Oleh: edratna | Maret 29, 2013

Tantangan Pengembangan UKM bagi Perbankan

Pada saat ini Perbankan semakin banyak yang memasuki pasar pembiayaan kepada UKM (Usaha Kecil dan Menengah), bahkan Bank besar yang dikenal sebagai Corporate Banking, juga telah memasuki pasar UKM. Hal ini wajar karena pengalaman membuktikan, pada saat Indonesia dilanda krisis, pengusaha UKM termasuk yang tahan krisis, usahanya tetap berjalan. Hal ini terlihat, bahwa Bank yang portofolionya sebagian besar kepada UKM, selamat dari gempuran krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Pengaruh globalisasi yang melanda dunia akhir-akhir ini,  pengaruhnya cukup kecil di Indonesia. Hal ini terlihat, jika pertumbuhan ekonomi di negara maju hanya 1,9 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013  diperkirakan masih bisa mencapai  6,1-6,6 persen. Pertumbuhan yang kecil di negara maju akan berpengaruh pada penurunan dan permintaan komoditi ekspor di Indonesia. Ekspor komoditi Indonesia pada umumnya berasal dari produk-produk pertanian, yang ditopang oleh ratusan ribu petani dan pekerja (Kompas, 30 Januari 2012).

Di satu sisi, UKM sendiri menghadapi tantangan yang berat. Pada tahun 2015 MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) mulai berlaku, namun UKM di Indonesia belum terlalu siap menghadapi MEA ini. Thailand, yang pemerintahnya sangat peduli pada pengembangan UKM memperkirakan, pada tahun 2016 akan memiliki 75.000 UKM hasil binaan inkubator bisnis, setiap UKM di Thailand mendapat dana sekitar US$ 32,000. Sedangkan di  Indonesia IBT (Inkubator Bisnis Teknologi) baru 40 unit, 80 persen diantaranya  berasal dari Perguruan Tinggi. Di Thailand, IBT yang didirikan sejak tahun 2005, saat ini telah mencapai 300 unit. Di Malaysia mencapai 103 unit, sejak tahun 2003 Malaysia merilis Craddle Fund yang mendanai inovator bisnis yang baru tumbuh. Tiap inovator mendapat pinjaman RM 50.000 yang 4 (empat) tahun kemudian bertambah menjadi RM 250.000 (Kontan 11-17 Maret 2013 hal 3-5).

Perkembangan UKM di Perbankan Indonesia menunjukkan, bahwa fokus Perbankan Nasional tahun 2012 dan 2013  diperkirakan masih  kepada pembiayaan kepada UKM. Selain kredit konsumsi, diprediksi Bank mengarahkan pada sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. NIM bagi UKM diperkirakan berkisar pada angka 9 persen. Pada segmen UMKM di BRI dan BTPN bahkan 12 persen (Kompas 25 Maret 2013). Dari hasil kajian Bank Indonesia, 60-70 persen UKM belum memiliki akses terhadap Perbankan Nasional, padahal hampir 53 juta masyarakat miskin bekerja disektor UKM. Artinya peluang bisnis UKM masih memiliki potensi. Bank Asing dan Bank Nasional yang dimiliki asing telah memasuki pasar UKM, antara lain: Development Bank of Singapore (DBS), Citibank dengan CitiFinancial, Bank Danamon dengan DSP,  dan CIMB Niaga dengan Mikro Laju.

Mengapa Bank-Bank besar semakin gencar menyalurkan kredit UKM?

Hal ini disebabkan profitabilitas yang tinggi, potensi pasar yang masih besar, diversifikasi portofolio, pendapatan yang cukup menarik, dan risiko yang relatif rendah. Bank juga mendapatkan peluang untuk melakukan cross selling dan up selling. Loyalitas debitur UKM dikenal sangat tinggi. Sensitivitas terhadap suku bunga relatif rendah, tidak rentan terhadap krisis ekonomi, serta berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Menurut survei Bank Dunia (2010) lebih dari separuh penduduk Indonesia (sekitar 245 juta orang) belum terlayani sektor perbankan formal. Outstanding kredit perbankan saat ini Rp 2.700 triliun, jauh dari PDB Rp. 8.200 triliun.  Di negara Asia, rasio penyaluran kredit bisa mencapai 100 persen dari PDB. Oleh karena itu Bank Indonesia mengeluarkan peraturan agar bank umum menyalurkan kredit UMKM minimal 20 persen dari portofolio kreditnya, yang ditargetkan tercapai pada tahun 2018. Secara bertahap, ditargetkan penyaluran kredit UMKM sebesar 5 persen pada  tahun 2014, 10 persen pada tahun 2016,  15 persen pada tahun 2017 dan 20 persen pada tahun 2018. Sampai saat ini Non Performing Loan Kredit UMKM masih dalam ambang aman  yaitu  3,72 persen tahun 2012 (Kompas 25 Maret 2013).

Di satu sisi nasabah UKM mempunyai harapan terhadap Bank, yaitu: a) Hubungan Bisnis yang baik, Bank diharapkan dapat berperan sebagai narasumber, penasehat dan pembina pengelolaan administrasi bisnis keuangan. b) Nasabah mengharapkan pelayanan yang total terhadap  bisnis UKM, karena pada umumnya nasabah belum terbiasa berhubungan dengan Bank. Diharapkan Bank melakukan penatausahaan dokumen yang lebih simple, pelayanan lebih cepat,  serta Bank  agar lebih proaktif. Diharapkan ketersediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan:  “one size fits all vs tailor made”.

Dari paparan di atas, sebetulnya membiayai UKM sangat menarik, namun di satu sisi dibutuhkan pemahaman seorang Account Officer Bank terhadap karakter nasabah UKM, agar pelayanan terhadap nasabah UKM dapat sesuai kebutuhannya. Account Officer juga berperan sebagai konsultan, karena pada umumnya nasabah UKM masih jarang berhubungan dengan Bank, catatan administrasi keuangannya dilakukan secara sederhana, sehingga memerlukan kepandaian menilai kebutuhan yang tepat, dengan melakukan financial recasting terhadap catatan keuangan nasabah. Account Officer juga berperan sebagai nara sumber, konsultan, yang dapat menjembatani nasabah dengan mitra bisnisnya, yang kemungkinan juga menjadi nasabah Bank yang bersangkutan.

Bahan Bacaan:

  1. Angreni, dkk. Miliki protofolio Kredit yang Produktif. Strategi dan Teknis Pembiayaan Kredit Konsumen dan UKM. Jakarta, 2011.
  2. Kompas, 30 Januari 2012, 25 Maret 2013 dan Kontan 11-17 Maret 2013 hal 3-5.
  3. Pengalaman penulis  selama bekerja di Perbankan.
Iklan

Responses

  1. so true..
    AO berperan sekali dalam share knowledge tentang pencatatan keuangan calon debitur UMKM
    tapi faktanya, yang saya temu di lapangan Bu, tidak hanya nasabah UMKM saja yang lemah dalam pencatatan transaksi keuangannya.. nasabah yang cashflownya ratusan juta pun kadang pencatatan transaksinya masih acak kadut.. dan lagi, di situlah AO berperan sebagai konsultannya

    kalo saya sih nonton doank, lha wong masih belajar juga hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: