Menjadi ibu, adalah teken kontrak untuk seumur hidup….

Minggu kemarin saya mengobrol bersama teman narablog lewat telepon, dia memberitahu  bahwa cerita tentang keponakannya yang rewel saat mamanya bekerja masih berlanjut. Suatu ketika papa nya pulang dari kantor agak pagi, mendapati si kecil sedang di bentak-bentak oleh si mbak. Jadi, inilah sebabnya, mungkin si mbak pula yang menyebabkan si kecil tak bisa menerima mama nya bekerja, apalagi jika pulang telat (karena macet), walau ayah sudah di rumah. Si kecil mudah marah, dan membentak mama nya jika mama pulang terlambat, padahal perilakunya terhadap papa dan orang lainnya baik. Teman narablog ini sedih sekali, demikian juga kakek neneknya, yang terpaksa tak bisa membantu karena tinggal di kota yang berbeda. Masalahnya jika si mbak ditegur, maka perilaku terhadap anak bisa makin keras. Teman narablog tadi tanya, bagaimana saya jika menghadapi masalah seperti ini?

Saya menyarankan agar mempunya dua orang pembantu, namun kedua orang itu tak boleh akrab sekali, karena jika terlalu kompak, kita bisa ditinggalkan sewaktu-waktu padahal punya anak kecil. Pekerjaan keduanya juga dibagi, sesuai job description masing-masing. Komentar temanku..”Wahh bu, bagaimana jika gajinya pas-pas an? Mahal sekali jika harus punya 2 (dua) orang asisten rumah tangga.” Saya hanya mengatakan, itulah risiko ibu bekerja, karena sebagian besar dari uang yang kita peroleh untuk  membayar kenyamanan kita agar bisa tetap bekerja, anak dan suami terawat, rumah bersih dan ada makanan sehat. Ibu tetap harus memastikan keadaan rumah tangga aman dan damai, walaupun harus bepergian ke luar kota (luar negeri), serta harus bisa mengelola rumah tangga sebagaimana kita mengelola pekerjaan dan anak buah kita. Risikonya, kita memberikan sebagian besar gaji yang kita peroleh dengan susah payah untuk si mbak ini. Namun, harapannya, dengan bekerja keras, kita juga mendapatkan peningkatan karir, yang nantinya bisa menutup pengeluaran operasional rumah tangga. Paling nyaman jika memungkinkan, di rumah ada saudara yang ikut tinggal, walaupun tak membantu pekerjaan rumah tangga, namun bisa menjadi pengawas, atau membuat si mbak merasa diawasi.

Saya sendiri, jujur saja, beberapa kali mengalami kejadian tidak enak, yang tak mungkin saya ceritakan disini. Pernah juga mengalami “blong” tanpa si mbak, syukurlah suami mau membantu, kami berbagi tugas. Yang namanya suami (bapak) momong anak, bisa dibayangkan seperti apa rupanya rumah, karena semua isi rumah bisa seperti kapal pecah…namun yang penting anak-anak tak rewel dan tetap ceria. Pada saat seperti ini, pilih prioritas, anak-anak tetap sehat dan ceria, rumah tak perlu bersih sekali….bukankah kalau punya anak kecil memang rumah tak pernah bisa bersih sekali? Selesai dibereskan akan kembali kotor, namun disitulah seninya.

Setelah anak makin besar, maka persoalan bukan sekedar si mbak, namun juga anak sendiri yang saat itu masih labil. Penanganan menghadapi anak seperti ini juga memerlukan pengorbanan waktu yang tidak sedikit, dan karena saya sendiri mudah kawatir, saya sempat berlangganan psikolog, hanya sekedar diskusi betulkah perilaku saya menghadapi anak..bla ..bla…Walau kita pernah remaja, namun kondisi, situasi dan lingkungan sekarang sangat berbeda,  kita harus tetap bisa memahami, mengerti dan mendukung anak.

Saat itu, waktu saya banyak tersita untuk  nongkrong melihat kegiatan anak secara  diam-diam di kantin sekolahnya, di taman sekolah, pada saat hari Sabtu, hanya untuk melihat kegiatan sekolah, dan bagaimana interaksi teman-teman anakku di sekolahnya. Itupun bukan hal mudah, karena namanya anak, tak pernah berjalan mulus, ada saja keadaan yang membuat kita sebagai orangtua harus campur tangan, memotivasi, bekerja sama dengan para guru. Jadi, kita tak bisa sekedar menyalahkan guru, orangtua sangat berperan dalam menjadikan anak seperti apa.

Apakah kegiatan memantau ini selesai setelah lulus SLTA? Ternyata tidak, teman-teman mungkin masih ingat tulisan saya sebelumnya, bahwa putra seorang teman  kena narkoba justru saat telah menjadi  mahasiswa, dan saya sempat diajak mengunjungi putranya di pesantren Suryalaya. Mungkin saya seorang penakut, atau terlalu kawatir, seperti yang dikatakan temanku. Tapi ada teman lain, seorang Profesor, dosen di Universitas swasta terkenal, yang dulu pernah jadi Putri remaja jaman Gubernur DKI masih bang Ali, mengatakan pada saya bahwa dia selalu menjadi pengurus POMG sekolah dimana anaknya sedang sekolah, dan saat anaknya masuk ITB, diapun menjadi pengurus IOM ITB (Ikatan Orang Tua ITB) cabang Jakarta. Teman ini pula yang menyarankan agar saya belajar dan ikut gabung di  friendster untuk  bisa memonitor anak-anak, mencari tahu seperti apa karakter teman anak kita di FS, apa komentar teman anak terhadap anak kita. Jika anak kita hobinya jalan-jalan di Mal, maka komentar temannya tentu sekitar itu. Saya belajar banyak pada ibu Profesor ini.

Saya rajin menelusuri berbagai penawaran seminar di Kompas atau Bisnis Indonesia, mencari tahu apa ada penawaran seminar yang diadakan oleh Kampus dimana anak saya belajar. Saat si sulung kuliah di UI, suami ikut seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas dimana anak saya kuliah, bisa diskusi dan sharing pengalaman agar sebagai orangtua kami bisa memahami kesulitan anak, dan bisa mendukung kegiatan belajarnya. Demikian juga saat ITB mengadakan acara sharing session  tentang IT, saya ikut seminar ini, walau mungkin saya peserta yang paling bodoh karena peserta lainnya minimal para manager IT di perusahaan masing-masing. Di seminar ini, saya mengenal dosen tempat si bungsu kuliah, beliau dengan sabar menjelaskan berbagai hal, melengkapi pemahaman saya tentang kuliahnya si bungsu. Selain memahami perkuliahan anak melalui dosennya, maka teman-teman anak perlu kita kenal. Saya mencoba mengenal teman dekatnya, teman-teman kelompok kegiatan ekstra kuliahnya, teman satu lab nya, dan sesekali mengintip ke dalam lab untuk memahami seperti apa kehidupan dia di kampus. Syukurlah, pada saat anak-anak masuk kuliah sudah zaman internet, saya dipaksa untuk belajar email dan hal-hal lain, dan ini sangat memudahkan, karena saya tetap bisa kontak dengan para dosen dan teman anak-anak.

Halo, walaikum salam, ” kata teman saya menjawab telepon. Dan obrolan selanjutnya tentang kuliah putra sulungnya, yang saat ini sedang kuliah di  UGM. Selesai bicara, teman saya cerita bahwa telepon tadi dari wali kelas putranya. Teman ini juga menjadi pengurus POMG sekolah dimana putri bungsunya sedang sekolah…..dengan aktivitas ini, di sela-sela pekerjaannya (teman saya ini sibuk banget), teman saya tetap dapat memantau putra putrinya. Dan apa peranan blog? Ternyata peran blog sangat besar bagi kehidupan saya dan juga anak-anak saya. Melalui blog saya mengenal teman dari berbagai usia, berbagai latar belakang, yang semakin memperkaya pengalaman, dan membuat saya lebih bisa memahami perkembangan di berbagai bidang. Dengan pemahaman ini, saya makin mengenal karakter anak-anak saya, kelebihannya, maupun kekurangannya, bahkan saya belajar bahasa Alay dari teman-teman ini.

Minggu kemarin saya ikutan pening, mantan SMA anakku terlibat tawuran yang menjadi headline di surat kabar. Namanya anak, walau sudah dianggap dewasa, rasa setia kawan tetap ada. Saya mendampinginya mengobrol, diskusi sambil makan pagi, membaca internet dan surat kabar bersama-sama, serta menjelaskan, bahwa sebaiknya kedua pihak sama-sama mundur, berpikir ulang, agar situasi tak makin panas. Dalam kondisi seperti ini, siapapun yang mengatakan, sepanjang merupakan pihak yang terlibat akan memancing emosi lainnya. Alhamdulillah, akhirnya telah ada perdamaian, semoga ini ada hikmahnya, terutama pada anak-anak sekolah yang masih mudah terpancing emosinya, juga bagi pihak lainnya, untuk bertindah lebih bijaksana dalam menyikapi keadaan.

Saya bilang saya teman narablog..”Kok kayaknya menjadi ibu itu tak pernah berhenti ya? Walau anaknya telah dewasa, tetap saja tak bisa menghentikan untuk terus berpikir dan monitor anak-anak nya, mungkin sekarang ditambah menantu dan cucu.” Teman diujung telpon sana hanya tertawa, dia mungkin membayangkan, bagaimana orangtuanya memikirkan dia dan adik-adiknya walau dia sudah dewasa. Saya menutup telepon yang terasa panas, tak terasa obrolan saya telah memakan waktu satu jam lebih.

Iklan

40 pemikiran pada “Menjadi ibu, adalah teken kontrak untuk seumur hidup….

  1. Kalau saya bu, pertama menyangka bahwa pemeliharaan anak bisa berbagi tugas dengan bapak… idealnya. Tapi tahun pertama punya bayi pertama, saya TAHU dan SADAR bahwa apapun yang terjadi, ANAK adalah tanggung jawab seorang IBU, bapak hanya tambahan. (Maaf untk bapak-bapak)

    Mungkin ada bapak-bapak yang bisa ikut memelihara anak, tapi biarpun begitu seorang IBU harus siap pada segala kemungkinan, bahwa sang bapak TIDAK BISA diandalkan. Untuk itu seorang ibu harus siap sedia setiap saat, dengan back up dari orang-orang yang dapat dipercaya. Jika tidak ada backup sama sekali, ya harus bisa legawa untuk menerima bahwa anak adalah prioritas pertama.

    Begitu anak lahir = kontrak seumur hidup itu memang benar sekali bu. Kita tidak bisa CERAI dengan anak, tapi bisa CERAI dengan suami 😀

  2. wah, kalo saya udah jadi suami
    kayaknya harus sering2 nolong istri nih
    hehehehe..
    mungkin Ibuku mengalami hal yang sama saat saya masih kecil dulu
    masih dalam asuhannya (dirumah)
    hehehehhee..
    mantap lah jurnal ini
    😉

  3. Kenapa “mbak”-nya gak diganti saja?

    Wah, saya yang InsyaAllah sebagai calon orangtua tampaknya memang harus banyak belajar sebagai persiapan kelak jika dipercaya menjadi orangtua, Bu. Dan bersyukurlah saya, bisa berkesempatan mengenal blog ini sebagai tambahan referensi. 🙂

  4. Salam kenal ibu,
    wah sharingnya menarik sekali. Menjadi ibu yang menjadi sahabat para putra-putrinya memang senantiasa perlu meningkatkan kapasitas diri. Betul ibu kontraknya seumur hidup, bahkan saat berperan sebagai eyang ti pun bisa menjadi sahabat para cucu. Selamat berkarya terus ya ibu.
    Salam, prih

  5. …menjadi ibu itu tak pernah berhenti ya? Walau anaknya telah dewasa, tetap saja tak bisa menghentikan untuk terus berpikir dan monitor anak-anak nya, mungkin sekarang ditambah menantu dan cucu…saya sepakat! Saya sendiri merasakan hal ini dengan nyata, seringkali ibu menelpon, menanyakan apakah kami baik-baik saja, sudah makan, bla..bla..bla Subhanallah walhamdulillah. Mother, how are you today?

  6. Karena itulah wajar jika kemudian agama sangat memuliakan seorang ibu. Sebuah pekerjaan yang tidak mengenal pensiun hingga ajal menjemput. Dan akan menjadi sebuah kebanggaan tiada terkira bagi si anak dan juga si Ibu tatkala seorang ibu bisa melaksankan tugas itu dengan baik.

  7. menjadi ibu adalah sebuah keputusan yang sangat mulia…
    hasil dari kontrak seumur hidup itu adalah kesuksesan si anak yah bu…
    senang rasanya ketika sang anak bisa berdiskusi dengan orang tua tentang berbagai hal….
    salut untuk kesuksesan ibu Ratna atas upaya mendidik sang anak di tengah karir…
    🙂

  8. perjalanan saya menjadi Ibu baru sebentar, Bu… belajar sedikit-sedikit sambil jalan.. 😀
    terima kasih sharingnya ya Bu Enny, sungguh sangat berharga buat saya..
    *peluk-peluk*

  9. yah emang begitulah menjadi orang tua ya bu. mau anak udah sampe dewasa juga akan tetep jadi anak. jadi orang tua emang komitmen seumur hidup. 🙂

  10. jadi ibu itu kontrak seumur hidup setuju banget ,Bu Enny
    begitu anak lahir, kontrak tsb langsung berjalan, walaupun anak sudah punya istri/suami, kita tetap gak bisa meninggalkan peran sebagai ibu, dan akhirnya ibu mertua bagi menantu ya
    salam

  11. tema menjadi orang tua adalah hal yg menarik. saya dan kakak sepupu saya (yg sama2 belum punya anak) kerap mendiskusikan hal ini. saya sendiri berpikir, menjadi orang tua itu tanggung jawabnya besar. dan ya betul, ini adalah kontrak seumur hidup. saya sendiri kadang bertanya kepada diri sendiri, apakah saya mampu dan benarkah saya benar2 bersedia menjalankannya? banyak orang bertanya kepada saya, kapan punya anak. tetapi biarlah saya sendiri dan suami yg menentukan kapan dan ya atau tidaknya. saya tidak mau punya anak hanya agar sama seperti orang lain. bagi saya, saya tahu, punya anak itu banyak sukanya, tetapi kita tak bisa mengabaikan tanggung jawabnya yg besar pula.

  12. menjadi wanita yang sempurna, menikah dan mempunyai anak adalah kodratnya,dan di situlah ada 2 pilihan menjadi wanita karier ato teken kontrak menjadi ibu.
    Dan aku memilih untuk teken kontrak menjadi ibu sepanjang hidupku..
    Di gaji ? iya..
    Cape? pastinya setiap hari
    Tapi menikmati saja..
    Dan aku seneng banget menjalaninya bu..

  13. Kasih ibu kan sepanjang zaman, walau anak sudah dewasa bahkan berumah tangga ibu tetap memperhatikan dan menyayangi anaknya. Entah, apakah anak juga akan berlaku demikian, tapi saya berusaha untuk menyayangi dan memperhatikan mereka.

  14. persis seperti saran Ibu di atas.. kini di rumah kami sudah mulai menggunakan 2 orang pengasuh

    dari segi biaya.. ya berat sih, tapi yg seperti Ibu bilang itu resiko
    sekarang sih kami sedang menimbang2 soal DAY CARE, opsi selain pengasuh di rumah

  15. Faktanya ternyata seperti itu ya, Bu. Dilema ibu bekerja dan sulitnya mencari pengasuh anak (yang baik). Banyak sekali teman saya yang ingin resign setelah melahirkan anak mereka. Beberapa memang tetap melanjutkan pekerjaannya.
    Semoga kelak saya bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga… 🙂

  16. ga percuma saya datang dikopdar beberapa waktu yg lalu dan bertemu langsung dengan bu enny. Saya sangat senang bisa mendengarkan secara langsung dari bu di sana.
    kalau zamannya ibu masih email, sekarang udh twitter dan ga tahu nantinya ada apa lagi. Yang penting berusaha seperti yg ibu lakukan ditambah dengan doa tentunya.
    Semoga kita senantiasa dapat membimbing anak2 kita untuk terus berkarya

  17. setelah baca postingan ini, aku jadi kangen sm ibu di rumah jadi teringat saat beliau selalu tanya kabar, trus kapan pulang dan pesan terakhir pasti bilang harus jaga diri karena jauh sm ortu… memang benar kasih sayang ibu sepanjang zaman meskipun aku sekarang udah kerja dan mandiri tetep aja ibu selalu mikirin 😀

  18. Bener banget. Kadang saya heran liat Ibu saya. Kok masih aja risau dengan anak-anaknya yang udah punya anak, ikut merisaukan nasib cucunya yang ditinggalkan bapaknya, ikut mbayari uang kuliah cucunya itu, ikut mbayari hutang anaknya yang ditinggal suami.

    Oh, Ibu…. Emang tak tertandingi kasih sayangmu. Sepanjang usiamu kau curahkan hidupmu untuk kami.

    Terima kasih uraiannya, Bu Enny. Pelajaran buat saya yang baru 3 tahun jadi Ibu. Semoga saya bisa jadi ibu yang baik dan mendampingi anakku hingga akhir hayat. Insya Allah……

  19. bener bu, teken kontrak seumur hidup, itu jg yg saya liat ke ibu dan mertua saya yg sampai hari ini msh aja sedikit bnyk memikirkan anak2 yg sdh dewasa. pengalaman bunda akan jadi pelajaran u saya, terutama di email dosen (penting bgt info ini bu). apalagi jaman anak saya nanti, internet skrng aja udah kaya gt, saya hny bisa berusaha dan berdoa.selalu. salam saya bu

  20. hahahaha….betul 100% bunda….kontraknya bersifat lumpsum….seumur hidup….mudah2an semua langkah kita (khususnya ibu2 nih) selalu diberi kemudahan dlm menjalankan peran yang mulia ini.

    best regard,

    Bintang

  21. Hm.. Sepertinya menjadi ayah juga = teken kontrak seumur hidup yaa, Bunda.. Ada banyak hal yang peran suami-istri mesti berjalan seiring dan saling mengisi. Apalagi juga istri bekerja. Tanggung jawab memang tidak selalu sama antara ayah dan ibu, dan mensinkronkan peran itu memang tak selalu mudah. Apalagi dimasa anak2 melewati masa2 kritikal dan butuh perhatian lebih.. Tidak mudah memang. Kadang bahkan terasa berat juga menjalankan peran sebagai orang tua ya. Namun, semua itu tak sebanding dengan kebahagiaan kita (sbg orang tua) jika melihat keberhasilan si anak ya.. Semoga aja, jalanku masih panjang.. 🙂

  22. saya dulu malah memilih masih tinggal denga orang tua, sampai anak yang kecil kurasa cukup aman bila ditinggal kerja baru pindah ke rumah sendiri
    alhamdulillah dapat asisten yang bagus banget menjaga balita

  23. Ternyata … yang suka nongkrong di sekolah anak bukan hanya saya. Rasanya jiwa saya menjadi seperti mendapat siraman rohani, menjadi damai, karena kebiasaan saya ini dianggap sebagai perilaku yang aneh di kalangan ibu-ibu dan teman-teman di kantor.

    terima kasih mBak Ratna ….

  24. Irenisa

    sgt bermanfaat sekali. byk pelajaran yg bs sy ambil dr tulisan2 ibu. smg sy bs mempraktekannya jg meski sy ga pernah tahu seperti apa rasanya mempunyai ibu. 🙂

  25. Salam kenal bu EdRatna…
    S’Makin memaknai kata “Ibu” dan melakoni sebagai “Ibu” dan berharap dapat memulai komunikasi 2 arah dalam keluarga kecil-ku dan sukses menjadi ‘Ibu” bagi anak-anakku.

  26. Salam kenal…….
    Setelah baca postingan ini….. ak yang baru menjadi seorang ibu lebih dari 2 tahun, ak berdoa semoga ak bisa menjadi seorang ibu yang sukses dalam mendidik anak-anak. dan semoga anak-anakku menjadi anak yang sukses bahagia dunia dan akhirat. amin yarobal alamin…… smoga alloh SWT meridhoinya…….

    Aamiin YRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s