Oleh: edratna | September 24, 2011

Sehari itu rasanya lama, bu….

Minggu kemarin saya ada janji ketemuan dengan teman di Citos, sekaligus silaturahim. Acara ini mendadak, teman ini hanya sms kalau sudah pulang ke Jakarta, dan apakah bisa ketemu akhir pekan ini? Teman saya ini sedang melanjutkan kuliah S2, jadi sampai Sabtu pagi masih sibuk, saya sendiri ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di akhir pekan, pekerjaan yang lama tertunda gara-gara kompie ngadat, Kebetulan dia punya waktu hari Minggu sore, syukurlah, saya masih bisa melanjutkan menyelesaikan pekerjaan hari Minggu pagi. Hari Minggu siang yang terik, tahu-tahu digantikan awan mendung yang tebal, mendekati jam 3 sore mendung makin tebal, diikuti angin kencang. “Wahh akan hujan besar, nih,” pikirku. Saya sms teman tadi, apakah sebaiknya acara ditunda, dengan asumsi dia masih belum berangkat dari rumah. Lama tak ada jawaban, pada  jam 15.40 wib saya mendapat sms kalau dia sudah di Citos. Waduh, saya jadi tak enak,  segera saya membalas sms, untuk menunggu, dan saya segera berangkat ke Citos.

Setelah ganti baju, saya berjalan ke ujung jalan, saya kaget ternyata jalan Fatmawati macet, padahal biasanya Minggu sore jalanan lancar. Atau karena orang-orang masih berhalal bil halal setelah usai pulang kampung? Agak lama juga saya menunggu taksi, padahal kalau mau jalan kaki hanya perlu waktu 10 menit, namun melalui daerah perumahan yang sepi, sehingga kalau sendirian saya agak kawatir. Syukurlah tak lama ada taksi lewat, dan saya terlambat 10 menit dari janji. Citos sore itu ramai sekali, ada berbagai acara untuk anak-anak, sehingga saat saya telepon teman, lama tak ada jawaban, begitu juga dengan sms. Karena badan lagi kurang fit, kami mencari makanan yang disajikan hangat. Kami makan sambil mengobrol,   akhirnya obrolan jadi ke hubungan orang tua dan anak-anak. Teman tadi cerita, keponakannya yang baru empat tahun, jika mamanya pulang telat dari kantor, menjadi ngambeg, padahal dia biasa-biasa saja jika hal tersebut terjadi pada   ayah dan kakeknya. Keponakan teman ini menjadi manja dan suka memerintah pada mamanya selagi mama berada di rumah. Dia menanyakan bagaimana pengalamanku saat anak-anak masih kecil dulu, saat saya harus bekerja, dan terkadang pulang terlambat.

Entahlah, karena saya tinggal di komplek rumah dinas, anak-anak terbiasa melihat mama temannya juga bekerja di luar rumah, karena kompleks rumah dinas kami juga banyak ditempati para karyawati, yang merupakan mama dari teman-teman anakku. Si sulung relatif tenang sampai umur 10 tahun, keingin tahuannya dan keinginan menjelajah baru setelah umur 10 tahun. Berapa kali saya deg-deg an, mendengarkan ceritanya naik bis kota sendiri. Bayangkan, anak umur 10 tahun naik bis kota, bisa cerita Kalideres, Grogol dan lain-lain, padahal saya dan ayahnya tak pernah mengajak jalan-jalan ke daerah tersebut. Karena hal tersebut tak mungkin dilarang (karena dia akan makin diam-diam pergi tanpa cerita), saya mengajarkan, agar jika terjadi sesuatu, selalu cari bis ke arah terminal blok M, kemudian baru naik bajaj ke rumah. Dan saya ingat pesan ibu temanku, bahwa setelah anak besar, bersekolah, kita harus lebih banyak pasrah dan berdoa sama Tuhan, karena kita tak selamanya bisa mengawasi sendiri, sehingga anak-anak harus dilatih mandiri, dan bisa mengambil keputusan di saat sulit.

Si bungsu sulit makan dan rewel sampai umur 2 tahun, namun sejak umur 2,5 tahun dan sekolah TK, dia menjadi senang berteman, kemana-mana membawa buku gambarnya. Dan si bungsu ini tahu-tahu bisa ngomong, bisa membaca, tanpa saya pernah mengajari, karena diajar oleh kakaknya. Jadi perkembangan si bungsu relatif tenang karena ada kakak yang berfungsi sebagai panutan si bungsu saat kecil. Memang saat saya telah menjadi manager, kadang saya pulang telat karena ada meeting setelah jam kantor. Dan hati ini sedih sekali, saat mendengar cerita tetanggaku, yang juga teman sekantor. Malam itu dia ada janji mau ke rumah mengantar buku, namun saya mendadak ada meeting dan tak sempat memberi tahu, maklum saat itu belum ada hape. Jadi tetanggaku datang ke rumah sekitar jam 19.30 wib, saat dia mengetuk pintu, dia mendengar langkah kaki kedua anakku sambil bernyanyi…”Ibu datang..ibu datang…” dan begitu si sulung membuka pintu, dia mengucap..”Yaa…bukan ibu.” Temanku ikut sedih, jadi besoknya cerita, bisa dibayangkan bagaimana perasaanku. Namun saya ingat alm ibu, yang selalu menguatkan kami, bahwa anak juga harus dilatih mandiri, karena kita tak selalu ada bersamanya. Justru dengan kita bekerja, sepanjang kita tetap memberikan perhatian, maka anak menjadi mandiri.

Kemarin pagi, saya naik taksi bersama si sulung, seminggu sekali saya naik taksi bareng si sulung, ngedrop dia di depan kantornya dan saya melanjutkan pergi ke kantor saya dibilangan jalan Juanda. Saya cerita tentang keponakan temanku, dan saya berkata..”Nak, ibu berterimakasih, kamu dan adik dulu tidak rewel ya kalau ibu pulang telat. Dan kamu tetap menjadi anak baik, walau ibu bekerja di luar rumah.” Apa jawab dia? “Bu, saya tak apa-apa ibu pulang telat, tapi saya kesal kalau ibu pagi-pagi sudah tak ada di rumah.” Saat itu, jika turne (tugas ke luar kota), saya memilih berangkat pagi buta, dengan pesawat paling pagi, agar malamnya bisa menemani anak. Pulangnya, kalau masih ada pesawat malam yang ke Jakarta, saya akan pulang ke Jakarta malam itu juga. Betapa sedihnya saya mendengar itu, saya tahu, saya harus memilih, dan saya memilih bekerja, dengan tetap memperhatikan anak-anak. Saya bersyukur anak-anak telah lulus S1 semua dan telah bekerja, namun sungguh banyak hal yang terlewat dari saya sebagai ibu bekerja. Saya ingat masa kecilku, betapa lama rasanya menunggu ibu pulang dari mengajar, dan setelah tidur siang saya mencari ibu, ternyata ibu telah pergi lagi. Ibu alm sangat aktif, banyak kegiatan setelah mengajar,  setelah besar saya paham, dan saya kagum atas aktifitas ibu ini. Namun saat saya masih kecil, saya ingin ibu ada di dekat saya terus, selalu ada saat saya berangkat sekolah, dan selalu ada setelah saya pulang sekolah seperti ibu teman-temanku yang lain.

Namun ibu berusaha menjelaskan, mengapa ibu bekerja, karena ibu bekerja demi putra putrinya agar mendapatkan pendidikan sampai ke jenjang yang diinginkan dan tak patah ditengah jalan seperti ibu dahulu. Memang merupakan perjuangan yang berat, untuk meninggalkan buah hati di rumah, namun ini semua demi masa depan yang baik. Saya sepakat dengan ibu, saya tak menyesal, dan memang ada beberapa hal yang terlewat dalam mengamati perkembangan anak-anakku, tapi jika diberi kesempatan untuk memilih kembali, maka saya akan tetap memilih berkarir, karena saya percaya karir dan rumah tangga bisa berjalan seimbang, dengan dukungan garis belakang yang kuat, serta dukungan suami yang siap membantu dikala diperlukan.

Iklan

Responses

  1. pilihan seorang ibu untuk bekerja atau di rumah ini selalu jadi dilema ya bu.
    ya seperti semua pilihan yang lain, semua pilihan pasti ada plus minus nya. dan semuanya itu tergantung sikon masing2.

    ada ibu yang bekerja, anaknya jadi mandiri dan tetep bisa deket ama orang tua nya (contohnya ibu eny). tapi ada juga yang ibunya bekerja, anaknya jadi kehilangan sosok ibu, trus jadi gak bener karena sebagai protes mencari perhatian ortunya.

    ada ibu yang gak bekerja, tinggal di rumah, anaknya tetep juga jadi mandiri dan jadi anak baik, tapi ada juga yang anaknya jadi manja dan gak bisa mandiri karena terlalu mengandalkan keberadaan ortunya.

    yah semuanya bisa aja terjadi. who never knows… ya gak bu? 😀

    pengalaman saya sendiri.. mama saya gak bekerja. dalam artian gak kerja kantoran. yah mama saya dulu terima jaitan, terima bikin kue, kadang dagangan baju. gak tentu. apa aja lah yang bisa dikerjain untuk nambah2 pemasukan. emang minus poin nya kalo ibu gak bekerja ya keuangan rumah tangga jelas seret. hehee.
    tapi saya sangat bersyukur karena mama saya gak bekerja lho. tiap pulang sekolah, saya selalu menantikan saat pulang ke rumah. trus cerita2 ngobrol sama mama saya sambil makan siang. kadang saya ngeliat ada temen2 yang kalo pulang sekolah bukannay pulang rumah tapi malah nongkrong2 gak jelas. kalo saya tanya kenapa gak pulang, bilangnya males karena di rumah gak ada siapa2. kalo saya malah semangat dah kalo pulang ke rumah setelah sekolah. 😀

    saya emang bisa dibilang manja sama mama saya. dulu orang2 bilang saya ini buntut nya mama. mama kemana, saya harus ikut. huahahaha.

    bahkan pas saya udah smp, mama sempet ditawarin kerja kantoran. dan tadinya mama udah mau karena pikiran anak2nya udah gede kan. tapi saya menentang keras! huahahaha. saya gak mau mama saya kerja kantoran. egois banget ya? 😀 tapi mama saya nurut tuh. hahaha.
    akhirnya mama saya milih untuk jadi guru les anak SD di rumah. 😀

    tanpa bermaksud untuk bilang mana yang bener dan mana yang salah (karena emang gak ada yang benar atau salah dalam hal ini), saya sih bersyukur banget dulu mama saya gak kerja, dan mama saya selalu ada di rumah. 😀

    dan kalo dibilang saya yang manja ini jadi gak mandiri.. hmm gak juga ya. setelah menikah, saya langsung keluar rumah dan tinggal di rumah sendiri, walaupun deket ama rumah ortu. dan akhirnya malah tinggal jauh banget kan sekarang. dan syukurlah sih bisa-bisa aja. hehehe.

    sempet belum lama ini, mama saya cerita. dia ketemu ama salah satu om saya. om saya bilang kalo dia heran juga kok saya sekarang bisa mandiri begini mengingat dulu pas kecil saya itu manja nya bukan main ke mama saya. hahaha. dia bilang berarti mama saya pinter ngajarinnya. hehehe. 😀

    yah ini sekedar berbagi aja sih…
    saya liat walaupun ibu bekerja, tapi anak2 ibu jadi anak2 yang baik, mandiri, dan tetep deket sama ibu. bener2 keluarga teladan.

    jadi dari 2 contoh ini terlihat bahwa anak itu tetep bisa deket ama ortu dan anak tetep bisa mandiri terlepas apakah ibunya bekerja atau gak. semuanya tergantung gimana orang tua nya mengajarkan dan memberi contoh kepada anak2nya… ya gak bu? 😀

  2. saya kepengennya seperti bu Enny, mudah2an bisa ya bu…biarpun bekerja tetapi anak2 tetap dekat dengan orang tuanya..
    alhamdulillah …sampai sekarang belum ada masalah….walaupun si bungsu selalu senang kalau mama cuti atau ijin sakit….

    si bungsu pernah kutanya cita2nya sewaktu masih TK…
    “adek mau jadi dokter anak…”
    “nanti kerjanya di rumah sakit dong..”
    “nggak ah…, jadi dokter di rumah aja…, kasihan anaknya kalau pulang sekolah mamanya nggak ada di rumah”
    …ha …ha.. nyindir banget kan bu….

    jadi supaya mereka tak terlalu lama di rumah tanpa mama, sekolahnya di full day scholl yang pulang setelah ashar

  3. mamaku sendiri selalu di rumah, tidak bekerja setelah melahirkanku. Dan aku sedih karena aku tahu sekarang, bahwa dia benar-benar mengorbankan hidupnya untuk keluarga. Seandainya aku dulu lebih vokal, mungkin aku bisa “menyuruh” dia bekerja. Meskipun aku tahu selalu ada mama di rumah, toh aku sendiri penyendiri dan tidak mau curhat pada mama, memang dari sononya. Rasanya mottainai, sayang mama tidak bekerja.

    imelda

  4. Untung seharian ini dirumah, bisa nemenin si kecil. Salam hangat selalu dari Lombok.

  5. Setelah melahirkan si kecil Istri saya kebetulan hanya di rumah saja.

  6. waktu saya kecil, saya juga pengennya ibu saya di rumah. dulu saya nggak ngerti kenapa ibu saya bekerja, sedangkan tetangga saya ibunya di rumah saja.

    kalau di zaman sekarang, saya kadang melihat teman saya yg juga bekerja. anaknya diasuh oleh orang lain kalau dia dan suaminya bekerja. kadang kasihan juga lihat anaknya. pernah suatu kali, tidak ada yg mengasuh anaknya. jadi terpaksa dia pontang panting cari pengasuh pengganti, dan dia sampai stres. tetapi kalau dia tdk bekerja, penghasilan klg jadi betul2 berkurang. susu anaknya jadi tidak terbeli. jadi, bekerja itu mau tak mau harus dilakukannya.

  7. Tidak pernah punya pengalaman semacam itu karena ibu saya adalah ibu rumah tangga, Bu. Jadi dulu merasa aman-aman saja karena tiap pulang sekolah selalu ada makan siang yang sudah dimasak ibu, dengan ibu menemani makan.

    Dulu malah sempat memikirkan nasib anak-anak ibu-ibu guru saya atau beberapa kawan yang ibunya berkarier. Bagaimana ya mereka makan siang? Apakah mereka senang memiliki ibu wanita karier yang tidak bisa setiap saat menemani mereka?

    Pikiran semacam itu masih saja terbawa sampai sekarang, Bu. Bagaimana nanti istri saya, apakah akan saya izinkan berkarier? Selama ini saya berharap istri saya kelak kalau pun bekerja, tetapi cukuplah saja bekerja di rumah. Semisal membuka warung di rumah, membuat barang-barang kerajinan di rumah, dsb.

  8. pilihan sulit itu seringkali menjadi dilema bagi ibu yg berkarier di luar rumah…semoga tulisan ini juga bisa menjadi masukan bagi yg berkondisi hampir sama, meskipun pilihan akhir tetap kembali pada pribadi (dan tergantung kondisi keluarga ) masing-masing ya bu…

  9. Dilema banget ya, Bu…
    Dulu teman saya ngotot mau berhenti kerja setelah melahirkan anak pertama. Suami memintanya untuk mempertimbangkan lagi…
    Alhamdulillah, hingga ia melahirkan anak ketiga, keluarga mereka baik-baik saja. Pendidikan anak2nya juga tidak terbengkalai. Mungkin pada awalnya khawatir dalam menjalankannya saja kali’ ya, Bu.. 😀

  10. saya termasuk yang memilih mundur dari dunia kerja setelah melahirkan, karena sulit mencari yang benar2 momong yang di percaya, kebetulan dulu komplek saya tinggal masih sepi, banyak pekerja bangunan, mbak/baby sister yang momong sibuk becanda sama pekerja bangunan itu, akhirnya keterusan dirumah aja sampai sekarang :).
    Sempat punya kegiatan yang bisa membawa anak, anaknya ikut senang, tapi kemudian berhenti, Sekarang malah junior saya minta saya kerja lagi aja, tapi emaknya udah terlanjur uzur 😀

  11. Selalu ada efek negatif dan positif dari sebuah pilihan, namun begitu berusahalah untuk mengambil keputusan dengan seminimal mungkin efek negatifnya. Keluarga adalah yang utama, dan bekerja juga adalah demi keluarga. Artinya, jika dua kebaikan bisa diraih bersama, mengapa tidak? Itu menurut saya. Dulu almarhumah tidak lagi bekerja semenjak Sabila umur satu tahun, dan plus minus dari keputusan inipun kami rasakan, maka kesabaran dan keikhlasanlah yang mampu menjadikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

  12. wah…posisi yang sulit yah bu..menjadi ibu sekaligus menjalani karir…
    memang tak bisa dipungkiri keduanya menyimpan berbagai macam konsekuensi, tapi salut buat ibu yang masih sempat membagi waktunya untuk anak…
    hmmm..mungkin nanti setelah saya berkeluarga belajar banyak dari pengalaman ibu nih, soalnya pekerjaan saya menuntut harus selalu keluar kota dalam waktu yang cukup lama….
    makasih bu untuk inspirasinya…
    salam….

  13. Saya turut mendoakan semoga kesuksesan karir juga sejalan dengan kesuksesan di rumah dan kesuksesan anak-anak..

  14. sbar bu . . . ?

  15. saya lebih memilih, kalo jadi perempuan, untuk kerja di luar yg mampu saya kerjakan dan tdak membuat semakin lelah ketika bekerja di rumah. karena urusan rumah tentu lebih utama

  16. saya juga ngalamin kayak gini..
    orang tua sibuk kerja, tapi setidaknya mereka selalu ada kalau lagi ngumpul malam hari..yang lebih menyedihkan adik saya yang paling bungsu, dia seperti ga keurus. pulang sekolah, langsung kelayapan, sedang orang tua masih di kantor..jadi kasihan ngeliatnya (ini terjadi saat saya sudah kuliah diluar kota)..tapi sekarang dia udah gede, dah bisa ngurus diri sendiri..ya, mungkin karena pengaruh mandiri, dia jadi terbiasa..
    😉

  17. saya merasakan saat dulu masih bekerja di luar , saya tidak tahu perkembangan anak sulung saya… saat hari pertama masuk sekolah atau lomba sekolah tahu-tahu sudah ada piala di rumah… rasanya bersalah, ketika tahu dia lama menunggu saya pulang untuk ngabarin kemenangannya. Tapi itulah resiko ibu bekerja.

  18. apapun itu kondisi ibu, bekerja diluar rumah atau benar2 menjadi ibu rumah tangga, yang penting sang ibu tidak melupakan perannya sebagai ibu untuk anak-anaknya.. 🙂

  19. Saya sedang mengalami dilema, Bu…
    Sept ini seharusnya Joyce balik kerja dari maternity leave sehabis melahirkan Odilia.

    Tapi karena kami berpikir alangkah lebih baiknya jika Joyce menjagai Odilia saja, maka kami memutuskan untuk Joyce tak kembali bekerja…

    Di satu sisi, jelas agak sedikit timpang karena sumber finansial sekarang tinggal dari saya saja… tapi di sisi lain kami tau yang terbaik untuk Odilia…

    Jadi ya sudahlah.. sementara ini harus mengencangkan sabuk dulu untuk menjaga pengeluaran-pengeluaran yang tak perlu, kami percaya Tuhan akan selalu menunjukkan yang terbaik 🙂

  20. Saya kalau boleh memilih, inginnya bisa selalu bersama anak. Jadi kalau kerja di kantor pasti selalu teringat Vaya. Bahkan sekarang sejak ada kegiatan baru yang butuh pengawasan hingga harus pulang sampai malam, saya selalu bela2in pulang dulu menjemput Vaya biar dia dibawa ikut. Gimanapun juga rasanya gak ikhlas kalau melewatkan begitu banyak perkembangan penting anak ketika dia masih kecil….

  21. kalau mau jujur.. jika memang saya diberi kesempatan, maka saya memilih tuk bisa selalu mendampingi mereka 😦

  22. ibu saya pun sedang mengalami ini dilema bekerja atau tidak bekerja.tapi akhirnya saya tetap dg pilihan bekerja karena saya pernah merasakan tidak bekerja dan itu justru tdk nyaman bagi saya. saya sendiri pernah konsul ke psikolog di kantor bahwa anak2 dibawah usia 5 tahun itu masih nyata dalam berpikir blm bisa abstrak, jadi jika dia biasa mendapati mamanya pulang jam 5 dan suatu kali terlewat dari jam itu pasti akan dicari. begitupun jika anak tak tahu tempat dimana kita pergi (kantor kita) karena itu sekali2 ajak anak ke kantor itu ternyata perlu juga (sambil bawa pengasuh atau dititipkan di penitipan anak setelah ke ruangan kerja kita). dg begitu dia akan lbh tenang dan nyaman bahwa ibunya pergi ke tempat kerja di suatu tmpat.

    terimakasih ya bu untuk sharingnya. bermanfaat banget bagi hati saya.

  23. karena postingan ini saya jadi posting ini bu..http://puteriamirillis.blogspot.com/2011/09/karena-kau-begitu-nyata.html

  24. betapa anak2 kita telah menguatkan kita juga ya Bu Enny
    walaupun bagaimana , selalu terjadi dilema, bagi ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga
    salah satu alasan saya meminta pensiun dini, juga krn gak tega meninggalkan anak2 terlalu lama, hingga berhari2 krn tuntutan tugas 😦
    namun, tidak pernah ada rasa sesal, karena anak2ku ini lebih berharga dr apapun yg ada di dunia 🙂
    aku merasa bersyukur utk semua yg telah kulalui bersama anak2 ku 🙂
    salam

  25. jadi berpikir ulang Bu untuk pindah ke bisnis -_-‘

  26. Sy bersyukur berada di keluarga petani Bu En. Bapak-Ibu masih di rumah sebelum sy berangkat sekolah, menyeruput teh di gelas Bapak sebelum pamit berangkat sekolah. Setelah sy berangkat, Bapak & Ibu ke sawah (atau kadang hanya Bapak, Ibu memasak dan pkl 9 dibawa ke sawah untuk dimakan bersama Bapak). Sy pulang sekolah ada Ibu di rumah. Sore hari kembali ke sekolah untuk ikut ekstrakurikuler, atau hanya bermain di rumah, atau kadang juga ikut membantu Bapak-Ibu di sawah (meski kadang hanya memetik kacang atau panen ketimun, tidak pernah sy turun ke lumpur di sawah itu). Sy bersyukur dengan keadaan itu. Meski hidup sederhana (kalau gk mau dibilang miskin) tapi sy tdk kekurangan kebersamaan bersama keluarga. Yang jelas, Ibu selalu ada sebelum sy berangkat sekolah & stlh sy plg sekolah, meski hbs itu ibu pergi ke sawah lagi atau mengerjakan aktivitas lain lagi.Malam hari sy belajar bersama Bapak, dan mendengarkan dongeng dari beliau sebelum tidur. Masa kecil sy, pj Tuhan, sangat bahagia.

    Sekarang, sy pun menjadi wanita pekerja. Sy belum menikah. Sy belum punya rencana menikah, dan belum punya rencana setelah menikah nanti. Hmm…jadi pemikiran bagi sy juga Bu En.. Sampai2 kadang sy berpikir utk fokus pada karir karna jika sy menikah dan bekerja (apalagi jika pekerjaan sprti skrg, byk lembur), kasihan anak2 juga. Entahlah. Biar Tuhan sj yg mengaturnya.

    Duh, jadi panjang ni komennya. Maaf ya Bu En…

    Salam.

  27. Ibu saya juga asli mengurus rumah tangga. Tapi sebagai seorang istri PNS terkadang juga meninggalkan rumah untuk mendampingi tugas suami dalam acara2 tertentu. Anak2 tetap dirumah dan tidaka diajak.

  28. sebagai manusia biasa yang rada males kayak saya sih..pinginnya kita semua membesarkan anak tanpa harus keluar bekerja bu…tapi keadaan tidak memungkinkan jadi cukuplah saya saja yang bekerja…

  29. hebat! , sharing dong tips2nya bu, ibu kerja anak tetep OK. anak sy pernah ditanya
    kami : salman mau umi dirumah/ kerja?
    salman : diyumah
    umi : umi kerja ya?
    salman: ndak, umi diyumah aja, maen cama caman,
    hbs itu, tangan sy digandoli terus.
    huhuhu, gimana hati ndak miris. apalagi kalo disuruh keluar kota, rasanya keiris2.

  30. Ibuuuuuu….
    maap baru mampir lagi yaaaaaa…
    kangeeeeen…

    Pada dasarnya aku setuju sama komen nya Arman…
    dalam hal ini gak ada istilah salah atau benar…hanya harus mendengarkan kata hati aja..

    Aku memutuskan keluar kerja setelah Kayla lahir, karena aku merasa kalaupun aku bekerja, aku gak bakalan bisa kerja secara maksimal, karena aku orang nya parno-an banget. Pasti di waktu kerja bakalan mikirin anak-anak terus, dan bisa bisa ketika bareng anak-anak malahan mikirin kerjaan …hihihi…jadi memutuskan untuk milih salah satu ajah daripada 2 2 nya gak beres…

    Justru aku kagum sama ibu2 bekerja yang sanggup membagi waktunya dengan seimbang…kalo aku mah udah jelas gak sanggup….

    Tapi aku juga punya niatan setelah Fathir lewat masa golden age nya…5 tahun…aku pengen bikin sesuatu gituh…belum kepikiran sih apaan…jadi sekarang masih menikmati masa2 jadi emak2 dulu aja deh bu 🙂

  31. Hmm, tengah memasuki dilema ini, bu 🙂

  32. Jarang banget ya ada ibu yang sperti itu…! Bekerja keras agar anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.. 🙂

  33. Kalau saya sebagai suami dan kepala keluarga tugasnya menjaga agar rumah tangga yang saya pimpin berjalan pada jalurnya. Untuk menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja adalah sebuah pilihan dengan plus minusnya satu dengan yang lainnya.
    Kebetulan almh ibu saya tidak bekerja di kantoran yg waktunya nine2five jadi saya selalu beruntung bisa bertemu hampir setiap berangkat dan pulang sekolah. Hal yang pertama saya lakukan saat pulang sekolah adalah mencari ibu dan itu udh menjadi habit hingga masuk SMP.
    Istri saya juga bekerja sebelum menikah, setelah melahirkan anak pertama dia memutuskan berhenti kerja kantoran. Namun tetap nyambi terima pesanan kue kering, rantangan, nasi box, or apapun. Pernah beberapa waktu belum lama ini, dia mau bekerja di kantoran lagi meskipun umur bikin sulit. Saya bantu dengan networking yg saya punya untuk mendapatkan info2 hingga akhirnya interview. Saat mau interview berakhir ajif (anak bungsu) patah tangan. Istri kembali meninjau keputusan mau kerja kantoran begitu dia melihat si anak kesakitan. Sekarang kembali ke laptop deh…
    Kakak saya yg perempuan pekerja seorang yg sangat sibuk namun dia juga berhasil membesarkan anak2nya (waktu anak pertama almh ibu in charge membesarkannya).
    Semuanya kembali kepada pribadi masing2 mana pilihan yang paling cocok dengan hati mereka

  34. Aaaaaa bunda.. Arif banget tulisannya.
    AKu termenung ketika membaca bagian ini:
    Karena hal tersebut tak mungkin dilarang (karena dia akan makin diam-diam pergi tanpa cerita), saya mengajarkan, agar jika terjadi sesuatu, selalu cari bis ke arah terminal blok M, kemudian baru naik bajaj ke rumah. Dan saya ingat pesan ibu temanku, bahwa setelah anak besar, bersekolah, kita harus lebih banyak pasrah dan berdoa sama Tuhan, karena kita tak selamanya bisa mengawasi sendiri, sehingga anak-anak harus dilatih mandiri, dan bisa mengambil keputusan di saat sulit.

    Selalu berusaha mencari solusi dengan tidak memaksakan kehendak pada anak. Ah..

    Menjadi ibu memang tidak mudah ya bun… Terharu baca bagian akhirnya

  35. pekerjaan seorang ibu adalah pekerjaan paling mulia diantara pekerjaan 2 lainnya..salam kenal yaa…thanx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: