Blog, untuk relaksasi?

Barusan dari bertandang di blog teman, yang saya kenal sejak saya menulis di Blog. Teman main, teman ngrumpi meluangkan waktu, serta teman untuk membahas buku-buku novel yang kadang menurut orang lain tak penting. Saya sadari, makin sulit menyediakan waktu untuk menulis di Blog, teman-teman lama yang selama ini saya kenal, banyak pula yang membiarkan blognya terbengkalai, sayapun juga mulai tersendat-sendat. Wajar, jika akhirnya ajang Pesta Blogger kali ini menggunakan istilah on-off, dan sayangnya saya tak sempat mengikuti acara satupun. Bayangkan, jika dulu saya rajin datang, mengajak teman-teman, anak-anakku, tahun ini malah nyaris lupa. Kaget juga suatu hari, sehari sebelum acara on-off Pesta Blogger di gelar di Jakarta, menerima sms dari teman blogger dari Bandung, apakah saya akan datang di acara tersebut? Dan karena acara tersebut bersamaan dengan acara lain yang tak mungkin saya tinggalkan, saya terpaksa tak bisa hadir…sungguh sayang sekali.

Lanjutkan membaca “Blog, untuk relaksasi?”

Iklan

Serial Haji: Penutup…tip agar ibadah haji berjalan lancar

Perjalanan ibadah Haji sungguh merupakan perjalanan yang sulit untuk dilupakan. Saya sepakat dengan tulisannya Ustad Budi, dalam bukunya “Belajar Bahagia”, bahwa perjalanan Haji adalah sebuah ikhtiar menemukan kebahagiaan yang hakiki dalam penyerahan diri yang total kepada Allah. Belum pernah saya merasakan hati yang begitu tenteram dan damai, ibadah yang khusuk, membuat saya bisa memahami mengapa orang yang pernah berkunjung ke Tanah Suci Makkah untuk beribadah,  selalu ingin kembali ke sana. Namun perjalanan ini tak sekedar perjalanan rochani, namun memerlukan fisik yang prima karena perpindahan dari satu tempat ke tempat lain terjadi terus menerus, tanpa memandang waktu, juga cuaca.

Lanjutkan membaca “Serial Haji: Penutup…tip agar ibadah haji berjalan lancar”

3.Menunaikan Rukun Haji:g.Thawaf Wada-Jeddah dan kembali ke Jakarta

Di apartemen Aziziah, pagi-pagi sekali para jamaah sudah berebut kamar mandi, dan siap berangkat ke masjid Al Haram untuk melakukan thawaf Wada. Ketika jamaah haji atau umrah akan meninggalkan Makkah setelah selesai menunaikan ibadah haji atau umrah, wajib melakukan thawaf Wada. Bagi mereka yang sakit atau wanita yang sedang haid, boleh tidak melakukannya, cukup dengan mendatangi salah satu pintu Masjid Al Haram sambil berdoa.

Lanjutkan membaca “3.Menunaikan Rukun Haji:g.Thawaf Wada-Jeddah dan kembali ke Jakarta”

3.Menunaikan Rukun Haji:f.Melempar jumroh di Mina

Muntowif mengawali membawa bendera agar jamaan tak tercecer saat melempar jumroh (foto by Silvia)

Hari pertama melempar jumroh bagi rombongan kami adalah pada hari Minggu tanggal 6 Nopember 2011, atau 10 Dzulhijjah, pada sore hari sebelum Magrib. Rombongan diminta bersiap jam 16.30 waktu Mina dan mulai berjalan kaki. Iring-iringan dimulai oleh petugas Maktab yang membawa tanda Maktab 115 didampingi oleh Muntowif yang membawa bendera tempat travel kami bergabung, kemudian baru diikuti para pembimbing dan jamaah haji. Disepanjang jalan terlihat orang saling tidur-tidur an di jalan melepas lelah, ada yang antri di kamar mandi umum, sholat dan lain-lainnya.

Lanjutkan membaca “3.Menunaikan Rukun Haji:f.Melempar jumroh di Mina”

3.Menunaikan Rukun Haji:e.Muzdalifah-Masjidil Haram (Thawaf Ifadha)

Selesai wukuf, kami sholat Magrib dan Isya berjamaah,  makan malam, kemudian sekitar jam 9 malam waktu Arafah, siap berangkat ke Muzdalifah untuk Mabit dan mengambil kerikil sebagai persiapan melempar jumroh di Mina.  Muzdalifah, suatu tempat  terletak sekitar 9 km di barat Arafah, di antara Arafah dan Mina. Tempat ini berupa padang pasir gersang tak berpenghuni.  Berhenti di sini untuk mabit merupakan salah satu wajib ibadah haji, selain itu di tempat ini jamaah haji mengambil batu-batu kecil untuk melempar jumroh. Masing-masing orang mengambil 49 butir kerikil, tujuh kerikil untuk melempar jumroh Aqoba pada hari pertama, 21 butir untuk melempar jumroh  Ula, Wustho dan Aqobah masing-masing tujuh butir pada hari kedua, dan hari ketiga melempar ketiga jumroh dengan masing-masing 7 butir kerikil.

Lanjutkan membaca “3.Menunaikan Rukun Haji:e.Muzdalifah-Masjidil Haram (Thawaf Ifadha)”

Mencoba Little Sheep Chinese Shabu-Shabu

Hmm…apakah anda pernah mendengar nama restoran ini? Saya baru sekali mendengar nama ini, saat seorang teman mengundang kami (berdua teman lain) untuk mencoba makanan ini, di Central Park BRI Semanggi. Makanan apa pula ini? Yang terbayang adalah mirip seperti Shabu-shabu yang pernah saya makan di restoran di puncak Wisma Nusantara. Tapi teman saya mengatakan kalau ini rasanya lain dari yang lain, pemiliknya seorang Chinese, seorang muslim. “Pokoknya enak deh bu, bahannya benar-benar asli (saya berpikir, memang ada bahan makanan yang tak asli?), cabenya betu-betul pedas (waduhh..mudah-mudah an perutku kuat), ” kata teman yang mentraktir. Tapi karena melihat semangatnya, dan biasanya promo dari teman ini kalau soal makanan memang sesuai aslinya, saya percaya.

Lanjutkan membaca “Mencoba Little Sheep Chinese Shabu-Shabu”

3.Menunaikan Rukun Haji:d.Mina-Padang Arafah

Mina

Kami sampai di Mina menjelang Dhuhur, jalanan penuh orang. Banyak jemaah Haji berjalan kaki sepanjang jalan, membawa koper yang diseret, bahkan ada yang membawa anak kecil. Hati ini terasa lebih ringan, dan bersyukur, betapa nikmatnya kami masih bisa naik bis ber AC. Mendekati Mina, semakin banyak jemaah memenuhi jalanan, ada yang tiduran di bawah jembatan, mereka adalah para jemaah non kuota, yang tidak memesan tenda. Jemaah dari Indonesia sangat teratur, sejak awal, semua jemaah, baik reguler maupun plus, semua dipersyaratkan mendaftar melalui Kementerian agama, telah memesan tenda dan makanan yang diselenggarakan oleh Maktab, bekerjasama dengan Maktab Indonesia.

Lanjutkan membaca “3.Menunaikan Rukun Haji:d.Mina-Padang Arafah”