Reuni Keluarga

Kami memang hanya tiga bersaudara, jadi hubungan kakak beradik sangat dekat. Setelah harus melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Negeri, satu per satu dari kami terpaksa harus meninggalkan rumah yang telah membesarkan kami dari kecil, untuk pergi ke kota lain, yang saat itu terasa sangat jauh. Namun dorongan orangtua, serta keinginan untuk menambah wawasan, membuat saya (yang kemudian disusul oleh adik-adik) berani melangkahkan kaki dan tinggal jauh dari ayah ibu. Waktu kecil, pikiran saya, melanjutkan kuliah adalah tetap bisa pulang menengok orangtua seminggu sekali, seperti yang saya lihat dari senior saya. Rasanya saya melihat pancaran kebahagiaan para senior yang pulang ke rumah, dan sore hari jalan-jalan ke pertokoan di kota kecil kami. Kota kecil kami relatif sepi saat itu, kota yang dihuni oleh para pensiunan, serta para pekerja pemerintah (Pegawai Negeri), dengan deretan pertokoan berpusat di dekat alun-alun dan Tugu, sehingga  kami mudah ketemu teman lama saat jalan-jalan ke pertokoan.

Tiga bersaudara, satu universitas, satu Fakultas...dan syukurlah bekerjanya ditempat yang berbeda.

Benar yang dikatakan oleh teman saya, sekali kita melangkahkan kaki ke luar rumah untuk melanjutkan kuliah, jika diibaratkan sebagai burung, kita telah belajar terbang yang akan makin tinggi terbangnya. Kenyataannya, saya hanya bisa pulang sekali setahun karena kepadatan kuliah, dan selesai kuliah juga harus bekerja yang jauh dari kota kecilku.

Mungkin takdir juga yang membawaku ke ibu kota, karena saat itu, setiap mencoba mencari pekerjaan di ibukota propinsi, selalu dikatakan harus dialamatkan ke Kantor Pusat perusahaan tersebut, yang lokasinya di ibu kota negara ini. Apaboleh buat, padahal awalnya saya ingin bekerja di kota yang masih dekat dengan kota kecilku, serta kota yang tak terlalu ramai. Kami tiga bersaudara, sekolah dari  SD sampai SMA di sekolah yang  sama (hanya berbeda saat di SMP), meneruskan di Perguruan Tinggi Negeri yang sama dan Fakultas yang sama, syukurlah akhirnya selesai kuliah memilih bidang pekerjaan yang berbeda. Setelah terpencar, masing-masing menikah dan punya keluarga sendiri, pertemuan lengkap seluruh keluarga makin sulit dilakukan karena masing-masing sibuk mengurus keluarganya sendiri. Kami termasuk keluarga yang suami isteri bekerja di luar rumah, sehingga waktu libur digunakan benar-benar untuk keluarga.

Sekarang, anak-anak sudah besar dan telah memiliki kehidupan sendiri. Saya dan suami mempunyai prinsip, bahwa  pernikahan dikatakan berhasil, jika masing-masing pasangan bisa berkarir sesuai keinginannya (tentu saja tanpa melupakan perhatian dan pendidikan anak-anak nya), serta masing-masing tetap punya room sendiri-sendiri, untuk melaksanakan hobbynya…atau melakukan sesuatu yang istilah sekarang dinamakan sebagai “me time“. Hal ini sangat perlu, karena jangan sampai kita terperangkap dalam kehidupan berkeluarga, namun melupakan kebahagiaan pasangan maupun anggota keluarga yang lain. Tentu saja, keberhasilan ini perlu dukungan asisten rumah tangga yang kuat, sehingga kita masih punya waktu di luar jam kerja untuk sekedar berjalan-jalan bersama anak dan suami/isteri. Kesibukan seperti ini, yang membuat saya dan adik-adik saya sulit ketemu, jadi akhirnya muncul istilah…”jika tak ada kabar apa-apa, artinya baik-baik saja.” Akibatnya kadang memang jadi menggelikan, jika saya menelpon adik atau saya menerima telepon,  pertanyaan pertama adalah, apa semua baik-baik saja?

Setelah anak-anak cukup besar, suami berkarir berbeda kota dengan saya, sehingga saat liburan sekolah, anak-anak bisa menemani ayahnya. Betapa bahagia sang ayah, saat si bungsu bisa kuliah S1 dan dilanjutkan S2 di kota yang sama, sehingga selama beberapa tahun ganti saya yang hanya sendirian di rumah Jakarta ditemani si mbak, karena baik si sulung maupun si bungsu kuliah di luar Jakarta. Liburan imlek kemarin, merupakan hari libur yang cukup panjang.  Dua hari pertama saya justru membereskan rumah, yang berantakan karena selama seminggu sebelumnya ada renovasi kecil-kecil an di rumah, yang membuat rumah penuh debu. Jadi saya dan si mbak sibuk bersih-bersih rumah agar saat adik-adik datang dan menginap di rumah, paling tidak wajah rumah kami sudah lumayan, walau sebetulnya adik saya yang dari Semarang tak mengharapkan hal yang muluk-muluk.

Foto bersama adik, anak, keponakan, menantu dan cucu

Jakarta yang terus menerus diguyur hujan lebat membuat malas keluar rumah, syukurlah saat adik bersama anak-anak nya datang, cuaca Jakarta cerah, sehingga kami bisa berfoto bersama di halaman depan rumah yang sempit. Betapa senangnya bisa berkumpul bersama, walau suami tak bisa datang ke Jakarta karena sibuk dengan tugasnya di Bandung. Memang tak lengkap, karena anak-anak adik saya yang di Semarang hanya ada satu orang yang bisa datang, dan anak bungsu saya juga sedang di luar negeri, namun cukuplah,  acara keluarga meriah dengan canda tawa diselingi tangisan bayi. Dan karena capek beres-beres rumah, saya hanya menyediakan minuman, lainnya cukup menelpon. Pagi-pagi, saya menelepon J.Co (donut) untuk mengirim dua lusin ke rumah, dan untuk makan siang menelpon bakmi Gajah Mada, setelah masing-masing orang dicatat ingin makan apa. Ternyata justru hal ini yang disenangi para keponakan, mereka berkata..”Wahh bude, saya sudah mimpi mau makan bakmi Gajah Mada, belum sempat aja, ternyata di rumah bude disuguhi bakmi Gajah Mada.” Berbagai makanan yang bisa dipesan dan dikirim ke rumah, sangat membantu keluarga seperti saya. Selain masing-masing orang bisa pesan sesuai selera, juga kita bisa menanyakan apa yang diinginkan untuk dipesan. Dan siapa yang paling dikenal, jika kami mau pesan bakmi GM, atau J.Co atau pizza dan yang lain-lain? Ternyata bukan nama saya, namun nama mbak Tiah, karena dia yang selama ini mendapatkan tugas menelepon untuk memesan makanan.

Reuni ini hanya berlangsung sampai selesai makan siang, karena masing-masing masih ada acara yang lain mumpung masih di Jakarta, jadi selesai berfoto bersama, kami saling melambaikan tangan, tinggal adik yang dari Semarang  tidur di rumah saya dua malam, sebelum nya tidur di rumah anak nya di Tangerang dan kembali ke Semarang dari Tangerang. Selama ada adik saya, kami hanya mengobrol, membaca, menonton TV, dan tak ingin kemana-mana apalagi cuaca kurang menyenangkan, mau jalan-jalan ke mal juga malas. Jadi, hanya menikmati mengobrol di rumah saja juga cukup  menyenangkan.

Iklan

14 pemikiran pada “Reuni Keluarga

  1. waaah seru banget ya bu bisa ngumpul gitu! iya semakin lama semakin susah untuk bisa ngumpul sama sodara2 gitu ya bu.. jadi emang moment ngumpul begini jadi hal yang sangat special! 😀

    iya kalo rame2 mah emang mendingan pesen delivery aja ya bu. selain jadi tiap orang bisa mesen kesukaannya sendiri2, juga biar gak repot. kebayang kalo harus masak buat begitu banyak orang, repotnya kayak apa… hahaha.

    btw, ibu justru keliatan paling muda lho dibanding adik2… hehehe. beneran nih, bukan sok sok mau muji, tapi emang kenyataan. 😀

    Memang seru banget….dan seneng walau hanya ketemu beberapa jam.
    Kesibukan masing-masing membuat keluarga susah untuk berkumpul….biasanya acara kumpul2 kalau ada acara nikahan.

  2. Home delivery itu memang praktis ya bu…saya juga sering pakai waktu saya mudik ke Jkt. Kadang tiba-tiba banyak tamu datang, sedangkan kalau mau ajak semua ke restoran, butuh mobil yang tidak sedikit. Jadi delivery sering kami pakai. Lucunya waktu kita kopdar di rumah, kami pesan delivery ke SatayHouse Senayan, butuh waktu lamaaa sekali, ada 1.5 jam. Padahal kalau jalan kaki ke sana cuma 10 menit yah hehehe.

    Aduh jadi pingin Bakmi GM nih bu

    Pesan ke Satay house 1,5 jam? Bisa dipesan juga ya…tapi mesti siap-siap lamanya ya.
    Saya baru memesan yang via delivery order: KFC, J.Co, martabak, bakmi GM, pizza hut.
    Ada juga restoran yang bisa dipesan berbagai makanan dekat rumah, jadi pas ada tamu teman suami dan saya tak di rumah, tinggal pesan dari restoran tersebut.

  3. Bagi saya juga, kumpul bareng keluarga besar itu adalah hal paling mewah yang bisa dilakukan. Seperti yg pernah saya ceritakan setahun lalu, kesempatan kumpul bareng adik-adik beserta keluarga masing-masing tidak boleh disia-siakan. Harus dimanfaatkan secara maksimal…

    Sama seperti Mas Arman, saya juga melihat kalau Bu Enny yang paling muda di antara bertiga.. Awet muda banget ternyata ya Bu.. Jangan-jangan karena efek ngeblog ya? Hehehe… 🙂

    Hahaha….mungkin karena ngeblog? Mungkin aja Uda…
    Karena ngeblog memang mengurangi stres, dan jadi banyak teman.

  4. Bu Enny, saya sampai sekarang suka bertanya-tanya kalau orang di kota kecil kita menyebut Tugu. Itu tugunya (yang benar-benar berbentuk tugu) ada di sebelah mana sih? Apa dulu memang ada tugu betulan, karena sepanjang ingatan saya, tidak pernah lihat tugunya. Tapi kalau orang bilang Tugu, ya pasti daerah pertokoan itu maksudnya.

    Bu, senang ya bisa berkumpul bersama keluarga. Saya kalau pulang, biasanya ya di rumah saja. Lebih enak di rumah, mengobrol bareng. Kalau bisa makan pesan saja. Tapi kalau ibu saya penginnya masak. Akibatnya, waktu untuk mengobrol jadi berkurang. Tapi bagaimanapun, bersama keluarga itu menyenangkan ya Bu…

    (kok tiba-tiba saya jadi kangen kuliner Madiun ya? hehehehe… pecel dengan kunci yg masih muda dan bunga turi, gado-gado Pak Tomo, dawet suronatan, tepo tahu… aduuuuh….)

    Dulu di tengah perempatan jalan Sudirman itu memang ada tugunya, dan tugu satu-satunya di kota Madiun, maka patokan selalu Tugu.
    Dan lucunya, dulu kalau nggak foto di Miraco,terasa hasilnya kurang bagus.
    Saya kangen sate di pasar kawak…hehehe…..
    Dan dawet Suronatan…

  5. waawww… keluarga besar ya Bu… semoga saya dan adik2 saya juga bisa kumpul gini dan bukan hanya karena ada kawinan keluarga, hahaha… kalo kami ngumpul pasti ga cukup makanannya kalo cuma pesan Bu, perutnya porsi gentong semuaaa, hehehe..

    Hehehe…asalnya dari tiga, langsung bertambah dari banyak (walau belum berkumpul semua)

  6. Wah seru! Enak ya Bu bisa terus akur sampai sekarang… yang lebih patut disyukuri adalah kesehatan dan berkah selalu dari Yang Kuasa…

    Syukurlah, kami bisa kompak sampai sekarang, maklum hanya bertiga…
    Dan memang kesehatan paling penting

  7. Wah kehangatan yang tak terkira.. Sebagai burung yang sedang terbang keluar daerah untuk kuliah aku juga sangat merasakan apa yang Mba paparkan.. Semoga kelak aku sukses seperti Mba dan keluarga..

    Hehehe…silaturahmi antara saudara memang harus dipertahankan, walau terkadang sulit untuk ketemu

  8. soyjoy76

    Saya percaya hidup itu akan menemukan keseimbangan, Bu Enny. Saya dan 3 orang kakak dan adik adalah 4 bersaudara yang memiliki hubungan sangat dekat dan akur. Ketika 3 diantaranya menikah (termasuk saya), mulai lah kami menyesuaikan dengan kehidupan baru dan jadi agak jarang bertemu satu sama lain. Namun saya percaya, hidup akan menemukan keseimbangannya, dimana hubungan keluarga-keluarga baru ini mulai berjalan mapan sementara sesama saudara tidak merasa terabaikan. Semoga…

    Idem dengan mas Arman dan Uda Vizon, awalnya melihat foto pertama saya pikir Bu Enny bungsu dari 3 bersaudara loh..

    Anderson,
    Komentarmu dalam banget, tapi memang seperti itulah kehidupan, kita selalu mencari dan membuat keseimbangan terus menerus, karena kondisi dan situasi yang selalu berubah. Namun dengan niat baik, semuanya akan mudah diatasi, dan hubungan antar sesama akan baik-baik saja.

  9. Bu, saya baru tau loh ternyata Jco bisa delivery ya.. *aih kemana aja sih aku* hehehe…

    seneng deh baca cerita kumpul atau traveling keluarga… karena suasana hati yg bahagia tercermin dalam tulisan ya Bu.. 😀

    jadi kepikiran kalau kumpul keluarga apa delivery juga aja ya.. biar praktis dan nggak capek.. kan yg penting kumpul2nya ya Bu.. 😀

    btw, sama nih dgn saya Bu.. saya juga 3 bersaudara.. untungnya kami tinggal di kota yg sama.. jd akhir pekan ya kumpul2 😀

  10. mba Tiaaaa…
    aku juga baru tahu kalo Jco bisa delivery…hihihi..

    Bu Enny…seru banget acara reuni nya…
    Keluarga besar kumpul semua..dan memang lebih praktis pesan makanan dari pada masak…*kebayang cuci piring nya…hihihi…pemalas*

    Untunglah aku masih satu kota dengan ke 2 adek ku…dan mereka juga masih kuliah dan tinggal di rumah…tapi itu pun kalo mau ketemu harus janjian dan sms an dulu…ckckck…suka pada sok sibuk emang mereka ituh…hihihi…

  11. Seru banget ya, Bu…
    Mengumpulkan keluarga sebanyak itu, padahal tidak sedang ada event besar keluarga 🙂
    Saya jadi penasaran sama bakmi gajah mada itu…

  12. Bu En, senengnya kumpul trio keluarga. Kumpul bareng biasanya dibarengi nostalgia masa kecil, sharing tentang anak cucu kebayang serunya bu En. Salam

  13. alhamdulillah…senang ya bu, bisa ketemu ‘nyaris lengkap’ begitu… dan saya sangat senang membaca prinsip berkeluarga yg ibu sampaikan disini…dicatat langsung! hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s