertahap mereka juga akan meningkatkan jumlah karyawan jika diperlukan. Saya berharap Cafe ini akan berjalan lancar, senang mendengar anak muda yang berani mulai berwirausaha dan menciptakan peluang untuk tenaga kerja. Dan mereka adalah para lulusan Perguruan Tinggi Negeri, yang ternyata mau berlelah-lelah ke pasar mencari bahan mentah, terjun ke dapur sendiri mengawasi koki, menemani tamu mengobrol sambil mencari ide atau saran guna perbaikan cafe nya. Sayang, teman-teman si sulung sudah menyebar ke berbagai kota dan negara, sehingga saat itu tak banyak yang datang, mereka akan mengadakan lagi buka puasa dan diharapkan yang datang lebih banyak.

Selamat Tia dan Azis, semoga sukses ya….

Iklan

Responses

  1. waah sayang jauh ke bintaronya ya…Kalau dekat mau mampir
    EM

    Hehehe…jalan ke Bintaro memang macet….

  2. wah, asyik sekali ya bu, masih bisa “berkencan” dengan si sulung.
    kafenya kayanya menarik. memang sih ya, kalau bahan mentahnya bagus, rasa masakannya pun enak. tapi ini tergantung kokinya juga nggak ya bu? maksudnya, kalau kokinya pintar, masakan apa saja jadi enak…. (?)

    Senang bisa berkencan dengan si sulung, karena kesibukan masing-masing.

  3. salut ama orang2 yang masih muda tapi udah berani buka bisnis…

    Saya juga salut….dan mereka mencoba dari bawah, ke pasar sendiri cari bahan mentah…..

  4. ide yg kreatif. cafe sekarang saingan semakin banyak maka dituntut yg kompetitif. ini contoh yg baik

    Iya, harus kreatif agar mampu bersaing

  5. Salam Bu …

    Wah keren banget yak temannya si Sulung..
    pengen niru juga… terjun ke dunia wira usaha biar bermanfaat bagi banyak orang, dengan memberi lapangan kerja dari pada hanya jadi karyawan 🙂

    Teman-teman si sulung banyak yang terjun ke dunia wirausaha…..contoh yang bagus karena membuka peluang kerja

  6. pasar daerah KL itu di mana maksudnya Bu? Kebayoran Lama?

    Yup Kebayoran Lama..bukan Kuala Lumpur….:P

  7. Haha. Ibu puasa-puasa postingannya tempat makan mulu. 😛

    Wah, betul tuh, Bu. Terutama bangunan, harus teliti betul dalam memeriksa bahan.

    Jadi keinget dulu ibu saya. Beliau dulu punya teori, kalau beli cabe di warung A, nanti sambel yang dibikin kurang sedap. Kalau beli cabenya di warung B, baru nanti lebih sedap. Kalau dilogikakan, begitu kata ibu saya, berarti cabe di warung B memang lebih berkualitas dibandingkan cabe di warung A.

    Setelah selidik punya selidik, ternyata eh ternyata, warung A dan warung B itu “kulakan” cabenya sama-sama di satu petani (dan satu ladang, satu jenis cabe pula). Haha.

    Walau satu ladang kualitas hasil bisa berbeda…..
    Selain itu, jika sudah jadi masakan, rasa sangat ditentukan oleh keahlian tukang masak.

  8. wah..keren bgt cafe nya ya bu..

    Yup

  9. wah…salut dengan anak muda yg kreatif & tak terkungkung teori lama utk jd pegawai kantoran setelah lulus kuliah… salut juga dengan ibu yang bisa berbaur dengan teman2 si sulung… 🙂

    Banyak teman si sulung yang terjun ke wirausaha….
    Mahasiswa adik saya (lulusan Binus), nyaris semuanya terjun ke wirausaha….
    Mudah2an semakin banyak anak muda yang terjun menciptakan peluang tenaga kerja.

  10. ada wifi nya jadi betah, sambil internetan

    Yup….memang itu harapannya

  11. MyPadz?
    Harus punya iPad ya kalo ke sana? Hahaha 😆

    Tidak harus..sekarang dalam rangka promosi gratis..nanti ada biaya dihitung per jam.

  12. langsung terbayang jalan ke sana bu…sering dilalui, rasanya bisa memperkirakan lokasinya..
    mudah2an bisa dicoba suatu saat

    Kapan-kapan bisa dicoba mbak kalau pas lewat…

  13. Kafe yang nyaman untuk anak muda biasanya haruss ada wifi, kemudian bisa nongkrong sambil merokok…
    Bintaro itu jauh sekali dari rumah saya, Bu. Saya mo ke Sevel aja susah ya huehuehee… apalag yg lebih jauh.

    Hehehe…dari rumah saya dekat, tapi tetap aja macet..kalau lewat Tol, mesti muter lagi…..

  14. membaca cerita ini, sambil berharap semoga nnt saat tua masih sering jalan-jalan sama anak2 kayak ibu 🙂

    Saya sering jalan-jalan sama anak-anak, juga temannya anak-anak…
    Kita bisa kok Fety….asal kita mau memahami mereka

  15. hmmm…. ndilalah kok ya pas siang saya membacanya, hmm…. nunggu maghrib jadi lebih terasa, hehe….

    Lha kan puasa harus tahan godaan….

  16. Aiih…akrab sekali dengan sulungnya Bu… baca postingan ini jadi malah inget mamahku Bu hihihi

    Kapan Orin terakhir kali jalan-jalan sama Mama?

  17. berwirusaha sendiri itu asyik kok bu, saya juga berharap esok bisa buka usaha sendiri.. 😀

    Semoga Dhenok tercapai mimpinya, punya usaha sendiri

  18. sesekali mau dong diajak….

    Ayo Uda, kapan ke Jakarta….kalau si sulung masih ada pasti senang antar kesana.

  19. wahhh iri.. masih muda pada buka bisnis gitu.. tapi kan modalnya juga besar 😦

    Semua tergantung dari jenis usahanya…kedua pasangan ini awalnya bekerja dulu di tempat lain.
    Si sulung cerita, teman nya sekantor, kalau udah keluar pilihannya ada dua: 1) kerja di Singapura. 2) mulai usaha sendiri…

  20. saya juga suka baca cerita perjalanan Prof. HOK Tanzil dan istri, saat keliling dunia tahun 80’an seru….

    Saya suka sekali..dulu selalu menunggu terbitan baru Intisari

  21. Ah Ibu, saya jadi nyampah komen nih gara-gara teringat Prof HOK Tanzil dan istri. Beliau berdua sudah berkunjung ke 238 negara, ke kutub utara saja lima kali lebih… *pengen cari buku catatan perjalanannya ah…. 😀

    Memang ada bukunya Yog…mau juga beli. Kabari ya

  22. Wah… baru kali ini saya dengar ada ibu yang menemani anaknya untuk kumpul bareng teman2nya 😀
    Bu Enny memang beda 🙂
    Salut banget pada anak muda yang berani terjun ke dunia bisnis, padahal bisa saja mereka bekerja di tempat2 dengan penghasilan besar 🙂

    Kalau udah punya anak yang besar-besar, sebagai ibu tetap harus mengenal mereka, mengenal kawan-kawannya…dan ternyata menyenangkan lho bergaul dengan mereka…sama kan seperti kenal Akin, kan Akin seumuran anakku.

  23. mupeng kalo liat orang berwirausaha 🙂

    Ayo Vivink mulai…setelah si kecil agak besar ya.

  24. Bu, jadi penasaran mau tanya, kemarin sempat nyobain paadz-nya nggak? Hehehehe…

    Saya sendiri masih gaptek, belum pernah megang yang android. Wah, untuk sekarang masih gratis, tapi selanjutnya bayar ya? Tapi, keren juga terobosan barunya, menggabungkan Cafe dengan Gadget.

    Wahh jelas nyoba dan mengasyikkan…akibatnya malah jadi kurang mengobrolnya..hahaha.
    Sekarang masih gratis untuk promosi…setelah itu bayar setiap jam nya.

  25. hebat ya bu, anak cowok malah minta ibu menemaninya bertemu teman2nya, pdahal anak cowo kan biasanya mau simpel2… kluyuran sendiir hehehe …

    weh? itu mypadz hmm… mirip warnet tapi yg pake ipad dong klo nti berbayar? *otak bznz nya lgs jalan2* boleh juga ditiru hihihi tapi tarifnya jadi mahal dong … survey ah hehehe

    Boleh ditiru Nique….
    Dan sekarang saya lihat yang banyak datang anak muda, promosi dari mulut ke mulut…sebagian besar mahasiswa yang ke sana. Kebetulan pemiliknya kan lulusan Komputer Int’l dan dari Teknik Mesin UI….
    Saya kenal dekata dengan teman-teman si sulung dan si bungsu, jadi mereka malah ikut mengundang untuk hadir pada acara mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: