Oleh: edratna | September 17, 2011

Kompie ngadat

Lebaran kali ini benar-benar berkesan buat saya, pertama kalinya menantu dan cucu ikut bergabung untuk merayakan Lebaran, juga besan. Sayangnya si bungsu tak bisa menikmati suasana ini karena kesibukan tugasnya. Biasanya, bagaimanapun kesibukan keluarga, internet tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bahkan biasanya libur panjang dimanfaatkan untuk mengeksplore berbagai berita, ataupun hal-hal lain yang tak memungkinkan dilakukan pada saat hari kerja. Tapi….. baru dua hari libur bersama, komputer mulai memberikan peringatan yang ada risiko merusak hard disk. Terpaksa saya beli eksternal hard disk, dan karena  masih libur Lebaran, tak ada Hewlett Packard Service Center yang buka.

Syukurlah saya baru saja mempunyai BB, yang hanya digunakan untuk orang tertentu, karena saya sendiri tidak ingin hidup menjadi terbelenggu. Itu mungkin hanya salah satu alasan (walau banyak juga keuntungannya punya BB), karena BB tersambung langsung ke email dan FB, serta ada beberapa teman yang terhubung ke BB messenger, rasanya bolak balik terdengar …ping!!! atau tanda bahwa ada email masuk. Entah kenapa, sebagus apapun orang memuji BB, saya belum bisa menikmati. Tulisannya kecil-kecil (walau kata staf di tempat kerja..”kan bisa di zoom bu”), waduh kalau harus tiap kali di zoom rasanya kok capek sendiri, mungkin mataku sendiri sudah mudah lelah. Maklum terbiasa menggunakan desktop yang layarnya besar ( karena saya sudah usia, oleh adik, saya dibelikan desktop layar lebar, biar nggak salah baca…), sedang jika bekerja menggunakan laptop kecil sebentar saja rasanya punggung sudah pegal. Namun dalam kondisi mendesak seperti ini, BB agak menghibur juga, terutama si sulung yang jadi sering pinjam untuk membaca internet lewat BB milik saya.

Dan apa yang saya peroleh dari hasil kompie ngadat tersebut? Rupanya ngadatnya kompie baru merupakan langkah awal, karena laptopku ikutan ngadat, maklum jarang digunakan….Ternyata semua ada hikmahnya, mau nggak mau saya lebih memperhatikan kondisi rumah, lebih akrab dengan menantu, cucu dan anak sulungku. Juga bahan mengajar yang biasanya langsung di buat  power point, dengan berbagai buku bertebaran memenuhi meja di seluruh ruang kerja, mau tak mau memaksa saya lebih rapih. Saya sebelumnya menumpuk buku mana kira-kira yang akan dijadikan referensi, kemudian mulai menulis dengan tangan  point-point nya dalam draft materi. Dan ternyata pekerjaan ini mengasyikkan juga, saya jadi merasa betapa lamanya saya tak pernah menulis dengan tangan, jadi ingat ide Donny yang sampai ingin mengirim kartupos dengan tulisan tangan, hanya gara-gara merasa kita sudah tersandera menulis melalui key board komputer. Kartu pos nya Donny  sampai  tanggal 16 September… ternyata tulisan Donny bagus. Sayang belum sempat di scan, jadi nggak bisa dipajang disini tulisannya, karena begitu kompie dibetulkan, artinya semua di set ulang,  saya hanya meminta pada si sulung (dia sendiri sibuk kerja) untuk melakukan yang penting-penting saja dulu, seperti terhubung ke internet,  bisa untuk menulis wordpower point, serta terhubung ke printer….ya karena itulah yang paling pokok bagi saya, untuk bekerja di rumah.

Dan ternyata menulis konsep dengan tangan begitu mengasyikkan, tak terasa seharian saya tahan bekerja di rumah, baru di kantor saya ketik di komputer. Karena telah di konsep sebelumnya dengan tulisan tangan, ngetik di komputer juga tak perlu waktu  terlalu lama. Saya jadi ingat tulisan Safitri Siswono, “Ping!!! dan Produktivitas Kerja” yang ditulis pada mingguan Kontan, edisi 12-18 September 2011 halaman 29, yang sebagian  isinya saya kutip di bawah ini:

Revolusi teknologi informasi dan komunikasi membawa banyak sekali manfaat bagi manusia. Namun, terkadang, informasi yang datang terlalu banyak dan sering, sehingga mengganggu konsentrasi. Pernahkah anda menghitung, berapa waktu yang diperlukan untuk kembali fokus pada pekerjaan setelah menjawab interupsi dari smartphone? Problem ini bisa saja terjadi pada para eksekutif, karena mereka membutuhkan waktu dan konsentrasi tinggi untuk mencerna informasi dari berbagai sumber, melakukan penilaian, dan membuat keputusan bulat.

Dalam bukunya “The Effective Executive”, Peter Drucker juga menekankan pentingnya hal ini. Namun, tantangan di zaman sekarang pasti jauh lebih tinggi dari tahun 1967, saat Drucker menulis buku tersebut. Berdasar temuan International Data Corporation (IDC) tahun lalu, penjualan smartphone di Indonesia menembus angka 4 (empat) juta unit, atau tumbuh di atas 60 persen selama dua tahun terakhir. Mungkin saja, setiap eksekutif memiliki minimal satu smartphone, karena eksekutif dituntut untuk bisa melakukan multitasking dan smartphone membantu menambah panjang jumlah tugas yang harus diselesaikan.

Ada tiga hal yang perlu dicermati oleh eksekutif:

  1. Multitasking, akan mengurangi produktivitas, kreativitas, dan kemampuan mengambil keputusan. Ini bisa dipahami lantaran otak memerlukan waktu memproses pergantian antar tugas tersebut. Studi yang dilakukan oleh Harvard Business School, telah mengevaluasi 9.000 pekerja kreatif. Kesimpulannya, jika mereka diinterupsi oleh kegiatan yang banyak melibatkan orang, seperti meeting dan diskusi kelompok, pikiran kreatif pekerja tersebut akan menurun secara signifikan. Sebab, kreativitas dalam pemecahan suatu masalah dan mengambil keputusan, harus menghubungkan berbagai informasi yang ada di pikiran dan merasakan ide-ide baru yang belum pernah kita lihat sebelumnya.
  2. Dibutuhkan disiplin tinggi dalam menyikapi banjir informasi ini. Strategi dasar sebagaimana yang dijelaskan Drucker masih bisa digunakan, yaitu: a) Fokus mengalokasi waktu khusus untuk berpikir dan bekerja, termasuk menyingkirkan smartphone dan lainnya yang bisa mengganggu konsentrasi. Aktivitas ini memerlukan dukungan penuh dari tim kerja. b) Filter. Pimpinan juga manusia yang memiliki jiwa dan 24 jam sehari, sehingga perlu mendidik orang di sekitarnya untuk lebih efektif dan efisien. c) Forget. Sesekali melupakan pekerjaan, misalnya dengan berolahraga, mencoba hal-hal baru dan mematikan smartphone dalam beberapa jam.
  3. Perilaku senior akan membentuk suatu norma dalam organisasi, sehingga perilakunya haruslah menjadi contoh. Para karyawan sekarang dihantui bayangan ancaman penurunan produktivitas dan kreativitas. Tak ada yang bisa berpikir secara fokus jika terlalu banyak bunyi ping!!! di meja.

Saya membaca tulisan Safitri, dan saya sependapat…bayangkan, kita sedang meeting dengan 5 (lima) orang lainnya. Perhatikan berapa kali meeting terganggu karena adanya bunyi ping!!! tadi…dan jika yang terganggu pimpinan rapat maka peserta rapat yang lain terpaksa sabar menunggu, padahal masih banyak tugas yang harus dikerjakan, akibatnya waktu kerja menjadi lebih panjang. Suatu ketika saya mampir ke tempat kerja junior saya, dalam percakapan yang hanya setengah jam, dia tiga kali meminta maaf karena gangguan ping!!!  tadi. Dan dia bilang…” Sebetulnya saya males deh punya BB, apalagi sampai dua, tapi apa boleh buat, pimpinan mewajibkan kami punya minimal satu untuk hal yang berkaitan dengan urusan kantor agar mudah dihubungi, ” katanya. Tentu saja BB laku keras di Indonesia, karena melalui BB messenger…dan bunyi ping!! tadi, kita bisa mudah terhubung ke segala informasi,  tanpa membayar (namun tetap membayar internet bulanan), dibanding kita mengirim sms melalui hape biasa. Segala kemudahan ada juga kekurangannya, namun sebagai manusia, kita harus bisa mengendalikannya agar tidak terkendala oleh bunyi ping!!! tadi.

Nahh, kembali pada kompie yang ngadat, akhirnya saya membeli hardisk baru, windows yang asli untuk tahun 2010 (dan sekarang masih belajar untuk lebih mengenalinya), serta berbagai aplikasi lain. Tapi, tentu saja, pertama-tama saya harus mengejar ketertinggalan pekerjaan, yang menumpuk, karena berbagai kegiatan selama bulan Ramadhan memang ditunda, untuk dilakukan setelah Idul Fitri. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, juga ada beberapa tugas ke luar kota, jadi setelah menulis postingan ini, saya mungkin terpaksa rehat dulu….agar lebih konsentrasi.

Mohon maaf bagi teman-teman blogger, karena saya terpaksa nyaris tidak bw selama sebulan terakhir ini dan juga mungkin sampai dua bulan ke depan. Tapi mudah-mudah an saya masih sempat menulis, dengan target yang tak terlalu tinggi, minimal dua minggu atau sebulan sekali dulu…..karena kehidupan dunia nyata kelihatannya sedang banyak yang harus dibenahi.

Iklan

Responses

  1. Take your time bu, dunia nyata lebih banyak diperhatikan dulu ya. Semoga lancar semua.

  2. hehehe … alhamdulillah saya ga punya BB bu, jadi ga pernah ngerasa terganggu dengan hadirnya suara PING!!! :d
    Sejak menikah hp biasa pun nyaris tak disentuh, kecuali suami sedang keluar, atau sebaliknya, baru deh hp diliat 😀
    mungkin krn bukan pekerja kantoran, jadi ga ada bos yg mewajibkan pake BB hehehe

    gpp kok bu ga bw2, wong saya juga lama vakum ehehehe …
    yang penting sehat selalu ya bu 🙂

  3. wah hebat ibu masih bisa nulis tangan seharian gitu.
    saya kalo lagi meeting nulis tangan gitu aja bentar udah pegel sekarang. udah gitu tulisan jadi acak kadut. yah gara2 udah gak terbiasa nih nulis tangan karena selalu ngetik. padahal dulu jaman kuliah, saya tuh tulisannya bagus dan cepet sekali lho. sampe catetan saya selalu difoto kopi ama temen. bahkan juga pas udah lulus, catetan saya ada yang diminta ama dosennya. hehehe. sayang deh kemampuan menulis saya udah menurun parah sekarang… 😛

    yah segala hal pasti ada plus minus ya bu. gitu juga dengan bb dan smartphones lainnya. harus pinter2nya kita mengatur supaya alat2 itu jadi membantu, bukan mengganggu.

    kalo meeting, harusnya ya di silent ya. biar gak pang ping pang ping yang bisa mengganggu konsentrasi.
    trus saat2 tertentu emang harus bisa lepas dari bb. ini yang mungkin rada susah karena orang udah pada nyandu ama bb, tapi harus banget diusahakan. misalnya kayak yang ibu bilang, saat olahraga, jangan dah diselingi ama ngecek bb. atau pas makan bareng keluarga, harus bikin rule no bb. atau pas ke rumah ibadah juga. yah kita harus bisa membiasakan dan mendisiplinkan diri, kapan kita harus lepas dari bb dan teman2nya itu. 😀

  4. gak apa apalah ,Bu Enny
    santai saja dulu
    kan kesibukan di dunia nyata harus didahulukan 🙂

    mengenai gadget yg berupa bb maupun ipad atau apalah, memang banyak gunanya dan praktis ya Bu Enny,
    namun lebih baik penggunaannya bisa maksimum dan lihat sikon juga ya 🙂
    ini hanya pendapatku lho, bisa juga salah …hehehehe… 🙂
    salam

  5. Ha ha ha … ada yang mengalami hal yang sama

  6. semua HP (dan BB di jkt) saya pakai silent mode, sehingga kadang tidak tahu ada mail/telepon. Pikirku, kalau memang penting, dia pasti akan menghubungi saya kan hehehe.

    Tulis tangan memang perlu dilestarikan. Kalau menulis alfabet untukku tidak masalah, tapi kanji itu yang payah. Jadi lupa!

    imelda

  7. Memang beda bener pengalaman berinternet menggunakan handheld devices dan regular notebook/PC… itulah mengapa blog walking selalu saya sempatkan via laptop ketimbang via BB dan sebangsanya…

    Untuk perihal yang membutuhkan response sigap, harus diakusi BB adlah sarana penunjang prima.. namun demikian tata krama etiket itu tetep harus terjaga dan pasti jengkel benar saat ngalamin apa yang diceritakan diatas..

    Nah, buat saya mah, tulisan tangan hanya cakep dan terbaca pada 3-4 paragraf awal,… dan selebihnya berebuah menjadi tulisan ala lembaran resep itu… saya pun saat membaca ulang pusing juga menerka: ini tadi nulis apa sih?$%@$#%@

    Seneng udah bisa mampir kesini, salam hangat dari Kuwait…

  8. Saya juga rindu bu dengan masa2 menulis dgn tangan. Rasanya ada kepuasan tersendiri apabila menulis dgn tangan dan hasilnya rapi. Sekarang ini benar2 terbelenggu dgn yang namanya keyboard shg kemampuan menulis dgn tangan jadi lamban dan tak segesit dulu lagi 🙂

  9. selalu ada hikmah di setiap kejadian ya bu….

    ngomong2, sy jg blm punya BB, tp sepertinya kalo nanti sy pengen jualan, enaknya sih ya punya BB….

    bahkan anak-anak sekarang saja kecenderungannya malas menulis bu, karena kurang stimulasi dari kecil, hingga otot2 tangan mereka tdk siap utk kegiatan menulis. Era digital membuat anak2 lbh enjoy dengan PS, iPad, internet, HP…kendala anak2 sekarang, nilai mereka saat tes tak terlalu bagus, bukan karena mereka tdk bisa ngerjain soal, tp mereka malas menulis jawaban, terutama utk soal essay.

  10. yang penting ibu & keluarga sehat ya bu… dan alhamdulillah masalah komputer sudah teratasi.. 🙂

  11. Bagi yang mobilitas tinggi, smartphone terasa manfaatnya.. Seperti contohnya saat ini, sambil perjalanan Bengkulu-Curup, saya bisa BW lewat BB… 🙂

    Yah, semua tergantung manusianya, Bu.. Jika ia tak mampu mengendalikan perangkat komunikasi yg dimilikinya dg baik, jadilah ia diperbudak oleh alat tersebut..

    Soal tulisan tangan… Hehe.. Dari dulu saya sudah susah. Justru dg mengetik ide bisa mengalir dengan lancar 🙂

  12. bbku hilang………….sedih.com

  13. BBnya diganti sama tablet aja bu, biar lebih puas makenya.. jadi kalo misalnya kompi dan laptop ngadat lagi, udah ada tablet.. 😀

  14. Kemarin sempat saya kepikiran untuk mengirim kartu lebaran hand made dengan tulisan saya yang jelek ke sahabat2 dunia maya. Namun karena gak sempat, jadinya hanya lewat SMS dan blog deh 😀
    Saya sih gak ngikut pake BB, Bu. Mikirin bulanannya soale 😀

  15. dengan hard disk barunya.. tentu sekarang semua jadi lebih baik kan 😦 syukuri saja dulu yang ada ::)

  16. Mari menulis, Bu 🙂

  17. Bu, saya golongan orang yang tidak memuja BB. Saya memuja smartphone ber-OS Android dan iOS. 😀

  18. 1. Masalah kompi or lapiee ngadat itu mungkin pernah di hadapi hampir semua kita yang rajin maen internet….. lazimnya karena kena serangan virus…. tetapi penyebabbya bisa berbagai macam…
    2. BB….. gw ampe saat ini juga gak niat punya BB….. menurut gw kekecilanhuruf2nya dan bikin ribet…
    3. Salam kenal…. dan semoga silaturahim bisa terus berjalan…..

    Regards,
    … Ayah Zahia …

  19. Hihi… panjang banget postingnya 🙂

  20. Prioritas bu, dunia nyata memang lebih menuntut untuk diperhatikan. Tapi kalau masih bisa membagi waktu sih gak apa2. Jangan sampai pengen keduanya jalan tapi malah berantakan, semua jadi terganggu.

  21. salam kenal dari Pontianak

  22. hmm, gak enak juga yah, bu, klo sedikit2 diganggu oleh bunyi ping. gmn klo pas rapat semua peserta rapat diwajibkan men-silent-kan BBnya, Bu, biar rapatnya jadi efektif. Btw, maaf lahir batin, Bu. Ada hikmahnya juga yah Bu komputernya rusak, bisa puas main dengan Ara.

  23. Saya setuju dengan Ibu bahwa menulis dengan tangan itu bisa mengasyikkan. Mungkin awalnya terasa cape, tapi membuat draft dengan ditulis sendiri secara tidak langsung melatih otak untuk menganalisis, jadinya ya lebih ingat….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: