Oleh: edratna | Agustus 31, 2012

Jika ART mudik…..

Jika kita membaca media belakangan ini, banyak ulasan yang menggambarkan bagaimana para majikan terperangkap di dalam rumah nya sendiri, karena sebetulnya yang memegang kekuasaan domestik di rumah tangga para majikan ini adalah para ART (Asisten Rumah Tangga). Berbagai hal dilakukan para majikan untuk mengatasi masalah ini, bisa dengan berlibur sambil menunggu para ART kembali dari mudik, menginap di hotel, atau seharian berjalan-jalan di Mal agar bisa membeli makanan dan nanti pulang ke rumah sudah tinggal tidur. Sudah lama kami tidak mengalami masalah kekurangan ART ini, karena para mbak bergantian pulang kampung, sehingga selalu ada yang tinggal di rumah.

Namun, kondisi Lebaran kali ini berbeda. Suami,  karena kesibukannya membutuhkan si mbak untuk mengelola rumah di Bandung, sedangkan rumah di Jakarta terpaksa kosong dari si mbak. Masalahnya, saat ini ada cucu perempuan (namanya Ara) yang berumur 19 bulan, yang saat ayah bundanya sudah harus masuk kerja, si mbak masih di kampung. Sedangkan sebagai eyang, saya tak kuat lagi jika harus momong seharian, mengikuti cucu berlarian kesana-kemari. Akhirnya disepakati, hari Kamis tanggal 23 Agustus 2012, ayah yang ke kantor, sedang besoknya ganti bunda yang ke kantor dan ayah ganti di rumah menjaga anak. Untuk masakan Lebaran kami memesan ke warung tetangga, yang kebetulan bersedia memasakkan untuk kami. Biaya masakan untuk 60 ketupat, opor ayam (untuk 3 ekor ayam), sambal goreng ati, serta lodeh, biayanya Rp.950.000,-. Apa boleh buat, daripada capek, lebih baik memprioritaskan kesehatan dan agar cucu tetap ada yang mengajak bermain. Kami juga diminta menitipkan 3 (tiga) panci untuk tempat sayur dan laukpauk tersebut.

Saya bersama si sulung dan menantu, bahu membahu berbagi tugas. Si sulung bagian mencuci baju dan mencuci piring gelas, saya gantian momong dan memasak masakan yang sedehana. Sore hari sebelum Lebaran, saya ditelpon kalau masakan sudah siap. Anak saya menjemput masakan tersebut…….dan saya terkaget-kaget. Masakannya banyak sekali, walau saat Lebaran biasanya selalu ada tamu, namun tamunya terbatas pada adik suami, dan para keponakan yang tak sempat mudik. Akhirnya saya menelpon adik yang tinggal di Pondok Gede, dengan pesan agar besok bawa panci, karena akan mendapat pembagian ketupat dan lauk pauknya…hahaha

Seminggu sebelum Lebaran, si kecil badannya “agak panas” dan batuk, jadi rencana mengajak berlebaran ke Bandung terpaksa dibatalkan. Hari kedua Lebaran, saya ke Bandung naik CT Trans sendirian, perjalanan tersendat beberapa kali, rupanya masih banyak orang yang baru berangkat mudik pada hari kedua setelah Lebaran. Bandung-Jakarta yang biasanya ditempuh 2 jam, akhirnya baru sampai Bandung setelah 4 (empat) jam. Sepanjang rest area banyak para pemudik yang beristirahat, sehingga terjadi kemacetan panjang untuk masuk ke rest area tersebut. Sepanjang jalan juga terlihat banyak keluarga menggelar tikar, menikmati makan siang bersama keluarga…..betapa mengharukan, bagaimanapun macetnya, mereka masih bisa menikmati suasana, serta menggunakan ajang tersebut untuk lebih mengakrabkan hubungan antar keluarga.

Suami dan si mbak yang bertugas di Bandung menjemput di pangkalan CT Trans dan kami langsung ke rumah teman suami, yang baru kehilangan putranya karena sakit. Betapa kagetnya suami, ternyata temannya baru saja berpulang tanggal 4 Agustus 2012…..jadi kami akhirnya malah melayat. Biasanya teman suami ini sering telpon ke rumah, namun karena kesibukan suami, yang lebih banyak berada di kampus daripada di rumah, keanehan tadi kurang diperhatikan. Pulang dari rumah teman yang terletak di daerah Hegarmanah ini, kami langsung menuju rumah tante di daerah Cicadas…. jalanan Bandung benar-benar padat. Daerah wisata belanja di Dago, Cihampelas, jalan Riau padat dan kemacetannya meluber sampai ke jalan lainnya. Apaboleh buat, melewati jalan Cihampelas memerlukan waktu lebih dari satu jam….. dan ternyata rumah tante sepi. Setelah om meninggal dunia setahun lalu, tante memang sendirian di rumah karena semua putrinya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Saya menelpon putrinya, yang rupanya sedang mudik ke Solo….dan ternyata tante tahun ini juga mudik ke Solo bersama putrinya, jadi saya akhirnya saling bermaafan lewat telepon.

Mencoba main gender

Besoknya setelah berkeliling silaturahim ke tetangga sekitar rumah, saya dan si mbak belanja ke Griya (Mal di daerah Buah Batu, Bandung). Tak lama suami menelpon, rupanya anak dan menantu saya menyusul ke Bandung….. suara suami terdengar ceria di telepon. Ara senang sekali mencoba memukul gender, yang terasa berbeda dengan suara piano. Jadi akhirnya kami berlebaran di rumah Bandung, sayangnya Ara hanya semalam menginap di Bandung, harus pulang kembali ke Jakarta hari Rabu pagi, karena sang ayah harus masuk kantor hari Kamis. Sampai rumah Jakarta badan terasa capek sekali, mungkin karena perbedaan cuaca antara Bandung dan Jakarta, sehingga kami memutuskan untuk beli makanan lewat delivery order saja. Diputuskan memesan sup iga dan sate iga dari Iga Bakar Sugiri di daerah Cipete Raya…syukurlah mereka buka pada libur Lebaran ini. Senang sekali melihat Ara makan dengan lahap…..

Setelah Lebaran, tentu yang diinginkan adalah masakan yang segar-segar, seperti sayur asem, sayur bening, sambel bajak dll. Saya mengoprek dapur, tak menemukan bumbu kunci (bahan untuk memasak sayur bening), juga tak menemukan asam. Menantu saya dengan senyum-senyum memberikan bumbu masakan instan….apa boleh buat, akhirnya kami memasak sayur asem dengan bumbu instan tersebut….dan rasanya lumayan juga. Hari Jumat, si mbak yang bertugas momong Ara belum datang juga, begitu juga saat hari Minggu. Akhirnya saya menelpon suami di Bandung, syukurlah Agus (anak asuh suami, yang juga membantu di rumah Bandung) sudah datang dari kampung, sehingga mbak Min bisa diperbantukan ke Jakarta, menunggu mbak Ti pulang dari Muntilan hari Selasa.

Ara belajar menyiram tanaman

Apa hikmah libur Lebaran ini bagi keluarga kecil kami? Ara menjadi makin dekat dengan eyang, serta ayah bundanya. Ara juga makin mandiri, dia mulai bisa bermain sendiri, asalkan orangtua tetap mengawasi dari jauh. Setiap sore, Ara membantu ayah atau bunda menyiram tanaman, setelah itu baru mandi. Syukurlah selera makan Ara bagus, sehingga selama libur ini bermain dan berlarian sekeliling rumah. Awalnya saya agak kawatir, sehingga membuntuti Ara, tapi  yang namanya anak kecil, nggak kenal lelah, malah saya yang nyaris pingsan…..hehehe. Akhirnya Ara saya ajak bermain di taman, eyang duduk-duduk saja di kursi, sedang Ara berlarian mengejar bola, sesekali mendatangi Eyang untuk memeluk dan minta dipangku. Sekarang rumah kami masih pincang, kelihatannya si mbak yang momong Ara tak kembali, sementara menunggu pengganti, kami mendapatkan tenaga paro waktu yang membantu beres-beres rumah, sedang mbak Ti fokus untuk momong Ara.

Saat mbak Min akhirnya datang, dia heran, rumah tetap rapi, masakan tetap ada…..syukurlah justru di hari libur ini keluarga kecil kami bisa bahu membahu mengurus rumah tangga, serta bermain dengan si kecil. Masih perlukah kami akan ART? Jawabannya tetap perlu. Mengapa? Agar kita bisa membagi tugas, lebih punya waktu untuk bersosialisasi, serta bisa bekerja di rumah. Saya akui, saya nyaris tak memegang komputer selama libur Lebaran ini….setiap kali di depan komputer, si kecil akan datang dan langsung berteriak…”banana…banana…” dia minta diputarkan film kartun tentang banana.

Iklan

Responses

  1. Seru banget ya Bu sepertinya lebaran tahun ini. Jadi inget Mama mertua saya yang dengan semangat jagain cucu-cucunya.

    Mohon maaf lahir batin ya Bu.. 🙂

  2. gotong royong dlm mengerjakan segala sesuatu ketika mbak mudik, sangat mengasikkan ternyata ya Bu Enny 🙂

    salam

  3. waduh kalo saya di jakarta, mau juga dong bawa panci ke rumah ibu buat dapet bagian ketupat sayurnya. huahahaha….

    walaupun cape tapi seru juga ya bu acara lebarannya.. 🙂

    mohon maaf lahir batin ya bu!!

    btw, gender itu apaan sih bu?

  4. wah..gak pegang kompi seminggu..bisa tahan bu…kebanyakan susah sih ya….gak muda maupun yg sudah berumur kalo tetap aktif biasanya gak bisa tahan kalo out of civilisation….heee…
    Selamat Idul Fitri ya bu…Mohon maaf lahir batin

  5. maaf lahir batin ya bu…

    Ara semakin gede semakin lincah ya bu…seusia itu memang harus ada yang khusus momomg yang sanggup ngejar sana sini ya

  6. saya tidak mengalami itu Mba… memang ga punya ART jadi lebaran tidak lebaran sama saja….. hehhehe

  7. Salam kenal
    Hikmah yang bisa dipetik bahwa akhirnya kehidupan keluarga yang sesungguhnya manakala kita mengalami dan saling kerja sama dalam keluarga kita, Subhanallah

  8. maaf lahir batin Ibuuuu…. seru sekali ceritanya. btw Ara sudah besar ya. lucu…
    saya bisa membayangkan ayah saya di rumah menyambut lebaran dengan masak ketupat, lodeh dan sambal goreng ati (beliau masak sendiri).

  9. ART dan lebaran.. aha!
    dua kata itu pasti ada kaitannya

    lebaran butuh ART, pasca lebaran ART engga balik

    iya Bu.. menemui kendala yg kedua kemarin, walhasil cari lagi, didik lagi, penyesuaian lagi..

  10. Bu Enny, tahu opornya masih banyak, saya kan mampir hehehehe… Memang ART itu perlu dan nggak perlu. Saya di rumah Jogja ada ART tapi cuma datang seminggu dua kali untuk beres-beres. Untung orangnya jujur dan telaten. Saya pikir kalau kita bisa melakukan tugas sendiri, belum perlu ART…

  11. Mohon maaf lahir batin, Bu.

    Wah, senangnya bisa saling berbagi pekerjaan rumah begitu. Harmonis sekali rasanya. Cucunya sudah makin gede ya, Bu. Senangnya… 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: