Oleh: edratna | Februari 1, 2012

Sepeda motor vs Bajaj

Hari-hari ini bagi yang tinggal di Jakarta, makin terasa macetnya. Jika sepuluh tahun yang lalu jarak tempuh masih bisa dicapai dalam waktu 10 menit, sekarang sudah bersyukur jika pada jarak yang sama,  bisa dicapai dalam waktu  setengah jam sampai dengan satu jam. Kadang melintasi jalan Fatmawati saja membutuhkan waktu lebih dari satu jam, bahkan saya pernah dari daerah belakang Citos (Cilandak Town Square) ke Brawijaya Square mencapai 2,5 jam, yang dalam kondisi normal  rata-rata bisa ditempuh paling lama setengah jam. Jika sore hari kemacetan bertambah parah, setiap kendaraan adu cepat, serudak-seruduk, mencoba melalui celah agar bisa cepat sampai tempat tujuan. Apalagi jika hujan, jangan ditanya lagi, bukan hanya padat merayap (istilah di radio) tapi sudah benar-benar berhenti. Namun jika hujan lebat, jalanan lumayan agak longgar karena sementara para pengendara sepeda motor berteduh dulu. Kadang tak jelas apa penyebab kemacetan tersebut, anehnya ada waktu tertentu, jalanan lancar, inipun menimbulkan pertanyaan.

Suatu hari, mendung disertai hujan rintik-rintik, saat saya keluar dari sebuah kantor. Setelah nyaris 15 menit berdiri tak ada taksi kosong yang lewat, saya berjalan kaki dan ketemu dengan kancil (sejenis bajaj). Pak sopir mau mengantar ke rumah saya, jadi untuk menghindari kemacetan, kami mencoba melalui jalan tikus. Melewati jalan Radio Dalam sudah penuh sesak, namun rupanya para pengendara sepeda motor tak sabar, membunyikan klakson dan mencoba lewat dari sebelah kiri. Dan karena bajaj sudah berada disebelah kiri mobil yang berjejer dua, maka sepeda motor tadi tak bisa lewat. Saat berbelok ke kiri, nyaris terjadi serempetan, maka pengendara sepeda motor mulai mengumpat, pak bajaj mengatakan, kalau mau menyalip jangan dari sebelah kiri.

Pengendara sepeda motor tak terima, terjadilah perang kata. Saya tentu saja kawatir, jadi saya bilang pada pak bajaj…”Sudah pak, yang waras (yang sehat) mengalah. Bapak kan mencari uang untuk anak isteri. Jangan diladeni orang marah, nggak ada gunanya.” Pak bajaj diam, mengabaikan makian pengendara sepeda motor. Rupanya si pengendara sepeda motor tak puas, setelah menyalip bajaj yang kami tumpangi, dia sengaja berjalan pelan persis di depan bajaj. Pak bajaj mulai senewen, namun saya berusaha menyabarkan, “Pak, kalau berkelahi nggak ada yang untung, bapak pulang babak belur, kan kasihan anak isteri. Begini saja, kita sabar saja membuntuti dia, kalau dia pelan ya kita pelan, nanti di depan kan ada jalan bercabang, kalau pengendara motor belok kiri, kita belok kanan, atau sebaliknya. Yang penting bapak mengantar sampai rumah saya, nanti saya tambah bayarannya.” Syukurlah pak bajaj mendengarkan, pas di jalan bercabang sipengendara motor sengaja menunggu, tapi pak bajaj tak mau mendahului, jadi saat si pengendara sepeda motor belok kiri, kami belok kanan. Saya masih kawatir, karena si pengendara motor berhenti melihat kami sambil melototkan mata, namun akhirnya dia meneruskan perjalanan. Aduhh rasanya lega sekali.

Trotoar pun dijejali pengendara sepeda motor, pejalan kaki pun dikalahkan.

Trotoar pun dijejali pengendara sepeda motor, pejalan kaki pun dikalahkan.

Dua hari kemudian saya mesti keluar rumah pagi-pagi, agar sekalian bisa olahraga saya biasa berjalan kaki sampai ke ujung jalan Fatmawati, menyeberang, baru menunggu taksi lewat. Saya berdua si sulung, karena kebetulan kantornya saya lewati, sehingga kami bisa naik taksi berdua. Jalanan sudah sangat macet, padahal sudah jam 7.30 wib, yang berarti para karyawan yang masuk jam 8.00 wib semestinya sudah sampai di kantor nya. Berkali-kali taksi lewat, namun semuanya penuh. Kami menunggu di depan sebuah bengkel, yang halaman nya luas, serta trotoar di depan nya agak lapang. Risikonya para pengendara sepeda motor ramai-ramai melalui trotoar, namun jika kami menunggu pada daerah yang ada pepohonannya, maka tak terlihat oleh sopir taksi kalau ada penumpang menunggu. Begitu banyaknya pengendara sepeda motor, sampai ada 4 baris, ditambah dua barisan mobil, bisa dibayangkan betapa penuh sesaknya.

Anak sulung saya maju, menjaga agar saya tak terserempet sepeda motor, namun saya kawatir, karena dari raut wajahnya terlihat dia mulai sebal, karena para pengendara sepeda motor itu tetap ngebut saat melalui trotoar. Saya mulai mengeluarkan hape berkamera, dan memotret mereka, entah kenapa pengendara sepeda motor itu punya rasa sungkan juga, karena mereka mulai membelok ke arah jalan raya. Begitu kamera tak dipasang, mereka mulai lagi….bayangkan dua sampai tiga sepeda motor melalui trotoar, sehingga jika ditambah dengan yang berda di jalan raya, ada 5 deretan sepeda motor. Riuh rendah suara kendaraan, ditambah klakson saling bersahutan, rasanya kok pagi-pagi sudah mulai pening ya. Saya membayangkan, betapa kalau kita tak tahan mental, maka kemungkinan mudah sekali untuk naik darah. Saya bilang kepada anak saya, mungkin mereka juga capek, kena angin, hujan, mungkin berangkat dari rumah selepas Subuh, dan belum tentu sudah sarapan. Anak saya menjawab, itu tak bisa dipakai sebagai alasan, seharusnya mereka tidak ngebut di trotoar, berapa kali ibu tadi nyaris keserempet. Saya tak meneruskan argumentasi, karena memang apa yang dikatakan anak saya benar. Bayangkan, menunggu taksi lewat dari pinggir jalan, di trotoar, tetap ada risiko kena serempet sepeda motor.

Ibu-ibu juga tak segan melintasi trotoar

Syukurlah setelah menunggu setengah jam, ada taksi Expres yang kosong, saya naik berdua anak saya. Perjalanan lambat sekali, sekarang ini justru perjalanan dari dan ke arah blok M lebih lambat, kemudian relatif lancar dari blok M ke arah Semanggi. Setelah menurunkan anak saya di daerah Kuningan, taksi melanjutkan perjalanan ke arah jalan Juanda. Mendung semakin tebal dan rata, sinar matahari tak terlihat lagi,  pengendara sepeda motor makin mengebut agar segera sampai di tempat tujuan. Saya ingat uang tunai di kantong semakin menipis, jadi saya mesti mampir ke ATM, yang kebetulan saya lewati. Saya berhitung, jika saya ambil uang dari ATM, apakah hujan akan turun? Karena, jika hujan turun, saya pasti akan basah kuyup sampai kantor, walaupun memakai payung, mengingat mendung yang menggantung makin tebal. Saya buru-buru turun dari taksi, ambil ATM… berjalan kaki ke gedung di seberangnya, syukurlah, begitu menginjakkan kaki masuk gedung, hujan turun dengan lebatnya.

Setelah selesai rapat, hari masih siang, wahh lumayah nih, jalanan masih agak longgar karena yang lain masih di kantor. Ternyata, begitu memasuki jalan Merdeka Utara, kemudian belok ke Merdeka Barat, jalan mulai tersendat, taksi jalan pelan-pelan menuju Jakarta Selatan. Menjelang blok M, jalan makin macet, taksi yang  kami tumpangi berjalan pelan menyusuri jalan Fatmawati, saya akhirnya turun di depan Dunkin Donat,  sedang teman saya meneruskan perjalanan ke arah Cinere. Saya berjalan pelan ke arah rumah saya, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya, rasanya lega….menyusuri jalan kecil yang sepi. Sampai rumah disambut ocehan cucu saya, serta tangan yang menggapai minta digendong….hmm bahagianya sampai rumah.

Iklan

Responses

  1. Dengan tingkat kemacetan setinggi itu, berapa jam waktu kita terbuang di jalan …. secara agregat berapa HOK yang terhilang …. ketidakefisienan produktivitas, blunder yang ruwet ya bu En. ..hmm bahagianya sampai rumah… pelukan cucu hapuskan capai nih eyang putri, salam

  2. Masya Allah, itu pengendara motor di kisah pertama kok menjijikkan banget sikapnya… 😦 Kasihan..

    Dan inilah potret kerasnya hidup di ibukota. 😦 Semua tentu punya alasan dalam melanggar aturan. Lagi2 kembali ke alasan mencari rejeki. 😐

  3. Saya malah diomeli pengendara motor
    “ibu jalannya cepat dikit, pelan amat ”
    pdhal saya di trotoar

  4. haduh.. emang parah masalah lalu lintas di jakarta ya bu…

    masalahnya adalah orang2 udah gak saling peduli lagi. polisi juga gak bisa diharepin. penegak hukum nya malah suka melanggar hukum. pengendara juga mau seenak2nya sendiri. padahal justru kalo saling dulu2an gitu malah bikin stuck dan macet semua. jadi tambah lama.

    yah susah emang ya bu…

    beberapa waktu yang lalu, disini sempat angin besar dan ada beberapa perempatan lampu merah, lampunya mati. sebelum polisi dateng untuk mengatur, saya ngeliat orang2 tetep tertib. mereka gantian ngasih lewat. jadi setiap arah gantian lewat mobilnya. saya ngebatin, coba kalo di jakarta, pasti semua langsung maju dan stuck di tengah2 akhirnya gak bisa lewat semua. coba kalo kayak gini ya, semua orang sabar ngasih jalan, akhirnya semua tetep bisa lewat.

  5. Amarah memang banyak tercipta di jalanan semacam itu, Bu. Sabar seringkali hilang di situ.

    Nah, yang mengambil jalur pejalan kaki begitulah yang sudah sering terjadi. Saya sering kesal kalau melihat motor berjalan di trotoar begitu, Bu. Kalau sudah begitu, biasanya saya berjalan di tengah-tengah trotoar, biar motor di belakang saya susah melewati saya.

  6. bu, sepertinya saya datang ke jakarta waktu kota ini sudah sedemikian macetnya ya? jadi, saya beneran suka stres kalau di jalan. mesti sabar dan entahlah, mesti pakai cara apa untuk bisa betul-betul sabar di jalanan yg macet dan para pengendara motor suka seenaknya.

    dan lagi bu, polusi di jalanan itu lo, benar-benar pekat. saya sering batuk setiap kali ke luar rumah… 😦

    bu, saya bersyukur bisa bekerja di rumah. jadi tidak setiap hari mesti menghadapi kemacetan. saya tidak bisa membayangkan jika harus seperti itu. makanya saya sering berpikir, orang jakarta itu sabar-sabar. hahaha. soalnya tiap hari mengalami kemacetan, dan mereka masih mau menjalaninya. kalau saya? sudah angkat tangan deh heheheh.

    dan lagi bu, kami juga sampai sekarang masih memutuskan untuk tinggal di jakarta (tidak di pinggiran jakarta), jadi ke mana-mana masih relatif dekat. walaupun yaaa, kalau macet di jalan waktu banyak terbuang. memang sudah seharusnya kendaraan umum di sini diperbaiki, jadi banyak yg mau beralih ke kendaraan umum. kalau tidak, semua akan naik kendaraan pribadi dan jalanan penuh.

  7. Buuuu..
    memang lama lama di jalan jadi bikin stres ya bu…

    Aku baru merasakan nya setelah nganter jemput Kayla SD…
    Aku pake motor juga…tapi gak brangasan kayak yang di cerita ibu lhooo…
    Dan gak pernah naik naik trotoar lhoooo…

  8. repotnya di jalan raya terjebak macet, kita sudah hati-hati tak jarang yang salah justru marah-marah merasa menang seperti pada awal postingan ini, ngotot lagi

  9. inilah efek begitu mudahnya mendapatkan kendaraan dan tak dibarengi dengan perluasan jalan ….

    yah itulah wajah ibukota bu, dan sekarangpun di kota Serang sudah mulai terasa sesak ….. ga seperti 10 tahun lalu

  10. Saya suka ngeri Bu kalo ngeliat kemacetan Jakarta.. saya sering memantaunya via televisi Indonesia yang saya tangkap siarannya melalui pancaran parabola…

    Hmmm, apa Bu Enny masih kerasan? Ngga ada niat buat kembali ke desa, Bu? 😉

  11. Jakarta semakin sesak saja ya, Bu?

  12. udah lama ga buka blognya bu edratna… huwaaaa, kangen baca2 tulisan ibu. skrg saya udah kerja di jakartaaaa pusat, pegawai negeri tepatnya. hufh…kena macet tiap hari.

  13. mbak Enny, koq iso to perjalanan bajaj dan taksi iso dadi crito loh

  14. sesama pengendara motor aja jengkel kok bu sama pengendara yang arogan begitu. yang arogan jengkel sama yang alon2 waton kelakon. suami sy yg orang sunda itu ga suka terburu2, sampai rebutan di lampu merah misalnya, memang sih kan cuma selisih sekian menit ya.

    bener kata anak ibu, apapun alasannya, trotoar bukan haknya, dan ga ada alasan dia lebih galak toh.

    makanya bu, saya mah banyak bersyukur deh udah ga harus ngantor, jadi sama sekali ga nyicipin huru hara macet, cuma kebagian ceritanya aja dari temen2 ya termasuk ibu ini.

    pertama sekali bekerja dulu, saya pilih2, ga mau jauh2 kantornya, klo pun sekali waktu dapat yg jauh, saya pilih ngekos, tp waktu itu masih single, lha ibu kan ga mungkin ngekos ya hehehe

    semoga Ibu selalu dijaga dan diberi keselamatan dalam perjalanan ke kantor dan pulang ke rumah setiap hari ya

  15. ..
    jalanan makin lama makin gak aman, selalu hati-hati ya Buk..
    ..

  16. sudah begitu sempit, tapi kenapa org pade kesana semua ya bu hehehe

  17. Di sini ga banyaj motor, dan mobil sangat taat lampu lantas, jaadi di jalan biar macet pun tetap bisa sampai tujuan dengan cepat. Mungkin karena jumlah kendaraannya jauh berbeda kali Bu ya. Di Indo kan mobil dan motor banyak sekali, ditambah tabiat orangnya ga sabaran, jalanan jadi ga damai deh 😦

  18. Mbak.. saya kebetulan juga pengendara motor sebagai alternatif.
    Sebenarnya saya lebih suka naik kereta, tapi karena jadwal yang sering kali meleset, akhirnya saya mengunakan sepeda motor lagi.

    Saya pun terkadang merasakan begitu membosankannya perilaku sepeda motor lain karena begitu ‘pelit’ nya oknum pengendara motor yang kemudian sangat membahayakan bagi orang lain.

    Saya turut prihatin dengan kondisi ini… hmm… kapan ya bisa merasakan nyamannya berkendara dengan fasilitas umum? rasanya kita sudah saatnya menggunakan fasum yang masal seperti di negara2 maju.

  19. jakarta sudah seperti itu ya Bu
    sekarang ini di Jogja juga sudah mulai
    kerasa macetnya…

  20. Kemungkinan ini menandakan semakin banyak penjualan sepeda motor ya mbak, dan semakin banyak pembeli sepeda motor. Memang dia lebih fleksibel di jalan raya. Sambil berangkat kerja aja para pengendara sepeda motor bisa sambil bawa barang dagangan yang bisa dijual entah nge-drop barang di jalan atau ke teman2 di kantornya. Berarti ini kan menandakan ekonomi Indonesia semakin baik.

    Kata salah satu dealer mobil (bukan karena aku mau beli mobil, tapi cuma lihat2 doang sih), di tahun 2011 jumlah penjualan mobil lebih tinggi daripada jumlah penjualan sepeda motor. Apalagi sekarang banyak model2 mobil keluaran terbaru dan sepertinya di jalan2 juga banyak mobil baru sliweran loh. Berarti kan bisa dikatakan ini menandakan ada peningkatan ekonomi penduduk Indonesia ya.

    Tahun ini katanya akan dipasarkan mobil yang model dan harga yang akan meng-“hit” Avanza. Model baru dengan harga lebuh rendah dar harga Avanza. Dan yang saat ini baru mampu naik sepeda motor dalam waktu dekat akan mampu membeli mobil. Tentu yang akan dibeli mobil jenis yang begini ya. Model baru harga terjangkau.

    Biyuh biyuh…..perekonomian membaik tapi lak yo semakin ruwet ya Jakarta…… “wait and see”

  21. Di Jakarta perlu jantung yang kuat dan energi berlimpah. Dan kalau bisa mobil peredam suara, supir yang canggih sekalian. Atau sekalian saja punya mobil yang ada wc dan lemari esnya bu, biar hidup di jalan saja … duhhh

  22. Elus dada, tarik nafas, uhuk-uhuk…

  23. Waktu kita banyak yang hilang di jalan ya Bu… Untungnya saya sudah di Yogya, walau sekarang juga macet tetapi tidak separah Jakarta. Mudah-mudahan orang Jakarta di berikan tambahan kekuatan

  24. Mungkin jika pengguna jalan lebih tertib, kemacetan dapat dihindari.
    Kadang yg menyebalkan apbl kebelet buang air di tengah hujan deras & terjebak macet. hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: