Oleh: edratna | Februari 21, 2012

Perubahan Gaya Hidup dalam lingkungan kita pada sebuah buku

Perubahan gaya hidup masyarakat kita merupakan analisis yang tak henti dilakukan oleh para Analis, baik dari bidang marketing, budaya, serta berbagai pihak lainnya yang berkepentingan. Bagi seorang Analis, perilaku konsumen dan perubahan gaya hidup merupakan salah satu kajian dari analisisnya, karena hal itu akan mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat, atau jika orang tersebut mengambil pinjaman, akan mempengaruhi kemampuan pengembalian pinjamannya (repayment capacity nya).

Beberapa minggu lalu, saya terpesona oleh judul sebuah komik, “Panji Tengkorak: Kebudayaan Dalam Perbincangan” karangan Seno Gumira Ajidarma. Disebelah tumpukan komik tersebut, juga ada komik Ramayana karangan RA Kosassih yang telah dibundel rapi dengan hard cover. Pertama kali, insting di hati adalah ingin membeli kedua buku tersebut, namun setelah melihat harganya, apalagi tanggal tua, dengan berat hati komik Ramayana harus saya tinggalkan, karena harganya di atas Rp.200.000,- apalagi saya masih punya komik yang lama. Dan akhirnya saya membeli Panji Tengkorak, setelah menelpon si sulung untuk mendiskusikan pilihan, mau memilih buku yang mana, karena jika keduanya terasa berat.

Buku komik karangan RA Kosassih merupakan referensi saya saat mendongeng di kala anak-anak masih kecil, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari cerita Ramayana maupun Mahabharata. Bahkan nama kedua anakku mengambil tokoh dalam cerita itu, yang merupakan tokoh idola suami. Saya merasa, saya cukup berhasil memberikan pemahaman tentang wayang untuk si sulung, karena kebetulan si sulung menyenangi sejarah, serta hal-hal yang agak berbau filsafat kehidupan. Saat menonton wayang kulit, si sulung tahan tidak tidur, malahan saat sang ayah tertidur, ayah nya terbangun karena si sulung tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dalang saat adegan Goro-goro.

Namun ternyata saya kurang berhasil dengan si bungsu, karena saat itu televisi kita telah dibanjiri dengan komik dari Jepang, atau Manga. Dan si bungsu begitu asyik menyerap semua itu, dan saat saya tanya kenapa tak suka wayang? Jawabnya sangat sederhana, karena wayang itu gepeng, dan hanya hitam putih (komik wayang karangan RA Kosasih dalam warna hitam putih). Jawaban yang membuatku tergelitik, karena jika dibanding dengan cerita di televisi: Doraemon dkk, gambar wayang menjadi kurang menarik, berbeda saat saya masih kecil, yang sangat menyukai wayang.

Cover buku Panji Tengkorak-analisis Seno Gumira Ajidarma (gambar diambil dari google)

Dari buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma ini, mengingatkan pada masa-masa dimana saya dan teman-teman mengandrungi cerita komik, namun khusus untuk komik Panji Tengkorak,  saya sendiri tak sempat membaca cerita itu sampai tuntas. Sampai di rumah, saya membuka plastik buku tadi,  dan menjadi surprise. Rupanya buku yang saya beli, merupakan disertasi Seno Gumira Ajidarma yang dipublikasikan. Dan ternyata, kajian komik Indonesia sepanjang sejarahnya terlalu sedikit. Kajian ini membandingkan buku komik Panji Tengkorak, yang digubah oleh Hans Jaladara sampai tiga kali, yaitu tahun 1968 (saat saya SMA), tahun 1985 (saya ibu dua anak) dan tahun 1996, secara kesatuan disebut Tiga Panji Tengkorak. Komik, dari kata comic (lucu), adalah media komunikasi yang populer, tapi paling sedikit diperbincangkan sebagai gejala kebudayaan. Sejarah komik di Indonesia telah terentang selama 70 tahun lebih, namun dalam kurun waktu itu, terlalu sedikit karya ilmiah yang mengkaji komik Indonesia.

Panji Tengkorak adalah seorang pendekar yang hidup dari dunia persilatan. Dunia persilatan adalah sebuah dunia dengan kemungkinan hitam putih, seorang pendekar harus menentukan sikapnya, apakah dia termasuk dalam golongan hitam atau putih. Seorang pendekar adalah manusia yang menempuh jalan pedang, jika ingin mencapai kesempurnaan dalam jalan hidup yang ditempuhnya itu, dia harus menang dalam setiap pertarungan, apakah lawannya golongan hitam atau putih, yang berarti harus membunuhnya. Sebaliknya, setiap pendekar juga harus siap untuk mati terbunuh karena jalan yang ditempuhnya itu. Posisi seorang pendekar silat mirip seorang ronin dalam tradisi kaum samurai di Jepang, yakni orang yang mengandalkan kemampuan bermain pedang, menempuh Jalan Pedang untuk memberi makna hidupnya. Ronin berbeda dari samurai, yang mengabdi pada seorang Pelindung, Ronin adalah samurai tanpa majikan.

Komik Panji Tengkorak ini sempat digubah tiga kali. Popularitas komik Panji Tengkorak seiring dengan fenomena komik silat yang menguasai pasar hiburan  Indonesia, sekitar tahun 70 an. Perubahan komik Panji Tengkorak, mengikuti pasar dengan komunitas yang terus berubah selama 30 tahun an terakhir ini. Pada komik Panji Tengkorak yang digubah tahun 1968, Hans menggambarkan pertarungan silat secara imajinatif. Para petarung bergerak bagaikan penari, sementara gerakan tubuh ditata dalam komposisi harmonis sesuai dengan pembidangan emas (Golden Section), yaitu kaidah keselarasan atau harmoni dalam karya seni. Gubahan pada tahun 1985, saat tokoh Panji Tengkorak berlatih, melakukan gerakan gongfu (kungfu) yang baku, seolah diambil dari gambar petunjuk. Gerakan ini mengingatkan pada gerakan Gong fu yang mulai dikenal dari gelombang film gongfu Hongkong, yang memenuhi bioskop Indonesia pada dekade 80 an. Sementara kostum bajak laut yang imajinatif pada gubahan tahun 1968 berubah menjadi baju tradisi Jepang pada tahun 1985. Perubahan ini berlanjut pada gambar ulang Panji Tengkorak tahun 1996, dengan gaya yang mengadopsi gaya manga alias komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar. Teks tertulis sebisa mungkin diterjemahkan menjadi gambar, seperti ada ketakutan bahwa kata-kata menjadi sangat membosankan.

Posisi komik Indonesia, dalam dominasi manga dari Jepang, sehingga harus memilih, terlena atau menyadarkan diri dalam pembongkaran. Tiga Panji Tengkorak menunjukkan bagaimana pergulatan antar wacana yang melibatkan manga telah berlangsung sebagai representasi kebudayaan dalam perbincangan. Manusia adalah bagian dari konstruksi kebudayaan dan sebaliknya, tiada kebudayaan tanpa peran manusia yang berkesadaran.

Membaca disertasi Seno Gumira Ajidarma ini, saya menjadi paham betapa sebetulnya dari sebuah komik, atau sebuah tulisan, kita dapat menelusuri perubahan  dan perkembangan budaya di sekitar kita. Bagaimana perubahan kehidupan dialami orang-orang nya, memaksa orang yang hidup untuk mengikuti tata cara atau perilaku yang umum pada saat itu. Sungguh menarik, terutama bagi saya, yang jarang berkecimpung dalam analisis masalah budaya ini.

Sumber Bacaan:
Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan”. Seno Gumira Ajidarma. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Ecole Francaise D’Extreme-Orient, 2011.

Iklan

Responses

  1. Saya dan suami suka Panji Tengkorak, bacaan jaman SD dulu:)
    Sekarang ada komunitas Komik Indonesia (KOIN) yang dikelola sebuah penerbit untuk menerbitkan komik-komik Indonesia, walau pun tak bisa dipungkiri ada yang terpengaruh dengan manga, Jepang.

    Betul Indah….
    Setelah baca analisisnya Sena G. Ajidarma, saya menyadari bahwa penulisan buku atau komik pasti akan terpengaruh oleh zamannya.
    Anak saya sempat terkekeh-kekeh baca buku sastra zaman dulu, dimana satu halaman menceritakan kecantikan seorang perepuan, dari rambutnya yang seperti mayang mengurai, matanya, sampai ke betisnya. Buku zaman sekarang gayanya akan berbeda, jadi melalui bacaan kita bisa melihat gambaran situasi saat itu.

  2. Saya ini generasi komik silat Mbak Erna. Selain si buta dari gua hantu, saya dulu membaca panji tengkorak..Sekarang anak2 saya membaca manga. Setelah mengintip isinya jagi ngerti mengapa komik silat kita tak begitu menarik bagi mereka. Yah karena pendekar hidupnya hitam-putih itu. Isinya kebanyakan cuma dendam, cinta dan berkelahi. Agak beda dengan manga yang menyoroti persoalan2 hidup yg dekat dengan remaja..Lagi pula apa sebetulnya silat anak2 juga tak mengerti, lah yudo dan karate sekarang lebih mendominasi..

    Begitu kayaknya Mbak Erna, kehidupan selalu berubah 🙂

    Mungkin maksud mbak Evi, habis dari blognya mbak Erna Lindasari ya….
    Nggak apa-apa kok mbak, saya dulu juga suka komik silat, cuma karena saat itu buku termasuk mahal, jadi bukunya saling dipinjamkan.
    Seringnya baca dari buku pinjaman …hahaha. Sebetulnya silat tetap ada mbak, tapi nggak seheboh seperti zaman saya muda, karena banyak jenis olahraga lain yang bisa dipilih. Kebetulan anak laki-laki saya juga ikut silat, walau ikutnya nggak sampai jadi pendekar.

  3. wah, makasih banyak ya Bu Ratna, jadi ingin membaca Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan-nya Seno Gumira Ajidarma; semoga kalo pas ke gramed ketemu…

  4. zaman SD dulu aku sempet baca komik Panji Tengkorak ini Bu Enny
    juga Kho Ping Hoo yang fenomenal itu 🙂

    sekarang anak2 baca komik nya banyak pilihan selain manga ,juga komik dr film2 kartun …
    salam

  5. saya gak suka wayang soalnya gak ngerti bahasanya bu, meskipun saya orang jawa 😀

  6. Aku juga suka baca komik. Dulu sekali ada komik Tiger Wong yang satu majalah mahal2 harganya isi ceritanya cuma secuplik karena gambar komiknya gede-gede hehehe… lama2 gak beli lagi, karena gak sanggup :D.

  7. nice posting…salam kenal yaaa

  8. hehehe, iya banget ya bu….la jaman saya aja dah lebih suka baca serial pak janggut, tini, donal bebek 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: