Oleh: edratna | Juni 23, 2012

Tugas luar: transportasi udara tak selalu nyaman

Suatu pagi yang masih gelap, sopir taksi yang mengantar saya ke bandara berkata, “Enak ya bu, bisa bepergian kemana-mana.”  Mungkin membayangkan naik pesawat, dari kota ke kota lain terasa menyenangkan. Di satu sisi memang banyak pengalaman yang menyenangkan, kita menjadi tahu daerah lain dengan berbagai budayanya, namun jika terlalu sering, juga membuat jenuh. Apalagi terkadang perjalanan tak selalu seindah yang dibayangkan. Kalau cuaca baik, perjalanan naik pesawat memang terasa nyaman, apalagi dengan pesawat sekarang yang seringkali dilengkapi dengan hiburan film atau musik yang bisa dipilih sendiri oleh penumpang. Juga makanan yang disajikan terasa hangat, walau kadang tak sesuai selera, namun harus dipaksakan untuk makan agar tak masuk angin.

Kaca jendela pesawat retak

Suatu ketika, dalam perjalanan ke Palembang, saya tergoda untuk mencoba pesawat dengan tiket murah, kalau tak salah pesawat “S”. Saya dan staf sudah berada di  bandara Soekarno-Hatta sejak pagi, dan sudah masuk ke ruang tunggu penumpang. Melewati waktu boarding tak ada pemberitahuan apa-apa, penumpang di kiri kanan saya mulai terlihat gelisah. Tak lama kemudian ada pengumuman, bahwa pesawat akan terlambat. Saya mendatangi petugas untuk menanyakan kepastiannya, berapa lama terlambatnya, serta apa yang terjadi. Setelah menunggu dua jam, tak ada tanda-tanda pesawat akan berangkat, padahal saya dan tim telah ditunggu klien untuk rapat di Palembang yang kemudian akan dilanjutkan meninjau kebun sawit.  Saya kembali mendatangi petugas, menanyakan apa masalahnya, katanya pesawat mengalami keretakan pada kaca jendela. “Waduhh, ini tidak main-main.” Mengganti kaca mobil saja, kalau mobil bagus, kadang harus dipesan dari luar negeri, apalagi ini pesawat. Akhirnya saya dan tim sepakat untuk ganti pesawat. Masalah muncul, karena koper terlanjur masuk  bagasi, setelah melalui perdebatan yang alot, kami akhirnya mendapatkan ganti rugi, dan ganti naik pesawat Garuda. Rasanya malu sekali, karena sampai Palembang sudah sekitar jam 2 siang, dan setelah Magrib kami berangkat ke kebun sawit melalui jalan lintas Sumatra yang bergelombang dengan lubang sebesar kubangan kerbau. Alhasil, kami sampai di  wisma yang terletak di tengah kebun sawit jam 01.00 malam, dan besok pagi jam 6.30 wib sudah siap berkeliling kebun.

Sejak itu, saya selalu menggunakan pesawat Garuda, dan jika ada janji meeting, saya berangkat sehari sebelumnya, walau sampai di kota yang dituju sudah malam.

Berganti-ganti pesawat, serta naik kapal

Pada perjalanan ke daerah Sorong, teman yang menjadi Pimpinan Cabang di Sorong menelpon agar saya memakai celana panjang (saat itu pakaian kantor untuk kaum perempuan adalah rok), serta membawa baju secukupnya, nanti di Sorong tinggal di laundry. Teman saya juga mengatakan, jika sudah sampai Makassar dan mau boarding, agar menelpon dulu, karena dia akan berangkat menjemput kami. Tak ada bayangan, mengapa mesti menelpon agar dia berangkat menjemput. Rupanya teman saya pengalaman bahwa pesawat bisa di delay. Saya dan staf berangkat naik pesawat Garuda yang sudah terlambat dari bandara Soekarno-Hatta dan transit di Makassar. Rupanya penumpang dari pesawat Garuda yang berasal dari Surabaya telah menunggu lama, sehingga saat pesawat kami mendarat di bandara Makassar, maka petugas langsung berteriak-teriak….Sorong…Sorong….seperti di terminal bis. Saya yang masih bingung didatangi petugas, ditanyakan tujuannya kemana. Begitu tahu saya dari Jakarta tujuan Sorong, petugas mengangkat koper saya mau dimasukkan ke bagasi. Saya ngotot tak mau, dan petugas mengatakan..”Bu, ibu lihat sendiri, koper ibu saya masukkan bagasi di pesawat“. Setelah memastikan bagasi saya masuk dalam perut pesawat, saya baru naik pesawat, yang ternyata harus transit lagi di bandara Ambon.

Dari Ambon, baru pesawat Garuda menuju Sorong…..begitu saya keluar dari bandara, saya tertegun, karena melihat laut berkilauan hanya berjarak tak kurang dari 50 meter dari bandara, serta kapal-kapal bersandar di dermaga. Teman saya beserta klien datang menjemput, saya dan teman melangkah diantara perahu-perahu yang bertebaran,  menuju speedboat yang dikendarai sendiri oleh klien yang hendak saya tinjau usahanya di Sorong. Ternyata kami sudah begitu terlambat sampai  di bandara Sorong, yang saat itu terletak di pulau Jeffman, dan masih memerlukan penyeberangan selama 30 menit melalui kapal laut. Laut cukup bergelombang, jika kami duduk di dekat mesin yang tertutup, bau bahan bakar begitu menyengat, sedang duduk di luar, air laut yang bergelombang membasahi baju kami. Staf saya sudah pucat pasi, saya masih bisa bergurau…”Paling tidak, kalau terjadi apa-apa, kita akan terdampar di pantai barat Amerika.”

Jadi, pesan teman agar kami membawa baju secukupnya agar bisa masuk kabin, dimaksudkan agar koper terbawa sampai Sorong, karena jika pesawat kelebihan muatan, maka koper tidak dibawa, dan baru akan sampai Sorong dua hari kemudian. Pulau Jeffman yang kecil tak memungkinkan pesawat berbadan lebar untuk mendarat, sedang pesawat kecil terbatas kapasitas muatannya.

Berusaha naik pesawat paling pagi

Dari berbagai pengalaman, berangkat pagi membuat risiko tertunda berkurang, karena cuaca masih bagus. Apalagi saya seringkali langsung on the spot di lapangan, begitu sampai di tempat tujuan. Apalagi pada tahun sekitar 90 an banyak landasan di beberapa kota yang hanya bisa dipakai mendarat pesawat kecil. Saat pergi ke Wamena, klien kami menyarankan berangkat pesawat paling pagi dari bandara Jayapura, dan besoknya kembali dari Wamena juga dengan pesawat paling pagi. Dan jangan kaget jika dalam pesawat kita akan menemukan kambing, juga beberapa kursi pesawat yang dikosongkan untuk diisi bahan pokok, karena kota Wamena hanya bisa dicapai melalui udara.

Jika lokasi yang hendak ditinjau bisa dituju dengan menggunakan pesawat, dan disambung kendaraan roda empat, itu masih lumayan. Terkadang harus disambung dengan naik kapal di sungai, yang kalau air pasang tak bisa dilalui, sedang kalau air surut kita bisa terjebak di gosong (daerah di tengah sungai yang dangkal). Syukurlah saya tak pernah mengalami terjebak di sungai, namun teman saya pernah terpaksa mengalami tidur di kapal di tengah sungai, menunggu air pasang, baru perjalanan bisa dilanjutkan melalui sungai.

Iklan

Responses

  1. Bu Enny, ternyata perjalanan dengan pesawat macam-macam ya pengalamannya. 🙂 Saya sebetulnya penasaran dengan daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Sepertinya cantik-cantik. Tapi mungkin yang jadi kendala sampai sekarang adalah transportasi, ya Bu.

  2. cerita suami saya kalau SPJ (hihi, sekarang jarang dengar istilah turne) ke luar pulau juga seru. dia sudah menyambangi semua pulau besar Indonesia berkat undian Untung Beliung dulu.

  3. untungnya ibu punya daya tahan tinggi naik segala macam kendaraan ya …., nggak pernah mabuk perjalanan ya BU ?

  4. waduh itu yang kaca retak kok bisa gitu ya… hahaha.

    kalo pengalaman saya perjalanan yang paling ribet tuh pas ke pondsite di pedalaman lampung sana bu. jadi kudu naik pesawat dari jakarta ke lampung, nyambung naik mobil 2 jam yang mana jalannya berliku2 lewat jalan yang sepiiii banget, trus nyambung speedboat lagi 45 menit, baru bisa nyampe lokasi. ampun dah…

  5. Bepergian naik pesawat sering berpacu dengan waktu, dan nggak taunya malah delay…
    Disamping itu perjalanan menuju Bandara juga kadang banyak makan waktu.
    Diperparah lagi dengan waktu tunggu yang kadang bikin jenuh.
    Keluar dari Bandara juga banyak waktu terbuang karena biasanya letak bandara yg jauh dari pusat kota

  6. Bu, saya ini sekarang parno deh kalau naik pesawat. Mungkin karena seringnya terjadi kecelakaan pesawat ya. Jadi biar hati agak nyaman, saya selalu memilih pagi hari sekali atau malam sekalian…

  7. kisahnya seru2 yah Bu…. kalo istilah saya nge-Bolang:)…. memang seru traveling dengan segala tantangannya, Viva bolang-ers…. hehe

  8. baca cerita ini…, memang pake garuda saja ya biar lebih aman… kalalu ga kepepet ya.. ceritanya menggumkan nih,,,,,

  9. ternyata tak selau yg namanya naik pesawat itu nyaman ya bu.. *ya lihat2 pesawatnya juga ding, hehe..*

  10. Trimakasih bu En berbagi cerita ini, untuk membantu antisipasi dari berbagai penugasan meski via terbang sekalipun. Salam

  11. saya adalah orang yang memiliki pemikiran sama dengan supir taksi tersebut berkaitan dengan jalan-jalan.
    walau saya faham bahwa jalan dalam rangka dinas berbeda dengan jalan-jalan, tapi tetap saja melihat orang-orang yang melakukan perjalanan dinas adalah sesuatu yang “enak banget”.

  12. Sayang nggak ada barbuk, foto-foto 😀
    Bu, bandara Sorong sudah lama di “daratan” cuma masih belum bisa didarati oleh pesawat besar, landasannya juga pendek.

  13. jadi ingat naik kapal laut perintis 3 hari 3 malam untuk menuju tempat proyek di pulau miangas.. itu pun kapal cuma singgah 1 minggu sekali disana..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: