Oleh: edratna | November 16, 2012

Perempuan: berapakah yang karirnya sampai Top Level? ?

Pertengahan Oktober 2012, saya mendapat link dari seorang teman sebagai berikut:  Dari 49% wanita Indonesia yang lulus kuliah, 47% masuk ke dunia kerja sebagai entry level, 20% bertahan sampai mid-senior management, sekitar 6% berhasil mencapai kursi direksi, 5% dari 6% itu berhasil duduk di top level sebagai CEO. 72% berhenti bekerja karena alasan keluarga, 69% sindrom peran ganda, 60% karena perusahaan yang enggak memprioritaskan isu keragaman gender. (Hasil survey McKinsey & Femina 2012).

Ada yang tanya, kenapa enggak jadi CEO di perusahaan sendiri aja? Artinya mulai buka usaha sendiri dan enggak bergantung ke lapangan kerja yang ada. Why not? Itu lebih bagus lagi menurut saya… :). Soal isu keragaman gender, well… memang harus diakui, wanita harus selalu jadi no. 1 untuk memperkecil isu gender. Itu baru memperkecil, belum berarti meniadakan. Jadi ingin tahu pendapat ibu.

Terus terang saya tergelitik oleh pertanyaan temanku. Dari pengalaman saya bekerja di Perbankan selama 28 tahun lebih (saya belum pernah melakukan penelitian), dari hasil pengamatanku selama ini, di antara teman-temanku, juga para perempuan yang berkarir di perusahaan tempatku bekerja (Perusahaan tempat saya bekerja dulu mempunyai pegawai lebih dari 40.000 orang), saya melihat bahwa masih banyak kendala bagi para perempuan yang akan benar-benar berkarir dan mencapai posisi puncak.

Saat ini, setiap kali  fresh graduate memasuki dunia kerja di perusahaan tempat saya bekerja, jika tanpa melihat berbagai kendala, tingkat kelulusan perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.  Bahkan di beberapa kelas, perempuan lebih banyak dan meraih nilai tertinggi. Namun setelah bekerja, apalagi jika berumah tangga, mengapa karir perempuan tak selaju laki-laki? Apakah isu gender masih ada di Indonesia?

Bagaimanapun, walau tak secara kasat mata, isu gender masih ada di perusahaan di negara kita. Mantan bosku (yang pernah jadi GM di Bank tempat saya bekerja, kemudian jadi Presiden Direktur di Bank Swasta), mengatakan, bahwa jika perempuan ingin sukses, pada jajaran dan jabatan yang sama, dia harus bekerja dua kali lipat dari laki-laki. Mengapa?  Jika sama kinerjanya, manajemen akan lebih memilih laki-laki untuk memegang jabatan tersebut, karena lebih fleksible. Juga, perempuan yang ingin berkarir dengan serius, harus bisa fight, mandiri, tahan banting, serta bekeja lebih keras.

Kadang, sesuai sifatnya perempuan lebih suka mengalah, karena jika diajukan dua pilihan, sebagian besar perempuan akan lebih memilih rumahtangga dibanding karirnya. Bagaimanapun, kodrat perempuan tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan rumah tangga, dan harus mengandung jika ingin mempunyai anak. Dengan sendirinya, kesempatan perempuan untuk meraih peluang lebih sempit karena adanya kendala-kendala dari dalam diri sendiri tersebut. Kesulitan lain, mencari asisten rumah tangga yang tepat, yang bisa membereskan garis belakang rumah tangga pekerja perempuan juga tidak mudah didapat, apalagi sekarang, karena semakin banyaknya pilihan. Kata adikku, pekerja rumahtangga yang bagus akan memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  dan bekerja di luar negeri dengan penghasilan lebih tinggi, kualifikasi menengah akan bekerja di pabrik, rumah makan dan lain-lain, sehingga untuk asisten rumah tangga hanya mendapatkan tenaga kerja yang kualifikasinya terendah.

Namun, kini kita bisa melihat, semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan sebagai CEO, dan juga banyak perusahaan bisnis yang didirikan oleh kaum perempuan yang berkembang pesat. Kuncinya adalah bekerja keras, bisa mengelola waktu, baik untuk karir, rumahtangga  maupun kewajiban sosial lainnya. Apa pendapat teman-teman?

Iklan

Responses

  1. Topik yang sangat menarik, Bu. Kalau ada yang mengajukan pertanyaan kenapa tidak jadi CEO di perusahaan sendiri, saya rasa salah satu argumen yang bisa saya ajukan adalah tidak semua orang punya sesuatu yang bisa dijual. Misalnya seseorang berpengalaman di suatu bidang, tetapi mungkin dia tidak punya bekal untuk membangun perusahaan sesuai dengan bidangnya. Atau bisa juga tidak punya bakat untuk menjual karyanya.
    Contoh nyata ya saya sendiri, hehe.. Saya sudah mencoba hal-hal yang sekiranya bisa saya tawarkan, misal memasak, menjahit, membuat kue dll.. Nyatanya saya cukup sadar diri bahwa bakat saya bukan di situ. Pengalaman saya ada di IT, tapi saya tidak serta merta bisa membangun perusahaan yang bergerak di bidang IT. Waduh, jadi panjang lebar gini…

  2. CIO (Chief Information Officer) di kantor saya juga cewek. Anaknya 3. Hebat banget emang ini orang. selain emang pinter, juga sangat kekeluargaan banget. Dia gak pernah ngelewatin acara2 anaknya yang tanding volley lah, gymnastic, dll. Rasanya keluarganya sempurna banget… 😀

  3. Tempat saya bekerja banyak wanita yang bekerja meski tak sampai top level management tapi mereka cukup menguasai lapangan.

    Memang ada kalanya mereka mengambil break entah itu untuk anak sakit, event2 keluarga yang tak bisa ditinggalkan sampai perkara melahirkan yang berarti break sampai 1 tahunan.

    Saya sendiri memilih Joyce untuk tinggal di rumah, Bu.
    Keluarga itu jauh lebih penting daripada karir dan kekayaan 🙂

  4. Kalau saya maunya ya bisa bekerja sampai level tertinggi dan juga tetap dekat dengan anak. Namun tak semua bisa berjalan lancar, karir saya pun hanya begini saja, tak naik-naik, mungkin karena saya ada di posisi ibu bekerja yang dilema bila terlalu banyak menghabiskan waktu dgn pekerjaan, jadi belum berani meninggalkan zona nyaman utk mencari tempat lain yang lebih baik.
    Tapi memang sih Bu, keluarga adalah yg nomor satu buat saya. Bila terpaksa harus memilih, pada akhirnya saya akan memilih anak dan keluarga.

  5. Kalau saya jujur bu, selain berkarya sesuai penddkan juga utk menambah penghasilan suami agar dpt hidup lebih sejahtera 🙂 Tapi kalau ada pilihan, misal penghasilan suami sudah sangat layak, pasti saya akan rela mengurus anak2 sendiri agar mrk mendptkan yg terbaik dari saya. Btw, meski repot mengatur waktu, art, dll, saya sbg karyw, isteri, ibu, hrs semangat…krn saya yakin dgn kerja keras, usaha yg gigih, berdo’a dan pasrah sama ALLAH, semuanya insya ALLAH bisa berjln lancar, hehehe…

    Ikut jejak bunda Ratna, sukses dikantor juga sukses buat keluarga, hehehe 🙂 Hidup kaum perempuan 🙂

    best regard,

    Bintang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: