Oleh: edratna | Oktober 16, 2011

E KTP

Hari Selasa malam, pagar rumah saya di gedor-gedor, rupanya petugas dari RT/RW menyampaikan undangan agar pada tanggal 13 Oktober 2011 datang ke Kelurahan untuk melakukan foto untuk  membuat KTP Elektronik (E KTP) gratis. Saya langsung senewen karena hari Rabu dan Kamis, kebetulan saya menjadi pembicara di sebuah workshop. Saat saya tanya, apakah ada hari lain untuk menggantikan, petugas yang sudah lelah hanya mengatakan “Bu, yang penting kami sudah menyampaikan.” Suami, yang saya telepon juga teriak, karena pada hari yang sama dia ada kuliah jam 12 siang di Bandung. Entah bagaimana, akhirnya suami sepakat akan mencoba datang ke Jakarta Rabu malam, dan mudah2an urusannya cepat selesai.

Hari Kamis jam 4 pagi, seisi rumah sudah heboh, karena saya pesan taksi agar dijemput  jam 5.45 wib (supaya tak terkena macet karena workshop diadakan di Jakarta Pusat), suami juga bersiap pergi ke Kelurahan pagi-pagi. Dan ternyata, saat suami pergi ke Kelurahan, urusan segera selesai, mungkin karena yang lain masih tenang-tenang di rumah…bahkan dia bisa menyelesaikan urusan lainnya di Bandung pada hari yang sama. Karena tak mendapat jawaban dari petugas Kelurahan, bagaimana jika berhalangan sesuai hari yang dijadualkan, saya Jumat pagi ke Kelurahan, ternyata kata petugas, bagi masyarakat yang berhalangan untuk foto sesuai jadual disediakan hari Sabtu dan Minggu.

Jadi, hari Sabtu, jam 7 pagi saya sudah datang di Kelurahan dan melihat antrean sudah panjang. “Celaka“, pikirku, mau selesai jam berapa? Setelah mendaftar, saya baru menyadari kekacauan yang terjadi, karena kemarin listrik sempat mati, kemudian salah satu komputer error, menyebabkan orang yang kemarin sudah datang terpaksa hari Sabtu harus datang lagi. Selain itu, saat ada yang datang jam 5.30 wib, Satpam berinisiatif menolong, dengan membagikan nomor urut…tanpa melihat nomor urutnya salah….padahal yang terlanjur dapat nomor pulang lagi, karena  melihat nomor urutnya besar sehingga diperkirakan jam 10 baru akan dipanggil. Sialnya, kantor Kelurahan yang asli sedang direnovasi, sehingga untuk sementara kantor Kelurahan menyewa rumah penduduk, bisa dibayangkan betapa kisruhnya. Jam 9 pagi, keringat sudah mulai bercucuran, dan sialnya saya lupa membawa kipas, saya merogoh-rogoh tas, menemukan amplop surat yang akhirnya saya pakai sebagai kipas. Masing-masing orang yang menunggu menggunakan apa saja untuk mengipasi badannya,  tak ada angin pula, jadi bau badan berbagai macam orang mulai memasuki hidung dan bikin pusing.

Jam terus berjalan, antrian orang terus berdatangan, perut kosong ditambah keringat yang mengucur makin membuat pening….saya membayangkan foto yang diambil dari warga kelurahan kami akan benar-benar menampilkan sesuai aslinya. Yang paginya rapih, rambutnya mulai di uwel-uwel, ditarik ke atas dan diikat sembarangan, bedak luntur, baju mulai kusut. Saya ingin ambil foto, tapi tak tega, karena wajahku sendiri pasti sama berantakannya.

Sekitar jam 1 siang, orang-orang disekitarku mulai membeli mie ayam dari gerobak dorong, saya akhirnya ikutan beli. Rupanya saya memang lapar, selesai makan mie panas, dan minum green tea dari botol, badan terasa lumayan. Jam 15.00 wib saya baru dipanggil…bayangkan menunggu 8 (delapan) jam, kalau naik kereta api, sudah sampai Yogya. Akhirnya…., ternyata di dalam masih menunggu pula, namun ruangan sudah ber AC jadi agak mendingan. Dan petugas akhirnya memberitahu pada orang yang terus berdatangan untuk mendaftar, bahwa yang tak bisa datang sesuai jadual, bisa datang setiap hari Sabtu Minggu, sampai akhir Desember. Nahh, coba dari tadi diberitahukan seperti itu…mungkin antrean orang tak terlalu panjang, karena waktu masih longgar.

Dan saya mulai menghitung, bahwa untuk setiap orang diperlukan waktu 5-10 menit untuk mendapatkan foto wajah, foto mata, tangan, jari telunjuk, jempol dan lain-lain. Akhirnya saya pulang, mesti berjalan kaki, karena letak kantor Kelurahan bukan di jalan yang dilalui kendaraan umum, dan saya bersyukur matahari mulai tergelincir ke barat, sehingga tak terlalu panas. Setelah memasuki jalan Tarogong Raya, saya menyusuri jalan ke arah Jakarta International School, kebetulan ada bajaj lewat, dan mau mengantar ke rumah dengan bayaran Rp.15.000,-. Rasanya legaaa sekali, sampai rumah saya langsung mencolek kue bolu bikinan mbak Ti, bikin teh hangat….rasanya sedaaap.

Dari pemantauan saya, ada banyak hal yang masih perlu disosialisasikan, sehingga tak terjadi tumpukan antrian, karena sarananya juga belum lengkap. Dengan komputer hanya satu, tentu antrean sangat panjang, padahal, seperti kita tahu, hari libur merupakan oase bagi masyarakat Jakarta, yang setiap harinya mengejar kendaraan, berjuang mengatasi kemacetan pergi dan pulang kerja. Dan untuk petugas Kelurahan semoga diberi kesabaran, karena mereka lah yang jadi tumpuan omelan masyarakat yang sudah lelah.

Iklan

Responses

  1. saya sampai lupa apakah saya masih punya KTP Jakarta hehehe

  2. Saya malah bingung karena sampai sekarang belum dapet undangan karena hanya menjadi pendatang di Jakarta..

  3. Kalo boleh memilih, saya mau pake yang tradisional saja lah, Bu… bukannya skeptis, tapi yang modern2 untuk hal sepele begitu biasanya malah kurang lancar.. semoga perkiraan saya salah 🙂

  4. Menguras tenaga dan emosi banget ya bu nunggu sampai sehariam gitu

  5. e-KTP nanti untuk seluruh warga Indonesia ya?

  6. Saya kok belum dipanggil2 juga ya buat urus eKTP itu 😦
    apa emang di Makassar belum ada jadwal ngurusnya ya?

  7. e KTP ini apa bu? jadi KTP nya elektronik gak ada kartunya lagi atau gimana?

    waduh gak kebayang deh ngantri 7 jam!!! ampun dah…

    kemaren ini saya perpanjang passport di KJRI sini. ternyata udah bisa submit data secara online. termasuk upload fotonya. yang lucu ya, walaupun tetep udah submit data online dan termasuk foto, kita tetep harus dateng ke KJRI untuk ngasih dokumen2 pendukung lainnya (kenapa gak sekalian dikasih fasilitas submit scanned documents online ya?.. aneh kan)… dan yang lebih aneh lagi, walaupun udah submit foto online, tetep kita harus bawa foto yang udah dicetak 3 lembar. jadi submit foto online nya buat apa coba. hahaha. gak ngerti dah… 😀

    emang sih ini gak ada hubungannya ama E KTP di cerita ibu. tapi maksud saya, kadang kayaknya pemerinta kita ini udah mau apa2 online dan elektronik tapi masih setengah2 gitu. kalo mau elektronik/online ya mbok 100% gitu. jadi kita bisa ngurus nya semua dari rumah, lewat internet. itu kan lebih nyaman.. ya gak..

  8. Tapi langsung jadi khan bunda e KTP nya ?.
    Ternyata, elektronik dgn prasana yang belum mendukung yah bun…..weleh2……

    Btw….ini salah satu latihan kesabaran ya bunda, hehehehe 🙂

    Best regard,

    Bintang

  9. Gara-gara e-ktp, sampai sekarang ktp saya belum juga diperpanjang, padahal sudah mati sejak juli kemarin. Tadinya saya mau perpanjang, tapi kata pak rt, tunggu saja sampai e-ktp dilaksanakan. sekarang, Saya masih menunggu panggilan. Jadinya, kurang pede kalau ke mana-mana bawa ktp yang sudah mati itu. Untungnya masih ada sim yang masih berlaku.

    Ide e-ktp memang bagus, tapi pada tahapan pelaksanaannya, sungguh kacau. Penyebabnya? Sudah pahamlah kita… 😀

  10. tahap awal selalu begitu ya bu, serba riweh. Sungguh cape pastinya nunggu 8 jam. Saya belum buat ini bu, belum dipanggil pula, apa nunggu giliran ya. pengennya sih dengan e ktp ini semua kartu ya jadi satu, one card for all. jadi ga perlu perpanjang sim atau kartu2 lain. udah cukup 2 ktp ini aja. bisakah? kayanya prasarananya belum menuju kesana di indonesia ini. salam saya bu

  11. tujuannya e-KTP memang perlu kita dukung, namun dalam pelaksanaannya masih banyak yg bisa diperbaiki dari soal sumber daya manusia hingga ke perangkatnya serta sistem antriannya. Mudah2an tujuan yg baik tidak menjadi mubazir karena ini menggunakan uang rakyat….

  12. Akhir pekan kemarin memang gerah sekali, Bu. Di sini juga. Sampai suhu di kamar itu nyaris 34 derajat!

    Saya belum punya KTP Jakarta. Rencananya sih kalau sudah nikah dan “menetap” di Jakarta segera bikin. Karena sepertinya sekarang ribet kalau misalnya bikin KTP Jakarta dulu. Perizinan kalau nanti nikah bisa jadi susah ngurusnya. Kalau di kampung kan masih ada yang bantu. Hwehe.

    Proyek yang menyita banyak perhatian publik. Semoga lancar dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa. 😀

  13. Bu Enny, saya KTP masih Madiun. Di sana, proses e-ktp lancar. Cepat sekali. Hampir tak ada antrian.

  14. ditempat saat ini saya tinggal, E KTP belum begitu dikenal bu, entah dari Pihak pemerintahannya ato emang saking kurangnya informasi yg saya terima, terahir kali ke kantor kecamatan 5 bulan lalu buat bikinin KTP tu prosesnya cepat banget bu, gag sampe 1 jam udah jadi…

  15. Bun, aku kalo mau urus2 sesuatu kemanapun selalu bawa buku bun.
    Gile ajaaaa 8 jam nunggu, kalo saya udh BT tingkat dewa kali itu bun 🙂

    Kapan KTPnya jadi bun?

  16. ya, semestinya ga perlu diborong satu hari….. tapi kasih jadwal. tapi maklum saja baru pertama dilaksanakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: