Oleh: edratna | Februari 17, 2012

Mencoba “Bagel” di Angel-in-us Coffee

Saya beberapa kali melewati cafe ini, sejak dibuka pertama kali bersamaan dengan pembukaan Lotte Mart di jalan Fatmawati. Karena ada tulisan Coffee, dan saya sudah menghindari kopi sejak bertahun lalu, maka saya mengabaikan cafe ini. Sampai suatu hari, setelah membayar tagihan kartu kredit melalui Bank, saya bersama menantu dan cucu pergi ke Lotte Mart, yang dituju bukan Lotte Mart nya karena saya malas antri panjang saat membayar apalagi membawa bayi, tapi mau lihat-lihat vest untuk si sulung di Calisto.

Angel-in-us Coffee

Saat itu belum mendekati makan siang, jadi tempat makan di lantai dasar masih kosong, saya agak malas untuk makan di Lotteria atau Solaria karena porsinya besar, juga malas naik ke lantai atas. Jadi saya mengajak menantu saya untuk mencoba camilan di Cafe Angel-in-us Coffee. Cafe ini menarik, dan relatif tak banyak pengunjung saat itu, hanya ada dua perempuan yang asyik bercakap-cakap di meja paling pojok. Saat membaca menu, saya menemukan menu Bagel…..wahh perlu di coba, selama ini saya hanya tahu roti Bagel dari cerita di novel (belum pernah mencoba), yang tokoh ceritanya sarapan Bagel setiap paginya. Bagel ini memang belum terlalu akrab disajikan di cafe (atau saya yang belum tahu ya?),  kita lebih terbiasa menemui menu croisant dibanding bagel, namun roti Bagel ini merupakan menu sarapan yang umum dilakukan di sejumlah kota di Eropa atau Amerika.

Roti bagel, keras dan renyah, namun lembut terasa di mulut (gambar diambil dari chicago.bagel.com)

Roti Bagel berbentuk bundar, berlubang ditengah, terlihat agak keras. Untuk memakannya perlu dipanaskan terlebih dahulu, saat dimakan memang terasa keras, namun kemudian terasa renyah. Umumnya saat makan Bagel disajikan bersama tambahan lainnya, seperti selai, cheese dan lain-lain.  Makan roti Bagel disertai minum mocha sungguh sedap, sambil berbincang ringan. Wahh…andaikata masih ada toko buku Gramedia disini (dulu ada toko buku Gramedia di lantai 2, saat Lotte Mart ini masih digunakan oleh D’Best), mungkin saya akan sering kesini, menikmati membaca buku, menyantap sepotong roti bagel bersama minuman ringan yang hangat lain, menikmati lalu lalang para pembeli, bisa-bisa lupa pulang.

Kursi yang empuk untuk bersantai, membuat krasan, saat menikmati capucino dan roti bagel


Entah kenapa, tenyata pada mingguan Kompas berikutnya, pada halaman 16, terdapat tulisan tentang “Menjajal Sensasi Bagel”. Pada tulisan tersebut, tertulis bahwa pada mulanya di Jakarta, Bagel hanya disajikan pada hotel-hotel berbintang, untuk mengakomodasi turis asing, terutama untuk sarapan. Bagel juga diproduksi oleh Vineth Bakery yang membuat aneka roti dan pastry. Konsep “warung” yang khusus menjual Bagel, baru diperkenalkan oleh BagelBagel di kawasan Kemang pada tahun 2011. Selain ekspatriat, sebagian besar pembelinya justru mereka yang baru pertama kali berkenalan dengan bagel di kedai BagelBagel tersebut. Bagel dapat dimakan sebagaimana sandwich, yang diberi variasi, seperti salad tuna, thai spicy chicken dan lain-lain.

Konon, roti bagel ini mulai dibuat pada awal abad ke-17, dikalangan masyarakat Yunani di Eropa Timur, yang mengenal aturan tentang bahan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Bagel aslinya tidak mengandung produk turunan hewan, seperti: telur, susu dan daging. Selain BagelBagel, pendatang baru lain yang memperkenalkan Bagel di Jakarta adalah Delico Bagel. Gerai Delico khusus menjual bagel untuk dibawa pulang. Gerai ini berada di Plaza Senayan dan Plaza Indonesia.

Sambil menikmati renyahnya Bagel, saya membayangkan betapa makin banyaknya jenis makanan asing yang menyerbu Indonesia. Di satu sisi kita jadi punya berbagai pilihan, dan saya bisa makan bagel sambil membayangkan tokoh novel yang saya baca saat sarapan bagel, namun di satu sisi jika tidak dicermati, kuliner Indonesia makin tergusur dari negara kita sendiri.

Catatan:

Sebagian sumber cerita, diambil dari Mingguan Kompas, 12 Februari 1012 halaman 16.

Iklan

Responses

  1. bagel mulai masuk ke indo ya… 😀

    iya disini sangat umum orang makan bagel untuk sarapan. di mana2 ada jual bagel kalo pagi. di semua supermarket pasti ada. trus di cafe2 kecil juga.
    termasuk jual spread (olesan) nya juga yang bermacam2 rasa.

    bagel emang enaknya di toast dulu sebelum dimakan supaya renyah dan gak alot.

  2. wah info baru ini ibu…saya baru tahu bagel.bentuknya seperti donat ya bu, tapi lebih keras. jadi penasaran cobain…

  3. Oh, sudah dibuka Lotte Mart bekas D’Best yak, Bu? Sudah beberapa bulan ini tidak main ke sana. Wah, boleh tuh kapan-kapan nyobain bagelnya.

    Benar juga, Bu. Belakangan ini saya sering lihat banyak restoran yang menjajakan makanan asing, terutama Jepang, dibuka di mana-mana. Sepertinya memang butuh modernisasi kuliner kita nih. 😀

  4. senang sepedahan bu ??
    banyak teman saya yang sudah punya cucu masih sepedahan.
    kalau sepedahan, biasanya kita sering mampir ke warung-warung kuliner sepanjang rute. biasa makanan tradisional.

  5. saya suka bagel juga bu
    itu baru nyobain yang abal2
    gimana klo ngerasain buatan kafe itu dan harganya berlipat2 yak
    pasti lebih enak hehehe
    jadi pengen nyobain deh

    bicara ttg kuliner negeri sendiri, kayaknya engga tergusur kok bu
    cuma aja ga ada di mal2 gitu yah
    harganya ga masuk
    saya aja klo beli jajanan pasar yg di supermarket
    rasanya kok ogah
    selain soal harga
    rasanya pun lebih enak yang di pasar #lho?
    hehehe …

  6. Benar! Kuliner negeri sendiri akan tergusur… Aku suka bagel dan di sini nyaris tiap pagi makannya bagel sampe bosen 🙂

  7. Kata orang dunia ini makin flat mbak dan kita jg kian mobile. Jadi kulinerpun berimigrasi mengikuti kepindahan orang. Kian beragamnya makanan di tanah air adlh fakta yg tak terhindarkan. Apalagi orang indonesia yang ramah ini amat terbuka, terbiasa menerima perubahan. Mereka tak ragi mencoba sesuatu yg baru. Apalagi hanya Bagel yg msh dalam kategori roti, pasti akan cepat betsesuaian dng lidah kita. Lagi pula makanan yg sekarang kita namai kuliner indonesia kan asalnya jg dari suatu tempat di luar indonesia sekarang 🙂

  8. kapan kapan kalau ada cara ini lagi blue ikut y,jeung….xixiix
    salam hangat dari blue

  9. blom pernah nyobain.. hehe… hm, mungkin sbgmana kt ingin mencoba kuliner asing, para turis juga ingin mencoba kuliner khas sini juga…*sambil membayangkan di hotel sebrang nemu clorot, hehe…*

  10. hmmm..iya ya.. padahal produk dalam negeri banyak yg jauuuuhh lebih bagus..
    saya jadi terinspirasi, makasih ya bu.. 😀
    jadi laper liat rotinya.. 😀

  11. Saya lebih suka donat bu,,salam kenal 🙂

  12. Anak2 saya sedang doyan2nya kebab, Bu.
    Roti bagelnya bikin saya penasaran.

  13. wa
    pengen nyobain rotinya belum pernah masuk perut ni hehe

  14. bagelnya crispy gak bu…kalo iya mau juga kita nyobanya…

  15. Huihihi, saya udah tahu bagel dari komik, dan memang ya Bu, kebetulan beberapa hari lalu di KOMPAS ada artikel tentang Bagel. 😀

    Aaaaaargh saya penasaran deh pengen nyoba, di Bandung belom ada ya… 😦

  16. Like This..!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: