Tugas Luar: dari hotel ke hotel

Tugas luar, atau sering disebut pula turne, merupakan hal yang umum terjadi di dunia kerja. Tugas luar ini perlu karena dengan melihat ke lapangan, kita bisa mengecek kebenaran permasalahan yang ada dan dapat segera mengantipasinya jika terjadi tanda-tanda dini akan terjadi masalah, sehingga dapat lebih cepat mengatasinya. Pada saat melaksanakan tugas luar, kita sering harus menginap di kota lain, belajar budaya masyarakatnya, menikmati wisata kulinernya.  Banyak suka duka yang kita peroleh saat menjalankan tugas luar atau dinas ke luar kota.

Pada suatu ketika saya mendapat tugas dinas ke daerah di ujung utara barat Sumatra, saat itu masih pertengahan tahun 90 an, untuk mengunjungi kebun sawit. Kebetulnya klien  saya bergerak di bidang kontruksi pembangunan pabrik kelapa sawit, serta pembuatan mesin pembuatan minyak sawit.  Kota terdekat dari kebun kelapa sawit ini adalah Rantau Prapat, jadi saat malam menjelang kami mencari hotel terdekat. Saat itu Rantau Prapat masih sepi, dan ini satu-satunya hotel terbaik saat itu. Tak lama setelah saya masuk kamar, pintu kamarku di gedor teman. Dia menanyakan apakah saya bawa sabun lebih? Saya agak bingung, rupanya dia mau mandi, ternyata handuk dan sabun tak disediakan, air panaspun tak ada pula. Apa  boleh buat, sabun kecil yang saya bawa dan handuk dibagi dua, jadi masing-masing hanya memakai handuk sebesar sapu tangan. Saya memang selalu sedia handuk kecil, karena biasanya di hotel sudah disediakan handuk, jadi kalau ternyata handuknya tak memenuhi syarat, saya tetap bisa menggunakan handuk kecil yang saya bawa.

Saya pernah pula menginap di hotel di kota Wamena, juga masih pertengahan tahun 90 an.  Pesawat merupakan hal yang ditunggu penduduk Wamena, karena membawa minyak goreng serta bahan kebutuhan pokok lainnya. Karena klien yang saya kunjungi bergerak di bidang perhotelan, kami tak sulit mendapatkan makanan, karena bisa makan di restoran hotel. Saat itu jika kita jalan-jalan ke pasar Wamena, 90% lebih penduduk masih memakai koteka, dan kalau kita ke pasar, suasananya mirip di film-film “Tutur Tinular” zaman dulu. Temanku sakit perut, mungkin perut nya kaget kebanyakan makan udang sungai yang besar-besar khas Wamena, jadi kami menyusuri pasar Wamena untuk mencari norit (obat sakit perut), yang harganya sepuluh kali lipat harga di Jakarta.

Pagi hari para pegawai hotel berpakaian rapih….namun malamnya mereka  memakai  koteka dan yang wanita memakai rok rumbai-rumbai, siap menghibur tamu.  Pada malam hari kami tidur di Honai, yang di dalamnya seperti fasilitas kamar hotel bintang 4. Saat menjelang tidur, saya mendengar suara kresek….kresek…. Saya bangun langsung menggedor pintu penghubung antara kamar saya dengan teman.  Ternyata, ada penduduk yang mengintip, walaupun tak mungkin terlihat.

Saat kunjungan di Padang, ternyata hotel yang saya tempati merupakan hotel yang saat terjadi gempa,  ambruk dengan banyak korban. Syukurlah saat tahu hal itu, saya sudah tidur 2 malam di hotel tersebut, satu kamar berdua dengan teman lain. Padahal saat awal masuk kamar, sudah terasa tak nyaman, tapi ya apa boleh buat, fasilitas yang disediakan oleh panitia ya hotel tersebut.

Saat kunjungan ke Aceh, 14 bulan setelah tsunami, saya menginap di hotel yang merupakan satu-satu nya hotel yang selamat dari kerusakan tsunami karena hotel tersebut dikelilingi oleh ruko. Hotel bintang tiga tersebut, mempunyai kamar mandi yang menggunakan tangga ke bawah…duhh rasanya seperti di film horor. Dan konyolnya, setiap kali habis makan, rasanya ngantuk sekali, dan pengin segera tidur. Jadi, yang setiap kali saya lakukan, begitu masuk kamar, segera membersihkan badan, mandi, wudhu dan segera sholat. Rasanya belum sempat membaringkan badan dengan benar, saya sudah tertidur. Suatu ketika, saya naik filt berdua teman lain, di tengah-tengah perjalanan lift macet…waduhh…syukurlah pagi hari. Saya pencet bel, tak ada yang datang satupun, dan karena hotel ini merupakan hotel lama, lift tak menutup rapat, sehingga kami tak kehabisan nafas. Saya mengambil hape, menelpon panitia, dan panitia ini menelpon hotel, mengatakan ada temannya yang terjebak, baru deh saya dan teman bisa keluar dari lift. Sejak itu, selama menginap di hotel tersebut,  saya memilih menggunakan tangga, walau suka serem juga, apalagi tangganya sepi. Teman yang lain, yang mendapat karunia bisa melihat mahluk halus, cerita sama saya…”Andai ada pesawat paling malam ke Jakarta, saya akan pulang malam itu juga, walau tengah malam.” Rupanya teman ini didatangi hantu perempuan yang mengajak mengobrol. Tapi teman ini memang tak suka tidur di hotel, bahkan saat di kantor pun dia bisa melihat makhluk lain. Syukurlah saya selama ini aman-aman saja..berdoa, semoga tak perlu melihat hal-hal aneh.

Saat bertugas ke Pontianak, saya mendapat hotel ditepi sungai Kapuas. Hotelnya bagus, namun saat malam menjelang tidur, setelah sholat Isya dan siap tidur, saya merasa ada orang yang besar sekali ikut numpang di tempat tidurku. “Mati aku“, kataku dalam hati. Jika saya berhasil keluar kamar, saya tak mungkin bisa tidur sekamar dengan teman saya, karena dia laki-laki, jadi saya mencoba membaca segala macam doa yang saya ingat. Saya hanya percaya bahwa manusia adalah makluk tertinggi yang diciptakan oleh Tuhan…. kira-kira setengah jam kemudian, saya merasa kasur saya enteng…dan ada seperti angin kencang menuju jendela…dan setelah  itu pula perasaanku menjadi tenang.

Saya pernah mengalami salah masuk hotel.  Sejak sebelum berangkat saya sudah mendapat konfirmasi akan ditempatkan  di hotel MB….yang merupakan hotel baru yang letaknya di belakang hotel BA, merupakan hotel lama berbintang 3. Dengan pedenya, karena panitia mengatakan kita tidur di hotel MB, maka kami pergi ke hotel bertingkat tersebut. Ternyata hotel tersebut penuh, apalagi di kota tersebut sedang diselenggarakan konferensi nasional, sehingga sulit untuk pindah ke hotel lain. Bayangkan saja, sopir yang  mengantar sudah  disuruh pergi….syukurlah akhirnya petugas hotel mau mengantar untuk pindah ke hotel BA yang letaknya di seberang. Saya kesal sekali, bukan kok soal hotel bintang 3, bintang 4 atau losmen, namun tak sesuai dengan janji. Sejak itu, jika mendapatkan pemberitahuan kami akan tidur di hotel mana, maka saya meminta staf untuk konfirmasi dulu pada hotel yang bersangkutan serta meminta kode booking nya (mis. EDR -180473: RT-180475 dan DT-180476). Pengalaman ini membuat kami akan selalu ngecek jika hotel dipesankan pihak lain, apakah sudah ada kode bookingnya.

Biasanya malam pertama tidur di hotel merupakan malam yang menentukan, kalau malam itu bisa tidur nyenyak, dan bangun dengan perasaan badan yang segar, maka malam-malam berikutnya kita merasa sudah seperti di rumah sendiri. Sayangnya, seringkali kita hanya tidur semalam atau dua malam di hotel tertentu, meneruskan perjalanan ke kota lain, tidur di hotel yang lain lagi, akibatnya selama perjalanan sering tidak dapat tidur nyenyak dan terpaksa lampu kamar terang benderang,  sehingga sebetulnya wajar kalau kita pulang tugas dari luar kota,  penginnya tidur terus. Tidur di rumah sendiri, betapapun sederhana rumah kita, terasa bagaikan istana.

Iklan

14 pemikiran pada “Tugas Luar: dari hotel ke hotel

  1. rupanya tak selamanya dapat hotel enak ya Bu, jadi pengalaman unik juga,
    ih serem ada yg mau nemanin bobok, bacanya jadi merinding

  2. Alhamdulillah … saya belum pernah mengalami pengalaman menginap di Hotel seperti yang Ibu alami …

    Namun demikian … yang selalu terjadi adalah …
    Malam pertama selalu saja saya tidak bisa tidur …. mau di hotel bintang berapapun … dimanapun … (walaupun hotel tersebut pernah saya inapi sebelumnya … tetap saja terjadi …)
    frekuensi badan saya sedang penyesuaian …

    Salam saya Bu

  3. Pengalaman menginapnya banyak yang luar biasa bu. Tapi itu tentang norit yang 10 x lipat baru tahu saya, bisa semahal itu ya di ujung sana. Pantas jika orang daerah lain bertandang ke Jawa mereka menilai barang2 di sini murah2.

  4. wah jam terbang saya belum seperti bu enny…kalaupun ditugaskan sama kantor saya lebih senang ga usah menginap…kecuali kalau memang pekerjaannya harus dilanjutkan esok harinya

  5. Tugas yang tentu menambah banyak pengalaman ya, Bu.

    Ohya, Bu, saya lagi mengadakan mengadakan giveaway betapa senangnya ngeblog. Ikutan ya, Bu. Lebih lengkap silakan dilihat di blog saya. Makasih….

  6. Bu Enny, ceritanya menarik semua. Baru tahu kalau tidur di hotel tidak selamanya enak. Saya jarang sekali tidur di hotel. Bisa dihitung dengan jari. Soalnya dulu waktu masih kerja kantoran, jarang tugas ke luar kota. Kalaupun ke luar kota, tidurnya di mess kantor. Enak-nggak enak sih. Tapi bagaimanapun tidur di rumah sendiri memang lebih nyaman ya, Bu. Oya, tapi yang agak aneh bagi saya adalah, dulu ketika tinggal di asrama, saya rasanya kok kerasan sekali ya? Lebih suka tidur di asrama ketimbang di rumah sendiri. Padahal ranjangnya kecil. Dan saya selalu milih tempat tidur atas. Hehehe. Mungkin karena banyak temannya dan kalau sebelum tidur cerita-cerita dulu dengan teman-teman.

  7. Zee

    Bu.
    Saya kalau udah capeeeekkkk banget, nginap di hotel manapun langsung tepar hahahaa…. Tapi ya selama memang hotelnya bener alias dirasa aman.

  8. Klo saya DL biasanya krn ikut pelatihan2 bu…tidak selalu di hotel, sering juga di balai diklat.. tapi, dimanapun..tetep saja sering muncul rasa was-was sblm tidur sehingga ‘baca-baca’ itu selalu, hehe…

  9. Berbagai pengalaman ya bu En, perasaan awal masuk ke kamar hotel sering mempengaruhi mood ya bu, bila awal sudah tidak sreg bawaannya tidak sreg saja. Salam

  10. Kalau sudah di jalan harus siap dengan semua kemungkinan ya, Bu hehe
    suatu ketika di Banda Aceh, saya menginap di hotel tua, rasanya tidur nggak nyenyak karena berisik entah karena apa, saya pikir karena dipinggir jalan raya. Besoknya saya niat akan pindah hotel, berhubung kemudian sibuk sekali akhirnya nggak sempat. Setelah 3 malam di sana dan hampir tiap malam tidur larut karena pekerjaan, akhirnya saya sadar yang berisik itu kamar sebelah, tiap malam mindah-mindahin perabotan sampai subuh, penasaran banget buat lihat kesibukan yang bikin berisik itu pas ngecek, baru di depan selasar udah sepi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s