Oleh: edratna | Maret 29, 2012

Apa peran “Culture Capital” dalam meningkatkan Corporate Culture?

Catatan:

Tulisan ini, yang saya sarikan dari buku karangan bapak Dr. Djokosantoso Moeljono, juga dari tulisan di Kompas, dibagi dalam 2 (dua) bagian. Bagian pertama mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan “budaya” dan “budaya organisasi”, fungsi dan dinamika budaya organisasi, serta tujuh variabel yang mempengaruhi kesuksesan sebuah organisasi.

Selanjutnya pada bagian kedua, akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan budaya organisasi itu sendiri dan mengapa hal ini sekarang sangat penting, kemudian menceritakan bahwa budaya organisasi yang mapan dan sukses dapat menjadi modal untuk meningkatan kehidupan masyarakat dalam organisasi tersebut.

Semoga bermanfaat, karena bagaimanapun kita perlu meningkatkan budaya yang positif di masyarakat kita.

—————————————————————————————————————-

Perusahaan komersial pada umumnya mempunyai tujuan jangka panjang yang dilandasi oleh motif untuk menghasilkan nilai tambah bagi stakeholders. Untuk itu, perusahaan membutuhkan 4 (empat) pilar utama untuk mendukung, yaitu: 1) SDM yang bermutu, 2) IT yang terpadu, 3) Strategi yang tepat, 4) logistik yang memadai. Dalam pengelolaaan operasional perusahaan jangka panjang, peran SDM mempunyai kedudukan sentral yang strategis, karena: “asset make possibility, people make it happen.”

Penelitian menunjukkan terdapat 4 (empat) faktor yang menentukan perilaku manajemen suatu perusahaan, yaitu: 1) Budaya organisasi, 2) Struktur, sistem, rencana kebijakan formal, 3) Kepemimpinan, 4) Lingkungan yang teratur dan bersaing.

Budaya organisasi berada di tempat pertama sebagai faktor yang mengkondisikan faktor-faktor lain, karena:

  • Budaya organisasi dapat mempunyai dampak yang berarti terhadap kinerja ekonomi jangka panjang.
  • Budaya organisasi mungkin akan menjadi suatu faktor yang bahkan lebih penting lagi dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan perusahaan dalam dasa warsa yang akan datang.

Budaya organisasi pada dasarnya merefleksikan metodologi perusahaan itu sendiri. Metodologi itu bisa muncul dari seseorang yang berada pada posisi tertinggi organisasi untuk membangun kebersamaan (Graves 1986, dalam Moeljono 2005).

Budaya dan Budaya Organisasi

Budaya telah menjadi konsep penting dalam memahami masyarakat dan kelompok manusia untuk waktu yang lama, Stoner dkk (dalam Moeljono, 2005) memberikan arti budaya sebagai gabungan kompleks asumsi, tingkah laku, cerita, mitos, metafora dan berbagai ide lain yang menjadi satu untuk menentukan apa arti menjadi anggota masyarakat tertentu. Sedang budaya organisasi, atau sering juga disebut sebagai budaya kerja, merupakan nilai yang disebar luaskan dalam organisasi dan diacu sebagai filosofi kerja karyawan. Menurut Schein (1985), budaya organisasi mengacu suatu sistem makna bersama, dianut oleh anggota-anggota nya, yang membedakan organisasi itu terhadap organisasi yang lain (dalam Moeljono, 2005).

Di sisi lain Robbins (1990), menyatkan bahwa budaya organisasi sering diartikan sebagai filosofi dasar yang memberi arahan bagi kebijakan organisasi dalam pengelolaan karyawan dan nasabah. Robbins juga menyatakan, bahwa sebuah sistem pemahaman bersama dibentuk oleh para warganya, sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain. Kreitner dan Kinichi (1992), menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan perekat organisasi, yang mengikat anggota organisasi melalui nilai-nilai yang ditaati, peralatan simbolik, dan cita-cita sosial yang ingin dicapai. Sedangkan Matsumoto (1996) menyatakan, budaya organisasi sebagai seperangkat sikap nilai-ilai, keyakinan, dan perilaku yang dipegang oleh sekelompok orang dan dikomunikasikan dari generasi ke generasi berikutnya.

Fungsi dan Dinamika Budaya Organisasi

Fungsi Budaya Organisasi menurut Robbins (1991):

  • Budaya organisasi mempunyai peran pembeda
  • Budaya organisasi membawa suatu rasa identitas bagi anggota organisasi
  • Mempermudah timbulnya pertumbuhan komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual
  • Meningkatkan kemantapan sistem sosial

Dalam hubungannya dengan segi sosial, budaya berfungsi sebagai perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dilakukan dan dikatakan oleh para karyawan. Akhirnya, budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna, dan kendali, yang membantu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan (Gordon, 1991).

Menurut Jusi (dalam Moeljono,2005), budaya yng kuat didukung oleh faktor-faktor: leadership, sense of direction, climate, positive teamworks, value add systems, enabling structure, appropriate competences, and developed individual. Diantara faktor pendukung tersebut, menurut pengalaman, faktor leadership sangat menonjol, dalam artian bahwa komitmen, kesungguhan tekad dari pimpinan tertutama pimpinan puncak organisasi merupakan faktor utama yang sangat mendukung terlaksananya suatu budaya peusahaan.

7-S McKinsey Framework, menunjukkan tujuh variabel yang berpengaruh terhadap kesuksesan suatu organisasi, yaitu:

  •  Strategi dan Struktur (hardware of organization)
  •  Style (gaya) , Staf (karyawan), Skill (kemampuan)
  • Dan Shared Value (budaya organisasi) yang merupakan software of organization.

Dalam sebuah budaya organisasi yang kuat, seperangkat nilai dan metode menjalankan bisnis perusahaan yang relatif konsisten, memudahkan para karyawan baru dapat mengadopsi nilai-nilai ini dengan sangat cepat.

Sumber Bacaan:

  1. Dr. Djokosantoso Moeljono. “Cultured! Budaya Organisasi Dalam Tantangan. PT Gramedia: Jakarta, 2005.
  2. Eileen Rachman dan Sylvia Savitri. “Cultured Capital”. Experd, Culture International Program. Kompas Klasika, Sabtu, 10 Maret 2012 halaman 33.
Iklan

Responses

  1. nilai nilai perusahaan harus dibentuk bersama, sehingga seluruh karyawan yang tadinya memiliki value masing masing, bisa bergabung dan memiliki nilai yang sama. Dan value itu terapkan dan menjadi culture yang sangat kuat diperusahaan. Ini butuh waktu yang lama untuk membentuknya..

  2. Meskipun sekolah bukanlah perusahaan, tapi saya tertarik dengan tulisan ini Mbak, karena sekolahpun kalau dikelola secara profesional, tak beda dengan perusahaan komersial. Apalagi sebagian lulusannya pun akan menuju kesana juga…
    Salam!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: