Oleh: edratna | Desember 20, 2011

3.Menunaikan Rukun Haji:f.Melempar jumroh di Mina

Muntowif mengawali membawa bendera agar jamaan tak tercecer saat melempar jumroh (foto by Silvia)

Hari pertama melempar jumroh bagi rombongan kami adalah pada hari Minggu tanggal 6 Nopember 2011, atau 10 Dzulhijjah, pada sore hari sebelum Magrib. Rombongan diminta bersiap jam 16.30 waktu Mina dan mulai berjalan kaki. Iring-iringan dimulai oleh petugas Maktab yang membawa tanda Maktab 115 didampingi oleh Muntowif yang membawa bendera tempat travel kami bergabung, kemudian baru diikuti para pembimbing dan jamaah haji. Disepanjang jalan terlihat orang saling tidur-tidur an di jalan melepas lelah, ada yang antri di kamar mandi umum, sholat dan lain-lainnya.

Orang memenuhi jalan-jalan di Mina

Jalanan penuh orang, kami harus hati-hati agar pegangan tak terlepas, sehingga disarankan untuk berbaris setiap dua orang. Jalanan melewati hotel yang dibangun dekat dengan melempar jumroh….di halaman luar terlihat beberapa orang sedang mengobrol. Kata teman yang peranakan Arab…”Hei, itu papaku. Kok aku nggak diajak ke sana ya.” Jalanan terus menanjak menuju bukit, meliuk…dan akhirnya kami sampai di tempat melempar jumroh. Alhamdulillah, walau padat dengan orang, kami bisa melempar jumroh, mendekat ke pinggiran pagar sehingga bisa melempar tepat ke sasaran. Selesai melempar jumroh, kami berdoa dipimpin oleh Ustad, kemudian berjalan pulang kembali…ternyata ternyata  melempar jumroh kami ada di lantai tiga, ini baru terlihat saat kami berjalan pulang dan turun melalui eskalator.

Di pintu luar banyak pengemis yang meminta sedekah, di luar dugaan saya, karena saya pikir negara Arab sungguh kaya sehingga tak ada pengemis. Kami terus berjalan pulang, untuk mengejar waktu Magrib, saat melewati tempat wudhu, segera berwudhu agar bisa sholat Magrib.

Selesai sholat Magrib diadakan tausiah, sayangnya karena lelah saya tertidur, bangun-bangun sudah waktunya makan malam, saya menyesal sekali, namun di satu sisi badan terasa segar. Saya teringat, malam sebelumnya saya cuma tidur satu jam, pantas terasa lelah sekali.

Jalanan ramai menuju tempat pelemparan jumroh

Hari Senin banyak dihabiskan untuk beristirahat dan menikmati Mina dari tenda. Salah seorang bapak dari setiap regu, ditunjuk untuk mewakili regu, menghadiri penyembelihan korban, pulangnya membawa nasi bukhori dan daging kambing bakar, serta air tebu (sayang lupa memfoto). Saya memilih minum air tebunya, yang terasa manis sekali, lebih manis daripada tebu di Indonesia. Hari ini rombongan kami mendapat bagian melempar jumroh pada  sore hari, dan kali ini entah kenapa kelihatannya petugas terbatas, dan lautan manusia makin banyak terutama dari negara Afrika.

Mendekati gedung tempat melempar jumroh makin penuh sesak, askar berjaga ketat, dengan sistim buka tutup….kami bisa memasuki gedung untuk mulai naik eskalator. Tak terasa dibawah ada bagian yang tak rata, syukurlah saya berpegangan pada teman sehingga tak sempat terjatuh, namun suami sempat terjatuh karena tertabrak orang Afrika. Mendekati eskalator, kami bicara pada askar yang jaga, syukurlah dia memahami, dan langsung naik di atas eskalator serta berteriak …. Indonesia ….. Indonesia …..  meminta agar yang lewat eskalator hanya orang Indonesia. Agak lega walau sebentar, karena selepas eskalator kita akan ketemu rombongan orang yang besar dan tinggi-tinggi.

Syukurlah akhirnya bisa mendekati pagar untuk melempar jumroh, dan kami mulai melempar jumroh Ulo, kemudian berjalan lagi untuk melempar jumroh Wustho tujuh kali dan terakhir melempar jumroh Aqobah. Saya sempat membersihkan luka di lutut suami dengan garamycin dan menutupnya dengan tensoplast…Alhamdulillah saya selalu sedia tensoplast.

Di tenda saya kembali membersihkan luka suami, kemudian dokter Arto memberikan obat, serta berpesan agar diminum bila terasa nyeri. Malam itu saya agak kawatir, apalagi suami tetap ingin melempar jumroh sendiri untuk besok pagi (melempar jumroh yang ketiga, dan terakhir kali dalam Rukun Haji),  tak mau memakai kursi roda. Sedangkan untuk melempar jumroh yang ketiga, rombongan kami mendapat giliran jam 4 pagi sebelum Subuh. Saya tak nyenyak tidur memikirkan suami, syukurlah ternyata dia bisa berjalan, sehingga saat melempar jumroh tak ada kendala… ternyata pagi ini sepi sekali, sehingga kami bebas melempar jumroh, bahkan saya sempat memotret.

Ayoo...lempar yang kuat

Selesai sholat Subuh, kami bergegas makan pagi dan siap meninggalkan Mina. Namun ternyata bis yang sudah masuk kota Mina, karena jalanan macet dan penuh manusia, diusir oleh polisi keluar kota Mina. Pilihannya menunggu kemungkinan jalan dibuka polisi yang tak pasti jamnya, atau mau berjalan kaki sampai ke ujung terowongan.

Akhirnya, Pimpinan rombongan memutuskan untuk berjalan kaki menuju ujung terowongan. Disini saya merasakan kebersamaan teman-teman, suami yang masih nekat mendorong sendiri kopernya, akhirnya tak bisa menolak tawaran dokter gigi Mita yang mengatakan kalau dia masih berumur 27 tahun, sehingga suami mau melepaskan kopernya. Maklum, dengan jalan terseok-seok karena kaki sakit, akan menyebabkan rombongan ikut tersendat.

Sampai di ujung terowongan hanya satu bis yang sudah siap, tak lama kemudian bis yang lain datang. Ternyata setelah di cek kurang satu jamaah yang belum ada, dan ibu-ibu. Kami berpikir ibu ini didampingi temannya, rupanya dia tercecer sendirian, dan salah mengikuti rombongan lain, kembali naik ke eskalator tempat melempar jumroh, kemudian salah memasuki terowongan yang lain. Syukurlah beliau masih membawa hape dan batereinya cukup, sehingga bisa ditunggu dan diketemukan. Saya merasakan, disorientasi, tercecer, sepertinya menjadi cerita sehari-hari di antara sesama jamaah, oleh karena itu memang harus selalu check dan re check.

Bis kami menuju apartemen Aziziah, rasanya segar bisa mandi, namun saya harus membongkar koper suami dan saya, menata kembali baju kotor untuk dimasukkan koper besar, yang malam itu harus siap untuk di bawa ke Jeddah, dan langsung diserahkan pada Garuda. Sebelum tidur kita diingatkan, besok pagi berangkat jam 2 pagi, untuk thawaf Wada kemudian langsung berangkat ke Jeddah.

(bersambung)

Iklan

Responses

  1. waduh kalo sampe kepisah rombongan gitu pasti susah banget ya… untung banget ada hp. kalo gak ada hp gimana tuh ya bu….

    Iya…memang repot sekali…oleh karena itu jemaah Haji Indonesia atributnya meriah, agar mudah terlihat jika terpisah dari rombongan. Dan disarankan di sana membawa Hape yang bisa dibeli di sana atau hape dari Indonesia dan nomornya Arab.

  2. bu, btw boleh tanya gak, jumroh itu apa ya bu?

    Dulu, saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah swt untuk membunuh anaknya (yang kemudian diganti oleh kambing), maka setan-setan selalu menggoda (dan godaan setan ini sangat terasa saat kita menunaikan Rukun Haji), agar Nabi Ibrahim tidak menuruti perintah Allah. Sebetulnya ini merupakan ujian ketaatan kepada Allah swt. Oleh Nabi Ibrahim, setan tadi dilempar batu kerikil, menggoda lagi, dilempar lagi…sampai berulang-ulang.

    Saat melempar jumroh kita mengikuti tindakan Nabi Ibrahim, melempar kerikil pada tempat dimana dulu setan menggoda Nabi Ibrahim…ada 3 tempat jumroh (tempat melempar), yaitu: Ulo, Wustho, Aqobah. Disini para jamaah Haji melempar kerikil, pada masih-masing jumroh (tempat melempar), dilempar tujuh kerikil…kerikil ini diambil dari Muzdalifah.

  3. Wah..
    nice mbak..
    jadi ngebet pengen pergi haji ni…

  4. nafar awal ya Bu?
    kalau rombongan aldi sih selalu ambil waktu dini hari untuk lempar jumroh…
    sempet lihat Masjid Baiat Bu di Mina? .. sayangnya udah dipager dan digrendel, padahal pembimbing aldi bilang bangunannya masih asli sejak zaman Rasul SAW

    di Mina itu menggunakan kamar mandi pun sebuah perjuangan.. hehehe antrinya itu Masya Allah, mandi 1x sehari cukup buang air pun harus bisa kita kontrol hehehe

    Iya, rombongan kami Nafar awal…
    Memang perlu strategi untuk pakai kamar mandi….juga strategi agar tak buang air besar tiap hari…hahaha

  5. Subhanallah…
    Saya kagum dengan semangat bapak yang menolak menggunakan kursi roda. Semoga sepulang di tanah air, kondisi beliau tetap stabil ya, Bu 🙂
    Saya jadi ingat salah satu atribut emak saya, semacam renda berwarna merah putih, dengan ukuran cukup lebar untuk disematkan diatas kepala 😀

    Hehehe iya..karena banyaknya orang, berjubel, kita mudah kesasar….atau malah mengikuti orang lain.
    Jadi atributnya memang meriah…

  6. thanks buat penjelasannya tentang jumroh bu…. 🙂

    btw di agama katolik, cerita nabi ibrahim itu juga ada lho. sama ceritanya. 😀

    Kan memang asal usul manusia dari Nabi Adam …hehehe

  7. Selamat yaa bu smg mjd hajjah yg mabrur…

    Amien

  8. jadi iri rindu ke baitullah, kapan bisa kesampaian
    minta doanya ya bu

    Semoga doa mas Budi dikabulkan oleh Allah swt. Amien.

  9. semangat Bapk benar2 luar biasa ya Bu …………………..
    semoga menjadi haji dan hajjah yang mabrur dan mabruroh ,aamiin
    salam

    Amien.
    Berdasar cerita Ustad, memang yang penting niatnya, Allah akan memudahkan

  10. […] 3.Menunaikan Rukun Haji:f.Melempar jumroh di Mina […]

  11. saat melempar jumroh sempat mergoki perempuan yg pura2 ngemis padahal mau nyopet…caranya seelendang besarnya itu ditutupkan ke tas sasaran sebelum tangan mencoba masuk! ah, ternyata disana juga ada 😦
    oya salut dengan semangat bapak, bu… 🙂

    Dimana-mana sama ya Mechta….

  12. Wah, semoga jadi hajjah yang mabrur ya Bu…..
    Btw, dalam agama Kristen kisah penyembelihan sedikit berbeda, bukan Ismail, tetapi Ishak atau Isaac.
    Ula: berasal dari kata Awal. Ula ini versi feminin.
    Wustho: berasal dari kata Wasith, yang berarti tengah. wustho inji juga feminin karena jumroh juga feminin.
    Begitulah sedikit penjelasan bahasa Araba dari saya yang belum haji.
    He he….
    Bukan Maret ini saya mau umroh beserta istri dan bapak/mama mertua.
    Doain semoga kancar ya Bu.

    Makasih doanya bang Hery, semoga perjalanan umroh bersama bapak/mama mertua dan nyonya berjalan lancar. Dan semoga bisa bersujud di masjid Al Haram dan masjid Nabawi, serta doa yang bang Hery panjatkan dikabulkan oleh Allah swt. Amien.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: