Oleh: edratna | Desember 17, 2011

3.Menunaikan Rukun Haji:e.Muzdalifah-Masjidil Haram (Thawaf Ifadha)

Selesai wukuf, kami sholat Magrib dan Isya berjamaah,  makan malam, kemudian sekitar jam 9 malam waktu Arafah, siap berangkat ke Muzdalifah untuk Mabit dan mengambil kerikil sebagai persiapan melempar jumroh di Mina.  Muzdalifah, suatu tempat  terletak sekitar 9 km di barat Arafah, di antara Arafah dan Mina. Tempat ini berupa padang pasir gersang tak berpenghuni.  Berhenti di sini untuk mabit merupakan salah satu wajib ibadah haji, selain itu di tempat ini jamaah haji mengambil batu-batu kecil untuk melempar jumroh. Masing-masing orang mengambil 49 butir kerikil, tujuh kerikil untuk melempar jumroh Aqoba pada hari pertama, 21 butir untuk melempar jumroh  Ula, Wustho dan Aqobah masing-masing tujuh butir pada hari kedua, dan hari ketiga melempar ketiga jumroh dengan masing-masing 7 butir kerikil.

Suasana Mabit di Muzdalifah…..Subhanallah (foto by Silvia Theresia)

Sampai di Musdalifah masih jam 22.30 waktu Muzdalifah, kami menunggu cukup lama untuk Mabit dan kemudian langsung ke Masjid Al Haram untuk melakukan thawaf  Ifadha. Menuju Makkah untuk melakukan thawaf ifadha dan sai haji, pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja selama bulan Dzulhijah. Jika dari Muzdalifah pilihannya ke Masjid  Al Haram terlebih dahulu, maka tahallul awal dapat dilaksanakan di Masjid Al Haram setelah melaksanakan Sai Haji. Kemudian jamaah berangkat ke Mina untuk melontar jumroh Aqobah.

Ternyata sampai di Masjid Al Haram masih jam 00.30 hari Minggu tanggal  6 Nopember 2011 (10 Dzulhijjah), Muntowif mengatakan kalau lantai dasar Masjid Al Haram tak terlalu penuh, sehingga kami bisa melakukan thawaf Ifadha dan Sai di lantai 1. Alhamdulillah, maklum kondisi saya dan suami sudah mulai kurang sehat, melakukan thawaf di lantai 1 akan lebih meringankan. Saya berdoa, memohon pada Allah swt agar dimudahkan dan dilancarkan. Saya bergandengan tangan dengan suami melakukan thawaf Ifadha dan Sai. Selesai thawaf Ifadha, kami melakukan sholat sunnah 2 rakaat dan dilanjutkan dengan Sai. Dalam setiap putaran Sai dari Shafa dan Marwah, saya dan suami berhenti untuk minum air zam-zam, berdoa pada Allah swt agar semua doa kami dikabulkan. Tak terasa air mata berlinangan, sungguh terasa Allah swt begitu dekat dan mendengar doa kami, perasaan yang tak bisa saya gambarkan dalam bentuk tulisan.

Begitu selesai Sai, kami melakukan tahallul, ketemu dengan teman satu rombongan lain. Saya dan suami ikutan berfoto, sayangnya tak puas, karena ketahuan Askar, yang langsung memarahi kami. Syukurlah masih ada foto yang sempat diambil oleh Silvia.

Bepose setelah Sai……hanya sempat ambil foto sebentar, keburu dimarahi Askar..hehehe (foto by Silvia Theresia)

Pelataran hotel Hilton, yang berbatasan dengan Masjid Al Haram, tempat meeting Point seusai thawaf

Selesai thawaf Ifadha dan Sai, kami menuju meeting point di pelataran hotel Hilton (walau kami sudah tak punya kamar lagi), depan KFC. Teman-teman memesan kopi, kue, tapi saya kawatir kalau harus buang air kecil, walau pada akhirnya memang harus ke hotel untuk numpang buang air kecil. Syukurlah ada teman yang bisa bahasa Arab, sehingga kami bisa menggunakan toilet hotel, yang biasanya terkunci kecuali untuk tamu hotel. Yang mengejutkan kedua pembimbing kami telah bercukur gundul, di tukang cukur di lantai bawah hotel Hilton.

Kami segera kembali ke Mina…betapa senangnya, saat sampai di Mina, tenda terlihat sepi, juga tak ada antrian di depan kamar mandi. Saya segera bergegas untuk mandi, rasanya menyegarkan setelah badan basah kuyup berkeringat selesai thawaf Ifadha dan Sai. Hari ini giliran rombongan kami untuk melempar jumroh Aqoba adalah jam 5 sore, sebelum sholat Magrib. Kami segera beristirahat, lega rasanya bisa berganti pakaian, walau kami tetap menutup aurat dan masih tidur di tenda beramai-ramai.

Mencukur rambut saat tahallul

Para bapak sibuk saling mencukur gundul, tak terkecuali suami. Rasanya lucu dan aneh melihat mereka gundul, serta menjadi sulit membedakan satu dan lainnya, terasa tak saling mengenal lagi, karena wajahnya menjadi begitu berbeda. Sekarang makin bisa menikmati situasi di Mina, melihat jamaah berduyun-duyun sepanjang waktu, tanpa henti untuk melempar jumroh, pemandangan yang sungguh menakjubkan.

Foto bersama suami, setelah tahallul, di Mina

Saya juga bisa menikmati  meliht kereta api yang berjalan diatas monorel hilir mudik, terlihat dari kejauhan. Sayangnya, fasilitas monorel masih khusus untuk orang Arab Saudi.  Beberapa jamaah dari Indonesia dari maktab lain tersesat, menanyakan maktabnya. Kasian sekali yang tersesat sendirian, serta banyak yang sudah tua. Kami mencoba membantu, menawari makanan dan minuman, sebelum diantar Muntowif untuk mencari jalan ke maktabnya.

(bersambung)

Iklan

Responses

  1. subhanallah….hanya satu doa terucap, semoga saya bisa ke sana nanti 🙂
    Semoga dikabulkan oleh Allah swt. Amien.

  2. senang rasanya pergi naik haji, mudah-mudahan aku bisa menaik-hajikan kedua orangtuaku segera… amin…

    Semoga terkabul.

  3. saat setelah selesai semua rukun & wajib haji…rasanya plong!
    semoga menjadi haji /hajjah mabrur / mabruroh, ibu & bapak…
    *dan semoga kita bisa berkunjung lagi kesana ya…*

    Semoga kita menjadi Haji mabrur ya Mechta…dan di sisa hidup ini banyak berbuat kebaikan.

  4. Hehe… serunya masih bisa eksis sambil foto2an ya, Bu…
    Semoga foto2 ibu saya juga ada. Kata beliau sempat juga foto bareng teman2 beliau selama disana 🙂

    Hehehe….dimanapun berada masih sempat foto, walau hape ditaruh dalam kaos kaki…hehehe.

  5. Sungguh salut tuk kemampuan ibu mengelola stamina tubuh, menyimak padatnya agenda di tanah suci. Tidak berapa lama setelah tiba ibu langsung tugas ke luar pulau. Berkat berkahNya dan kedisiplinan diri menghargai tubuh anugrahNya saja hal ini terwujud ya bu En. Salam

    Alhamdullilah mbak, saya mendapat karunia…di sana juga semua lancar. Setelah pulang ke tanah air sebetulnya sempat batuk…dan malu juga, karena setiap kali minum air putih pas harus mengajar. Tapi secara umum, sehat…mungkin akibat berjalan berkilo-kilo meter selama disana ya…seperti olah raga.

  6. bu kenapa kok yang pria rambutnya pada dicukur?

    Sebetulnya tak hanya pria kok Arman, perempuan juga, tapi untuk perempuan hanya dipotong rambutnya beberapa sentimeter (itupun masih dalam kondisi berpakaian ihram, jadi yang memotong sesama perempuan dan tak boleh terlihat oleh lain jenis).
    Itu sebagai simbol, bahwa kita telah bertobat, telah selesai mengerjakan Rukun Haji, semoga menjadi Haji Mabrur….untuk itu disimbolkan memotong rambut baik pria atau wanita, yang berarti meninggalkan semua yang jelek, bertobat, memulai lagi dari awal untuk lebih banyak berbuat kebaikan.
    Jika mencukur sampai gundul, karena mengikuti sunnah Rosul (Nabi)….biar lebih afdol.

  7. ooh Ibu tawaf dan sai dulu ya sebelum ke Mina?
    pasti lebih kosong dari biasa ya Bu?

    wah aldi agak kaget Bu waktu liat Muzdalifah, karena menjelang berangkat dari Arafah, badan ngedrop abis bahkan sempet anget… (btw di fotonya Ibu kok ada tenda ya? boleh ya?)
    sampai Mina pukul 02.00, istirahat barang sebentar langsung menuju jamarat karena pertimbangan pembimbing jamaah rata2 berusia lanjut, biar ga terlalu berdesakan.. dengan kondisi badan dariMuzdalifah dan Arafah, alhamdulillah tapi didorong semangat oleh ibunda akhirnya bisa jalan maktab-jumroh PP (PP kayanya ada 7-8 km 😀 )

    habis tahalul itu biasanya jamaah tertawa2, liat penampilan baru bapa2nya
    bahkan ada ibu2 yg bilang “puluhan tahun usia pernikahan kami, baru kali ini saya lihat suami saya botak” hehehehe

    …………… foto meeting pointnya kayanya kenal banget deh hehehe

    Setelah mabit di Muzdalifah ada yang langsung thawaf Ifadha, ada juga yang ke Mina. Tapi karena melempar jumroh ada gilirannya, dan giliran kami baru hari Minggu sore, maka rombongan kami ke Masjid Al Haram dulu untuk melaksanakan thawaf dan Sai, kemudian baru ke Mina…sorenya melempar jumroh.

  8. Subhanallah, demikian besar karunia Allah swt pada Bu Enny
    melihat foto2 disini, saya jadi pingiiiiiin sekali kembali ke tanah suci ….
    tempat dimana kita bermunajat pada NYA dalam kedamaian,
    walaupun dirumahpun kita bisa bermunajat, namun utk bisa langsung mengunjungi rumah NYA, benar2 sesuatu karunia yg luar biasa
    salam

    Betul bunda, saya sekarang memahami mengapa ada yang ingin selalu kembali ke Baitullah.
    Tentu, jika kami mendapatkan rejeki, ingin kembali ke sana

  9. […] 3.Menunaikan Rukun Haji:e.Muzdalifah-Masjidil Haram (Thawaf Ifadha) […]

  10. Subhanallah yaa…rob. Kepada ibu dan bapak, begitu saya baca ceritanya dada terasa di siram air es, hati sangat indah, berbunga bunga tak terasa air mata menetes deras saking indahnya merasakan ke mulyaan dan ke agungan ALLAH SWT. Insyaallah mohon doanya, kami sekeluarga mau melaksanakan ibadah haji thn 2013, dengan ini kami sangat mengharapkan sembah doa kepada kami mudah2an kami nantinya mendapatkan kekuatan sehat jasmani dan rohani sehingga kami bisa melakukan semua perintah Allah swt dengan khusyuk dan lancar. Terimakasih semoga Allah Swt yg memblasnya aminn…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: