Oleh: edratna | April 30, 2013

Wisata Kuliner selama menengok si bungsu di Toyohashi

Sebelum berangkat ke Jepang, si bungsu sudah wanti-wanti, agar siap-siap dengan makanan hambar (maksudnya tak terlalu asin, tak terlalu manis, dan tidak pedas). Saya menjawab dengan entengnya…”Lha kan ibu udah biasa makan makanan Jepang?” Jawab si bungsu…”Beda bu, makanan Jepang yang di Indonesia sudah di sesuaikan dengan lidah orang Indonesia, jadi rasanya lebih nendang”. Istilah nendang ini akhirnya sering jadi bahan diskusi saya dan si bungsu serta teman nya, yang orang Jepang. Dalam kondisi lelah, karena ketinggalan pesawat ke Osaka gara-gara pesawat Garuda dari Jakarta ke Bali rusak, maka penerbangan dialihkan ke Narita….padahal si bungsu sudah menunggu di Toyohashi (maklum, dari Toyohashi ke Osaka masih perlu naik kereta). Akhirnya sisa perjalanan dari Bali ke Tokyo (bandara Narita) saya lalui dengan berdoa….tak terasa akhirnya saya tertidur.

Makan terakhir hari Sabtu tanggal 13 April 2013 adalah di pesawat menuju Tokyo, sejak itu kondisi nya selalu terburu-buru, lari-lari mengejar Narita Express, Shinkansen dan lain-lain. Makan dan minumpun terlupakan…. syukurlah saya sempat ke toilet dulu saat di Narita. Setelah bisa ketemu si bungsu di Nagoya station lima jam kemudian  (Legaaa sekali.. dan langsung kupeluk erat-erat, si bungsu yang sudah beberapa tahun tak ketemu). Disini, saya langsung mengatakan, pertama kali ingin ke toilet, kemudian cari makanan. Komentar si bungsu…”Ibu, masih ada sakura berbunga di depan stasiun Nagoya…ibu cuci muka dulu, pakai bedak biar nggak terlalu kelihatan lelah…kita berfoto yuk.” Saya ikuti si bungsu sambil menyeret koper segede gaban yang isinya antara lain adalah sambal ABC dan sambal belibis….kami pergi ke depan stasiun. Sayang foto ini tak bisa ditampilkan, wajah yang lelah biar pakai bedak, tetap saja tak membuat semangat yang lihat.

Restoran masakan khas Tempura di Toyohashi

Restoran masakan khas Tempura di Toyohashi

Tempura di Toyohashi, yang sungguh lezat

Tempura di Toyohashi, yang sungguh lezat

Kami kemudian naik Meitetsu line yang menuju ke sation Toyohashi ….. di stasiun ini, teman si bungsu sudah siap untuk menjemput kami. Syukurlah ….. akhirnya saya menginjakkan kaki di Toyohashi.

Rupanya teman si bungsu tahu kami kelaparan, jadi pertama-tama kami dibawa ke restoran yang terletak didekat/di bawah rel Shinkansen. Saya agak ragu melihat pintu yang tertutup, demikian pula si bungsu …. temannya mulai mengetuk pintu, syukurlah pintu terbuka, dan kami dipersilahkan masuk. Tempura nya sungguh lezat, bayangan makan makanan Jepang  yang hambar langsung sirna dari kepalaku. Dan karena terpesona pada rasa tempura ini, malam terakhir sebelum kembali ke Jakarta, saya mengajak si bungsu dan teman-teman nya kembali menikmati tempura disini.

Ikan rebus tsunogawa

Ikan rebus tsunogawa

Besok paginya kami pergi ke Tahara, kota di pinggir pantai yang terletak di sebelah barat Toyohashi, untuk melihat-lihat tanaman, taman, memetik strawberry dan melihat bunga Nanohana. Di Tahara ini saya makan di restoran, yang ikan rebusnya (tsunogawa) sungguh lezat. Sama seperti saat makan di sebuah restoran di Toyohashi, restoran inipun jika hanya dilihat sepintas tak menunjukkan sebuah restoran.

Menikmati sate di Hamamatsu

Menikmati sate di Hamamatsu

Soto, gado-gado, gurami goreng

Soto, gado-gado, gurami goreng

Dan yang sungguh menyenangkan, akhirnya saya bisa makan masakan Indonesia, yaitu di “Warung Ani & Ivan” saat berkunjung ke Hamamatsu. Masakan Indonesia disini sangat enak, karena menggunakan bumbu yang dikirim asli dari Indonesia.

Kalau mau makanan cepat saji  di Toyohashi, makanan  cepat saji mudah dijumpai, dan menurut saya rasanya cukup lezat. Memang sayang saya tak sempat menikmati sushi, yang kata teman si bungsu yang dari Kamboja, rasa sushi di Toyohashi sungguh lezat. Bagaimana tentang harganya? Kalau menurut saya, harga makanan masih wajar, sama seperti kalau kita makan di Jakarta, atau sebetulnya harga makanan di Jakarta, sudah menyamai harga makanan di kota besar negara lain ya?

Sarapan pagi di Kansai Airport, Osaka

Sarapan pagi di Kansai Airport, Osaka

Dan terakhir kali, kami menikmati makanan khas Jepang di Sachi Fukuya, bandara Kansai, Osaka.. Dengan membayar 1700 yen, kami berdua bisa menikmati makanan sepuasnya. Rasanya? Sungguh lezat.

Iklan

Responses

  1. untung baca ini pas udah kenyang makan. keliatan menggiurkan semua bu! 😀

    Hehehe…padahal postingan Arman tentang makanan bikin lapeer dan pengiiin

  2. Wah, Bu Edratna habis jalan2 ya…
    Semoga Si Bungsu lekas selesai kuliahnya

    Habis nengok si bungsu pak Mars…
    Makasih doanya

  3. waah… jadi ngiler nih.. hehe….
    terima kasih sdh berbagi cerita dari Jepang ini Bu…. 🙂

    Makanan di atas sudah banyak di Indonesia (khususnya di Jakarta)

  4. Kebersamaan dengan bungsu yang menambah lezatnya wisata kuliner nih bu En. Tinggal selangkah lagi si bungsu selesai studi lanjutnya. salam

    Betul mbak Prih….kebersamaan, itu yang penting…apapun terasa nyaman dan enak

  5. Enn….aku juga penyuka makanan Jepang..dan yg di Toyoyashi tampilannya kereen…emang bener di Ind mak Jepang sdh ada rasa Ind nya..Waktu aku ke Jepang juga pertama makan sushi rasanya amis pengen muntah karena nori nya bedaa…hehe norak yaa

    Saya juga suka masakan Jepang….makan sehat.
    Justru lebih suka masakan yang direbus atau dibakar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: