Oleh: edratna | Desember 1, 2011

2. Persiapan Keberangkatan jamaah calon Haji

Ibadah yang dilakukan dalam rombongan diperlukan persiapan yang matang, termasuk pengaturan keberangkatan, pengaturan barang yang boleh di bawa. Masing-masing jemaah calon Haji mendapat satu koper besar yang dimasukkan bagasi, koper kecil untuk di kabin, tas pinggang untuk menyimpan dokumen serta tas sandal berwarna pink (tergantung dari travel/pengelola yang memberangkatkan jamaah calon Haji), serta baju batik, yang menunjukkan jamaah calon Haji dari Indonesia.  Kami juga mendapat berbagai pernak-pernik seperti kartu identitas yang dikalungkan di leher, gelang yang ada nama jamaah, berikut nomor paspor untuk memudahkan pengenalan jika terjadi sesuatu. Pernak-pernik identitas ini harus dipakai selama perjalanan Haji, agar memudahkan pengenalan jika terpisah dari kelompok, dan atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Banyak hal sepele yang harus kita tanyakan, seperti berapa jumlah pakaian yang harus di bawa, serta meletakkan nya di koper yang mana. Jangan sampai obat-obatan tersimpan di koper bagasi, karena jika terjadi sesuatu di perjalanan, akan sulit mengambil obat. Koper kabin kami sepertiga sendiri berisi obat, ditambah pakaian ihram yang sangat tebal. Akhirnya saya juga terpaksa membawa tas tangan untuk diisi obat-obatan pribadi, untuk memudahkan jika harus minum obat di perjalanan, apalagi suami harus ditetesi mata kirinya tiga kali sehari dengan 4 (empat) jenis obat tetes mata. Juga saya harus mencari kacamata hitam yang bisa menutup rapat, akhirnya diputuskan menggunakan kacamata renang, hanya kacamatanya disesuaikan dengan ukuran kacamata suami. Saya sendiri yang tak terlalu suka kacamata hitam karena minus, terpaksa pesan kacamata hitam khusus dengan ukuran minus nya.

Masalah berapa baju yang dibawa juga menjadi persoalan, karena setiap orang berbeda jika ditanyakan.  Berdasar pengalaman, saya menyarankan bawalah baju secukupnya, terutama nanti kita akan lebih banyak menginap di Mina yang tak memungkinkan mencuci dan menjemur baju. Baju untuk ikhram yang berwarna putih cukup 2 (dua) stel untuk dipakai saat Umrah (pertama kali datang dari Indonesia dan masuk Makkah), kemudian saat wukuf di Arafah. Namun, perjalanan Haji kemarin saya membawa baju putih semua, hanya membawa celana panjang biru tua dan hijau tua, lainnya putih. Putih ini indah dan bersih, sesuai dengan niat kita, namun risikonya cepat terlihat kotor. Saya sempat memasukkan ke laundry saat di Makkah dan Madinah, namun sesudahnya tak sempat lagi, karena sejak dari Madinah ke Aziziah pergerakan begitu cepatnya…bahkan waktu untuk tidurpun sangat terbatas sekali.

Obat-obatan sangat penting, karena tak semua obat di Indonesia terdapat di sana. Saya sempat kehabisan obat dan terpaksa diganti dengan lainnya, walau rasanya kurang sreg (mungkin karena terbiasa dengan obat tertentu). Yang juga penting adalah makanan, karena dari para pembimbing telah disiapkan mental kita, bahwa ada kemungkinan makanan terlambat datang karena macet, atau makanan yang tak sesuai selera. Kuncinya, adalah tetap harus makan, dan makanlah pakai otak, jangan pakai perasaan. Saya membawa berbagai jenis kue, maksudnya jika terpaksa tak selera makan masih bisa untuk mengganjal perut, walau akhirnya kue ini tetap tersimpan di koper besar tak tersentuh, sampai kembali pulang ke tanah air.

Koper besar ini ternyata jarang ketemu, paling lambat dua hari sebelum berangkat harus sudah diserahkan ke Penyelenggara Perjalanan Haji, sehingga saat berangkat hanya menenteng koper kecil yang masuk kabin. Nanti kami hanya ketemu koper besar, saat di bandara King Abdul Aziz, kemudian diserahkan lagi pada muntowif. Muntowif ini adalah petugas haji yang biasanya mahasiswa atau orang Indonesia yang bekerja di Tanah Suci, yang membantu selama kegiatan Haji.

Saya masih harus bekerja sampai hari Selasa, mengatur kebutuhan rumah tangga agar tak keteteran saat ditinggal. Memberikan daftar tugas pada mbak Tiah, untuk belanja selama 3 (tiga) minggu, membayar kartu kredit pada akhir bulan, serta membayar listrik dan telepon. Sedangkan pada Minah yang membantu di rumah Bandung, saya menyerahkan daftar tugas, untuk membeli kambing untuk qurban saat Idul Adha, uang belanja selama ditinggal, juga uang cadangan jika terjadi apa-apa. Dan saya mengajak anak saya untuk menandatangani surat kuasa agar dia bisa masuk ke ruang Safe Deposit Box jika sesuatu terjadi pada saya, menjelaskan letak sertifikat rumah, kewajiban yang harus dibayar. Selain itu saya menyiapkan daftar nomor penting yang harus dihubungi, nomor rekening Bank, juga nomor telepon selama di Arab Saudia (saya membeli dua nomor, yang ternyata masih bersisa 50 SR dan 70 SR sampai sekarang).

Dan akhirnya mengunjungi dokter, agar saya bisa menjaga sakit maag saya tak muncul selama beribadah, obat anti alergi, serta obat-obatan lain. Hari Jumat sore (dua hari sebelum berangkat), saya menemani suami kontrol ke dokter mata, syukurlah dokter mata menganjurkan tetap berangkat hanya berpesan jangan lupa meneteskan obat mata. Sebetulnya hati ini masih kedap-kedip, tapi saya berdoa semoga semua berjalan lancar. Mbak Tiah yang telah lebih dari 10 tahun ikut saya berpesan, agar saya tak memikirkan rumah,  saya percaya anak-anak dan keluarga yang ditinggalkan akan dijaga oleh Allah swt selama kami pergi menunaikan ibadah Haji.

Di Masjid Habiburachman, depan PT DI, Bandung, sebelum berangkat.

Namun, tetap saja hari Minggu masih mondar-mandir mengurus ini-itu yang kurang, sampai jam 10 malam. Padahal hari Senin jam 2 dinihari sudah harus berkumpul di masjid Habiburachman di depan PT DI, Bandung. Anak sulung saya menemani berangkat dari Bandung, dia mengekor bis yang berangkat ke Jakarta, yang berangkat ke bandara Soekarno Hatta. Di Bandara Soekarno Hatta, meeting point nya adalah di Hoka-Hoka Bento, karena rombongan dari Bandung akan ketemu rombongan dari Jakarta dan Bogor.

Berfoto bersama si sulung, sebelum berangkat, di Bandara Soetta

Syukurlah akhirnya kami dipanggil, dan saya baru tenang, setelah mendapatkan paspor dengan Visa Haji tertera di dalamnya. Syukur Alhamdulillah, setelah memeluk anak sulungku, saya dan suami memasuki pintu bandara untuk ke imigrasi, dan si sulung langsung ke kantornya. Tak ada proses yang berbelit-belit, dan Garuda Indonesia take off jam 11.30 wib.

Gelang identitas Calon Haji dari Indonesia: ada nomor paspor, nama, nomor maktab

Di pesawat Garuda ini, walau sebetulnya pesawat komersial, kami bertemu dengan para jemaah calon Haji lainnya, yaitu dari Bina Wisata Indonesia dan Marwah.

Suasana ramai sekali, dan terasa keakrabannya. Pesawat mendarat di King Abdul Azis sekitar jam 17.00 waktu setempat, untuk mendapatkan koper merupakan perjuangan sendiri, walau kopernya telah khas tetap saja sulit, mencari di antara ratusan koper dengan kondisi badan yang sudah sangat lelah. Syukurlah petugas imigrasinya sangat baik, terasa sekali ingin menolong kami semua, dan setelah keluar dari imigrasi, muntowif menyambut koper besar kami untuk disatukan dengan koper-koper lainnya, juga mengambil paspor kami, sehingga selama pelaksanaan ibadah Haji, kami tak memegang paspor, hanya selembar kertas kuning yang menyatakan bahwa kami adalah jemaah calon Haji.

(bersambung)

Iklan

Responses

  1. wah persiapannya emang harus bener2 masak ya bu. yah tapi gak heran lah, emang harus gitu biar semuanya lancar…

    Betul Arman, karena banyak yang tercecer….
    Jadi setiap kali harus diingatkan, dimana meeting point nya, dan perlengkapan yang memudahkan dikenali agar selalu dibawa. Apalagi kan sekitar 4 (empat juta orang berada pada tempat yang sama…

  2. bu, mesti pakai kacamata renang ya? berdebu sekali kah di sana?

    Sebetulnya tidak harus, saya pakai kacamata hitam biasa. Namun karena suami kena glaucoma, dan di Mina-Arafah memang berdebu (maklum padang pasir dan berbukit batu), disarankan pakai kacamata hitam renang yang lebih rapat oleh teman-temannya. Kata dokter sih tak ada hubungannya…hehehe

  3. Ibu Enny …
    wah aldi baru tahu dari Putri pas di Madinah waktu Ibu mau naik haji..
    mau nanya maktab Ibu di Mekah, tapi kemana? 😀

    pengen sowan sekaligus kopdar Bu hehehehe

    semoga mabrur ya Bu .. 🙂

    Hmm kapan-kapan kita ketemuan ya…tahun depan? Lha kan tinggal sebulan lagi.
    Disana tak mungkin ketemu, lha orangnya buanyak banget.

  4. bu, sampai isi koper juga harus diperhatikan betul ya…
    itu sudah ada aturannya ya…, kebayang bagaimana kalau saya… yang suka lupa naruh sesuatu..

    Betul mbak Monda, untuk memudahkan mencarinya, juga agar kita tak membawa banyak barang yang nanti tak diperlukan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: