Oleh: edratna | Desember 11, 2011

3.Menunaikan Rukun Haji:c. Aziziah

Di Aziziah, rombongan kami tinggal dalam apartemen berlantai 5, bersama dengan dua rombongan dari travel lain. Jika saat di Makkah dan Madinah, saya bisa sekamar berdua dengan suami, sejak di Aziziah, tempat tidur laki-laki dan perempuan terpisah. Dalam satu kamar diisi 4 orang, laki-laki semua atau perempuan semua. Kamar mandi juga harus berbagi, tiga kamar (berisi 12 orang), terdapat dua kamar mandi.

Namun, ternyata justru di Aziziah ini keakraban para  jamaah terjalin, karena merasa dalam satu asrama. Makanpun tak antri seperti halnya saat di hotel Movenpick (Madinah) dan di hotel Hilton (Makkah). Disini setiap kali makan, di masing-masing meja terjadi diskusi yang seru, diselingi tertawa keras. Dan kebersamaan itu diperkuat pula dengan saling berbagi makanan, entah kurma, rendang, dendeng, sambal pecel dan lain-lain.

Tausiah diadakan di lantai paling atas, bisa melihat kota Makkah dan jam Masjid Al Haram yang megah dari kejauhan. Disini pula saya menyaksikan, setiap kali azan berkumandang dari Masjid Al Haram, maka bagian di atas jam berkelap-kelip, yang sayangnya sulit terlihat dalam foto. Di lantai atas ini, sering melihat helikopter berputar-putar, mungkin dari pemerintah Arab Saudia untuk meninjau keadaan di lapangan. Disini jika mau pergi ke Mal, harus berjalan kaki agak jauh, serta jam bukanya terbatas, akibatnya para ibu malas keluar dan kami sering mengobrol di kamar di antara waktu mau tidur. Tak terasa aktivitas juga makin rutin, setiap jam tertentu badan ini seperti ada alarm nya, terbangun untuk melakukan sholat malam. Sholat Subuh lebih sering dilakukan di lantai atas, sekaligus tausiah.

Pertanyaan dari jemaah makin banyak, karena makin kawatir melihat lautan manusia yang makin menyemut, ada keraguan, mungkinkan kami bisa melakukan rukun Haji dengan sempurna. Disinilah diperlukan bimbingan dari para Pembimbing, agar keraguan dan kekawatiran itu tak perlu terjadi. Saya akui, Pengelola memang lebih banyak menjelaskan kemungkinan terjadinya worst case, agar nanti tak dipersalahkan, namun di satu sisi juga membuat hati para jamaah agak kawatir.

Ramai-ramai makan nasi mandi seusai Tausiah di lantai 5, apartemen Aziziah (foto by Syam Sopandi Sofyan)

Kami berada di Aziziah sejak Rabu pagi sampai dengan Jumat pagi, namun membuat kebersamaan makin terjalin. Ada masa kami ramai-ramai makan nasi mandi, satu nampan dimakan beramai-ramai. Kekawatiran akan terjadi keterlambatan makanan syukurlah tak terjadi, air minum panas selalu tersedia, sehingga setiap saat bisa membuat kopi, susu maupun teh panas.

Saya sekamar dengan isteri dokter kandungan, dengan teman yang bekerja di Pemda Bandung, serta dengan dokter gigi yang tinggal di Bogor. Keakraban langsung terjalin, ada juga serunya. Karena capek, sering sulit menemukan barang yang kita yakini telah  di bawa dari tanah air. Jadi, walau koper sudah dibongkar pasang, tetap saja barang tak diketemukan. Disinilah kami saling berbagi, bahkan berbagi minyak kayu putih, akibatnya seluruh kamar bau kayu putih.

Hari Jumat  dini hari, antrian mulai terjadi di kamar mandi, karena Jumat pagi sekitar jam 9 waktu Aziziah, kami akan pergi ke Mina. Hari ini, kami akan mulai menunaikan Rukun Haji, dengan memakai ihram serta harus bersuci, mandi, keramas, dan semua harus bersih. Dan karena kami perempuan, kami semua tetap berdandan dan memakai wangi-wangi an, karena selama berpakaian ihram tak boleh mengenakan wangi-wangi an.

Makan pagi berlangsung dengan cepat, kemudian masing-masing menggunakan pakaian ihram. Koper besar ditinggal di Aziziah, jadi jemaah hanya membawa koper kecil, dan uang sekedarnya karena nanti di Mina akan tidur beramai-ramai di tenda. Tak lama kemudian bis yang akan membawa rombongan berangkat, kami naik ke bis menuju Mina. Seperti apakah Mina ini? Benarkah disana terasa panas sekali? Bagaimana rasanya tidur di tenda, serta mandi antri? Pertanyaan-pertanyaan ini menggelayut di hati, sehingga bis terasa sunyi senyap, mungkin semua jemaah saling bertanya-tanya mengukur kekuatan diri sendiri.

(bersambung)

Iklan

Responses

  1. lucu banget nasi mandi nya itu ya bu…
    moga2 semua nya udah cuci tangan ya… hahaha

    Cara makan nya yang sungguh menyenangkan.
    Jadi ingat masa kecil, dalam budaya Jawa di kenal istilah “Batu” alias makan rame-rame pakai tangan dalam satu piring.

  2. ah…sayang saya tak berkesempatan menikmati nasi mandi ini…

    Rombongan saya banyak keluarga muda…mereka ini yang mula-mula mengajak urunan beli nasi mandi, kemudian mencoba pula nasi bukhori, air tebu dan lain-lain.
    Dan suatu saat, pengelola travel akhirnya membeli nasi mandi 6 nampan, dimakan rame-rame untuk seluruh rombongan….benar-benar asyik, makan pakai tangan rame-rame…tentu saja mencuci tangan lebih dulu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: