Komunitas

Komunitas sesuai Wikipedia, adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”. (Wenger, 2002: 4). Menurut Crow dan Allan, Komunitas dapat terbagi menjadi komponen: 1. Berdasarkan Lokasi atau Tempat Wilayah atau tempat sebuah komunitas dapat dilihat sebagai tempat dimana sekumpulan orang mempunyai sesuatu yang sama secara geografis. 2. Berdasarkan Minat. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan teman untuk kumpul-kumpul, menyalurkan hobi, melakukan kegiatan bersama, untuk melepaskan lelah setelah bekerja selama berhari-hari, serta juga untuk mengusir kejenuhan.

Pada saat masih aktif bekerja, terkadang waktu kita tersita dengan berbagai kesibukan, bahkan untuk melakukan hobi sering tertunda. Pada saat karir sedang di atas, bahkan waktu untuk keluarga sangat berkurang. Waktu libur akhir pekan, masih sering terganggu oleh pekerjaan kantor, cutipun sering ditelepon atasan untuk mempercepat waktu cuti. Setelah pensiun, atau berhenti bekerja, kegiatan rutin menjadi berbeda. Disini diperlukan adanya sebuah komunitas untuk mewadahi kita, agar tidak jenuh, serta tidak kaget adanya perubahan ritme kerja yang mendadak.

Kebutuhan akan ketemu teman lama ini, akhirnya teman-teman saling mencari jejak teman seangkatan serta satu angkatan di atas dan dibawahnya, melalui media sosial. Saya akui, saat mencari jejak teman-teman lama, media sosial sangat membantu. Betapa senangnya menemukan teman-teman lama, yang “agak terlupakan” karena kesibukan masing-masing, dan pertemuanpun digelar, yang akhirnya dilakukan secara rutin. Dan pertemuan ini tidak saja melibatkan kami yang memang merupakan teman sejak masih lajang, namun pertemuan juga melibatkan isteri/suami, anak menantu serta cucu. Betapa terasa bahwa kita semakin tua, teman-teman sudah mulai meninggalkan dunia hitam (alias rambut sudah memutih semua), beberapa teman telah mendahului kita meninggalkan dunia ini. Tak terasa setiap kali pertemuan, yang diadakan 6 (enam) bulan sekali, jumlah teman semakin menyusut.

Dari teman perempuan sesama kuliah, beberapa telah ditinggal suaminya, sehingga hanya sendiri bersama anak-anaknya. Kondisi ini makin mempererat pertemanan, yang pada akhirnya kita sepakat menggelar pertemuan rutin. Dan para ibu-ibu, yang sebagian masih aktif mengajar, ada yang sudah pensiun dari jabatannya yang tinggi, akhirnya sepakat untuk mengadakan pertemuan, untuk mempererat silaturahim, sekaligus bisa melepas kepenatan, mengobrol hal-hal yang bermanfaat.

Kami sepakat ketemu di Penvil (Pejaten Village), sekaligus membahas rencana kepergian teman-teman untuk menengok teman seangkatan yang berasal dari negeri jiran. Pada reuni sebelumnya, teman-teman ini berkenan hadir pada reuni kami di Bogor. Dari obrolan santai berkembang menjadi setengah serius. Teman saya yang satu, mantan Direktur di Perlindungan Tanaman, mengatakan..”Kita mesti sering-sering ketemu nih, paling tidak sebulan sekali. Anak-anak kita sudah besar, sudah menikah, mereka punya kegiatan masing-masing. Jadi, kita juga harus punya kegiatan yang bermanfaat.” Saya sepakat, tentu saja…..walau pertemuan nggak sampai tiga jam, namun terasa benar efeknya, hati ini sangat lega…dan ternyata yang mengalami keresahan, kadang kejenuhan, bukan kami saja…ini dirasakan oleh semuanya.

Salah satu teman mengatakan, ibu nya sangat rajin menulis, mempunyai buku harian yang ditulis tangan. Buku tulisan tangannya bermacam-macam, dari resep masakan, tentang “remah-remah kehidupan”, tentang sosial-ekonomi, politik, suka duka sebagai orangtua dan lain-lain nya. Kamipun berseru…”Tin, tulisan ibunda mu harus dibukukan, bayangkan betapa beliau yang sudah usia 85 tahun masih bisa mencurahkan pikirannya melalui tulisan.” Saya merasa,  ibunda nya Tin sangat tangguh, betapa saya merasa kecil, karena untuk menulis di blog saja merasa tak punya waktu. Bukankah kita bisa menyisihkan waktu, dari 24 jam kali tujuh hari dalam seminggu? Bukankah kita tak terus menerus sibuk? Saya mulai introspeksi diri, mungkin saya yang tak bisa mengatur waktu. Memang saya tak berhenti bekerja setelah pensiun, tidak dalam arti kerja yang sangat aktif seperti masa muda, namun masih memiliki berbagai kegiatan. Apakah semua kegiatanku menyenangkan? Masih adakah waktu untuk diri sendiri? Untuk berdiskusi bersama teman-teman?

Teman di kantor Yayasan mengatakan, kalau tidak pergi ke Yayasan, maka dia bersepeda bersama teman-teman seusia nya, mengelilingi kompleks perumahan tempat tinggalnya. Sungguh menyenangkan, namun kita juga harus me maintain kesehatan kita, tak boleh terlalu “ngoyo” dalam menjalani aktifitas di hari tua ini. Teman saya ini sempat di rawat di rumah sakit, gara-gara kelelahan setelah bersepeda di jalan menanjak, serta terlalu lama melakukan kegiatan nya.

Para mantan karyawati di lingkungan kerja saya, dari sekedar mengobrol di bbm group, akhirnya sepakat menyelenggarakan pengajian bulanan. Para karyawati yang super sibuk ini, sebagian besar telah pensiun, ada yang masih dalam tahap mendekati pensiun. Karena mengobrol melalui bbm dirasakan kurang memadai, akhirnya sepakat untuk melakukan pertemuan, namun pertemuan yang bermanfaat untuk semua. Para ibu-ibu ini awalnya merupakan tetangga di kompleks rumah dinas kantor kami. Saat masih aktif,  walaupun tetangga dan satu kantor, pada kenyataannya untuk ketemu tidak mudah, ketemu-ketemu di ruang rapat kantor.

Iklan

8 pemikiran pada “Komunitas

  1. Saya jadi kepikiran masalah yang sedikit lain lagi, Bu, yaitu bertamu. Dulu itu, ketika saya kecil, kemudian bersekolah, dsb, sering mengamati bahwa komunitas-komunitas manusia itu lebih sering bertemu dengan saling bertamu ke rumah. Malah ada pula yang membuat acara arisan dan sebangsanya dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Anak-anak sekolah juga sering berkunjung ke rumah kawan sekolahnya untuk bermain atau sekadar belajar bersama.

    Akhir-akhir ini sepengamatan saya hal ini sudah sedikit tidak diminati. Komunitas lebih sering maunya bertemu di luar, misal di mall, di food court, di restoran, dsb. Jarang sepertinya ada yang bertamu ke rumah. Apalagi sekarang arisan-arisan diadakannya di tempat-tempat selain rumah tsb. Bahkan anak-anak sekolah juga belajar bersamanya di mall atau kafe-kafe, tidak lagi di rumah salah satu kawan sekolah.

  2. betul sekali bu………….. saya juga merasa menyia-nyiakan anak dan istri saya ketika karir lagi melonjak………….. salam kenal dari bartim

  3. salah satunya foto kegiatannya yang kemarin di-upload di facebook itu ya Bu.. Ayah saya sekarang juga aktif dalam komunitas baru setelah memasuki masa pensiun. Dan kelihatan sangat happy, hehehe

  4. mechtadeera

    Memang banyak manfaat yg didapat dengan keterlibatan dalam komunitas ya bu… tak hanya bagi peserta namun juga bisa bermanfaat bagi keluarga atau masyarakat sekitar.. Semoga lestari persahabatannya ibu…

  5. Kelestarian komunitas perlu diupayakan melalui interaksi komunikasi agar dinamis. Selamat berekspresi melalui komunitas dimana bu En berperan. Salam

  6. Bu Enny, tulisan Ibu ini mengingatkan saya saat saya bertemu teman-teman asrama dulu. Ternyata kami memiliki kegelisahan yang sama. Dan rasanya plong saat dibicarakan bersama. Ngobrol jadi lama. Dan pertemuan semacam itu jadi “ngangeni.” 🙂

  7. Dan kayaknya setiap kita punya komunitas, sekecil apapun, entah formal atau non formal. Bahkan ada yg ikut dibanyak komunitas….
    Itulah mungkin pengejawantahan bahwa manusia itu makhluk sosial yg tak bisa hidup sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s