Oleh: edratna | Juli 25, 2012

“The Panadol Problem”

Saat menghadiri seminar pada akhir Desember 2010 dengan judul “Risks and Challenges: Global Economy, Indonesia and Indonesian Banking” dengan pembicara  Prof. Dr. John Vong, PhD (Bradfort), CPA,  Director of TLCA and World Bank, IFC Senior Advisor, New York, saya mengenal istilah “The Panadol Problem” ini. Ceramah ini antara lain membahas tentang: 1) Gambaran kondisi ekonomi global, regional dan nasional yang terkini dan berbagai prediksinya.  2)Kondisi ekonomi global tidak terlepas dari situasi ekonomi dan perkembangannya di Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Asia, Amerika Latin, dan negara berkembang lainnya.  3) Aspek yang dibahas terutama adalah perkembangan mata uang US dan mata uang asing yang dominan lainnya,  harga emas, tingkat dan pertumbuhan inflasi,  harga minyak, GDP,  dan terutama masa depan perekonomian Indonesia yang dinilai pembicara cukup cerah prospeknya. 4)Pemicu pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang disimpulkan dari konsumsi individu dan investasi. 5)Nilai Risiko Indonesia dilihat dari berbagai indikator, antara lain: Keamanan, Stabilitas Politik, Efektivitas Pemerintah, Regulasi dan Hukum, Makroekonomi, Keuangan, Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran, Kebijakan Perpajakan, Pasar Tenaga Kerja, Infrastruktur, dan Risiko secara keseluruhan. 6)Gambaran Risiko Infrasruktur di Indonesia, Energi, Komunikasi dan Transportasi, dan Perkiraan Cadangan untuk kejadian risiko di Indonesia. 7)Arsitektur Perbankan yang baru dengan mempertimbangkan perkembangan penerapan Basel III. 8)Tuntutan pembentukan Credit Bureau.

Saya tidak membahas tentang isi seminar Mr. John Vong, namun menceritakan kebiasaan sehari-hari berkaitan dengan minum panadol ini. Istilah The Panadol Problem ini muncul, karena seringnya kita mengobati segala macam jenis penyakit dengan obat Panadol. Nama Panadol ini adalah nama obat yang dijual di pasar, yang isinya adalah parasetamol. Parasetamol ini digunakan untuk obat nyeri ringan sampai sedang (termasuk sakit kepala, mialgia, keluhan sesudah imunisasi dan keluhan setelah tonsilektomi), serta menurunkan demam yang menyertai infeksi bakteri dan virus (sumber: Daftar Obat Indonesia  halaman 400, yang disusun oleh Dr. S.L. Purwanto Hardjasaputra, Dr. Gunadi Budipranoto, Drs. SU Sembiring Apt dan H. Insan Kamil, terbitan Grafidian Medipress tahun 2002). John Vong menggambarkan, jika ada permasalahan di bidang ekonomi, kita harus berhati-hati membuat diagnosanya, dan tidak semua masalah ekonomi obatnya sama, jangan seperti kebiasaan kita memakan obat panadol. Apapun sakitnya obatnya adalah panadol.

Saya tersenyum sendiri mendengar ceramah ini, karena saya mengenal panadol sejak masih pegawai baru, yang memberi saran adalah sahabat saya, yang kebetulan kakak iparnya seorang dokter. Saat ibu mertua sakit, dan saat sakitnya menjadi berat, dokter hanya memberi resep panadol. Resep yang sama jika saya sakit saat hamil. Saat itu saya berpikir, bahwa kanker yang di derita ibu mertua saya sudah lanjut, sehingga dokter hanya memberikan obat untuk memberi sugesti……memang akhirnya ibu mertua dipanggil Allah swt tak lama kemudian. Kebetulan dokter yang merawat ibu mertua, juga merawat saya saat hamil.

Saat masih mahasiswa, saya tahan dengan berbagai jenis obat, namun semakin bertambah usia, saya hanya tahan dengan obat-obatan yang ringan, atau obat generik. Sehingga jika saya sakit dan ke dokter, diantara obat yang diberikan, saya diberi panadol. Sampai suatu saat, adik bungsuku sakit jantung dan saat rawat jalan setelah menjalani operasi, adikku sementara tinggal di rumah saya. Dia bilang, “Mbak Niek, kalau ingin tidur nyenyak, minum panadol aja.” Anjuran yang aneh menurutku, namun saat nggak bisa tidur, kelanjutannya adalah rasa pusing, akhirnya saya mengikuti saran adik… dan ternyata bisa pulas dan besoknya bangun dengan segar. Tentu saja, hal ini jangan ditiru ya, karena belum ada penelitian, dan juga saya bukan dokter.

Jadi bisa dibayangkan, saat Mr. John Vong mengatakan itu pada seminar, saya langsung tersenyum. Hari-hari awal puasa ini, saya sariawan, yang diberi albothyl tidak mempan, malahan sariawan menyebar ke seluruh bawah lidah, sakitnya minta ampun deh, jadi sulit makan, dan semua makanan rasanya tak enak. Mau ke dokter belum sempat, setiap hari pulangnya sore menjelang Magrib. Sebetulnya persediaan obat cukup, namun rasanya kalau belum ketemu dr. D ada yang kurang, mungkin juga karena ada unsur sugesti. Dokter langganan saya sejak 20 tahunan ini, orangnya tidak tampan, namun entah kenapa teman-teman di kompleks merasa cocok dengan dokter ini, orangnya ramah dan suka tertawa. Untuk mengatasi sakit sariawan yang juga membuat badan panas dingin akhirnya saya minum panadol….hehehe….jadi apa yang dikatakan oleh Mr. John Vong berlaku juga pada saya…. apapun sakitnya, selalu ada panadol di dalamnya. Bagaimana dengan anda, karena setiap orang mempunyai pengalaman dalam mengobati penyakit yang sering menyerang secara rutin.

Iklan

Responses

  1. dulu waktu di australia semua dokter ngasihnya juga panadol. kalau 3 hari belum sembuh baru di kasih yang lain…

  2. Sama dengan Applaus, saya selalu sedia panadol, Bu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: