3.Menunaikan Rukun Haji:g.Thawaf Wada-Jeddah dan kembali ke Jakarta

Di apartemen Aziziah, pagi-pagi sekali para jamaah sudah berebut kamar mandi, dan siap berangkat ke masjid Al Haram untuk melakukan thawaf Wada. Ketika jamaah haji atau umrah akan meninggalkan Makkah setelah selesai menunaikan ibadah haji atau umrah, wajib melakukan thawaf Wada. Bagi mereka yang sakit atau wanita yang sedang haid, boleh tidak melakukannya, cukup dengan mendatangi salah satu pintu Masjid Al Haram sambil berdoa.

Tatacara pelaksanaan thawaf Wada sama seperti thawaf lainnya, dan disini dianjurkan untuk berdoa agar bisa kembali ke Baitullah dan mendoakan keluarga serta  kerabat, agar mendapat  kesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah. Thawaf Wada ini tidak diikuti dengan Sai.

Jam dua pagi bis mulai datang, rombongan naik ke bis sesuai nomornya, kemudian langsung menuju Masjid Al Haram. Tenyata bis sudah tak bisa mendekati Masjid Al Haram dan berhenti dekat jembatan di Misfala. Kami mulai berjalan kaki, suami berjalan pelan-pelan. Dr Rina (dokter jantung, yang juga rombongan jamaah haji) menyarankan agar suami tak harus ikut thawaf melihat kondisi kesehatannya, tapi suami ngotot dan yakin bisa thawaf. Akhirnya Ustad Budi meminta tolong agar pak Joko serta dr Rina menemani saya dan suami. Lantai satu Masjid Al Haram penuh sesak, Askar berjaga ketat sambil bergandengan tangan agar tak ada lagi jamaah yang masuk lantai satu dekat Kabah dan disarankan ke lantai dua. Kebiasaan suami adalah  mengucapkan “Assalamu alaikum” pada askar yang langsung di jawab dengan “Waalaikum salam.” Entah kenapa ada orang yang mau menerobos masuk, dan askar tadi berpaling, akibatnya Ustad Budi bersama pak Joko, dr. Rina, suami dan saya bisa menyelinap di lantai satu mendekati Kabah.

Foto bersama salah satu pembimbing di depan Kabah, selesai thawaf Wada

Kami berpegangan tangan dengan erat, jemari saling bertaut agar tak terlepas, pelan-pelan memasuki lantai satu  mendekati Kabah. Kami memulai thawaf sambil tetap bergandengan tangan, berdoa dan berzikir, kembali air mata menitik, dan makin bercucuran mendengarkan isakan dr. Rina. Baru thawaf lima kali, terdengar azan Subuh, biasanya perempuan diusir tak boleh mendekati Kabah dan harus sholat di bagian belakang. Entah kenapa saat itu kami memutuskan meneruskan thawaf, dan syukurlah mendekati garis akhir (lampu hijau), terdengar tanda mau sholat. Kami tetap tak melepaskan tangan, karena makin padat….tak lama kemudian Imam memulai mengucapkan ….”Allahu Akbar”.

Kami melepaskan tangan dan mulai mengangkat kedua tangan mengikuti imam. Saat rukuk, pak Joko mendorong pantat orang Afrika yang tinggi, yang sholat di depan isterinya, agar tak mengenai wajah isterinya (dr. Rina). Saya menekuk badan agar bisa sholat dan kemudian sujud…lupakan sajadah, lupakan apakah tempat kita sholat bersih…namun hati ini tertuju pada Allah Yang Maha Kuasa. Saat rakaat kedua, selesai membaca surat Al Fatehah, imam membaca surat…entah kenapa, tiba-tiba imam menangis. Kami semua yang memang sudah berderai air mata, sedih meninggalkan Baitullah dan bersyukur bisa sampai kesini, makin terisak. Imam mencoba meneruskan membaca surat, namun malah sesenggukan…di masjid hanya terdengar suara isakan yang makin kecang, suasana terasa sepi ….. haru ….. dan hanya bunyi cicit burung dara melintas yang terdengar. Saya tak bisa menceritakan perasaan batin yang teraduk-aduk saat itu, antara haru, sedih, senang, terpesona, semua menjadi satu.

Akhirnya imam dapat melanjutkan bacaannya. Selesai sholat, kami baru menyadari bahwa kami  sholat hanya 3 (tiga) meter di depan pintu Kabah,  di tempat yang Multazam. Ya Allah, sungguh besar karuniamu, hal yang tadinya tak mungkin dimimpikan, apalagi dalam kondisi kaki suami sakit, justru Engkau memberikan karunia Mu. Dan saya ….. bisa sholat fardhu di depan Kabah, hal yang sangat jarang terjadi, namun entah kenapa, saat itu para perempuan tidak diusir dari dekat Kabah, mungkin karena terlalu penuh sesak manusia, dan Askar sibuk berjaga agar tak ada lagi jamaah yang masuk lantai satu, atau entah kenapa.

Jamaah memenuhi masjid Al Haram sampai ke halaman nya

Sambil berjalan keluar, kami mampir minum air Zam-zam, melemaskan tenggorokan yang kering karena menangis, berdoa semoga kami mendapat kesehatan, dan disembuhkan dari segala penyakit. Kami keluar menuju halaman masjid …… dan rupanya kami  merupakan  rombongan pertama yang sampai di meeting point.

Foto bersama bapak ibu Joko (dr. Rina) selesai Thawaf Wada, di depan Masjid Al Haram

Belakangan, kami mengetahui bahwa teman yang lain banyak yang setia mengikuti untuk thawaf di lantai satu, yang setiap kali thawaf  memutari sekitar 1,1 km, berarti jika 7 kali thawaf adalah menyelesaikan putaran  7,7 km. Syukur Alhamdulillah, saya dan suami mendapat kemudahan.

Masjid Terapung, Jeddah

Setelah rombongan berkumpul, semua menuju ke Maktab Indonesia untuk laporan lebih dulu, di check apakah penumpang di bis telah sesuai  dengan yang tertera pada paspor, baru kami semua dapat berangkat menuju Jeddah. Sampai di Jeddah, rombongan menuju masjid Terapung yang terletak di tepi Laut Merah, sekaligus menunggu waktu sholat Dhuhur. Disini banyak di jual kurma, serta makanan khas Indonesia, seperti: bakwan jagung, bakso, yang penjualnya adalah  orang Indonesia yang tinggal di Jeddah. Tak lama kemudian rombongan Haji dari Indonesia yang lain berdatangan, kami menikmati semilir angin pantai yang nikmat, sambil menunggu waktu sholat.

Di depan masjid Terapung, Jeddah

Dari masjid Terapung, rombongan menuju Ballad, pusat pertokoan di Jeddah yang terkenal dengan parfum dan barang-barang lain yang harganya lumayan murah. Teman-teman banyak yang membeli parfum disini, suami menemukan obat sejenis fluimucil (Acetylcysteine) yang berguna untuk mengencerkan dahak,  buatan Jerman, yang tak kami ketemukan di Makkah maupun Madinah.

Karena sudah capek, dan rasanya pengin segera tidur, saya ditemani dokter Rina hanya duduk-duduk menunggu para suami berjalan-jalan, ada yang mencari kaos, ada yang mencari parfum dan lain-lain. Menjelang jam 17.00 waktu Jeddah, kami memasuki bis, yang menuju rumah makan untuk makan malam, dan setelah makan malam kami semua menuju hotel Inter Continental untuk check in. Jeddah kota internasional, kotanya indah, dan hijau karena adanya aliran air yang dialirkan melalui pipa-pipa. Jangan sampai menabrak pohon di daerah Arab Saudi, karena dendanya sangat mahal, dan rumah yang punya pepohonan berarti rumah orang kaya.

Rasanya adem saat memasuki hotel Inter Continental, kami disambut wellcome drink. Suami mendapatkan peta kota Madinah, Jeddah dan Makkah, di toko yang berada di lantai dasar hotel ini.

Kamar di Inter Continental Hotel, Jeddah. Kasur dan bantalnya sungguh empauk, sayang cuma semalam nginep disini.

Dan begitu memasuki kamar hotel …… aduhh asyiiik …… rasanya pengin segera tidur, namun kembali harus membereskan kopor, dan baju bersih saya tinggal satu stel yang akan dipakai kembali pulang ke Indonesia besok malam. Malam itu kami benar-benar tidur nyenyak, rasanya bahagia sudah bisa sekamar lagi dengan suami.

Kamar mandi yang bersih di Inter Continental Hotel, Jeddah

Hari Kamis siang, tanggal 10 Nopember 2011, sekitar jam 2 siang, rombongan yang akan naik pesawat Garuda sudah berkumpul di lobby. Rasanya sedih berpisah dengan para Muntowif yang selama ini banyak menolong kami, dari minta tolong dicarikan tukang laundry, dibelikan pulsa, diantar ke toko obat, dan lain-lain. Kami saling meminta maaf, dan berdoa semoga suatu ketika bisa ketemu kembali dalam kondisi sehat walafiat. Sebelum berangkat, kami berdoa agar perjalanan berjalan lancar. Sampai di bandara yang khusus untuk haji masih sepi, kami menunggu cukup lama, sempat makan dulu. Menjelang Magrib kami mulai antri untuk pemeriksaan imigrasi yang cukup lama, namun dengan mengobrol antara teman, juga antar para jamaah Haji dari travel lain, hal tersebut tak terlalu melelahkan. Pesawat akhirnya berangkat meninggalkan Jeddah telah 2 (dua) jam……sepanjang perjalanan banyak musik batuk di antara para jamaah Haji, rupanya benar kata orang,  bahwa yang tidak batuk hanyalah unta.

Hari Jumat siang, sekitar jam 14.00 wib pesawat mendarat, saya memeluk si sulung yang menjemput di bandara, lega rasanya sudah kembali ke tanah air.

 

Iklan

14 pemikiran pada “3.Menunaikan Rukun Haji:g.Thawaf Wada-Jeddah dan kembali ke Jakarta

  1. bener2 amazing ya bu perjalanannya. dan ternyata berat juga ya. tapi emang yang didapat jauh lebih berharga…. pas ngebaca bagian imam nya sampe terisak itu bisa kebayang deh bu, pasti terharu banget ya saat itu…

    dan salut buat bapak yang walaupun sakit tapi niatnya masih kuat banget!! 🙂

    waktu balik ke indonesia pasti campur aduk ya bu. antara sedih tapi juga senang dan lega udah bisa pulang ke rumah….

    sekali lagi, selamat ya buat ibu dan bapak…. 🙂

    Terimakasih Arman….memang rasanya campur aduk

  2. hiks….aku jadi ikut terisak, dan merasakan kesedihan harus meninggalkan Masjidil Haram dan jeddah utk menuju pulang kembali ke tanah air 😦 😦

    dan, semoga Ibu Enny dan Bapak menjadi haji/hajjah yang mabrur dan mabruroh ,aamiin
    salam

    Iya bunda, sedih dan terharu….
    Amien….makasih doanya

  3. selalu aja nangis kalo baca postingan ttg ibadah haji……bener2 terharu waktu imamnya nangis……senang yach bisa sholat tepat didepan ka’bah……mudah2an satu saat nanti aku uga dikasih kesempatan utk beribadah haji…..amiin

    Semoga suatu saat bisa sampai ke sana…

  4. Ketika membaca ini saya berkhayal seolah olah ada di makkah untuk naik haji. Selalu ada kisah kebaikan di tanah suci. Mengambil hikmah dari suatu perjalanan adalah sebuah kebaikan. Jadi inget ayahanda saya banyak mengkisahkan tentang pengalaman haji di tanah suci

    Hmmm semoga suatu ketika khayalan tersebut menjadi nyata.

  5. Luar biasa bu En, anugerahNya kepada bapak dan ibu, segalanya dilancarkanNya, benar tiada yang mustahil bagiNya, salam

    Betul mbak, saya bersyukur mendapat kesempatan ke sana…semoga suatu ketika bisa kembali ke sana lagi.

  6. aku juga ikutan terisak ibu…suasana batin yang terasa sekali…subhanallah, rindu rasanya untuk bisa berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. salam bu enni. dan selamat hari ibu.

    Betul Puteri….mengharukan dan betapa keciil kita ini.

  7. Saya rasanya ikutan nangis baca tulisan ibu…
    Sangat mengharukan. Saya baru tau ternyata putaran yang dilakukan saat tawaf itu berkilo2meter juga ya… 🙂
    Alhamdulillah selamat sampai di tanah air 🙂

    Ibadah Haji memerlukan fisik yang kuat karena memang ibadah fisik, dan berpindah tempat terus menerus pada saat yang bersamaan, karena waktunya ditentukan.

  8. Ping-balik: Serial Haji: Penutup…tip agar ibadah haji berjalan lancar «

  9. Teringat cucuran air mata saat berpamitan dg thowaf wada ini… hiks…
    Semoga kita dapat berkunjung lagi kesana ya bu…

    Saya juga berharap begitu Mechta…semoga bisa kesana lagi.

  10. Eman Abdurahman

    Mohon ma’af, apakah suami Ibu, pak Priyadi Dwi Harjito pernah tinggal di Asrama C ITB ? Kalau benar salam kangen kami untuk beliau (kami biasa memanggil beliau dengan pak De). Hampir 30 tahun tidak ketemu, semoga pak De tetap sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiin. Kalau salah, mohon ma’af.

    Salam,
    Eman Abdurahman

    Betul pak Eman, nama suami saya Priadi Dwi Hardjito, saat mahasiswa ITB pernah tinggal di asrama C di jalan Ganesha.
    Senang bertemu dengan bapak…..salam kembali dari suami saya.

  11. Eman Abdurahman

    Subhanallah padahal kita kemarin sama-sama menunaikan ibadah haji Bu. Insya Allah kami mau mengadakan reuni di resepsi Pernikahan Putri Bang Zamhari, tgl. 17 Maret di Ciumbuleuit. Mudah-mudahan Bapak dan Ibu bisa hadir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s