Oleh: edratna | Desember 23, 2012

Wisata Lombok (2): Desa Sade (suku Sasak) dan legenda Putri Nyale di Kuta, Lombok

Hari ini kami punya waktu seharian, jadi rencananya mengelilingi pantai Lombok Barat dan Lombok Utara, wisata belanja yang murah meriah di toko kaos dan hasil kerajinan Lombok dekat pasar Mataram, kemudian ke Desa Sade tempat tinggal Suku Sasak (suku asli Lombok), dilanjutkan ke Pantai Kuta di Lombok Selatan. Setelah makan pagi di hotel, kami bersama pak sopir menuju ke arah Barat mengelilingi Senggigi. Beberapa kali kami berhenti, melihat pemandangan pantai yang indah, terlihat ketiga pulau (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air) di kejauhan. Tentu saja kami tak menyia-nyiakan pemandangan indah ini untuk mengabadikan dengan kamera.

Perjalanan dilanjutkan ke Hutan Pusuk di desa Meninting,  yang  jalan nya meliuk-liuk. Hutan Pusuk merupakan hutan lindung, tanaman nya masih lebat, banyak monyet-monyet bersenda gurau di jalanan sehingga pak sopir harus berhati-hati. Pusuk, artinya Puncak, kata pak sopir yang asli sasak. Monyetnya kecil-kecil, tadinya saya pikir masih muda, ternyata memang tipe monyet di hutan Pusuk kecil-kecil. Dari hutan Pusuk kami melanjutkan perjalanan melalui desa-desa yang membuat hati tenang karena hijau di kiri kanan kami. Benar-benar perjalanan yang membuat hati senang, setelah dihantui kemacetan Jakarta setiap hari. Pak sopir menawarkan, bagaimana jika  kita belanja untuk oleh-oleh dulu,  karena toko tempat oleh-oleh yang letaknya dekat pasar di Mataram akan tutup jam 5 (lima) sore. Kami sepakat belanja oleh-oleh dulu, di toko Fortuna Agung ini harganya termasuk murah, karena merupakan tempat kulakan para penjual di berbagai pelosok Lombok. Ternyata kami menghabiskan waktu cukup lama di toko ini, memilih penutup piano, taplak meja, hiasan dinding, sarung, syal, juga kaos yang rencananya untuk oleh-oleh si mbak dan sopir di Jakarta.

Dari sini kami kembali menuju desa Sukarara, karena anak bungsuku, setelah dipameri foto-foto lewat BB, ingin memberikan souvenir buat teman-teman nya. Di tempat kerajinan tenun ini saya khusus membeli oleh-oleh berupa hiasan dinding yang bisa digunakan untuk taplak meja, sehingga bebas untuk diberikan kepada laki-laki ataupun perempuan. Hari mulai siang, pak sopir menyarankan untuk makan lagi di Lesehan Asri, di kota Praya. Pak sopir mengatakan, di Kuta tak ada makanan yang cukup representatif…. jadi kami kembali ke Lesehan Asri. Karena memang jam makan siang, Lesehan Asri penuh sekali, syukurlah pak sopir gesit, kami mendapatkan meja lesehan yang sekaligus bisa untuk men charge baterei BB yang tinggal beberapa strip.

Lumbung padi, cara mengambil padi dengan naik tangga

Lumbung padi, cara mengambil padi dengan naik tangga

Selesai makan siang dan sholat, kami langsung menuju desa Sade, tempat tinggal suku Sasak, yaitu suku asli Lombok. Desa Sasak yang luasnya sekitar 5,4  hektar, dihuni oleh 700 kepala keluarga, tinggal dalam rumah yang beratap jerami, serta tembok dari kotoran kerbau.

Dinding dan atap rumah suku Sasak

Dinding dan atap rumah suku Sasak

Saat saya ke Desa Sade, beberapa rumah temboknya telah disemen, ada sebagaian yang dari gedeg (bambu yang dianyam), namun lantainya yang telah berupa semen dipel dengan kotoran kerbau, karena ini merupakan adat suku Sasak. Ternyata kotoran kerbau ini berfungsi sebagai penghangat, serta dinding bambu agar udara tetap bisa keluar masuk, karena rumah suku Sasak tidak berjendela.

Depan Berugaq Sekenam, Balai Pertemuan Suku Sasak

Di depan Berugaq Sekenam, Balai Pertemuan Suku Sasak

Di depan sekali, dari kompleks suku Sasak ini, ada bangunan yang disebut Berugaq Sekenam karena tiangnya ada enam, tempat pertemuan suku Sasak. Para pria suku Sasak mata pencahariannya dari bertani, yaitu padi gogo rancah yang dipanen setahun sekali. Padi ini tidak dijual, namun dimakan sendiri oleh para keluarga suku Sasak.

Hasil kerajinan Suku Sasak

Hasil kerajinan Suku Sasak

Sedangkan kaum perempuan mendapat penghasilan dari kerajinan tangan dan menenun.

Nenek ini usia 53 tahun, seang menjelaskan cara menenun, sejak dari memilih warna, memilih benang, kemudian menenun dari kapas menjadi benang

Nenek ini usia 53 tahun, sedang menjelaskan cara menenun, sejak dari memilih warna, memilih benang, kemudian menenun dari kapas menjadi benang

Suku Sasak dilarang kawin dengan orang di luar perkampungan Sasak, jika kawin dengan orang luar, maka mereka tak boleh kembali ke kampung Sasak, seperti pak sopir yang menemani kami, berasal dari suku Sasak, isterinya juga suku sasak, namun karena telah bekerja di luar, pak sopir tak bisa kembali ke komunitasnya.

Seluruh suku sasak dianggap sebagai satu saudara dan kawin hanya diperbolehkan antar keluarga di dalam komunitas ini (kawin antar saudara), namun tak boleh kawin dengan sepupu dari pihak laki-laki.

Kawin adatnya dengan melarikan si gadis, setelah disembunyikan di kerabat laki-laki selama 3 (tiga) hari, maka keluarga laki-laki akan mengirim utusan ke keluarga perempuan, yang menyatakan bahwa anak gadisnya telah diambil untuk dikawini. Selama diculik, belum boleh berhubungan badan. Orang suku Sasak akan tersinggung, jika anak gadisnya dilamar. Jika pria suku Sasak mengambil gadis dari suku Sasak, mas kawinnya lebih murah, yaitu  seperangkat alat sholat dan uang Rp.100 ribu sd Rp. 200 ribu.

Nenek berusia 105 tahun

Nenek berusia 105 tahun

Bahasa suku Sasak mirip bahasa Jawa, seperti: Nggih (iya), Sugeng Rawuh (selamat datang), seket (limapuluh). Suku Sasak, rata-rata panjang usia, karena makanannya terjaga, usia tertua di desa Sade ini adalah nenek berusia 105 tahun. Walaupun rumah bertiang jerami, bisa bertahan 5-6 tahun.

Alat untuk menentukan warna

Alat untuk menentukan warna

Benang ditenun sendiri berasal dari kapas, yang pertama-tama adalah memilih warna benang (yang diberi pewarna alam), kemudian memilih benang, baru menenun. Ada juga batik khas Sasak, yang di sebut batik sasambo. Sayang saya sudah terlanjur banyak membeli oleh-oleh, sebetulnya nggak enak juga, jadi akhirnya saya membeli sebuah syal dan kalung dari kerang.

Alat untuk memilih benang

Alat untuk memilih benang

Alat untuk membuat kapas menjadi benang

Alat untuk membuat kapas menjadi benang

Bersama pak Naf, guide dari Suku Sasak, yang mengantar kami berkeliling suku Sasak

Bersama pak Naf, guide dari Suku Sasak, yang mengantar kami berkeliling suku Sasak

Selamat Datang di Desa Sasak, Sade, Rembitan

Selamat Datang di Desa Sasak, Sade, Rembitan

Dari Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta, di Lombok Barat bagian selatan.

Pasir pantai Kuta, Lombok, yang seperti butiran merica (diperbesar)

Pasir pantai Kuta, Lombok, yang seperti butiran merica (diperbesar)

Pantai Kuta ini terletak di sebuah teluk dari lautan Hindia, pantai terkenal karena masih asli, dan pasir yang lembut itu jika disibak, maka akan terlihat butiran pasir kecil-kecil seperti merica. Pemandangannya indah sekali, pak sopir menceritakan legenda putri Nyale, yaitu putri Mandalika yang terkenal cantik sehingga diperebutkan banyak raja-raja, yang akhirnya memilih nyale (menjadi cacing) dengan terjun  terjun ke laut.

Karang dan pasir putih di pantai Kuta, Lombok

Karang dan pasir putih di pantai Kuta, Lombok

Pantai Kuta, Lombok

Pantai Kuta, Lombok

Dari buku “Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat” yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dikisahkan secara ringkas sebagai berikut: Di kerajaan Sekar Kuning, Raja mempunyai seorang putri yang diberi nama Putri Mandalika. Saat usia sang putri memasuki usia 18 tahun, datang musibah, ayahanda raja tiba-tiba meninggal dunia, sehingga putri Mandalika yang masih belia dinobatkan menjadi Ratu. Kecantikan Ratu Mandalika tersebar ke kerajaan sekitarnya, sehingga banyak raja muda yang ingin menikah dengan Putri Mandalika.

Akhirnya Ratu Mandalika mengadakan pertemuan dan mengundang para Raja di pantai. Pada saat sudah lengkap putri Mandalika datang ke pantai dan berbicara : ” Inilah Ratu Mandalika Nyale yang tidak akan pernah mungkir janji. Dan sekarang terimalah penyerahan jiwa ragaku kepada semua yang hadir di tempat ini. Jadi bukan semata-mata jasadku akan diterima oleh para Raja Putera, melainkan oleh semua rakyat, dari golongan yang paling rendah, sampai golongan yang paling tinggi. Juga dari yang paling muda sampai yang paling tua.“….Kemudian, dengan titah Yang Maha Agung dan Maha Pencipta, pada waktu itu datanglah ombak setinggi gunung, menelan sang Rati dari tempatnya berdiri. Sang putri ditelan gelombang dan masuk kedalam laut.

Setelah sadar, para Raja Putera memerintahkan rakyat turun ke laut mencari sang Puteri. Tak seorangpun menemukannya, mereka hanya menjumpai binatang berbentung cacing yang amat banyak. Binatang berbentuk cacing dipersembahkan kepada Raja Putera, kemudian Raja memerintahkan rakyat untuk memasaknya….”Wahh enak benar, saya belum pernah menjumpai makanan selezat ini,” kta juru masak.  Raja akhirnya bersabda, bahwa binatang laut yang berbentuk cacing ini adalah penjelmaan dari Ratu Mandalika Nyale. Inilah yang dimaksudkan Sri Ratu bahwa jasadnya akan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Jasad sang putri yang berubah dan menjelma menjadi sejenis binatang, sampai sekarang dikenal dengan nama NYALE. Sampai sekarang, pada musim tertenti, nyale dapat ditangkap, dimulai dari air laut yang mengering, kemudian muncul cacing yang bergumpal-gumpal. Pak sopir bercerita, saudaranya ada yang ikut menangkap cacing atau nyale ini, yang muncul sekitar jam 4 pagi dan menghilang saat muncul Fajar, setahun hanya terjadi dua kali.

Iklan

Responses

  1. Menarik sekali ya Bu adat dan kebudayaannya. Jadi pengen juga bermain ke sana suatu saat jika punya peluang.

  2. Saya sering mendengar tentang adat / budaya … mencari Nyale di laut ini …
    tapi baru sekarang membaca cerita legenda asal-usulnya secara lengkap

    Terima kasih Bu

    Salam saya

  3. Asyik bnget,sy jd brasa jalan” disana. .

  4. Tahun 2003 lalu saya pernah ke sana, Bu.
    Alam Lombok selatan memang menurut saya lebih eksotis ketimbang Lombok utara (Senggigi) apalagi Bali.

    Mungkin karena masih asli jadi asri ya…

    Duh jadi pengen ke sana lagi…

  5. wah .. saya malah belum pernah ke Lombok mbak, jadi pengen ke sana

  6. Pengin sekali ke Lombok, tapi belum kesampaian juga.
    Tiap baca kisah perjalanan yang tentang Lombok jadi makin kuat keinginan saya untuk ke sana

  7. Melalui ATBM sederhana lahir karya-karya seni kerajinan tangan tenun yang indah nih bu En. Paparan desa Sosok, Sade kekayaan budaya Nusantara, Terima kasih bu En berkenan berbagi. Salam

  8. pantainya cantiiik… gak kalah dengan Kuta Bali ya bu… trimakasih dg reportase ini Bu Enny… serasa sudah jalan2 kesana sendiri 🙂

  9. Ibu cerita jalan2nya selalu mengeni deh…., catet…, mudah2an ada rejeki jalan2 ke Lombok … penasaran dengan rumah adatnya

  10. wah asyik yah bun…bisa travelling terus 🙂

    best regard,

    Bintang

  11. Unik betul nyale itu.

  12. Nice post, teringat ke sana tahun 90-an, bikin foto pun masih pakai kamera analog.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: