Oleh: edratna | Maret 11, 2012

Padang: Hotel Alana, Pantai Air Manis dan wisata kuliner

Pesawat paling pagi yang kami tumpangi menuju Padang pagi itu sangat lancar. Ingatan saya menuju ke beberapa tahun lalu, saat  punya waktu bersama anak-anak wisata ke kota Padang, dan menyempatkan diri bepergian melihat danau Singkarak, Air terjun Lembah Anai, Danau Maninjau, jam Gadang … juga berbelanja di pasar Atas dan Bawah, Bukittinggi. Acara kali ini agak mendadak, membuat temanku yang sebelumnya mau ikut mengajar di Padang berhalangan. Waduhh, sudah terbayang deh mengajar dua hari terus menerus…semoga kaki ini kuat. Di pertengahan jalan, cuaca agak jelek, sehingga penumpang disarankan kembali ke kursi masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Inilah kondisi yang paling tidak saya suka, dimana pesawat terguncang-guncang, dan perut terasa diaduk. Syukurlah akhirnya pesawat bisa mendarat dengan sempurna dan saya bisa bernafas lega.

Di depan Bandara Minangkabau International

Bandara Minangkabau terlihat kokoh berdiri, dengan arsitekturnya yang khas, seperti tanduk kerbau. Kami menuju ke tempat pengambilan bagasi, dan keluar pintu. “Bu, mau kemana? Pakai mobil saya saja.” Berbagai macam orang mulai menawarkan kendaraannya, walau kami telah menolak secara halus dan mengatakan sudah dijemput. Rara akhirnya menelpon, dan ternyata orang yang menjemput (Doni) berdiri tak jauh dari kami. Kami bersalaman, Doni membantu membawakan koper kecil kami ke mobilnya…dan pertama kali, adalah, kami ingin berfoto dengan latar belakang bandara Minangkabau, yang beberapa kali ke Padang belum kesampaian.

Hari masih pagi, belum ada jam 9.00 wib, sedangkan untuk check in hotel baru dimulai jam 10.00 pagi. Akhirnya Doni menawarkan untuk mampir ke toko Silungkang, untuk membeli oleh-oleh. Dalam hati saya geli, masuk hotel saja belum kok sudah memikirkan oleh-oleh. Apa boleh buat, bagi saya jika waktu memungkinkan, saya akan membeli oleh-oleh terutama untuk si mbak dan sopir yang telah lama bekerja di rumah kami, sebagai bentuk apresiasi. Dan mampirlah kami ke toko Silungkang di jalan Imam Bonjol (?), kami sibuk memilih berbagai macam barang dagangan yang ditawarkan.

Pantai Air Manis, Padang

Selesai belanja, kami pergi ke pantai Air Manis, untuk melihat batu Malin Kundang, yang dibuat berdasarkan cerita legenda “Malin Kundang”.

Duduk di Batu Malin Kundang

Pantainya bersih, gelombangnya cukup tinggi, dan apa perasaan saya saja, rasanya gelombang di Pantai Air Manis ini semakin tinggi saja.

Ada beberapa turis yang juga sedang menikmati pantai ini, dari pembicaraannya, kemungkinan turis dari negeri jiran. Di pantai ini pula, Rara kehilangan kaca mata nya, kami sudah mencoba menyisir kembali pantai, namun kaca mata tersebut tak dapat ditemukan.

Matahari makin menyengat, saya kirim sms pada teman yang kerjanya di Padang, dia mengirimkan berbagai alternatif tempat untuk makan siang. Namun Doni, sopir yang mengantar, punya pilihan lain. Begitu Doni mengatakan, bagaimana kalau kita makan gulai kepala ikan karang, ingatan saya lalu tertuju ke beberapa tahun sebelumnya, saat diajak makan gulai kepala ikan di rumah makan yang letaknya di Kecamatan Bungus, dan dipinggir sawah.

Gulai kepala ikan karang, di Kecamatan Bungus

Rupanya rumah makan yang ditawarkan Doni adalah rumah makan yang sama, dan saya langsung setuju. Perjalanan ke Bungus yang berjarak lebih kurang 30 km sungguh menyenangkan, melalui jalan yang berliku-liku menyusuri jalan sebelah pelabuhan Teluk Bayur ke arah kota Painan. Permandangan yang hijau, serta laut di sebelah kanan jalan, sungguh membuat hati ini terasa lapang.

Tak lama kami sampai ke rumah makan Pak Malin, dan segera memesan gulai kepala ikan karang. Saya tanya Doni, ikan karang ini nama lainnya apa? Sayang Doni tak bisa menjelaskannya, apakah ikan itu hidup di antara karang atau apa?

RM pak Malin, yang berbatasan dengan sawah

Makan masakan ikan, diiringi semilir angin dari sawah di samping rumah makan, serta mendengar bebek berbunyi kwek … kwek, sungguh nikmat.

Bebek-bebek, di samping RM Pak Malin, yang berbatasan dengan sawah

Rasanya tak ingin berdiri, dan nyaris tertidur, namun perjalanan harus dilanjutkan. Doni bertanya ingin diantar kemana lagi, tapi saya sudah merasa lelah, apalagi membayangkan akan mengajar selama dua hari, jadi harus menjaga badan, jadi kami diantar ke The Alana Hotel yang terletak di jalan Bundo Kanduang, untuk menginap di sana. Hotelnya masih baru, masih soft opening, bahkan bau pernis pintu dan cat dinding masih tercium. Begitu masuk kamar, kami segera menyalakan AC agar bau catnya segera hilang. Pelatihan juga diadakan di hotel ini, jadi mungkin itu sebabnya kami ditempatkan untuk menginap di hotel ini pula.

Sore hari pak Simon sms, apakah mau ditemani makan malam? Karena lelah, saya menjawab akan makan di hotel saja, dan jika tak lelah besok saja makan malam bersama. Maklum teman-teman banyak yang ditempatkan di kanwil Padang ini, sayang saya juga tak sempat ketemu Imoe, karena saya hanya menginap tiga hari, dan hari Sabtu pagi langsung kembali ke Jakarta. Sayang memang, tak sempat pergi ke Bukittinggi, namun tugas di Jakarta sudah menunggu. Malam itu kami memesan makanan dari hotel, agak lama juga, hampir satu jam baru makanan datang, itupun setelah Rara menelpon kembali. Syukurlah, makanannya enak, sehingga kami terobati menunggu cukup lama, dan berpikir kalau lelah untuk keluar hotel, bisa pesan makan layanan kamar saja.

Malam itu saya tidur cukup nyenyak, makan pagi di hotel cukup enak dan bervariasi. Malam nya, teman yang pernah satu kompleks di perumahan dinas menelepon, apa kita bisa makan malam bersama. Pilihan makan saat itu adalah restoran TS, yang menyajikan masakan Sunda. Kami memesan gurami bakar…. lama sekali baru pegawainya datang, dan mengatakan gurami bakarnya nggak ada, tapi kalau yang goreng ada. Lho! Kok bisa? Bukankah kalau masakan Sunda, makanan baru dimasak sesuai pesanan. Kami berpandangan, dan akhirnya saya bertanya…”Jadi, masakan apa yang ada?” Soalnya membayangkan kota Padang, dekat pantai, pasti masakan ikan nya enak. Petugas menjawab, yang ada ayam. Akhirnya kami memesan ayam rica-rica, sapo tahu, oseng kangkung, dan sup asparagus. Saat datang, kami semua bengong, melihat wajah masakan sapo tahu dan ayam rica-rica…kok seperti gulai ya? Pelan-pelan kami mencicipi masakan itu, dan ketawa lega…syukurlah, walau bentuknya seperti masakan Padang, tapi rasanya tetap nikmat. Jadi malam itu, kami makan masakan Sunda rasa Minang. Dan ternyata, teman yang mengajak makan itu, baru seminggu pindah ke kota Padang, jadi wajar kalau dia belum bisa membedakan dan memberikan saran untuk makan dimana.

The Alana Hotel, dari depan

Setiap kali break, teman-teman dari Bank Nagari bertanya, ibu aman disini? Setelah saya mendapat pertanyaan lebih dari lima orang, barulah saya berpikir, apakah Padang menjadi kota yang tidak aman? Rupanya pertanyaan mereka halus, yang dimaksud apakah saya ada gangguan selama dua malam menginap di hotel ini. Rupanya hotel ini, dulunya bernama hotel Ambacang, yang runtuh terkena gempa tahun 2009, dengan cukup banyak korban (>30 orang), kemudian dibangun kembali. Syukurlah saya tak merasakan apa-apa, dan selama ini aman-aman saja, tapi jika diberitahu sebelumnya mungkin saya akan berpikir untuk memilih hotel lain. Walau sudah tahu kalau ini dulunya hotel Ambacang, saya tenang-tenang saja, apalagi sekamar berdua Rara. Malah saya jadi pengin memotret hotel ini….jadi kalau teman-teman datang ke Padang, jangan kawatir, menginap di hotel ini tak ada masalah, masakan nya cukup enak, sesuai standar hotel yang lain.

Tempat oleh-oleh kripik Balado "Shirley"

Selesai mengajar hari kedua, kami sengaja berjalan-jalan, kebetulan cuaca cerah. Pertama-tama kami menuju tempat oleh-oleh Shirley, yang rupanya merupakan pesaing dari tempat oleh-oleh Christine Hakim. Setiap kali saya bertanya, mana tempat oleh-oleh yang enak, baik teman BRI maupun Bank Nagari selalu mengatakan, Shirley. Begitu pula petugas hotel…jadi akhirnya kami memutuskan mencoba membeli oleh-oleh di Shirley, bukan di Christine Hakim yang sudah lebih dulu populer. Kebetulan lokasinya dekat hotel tempat kami menginap, dan di depan museum Adityawarman (sayang saya tak punya kesempatan untuk melihat museum ini).

Gerbang masuk Universitas Andalas

Selesai membeli oleh-oleh, sopir mengantar kami melihat lingkungan Universitas Andalas yang sangat luas. Rara rupanya dari tadi tak dapat menahan buang air kecil, begitu memasuki daerah dekat auditorium, kami bertanya pada satpam, dimana letak toilet. Pak satpam mengantar masuk melalui lorong-lorong, yang rupanya bagian belakang dari gedung Rektorat, dan sampailah kami ke toilet…..www…gelap gulita. Kami mencari-cari saklar dan tak menemukan, dengan patah semangat kami tanya satpam, ada tempat lain nggak? Kalau nggak ada,  di toilet nya satpam juga tak apa-apa, maklum sudah kebelet. Pak Satpam bilang, kalau toilet di ruang satpam nggak ada kuncinya….. saya melihat pada Rara yang rupanya makin tak tahan, segera memutuskan untuk menuju ruang satpam. Para satpam yang bergerombol menyingkir saat kami mau memasuki ruang toilet, rupanya mereka berjaga di luar. Saya akhirnya memutuskan ikut serta, daripada nanti susah lagi mencari toilet…benar-benar lega deh rasanya.

Latihan tari Randai di halaman Kampus Unand

Menyusuri kompleks Universitas Andalas, sungguh menyenangkan….di depan sebuah gedung, di halaman berumput, berbagai mahasiswa dan mahasiswi sedang berlatih tari Randai, yang gerakannya campuran antara tari dan silat.

Dari Universitas Andalas sudah menjelang senja, kami kembali ke kota Padang, melewati sungai yang sering digunakan untuk mandi balimau (mandi sama-sama sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan), melewati kompleks Sendik BRI Padang dan terus menuju kota. Di kiri kanan jalan terlihat banyak pedagang durian yang memasang tikar, banyak orang yang makan durian di tempat. Memang saat ini sedang musim durian, cuma saya kawatir kadar kolesterol saya meningkat pesat, apalagi berhari-hari makan masakan Minang semua…bukankan kalau di kota Padang semua masakan adalah masakan Padang (maaf Uda Vizon, padahal nama yang benar, masakan Minang ya).

Sate Danguang-danguang di Simpang Kinol, Padang

Kami menuju ke simpang Kinol, tempat berbagai masakan disajikan dalam angkringan. Pak sopir mengajak kami menikmati sate Danguang-danguang, yang aslinya berasal dari Payakumbuh. Entah kenapa, saya sampai saat ini belum bisa menikmati enaknya rasa sate Padang yang terkenal itu, karena geli lihat kuahnya. Jadi saya memesan sate yang dipisahkan antara bumbu, sate dan lontongnya. Satenya enak dan kering….apalagi ditambah dengan es durian…sungguh sedap, sampai perut terasa penuh. Kami mengobrol sambil menikmati makan sate, dan ternyata saya suka…asal kuahnya tak dicampur. Sebetulnya saya sendiri, lebih suka makan masakan Padang yang beli di tempatnya, dibanding masakan Padang yang dibungkus, yang kuahnya sudah tercampur dengan nasinya. Mungkin hal ini terbawa kebiasaan sejak kecil, juga karena tidak suka pedas.

Dari simpang Kinol, kami menuju jembatan Siti Nurbaya yang mengarah ke Gunung Padang. Teman-teman yang pernah baca buku tentang Siti Nurbaya karangan Marah Rusli, pasti hafal dengan gunung Padang, gunung tempat Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri berpiknik, dan kemudian menjadi makam mereka. Yang unik dari jembatan Siti Nurbaya ini, saat malam tiba, kiri kanan jembatan dipenuhi para pedagang yang menjual berbagai makanan, seperti jagung bakar.

Jembatan Siti Nurbaya di malam hari

Sayang kami sudah kenyang, dan sayang juga tustel saya tak dapat mengabadikan keindahan jalan Siti Nurbaya di waktu malam. Sepulang dari sini, sopir mengajak kami berkeliling, menyusuri pantai Padang yang dipenuhi tenda-tenda makanan di tepinya. Dan ada beberapa tenda yang agak gelap, mendekati semak-semak, dengan berbagai kendaraan sepeda motor di depannya. Dan ada banyak payung terbuka….woo rupanya itu tempat kencan. Saya tak habis pikir, apa mereka nggak takut ular ya, kan di semak-semak seperti itu, dan gelap….

Malam semakin larut, kami meninggalkan pantai Padang dengan ombaknya yang berdebur, menuju hotel untuk ngepak koper, karena kami akan pulang ke Jakarta dengan pesawat jam 9.05 wib. Sungguh kenangan yang menyenangkan…jika ada kesempatan lagi, dan ada cukup banyak waktu, saya ingin sekaligus menjadualkan pergi ke Bukittinggi, sehingga semakin banyak hal yang bisa dilihat.

Iklan

Responses

  1. Pantai Air Manisnya terlihat bersih banget, Mbak. Konon pantainya juga sangat landai dan gak terlalu dalam airnya. Sehingga kalau sedang surut, dengan berjalan kakipun kita bisa mendatangi pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya.

  2. Bagi saya ini adalah reportase yang sangat detail dan komplit. Cukup membacanya saya sudah berasa disana. Cuman untuk masalah kuliner, koq cuman fotonya aja yang diupload Mbak. Yang asli juga diupload dong Mbak,hihihihihi… ngiler saya bacanya..heheheh..
    Oh ya Mbak, sejarah Pantai Air manisnya itu gimana? apa rasa airnya bener2 manis?

  3. bu, batu malin kundangnya itu berbentuk orang atau gimana bu? gak terlalu jelas soalnya dari fotonya…

    rm pak malin nya asik banget ya berbatasan ama sawah gitu. seger banget ngeliatnya…

  4. Terpana dengan jurus bu En menyandingkan T&W dengan asyik, dengan reportase W yang komplit (reportase T nya 1 bendel ya bu). Gerbang masuk Unan cantik ya bu. Potret bu En juga jadi stempel sah di batu malin kundang. Salam

  5. Buuuuu…
    lengkap banget ceritanya…
    dan jadi pengen merasakan masakan Padang yang ada di Padang…pasti lebih mantap ya bu 🙂

    dan itu pemandangan di RM Pak Malin keren banget ya bu 🙂

    *jadi perasaan pengen makan padang*

  6. Wah, enak sekali tuh, Bu, makan di tepi sawah begitu. Maknyus!

    Oh, jadi pilihannya lebih ke Shirley ya? Jadi pengen keripik balado. 😦

  7. ah..serasa jalan2 langsung di sana…terimakasih reportasenya Bu 🙂
    dan saya makin ngiler melihat foto gulai kepala ikan itu…hm…

  8. kepala ikannya enak banget nih ya…. jadi pusing mikirinnya… tepi sawah juga menarik ya…

  9. selalu ga jadi melulu tiap ke Pantai Air Manis .. 😦
    oya Bu, di jalan berkelok antara Teluk Bayur-Painan itu ada salahsatu warung gulai kepala ikan yg maknyus tenan..
    di dinding warungnya banyak foto pejabat sama artis gitu

    apa ya namanya?

  10. Dulu sewaktu kuliah di Padang, saya beberapa kali main ke Pantai Air Manis ini, pantainya kalau sunset keren banget..
    Tapi kalau Hotel Alana saya kok malah enggak tahu.. 😦

  11. Bu, percayakah bahwa malin kundang itu beneran ada? Jangan2 iya ya.. 🙂

  12. Saya malah belum pernah menginjakkan kaki dipulau Sumatra Mbak…
    Hanya tau dari baca2 dan cerita.
    Kalau saya perhatikan, kota di Sumbar terkesan tenang dan bersih, beda dengan kota di Sumsel seperti Palembang yg ramai dan gak banyak sawah2 ya…
    Masakan padang juga terkenal diseantero jagad, tak ada yang tak kenal.
    Selain itu juga bentuk bangunannya…
    Kapan ya, bisa jalan2 ke Padang & Bukitinggi
    Salam!

  13. wah…. tempat yang bagus….
    Salam kenal…

  14. Serasa ikut pulang kampung nih aku, Mbak..Secara tempat2 yg diceritakan akrab banget dengan diriku. Sudah begitu ceritanya lengkap lagi..Jembatan Siti Nurbaya di malam hari, saat mata memandang ke sungai, ke perahu-perahu yang parkir, duh syahdunya….Apa lagi jika gak ada pedagang kaki lima pasti lebih syahdu lagi…

  15. Baca komentar Pak Alamendah makin penasaran apakah sekarang kita bisa menuju pulau-pulau itu dengan berjalan kaki. Dan sama seperti mbak Hana, bagaimana riwayat laut air manis?

    Salam hangat untuk keluarga tercinta.

  16. sama kayak pak Mars, aku belum pernah ke sumatra sama sekali. pengen juga kesana ke kotannya Bung Hatta 😀

  17. wah terimakasih ya bu…

    kebetulan pengen banget ke sana, liputan perjalanan bu enny selalu lengkap 🙂

  18. yang menjadi pertanyaan bu, kalau nasi padang disana lebih pedes gak ya sama yg di pulau jawa. Soalnya saya cari2 di pulau jawa katanya sambel nasi padangnya di kurangi pedesnya.

  19. Gak sempat ketemu Imoe ya Bu? 🙂

    Kalau ke Padang memang harus siap-siap nambah berat badan, soalnya makan mulu, haha… 😀

    Dalam bahasa pergaulan di Sumbar, “aman” itu lebih kepada kondisi yang baik-baik saja. Atau dengan kata lain: “apakah ibu nyaman dan enak istirahatnya?”, kira-kira begitu kalau dijabarkan, hehe..

    Kok saya jadi kangen pulang kampung ya? hehe..

  20. pantai air manis itu memangnya airnya bener2 manis bu? atau penamaan itu dari mananya? 😀
    jadi penasaran 😀

  21. wah tampak asyik jalan2nya ya bu
    jadi pengen 🙂

  22. ahai, sebuah reportase yang cuku detail, sungguh… bisa jadi panduan neh bila suatu saat ke sana, hmmm… indah pemandangannya, mantap kulinernya…

  23. Aduh Bu… nikmat sekali …. wisata kuliner sih menurutku…
    makanan yang enak meski harus dijaga juga agar tak terlalu banyak makannya …

  24. wah, sukurlah bu, hari-hari di padang nya terasa memuaskan. saya juga mahasiswa unand, dan memang diakui, toilet unand emang pada gelap semua, hihihi…..

  25. seneng bacanya, seperti diajak jalan2 ke padang juga ^_^

  26. berkunjung saja, mba. Kangen ngeblog

  27. Semacam kangen ke Padang lagi baca postingan ini bun 🙂

  28. ingin melakukan kunjungan lagi ke pantai air manis lagi baca artikel ini

  29. wah, pernah nginep di Alana ya…yakin bu aman-aman aja? 🙂
    soale denger2 dari orang2 katanya banyak yg ‘disamperin” hehe..
    btw, reportase nya kumplit, dari kedatangan di airport sampe packing2
    salam dari Padang…

  30. […] Padang: hotel alana, pantai air manis dan wisata kuliner | […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: