Oleh: edratna | April 6, 2012

Jika para Eyang tindak-tindak ke Malang

Jika saudara sekandung sudah menikah, serta anak-anaknya sudah besar, dan sudah punya cucu, maka untuk bisa bepergian bersama merupakan suatu kesempatan yang langka. Bahkan saya, suami, dan kedua anak, sulit sekali mencari waktu untuk bepergian bersama, sejak anak-anak telah menjadi mahasiswa. Minggu yang lalu adalah kesempatn yang kami tunggu, karena pada akhir Maret, isteri adikku yang bungsu ujian sidang terbuka untuk disertasi Doktor di Fakultas Hukum UB (Universitas Brawijaya). Di saat yang sama, saya baru saja keluar dari rumah sakit karena serangan vertigo parah, sampai semua makanan keluar terus, sehingga terpaksa dibawa ke UGD dan di rawat 3 (tiga) hari. Adik bungsuku sendiri, tahun lalu operasi jantung, dan setiap minggu harus cek INR di laboratorium RS Harapan Kita. Adik nomor 2 (dua) menjadi dosen di UNDIP, dan sibuk membimbing mahasiswa, sehingga dia tak bisa datang ke Jakarta lebih dulu, kemudian baru berangkat ke Malang rame-rame.

Akhirnya diputuskan, adik perempuan yang dari Semarang naik bis Nusantara tujuan Malang, saya titip teman di Malang untuk meminjamkan sopir menjemput adik saya, karena bis sampai Malang sekitar jam 4.30 wib. Adik bungsu saya tidur di rumah saya semalam sebelumnya, sehingga pagi-pagi buta bisa barengan naik pesawat ke Malang. Sedang isterinya, sudah di Malang sejak seminggu sebelumnya, mengurus segala persiapan. Anak sulung adik bungsu tak mungkin hadir, karena sedang hamil kedua, masih bekerja dan tinggal di Balikpapan. Anak bungsunya (nomor 2), sedang job training, sehingga bila memungkinkan baru berangkat ke Malang hari Sabtu pagi, dan semoga tidak telat saat ujian disertasi dimulai.

Enny di terminal kedatangan, bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, yang terus membangun

Sekitar jam 8.00 wib pesawat Sriwijaya Air mendarat di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Ini pertama kalinya saya naik Sriwijaya Air, dan juga pertama kalinya merasakan bandara Malang yang baru, karena setahun yang lalu, bandara nya masih menjadi kesatuan dengan bandara Angkatan Udara RI. Hembusan pohon cemara tak ada lagi, namun kali ini kami disuguhi pemandangan ladang jagung dan petani yang bekerja di ladang, mungkin beberapa tahun lagi lingkungan bandara Malang ini makin hijau.

Ruko-ruko di bandara Malang, masih sepi

Ruko-ruko yang ada di sekitar bandara masih sepi, bahkan pembangunan (yang kemungkinan diperuntukkan untuk bandara yang lebih besar dan lebih bagus), persis di sebelah bandara yang ada sekarang, masih terus berjalan. Saya menelpon pak sopir, rupanya terjadi salah komunikasi, dia kirim sms saat saya masih ada di pesawat. Yah namanya sudah eyang, lupa memberi tahu kapan pesawat kita berangkat dan naik pesawat apa. Makin banyak penumpang yang langsung ke Malang, sejak adanya lumpur Lapindo, yang membuat jalan antara Surabaya-Malang tersendat. Saya masih ingat, saat sebelum ada lumpur Lapindo, saya selalu turun di bandara Juanda Surabaya, baru jalan darat ke Malang melalui jalan Tol, serta hanya perlu waktu satu jam. Yang dikawatirkan hanya kalau ada demo buruh, yang kadang membuat jalan Tol tersendat.

Bakso President, dekat LP Lowokwaru, di pinggir rel Kereta Api…..

Keluar dari bandara, saya sudah ngidam pengin bakso panas untuk mengisi perut yang kosong, karena sarapan di pesawat tetap belum bisa memenuhi kebutuhan perut. Jadi kami check in dulu di Hotel Santika, menemui adik yang sudah duluan datang dari Semarang, ketemu adik ipar yang besoknya ujian disertasi, kemudian langsung ke Bakso President, yang berada persis di sebelah rel kereta api Surabaya-Malang. Baksonya sungguh sedap, tapi setiap kali ada KA lewat, rasanya kok jantung ikut deg-deg an…..terasa sekali getaran kereta nya. Dari bakso President, kami meluncur ke tempat penjualan tiket bis Nusantara, agar adik saya seusai acara di UB, malamnya bisa langsung pulang ke Semarang. Waduhh …… kok udah capek ya, akhirnya kami memutuskan ke hotel Santika, dan pak sopir di suruh pulang untuk istirahat.

Akhirnya siang itu, yang seharusnya istirahat malah mengobrol terus, habis kapan lagi ketemu saudara dan bisa asyik mengobrol? Sorenya, setelah Magrib,  kami ingin pergi ke Taman Indie, sebuah restoran  di daerah perumahan Arraya, yang direkomendasikan oleh staf hotel. Malam itu lobby hotel Santika penuh sesak pengunjung, rupanya sama-sama menunggu pesanan taksi hotel, apalagi hujan mulai mengguyur kota Malang. Akhirnya kami dapat taksi jam 19.05 wib dan mulai meluncur ke Taman Indie. Wahh kok gelap ya, apa mati listrik? Saya lihat lampu di jalan masih menyala, ternyata memang konsep restorannya remang-remang, hanya menggunakan cahaya lilin.

Jadi ingat dapur (pawon) di rumah nenek, di kampung

Di panggung ada musik dan penyanyi, kami dapat tempat di bagian rumah pawon, yang interiornya ditata seperti pawon (dapur), di rumah nenek zaman dulu, lengkap dengan dandang (tempat masak air untuk nasi), kukusan, bahkan radio zaman dulu yang mirip dengan radio punya orangtua kami, yang pertama kalinya, yang kalau hari hujan, bunyi kresek-kreseknya makin keras.

Radio dan ceret jadul

Dan menjadi ingat, dulu suka berebut mendengarkan radio, terutama siaran pendengar, berharap dapat kiriman lagu dari teman. Dan menjadi fans nya kak Mung Moelyono, penyiar radio yang suaranya rajin menemani kami dimasa remaja.

Makanan di RM Taman Indie, sungguh sedaap…besoknya kami balik lagi ke sini, walau sekedar minum bajigur dan cemilan

Kami pesan sup asparagus, ikan bakar jimbaran, ayam panggang Lombok, lengkap dengan plecing kangkungnya. Untuk minuman, semua memilih minuman hangat, sesuai dengan kondisi hujan rintik-rintik yang menyertai kami.

Benar-benar romantis……kami makan sambil mengobrol ngalor-ngidul…tak terasa sudah mendekati jam 21.30 wib, kami segera pulang, karena besok pagi-pagi jam 8 sudah harus di UB. Malam itu saya meminum obat mertigo, supaya tak kumat vertigonya, juga mengingatkan adik bungsu agar tak lupa minum obat untuk jantungnya.

Foto dulu seusai lulus ujian Doktor, bersama suami, anak bungsu dan calon mantu

Paginya, acara di UB berjalan lancar, adik ipar saya dinyatakan lulus sebagai Doktor Ilmu Hukum yang ke 115 di Fak Hukum UB. Selamat untuk Susi, yang telah menempuh perjuangan panjang untuk mencapai gelar ini. Dari UB kami kembali ke hotel, agar Susi bisa ganti baju santai (karena saat ujian disertasi, dia pakai kebaya dan sarung, serta bersanggul) …… kemudian kami (yang telah bertambah dengan Ditta, beserta tunangannya) jalan-jalan ke tempat oleh-oleh, kemudian ke tempat berbagai souvenir Arema.

Garang mana, singa Arema atau adik bungsuku?

Disini kami saling berfoto ria, di dekat singa, simbol dari Arema. Rupanya adik bungsuku ingin mengajak putrinya kembali ke Taman Indie, jadilah kami kembali ke Taman Indie. Karena habis makan siang di UB, maka kami hanya pesan makanan kecil dan minuman. Saya pesan bajigur, tahu isi, serta pisang goreng pasir. Suasana Taman Indie tak seramai malam sebelumnya, karena memang bukan jam sibuk, kami malah bisa saling berfoto, dan mengobrol dengan santai.

Dari sini, kami mengantar adik untuk pulang ke Semarang naik bis Nusantara. Adik bungsuku rupanya lupa bawa obat jantung, jadi saya meminta dia kembali ke hotel untuk istirahat dan minum obatnya, biar saya menemani adik yang dari Semarang, sampai bisnya siap berangkat. Setelah bis berangkat, saya kembali ke hotel, dan malam itu akhirnya diputuskan makan saja di hotel, di tepi kolam renang hotel Santika, di depan KualaBar & Resto, sambil mendengarkan musik.

Enny dan Pram (calon mantu adik bungsuku), berpose dulu di pinggir kolam renang hotel Santika, sambil menunggu pesanan makanan.

Suasananya sungguh mengasyikkan, mungkin awal Mei saya akan kembali menginap di hotel ini lagi, untuk hadir pada pernikahan putra adik suami yang tinggal di Malang. Hotelnya menyenangkan, masih di kota, diapit oleh Alfamart, juga dekat apotik, sehingga kami sewaktu-waktu bisa cari obat jika kelupaan, maklum sudah eyang-eyang, segala sesuatu bisa lupa dibawa.

Malam itu kami tidur nyenyak, jam 5.30 wib sudah siap check out dari hotel dan menuju bandara Malang untuk kembali ke Jakarta. Ternyata, bandaranya belum dibuka, padahal sudah jam 7.15 wib, kata petugas baru dibuka jam 7.30 wib…ada-ada aja. Tak lama saya melihat serombongan petugas berpakaian biru gelap masuk ke bandara, rupanya mereka yang akan bertugas membuka bandara pagi ini.

Ada hal-hal lucu yang saya jumpai di Malang. Jika orang turun dari sepeda motor, rupanya mereka tak segera membuka helm, tapi asyik mengobrol sambil jalan, dengan masih memakai helm, seperti orang dari planet luar. Hal ini rupanya tak luput dari perhatian adik iparku, dia cerita, dua orang (pria dan wanita) masuk ke warung, pesan soto dan teh panas manis, dengan tetap memakai helm. Ibu penjual soto dengan tenang bercakap-cakap dengan manusia planet ini, kemudian pasangan ini masuk warung dan duduk, bercakap-cakap masih pakai helm, dan helm baru dibuka saat soto sudah datang…mungkin makan soto sambil tetap pakai helm susah juga ya.

Iklan

Responses

  1. taman indie nya kayaknya lucu ya tempatnya bu…
    asik ya bisa ngumpul2 ama sodara2 gitu… 😀

  2. hi…hi…lucu bayangin makan bakso pakai helm

    ibu, semoga sudah pulih seratus persen, dan selamat atas pencapaian adiknya, senang juga akhirnya bisa lengkap berkumpul dengan saudara kandung setelah sekian lama ya

  3. waah..reuni keluarga yang menyenangkan ya bu… nitip selamat buat adik ibu atas gelar Doktornya 🙂

  4. waaa … kumpul-kumpul … pasti seru 😀

  5. Jakarta, Semarang ngumpul di Malang tuk mangayubagya ujian terbuka ya bu En, Selamat tuk pencapaian mbak Susi, semangat belajarnya jadi teladan. Selamat berlibur bu En

  6. Buuuu….
    aku nyamar dulu yaaaaa…hihihi…

  7. Seru sekali bisa meluangkan waktu bersama keluarga ya bu…

    Aku aja kalo mau ketemuan sama kedua adek ku ribetnya minta ampun…padahal masih mahasiswa kedokteran ajah…gimana kalo udah pada jadi dokter yah…ckckck…

    Itu poto adek nya Bu Enny sama singa ekspresi nya unyu sekali siiiih…hihihi…
    Pasti adek nya bu Enny orangnya kocak yah 🙂

  8. Waduh, saya ketinggalan berita. Ternyata Malang sudah ada bandara komersialnya ya Bu…
    (keliatan kalau ke Malang, saya juga naik Nusantara) 😀

  9. Ha ha, tiap daerah berbeda adat isiadatnya ya. Menarik juga cerita Bu Enny tentang perilaku orang Malang yang tetap memakai helm sambil bercakap2. Emang gak bisa dilepas dulu tuh helm? Namanya juga sudah habit. He he….

  10. bandara militernya pindah ke mana ya Bu?
    btw Bu.. kalau kereta Surabaya-Malang sendiri apa masih jalan?

  11. Malang memang menawan, Bu!

  12. aku naksir dengan radio jadulnya..i wish i was there, langsung kutawar deh

  13. Wah selamat untuk adiknya ya Bunda 🙂

    Hmm bakso president? Aku belom nyobain. Besok kalo pulang ke Malang mau cobain aah

  14. saya pernah tinggal di malang 3 tahun bu, tapi belum pernah ke tempat2 yang bu enny ceritakan :)) hahahha

  15. wah serunya berkumpul bersama keluarga ya bu, taman indienya keren banget!interiornya jga lengkap menggambarkan suasana jadul jaman dulu. jadi inget mbah uti dan dandangnya, hehe

  16. Nice story bu.. Next time kalau ke Malang, coba menginap di Hotel Kartika Graha. Baru direnovasi, Suasana asik bener.. Sore sampe malem bisa karaoke and hangout di My Place… Hehe… More info klik http://www.kartikagrahahotel.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: