Oleh: edratna | Mei 5, 2013

Diajak menjadi backpacker oleh si bungsu di Osaka

Untuk kembali ke Jakarta, penerbangan yang dekat dengan kota Toyohashi hanya melalui Tokyo (bandara Narita atau Osaka (Bandara Kansai). Sebelumnya ada penerbangan  dari Jakarta ke Nagoya (hanya satu setengah jam dari Toyohashi), namun karena tak menguntungkan, maka penerbangan Garuda Jakarta-Bali-Nagoya dihentikan. Rumornya sih akan ada langsung dari Jakarta ke Osaka, …. sungguh saya berharap hal ini kesampaian. Jadi untuk kembali ke Jakarta, saya dan si bungsu sibuk mendiskusikan bagaimana enaknya agar semua berjalan lancar. Kalau langsung dari Toyohashi jelas tidak mungkin, karena pesawat Garuda take off dari Kansai, Osaka, jam 11 pagi. Jadi, mau tak mau kami harus menginap di Osaka. Saya menginginkan tidur di hotel yang sedekat mungkin dengan bandara Kansai, namun si bungsu merasa sayang jika harus mengeluarkan uang hanya untuk menginap semalam, apalagi kami baru sampai Osaka malam hari, karena menunggu si bungsu selesai di lab nya….

Hotel Toyo, Shin Imamiya

Hotel Toyo, Shin Imamiya

Apa boleh buat, saya mengalah, kapan lagi saya menikmati tidur di hostel seperti back packer? Si bungsu meyakinkan, bahwa tidur di hostel tak seburuk yang dibayangkan, karena dia pernah tidur di hotel bintang 3 (tiga) yang fasilitasnya jauh lebih buruk dibanding tidur di hostel.

Lobby Hotel Toyo

Lobby Hotel Toyo

Dari Toyohasi station kami naik shinkansen Kudama ke Nagoya, kemudian ganti shinkansen Nozomi Super Express ke Osaka. Dari stasiun Osaka, kami naik kereta local line ke Shin Imamiya, kota di pinggiran Osaka.

Kamar di hotel Toyo

Kamar di hotel Toyo

Saya hanya bisa menikmati Osaka dari jendela kereta, terlihat menara Osaka yang berwarna terang karena cahaya lampu di kejauhan.

Dari stasiun Shin Imamiya, kami berjalan ke arah kanan, sampai di perempatan belok kiri, kemudian belok ke kanan … sampailah hotel Toyo, yang saya perkirakan jaraknya  200 meter dari stasiun Shin-Imamiya.

Bendera dari negara-negara tamu yang pernah tidur di hotel Toyo

Bendera dari negara-negara tamu yang pernah tidur di hotel Toyo

Kami disambut ramah penjaganya, kami minta dia mau difoto …ehh dia ganti memotret kami…semoga fotoku bersama si bungsu tak di pajang ….hehehe. Kami membayar 3000 yen (atau sekitar Rp. 300.000,-) per kamar semalam.

Penerima tamu di hotel Toyo yang ramah

Penerima tamu di hotel Toyo yang ramah

Kamar mandi

Kamar mandi

Di hotel ini, yang membedakan dengan hotel yang umum, karena kamar mandinya terpisah (bukan di dalam kamar), saya lihat cukup bersih. Ada pengering rambut yang terletak di luar kamar mandi… juga ada ruangan khusus yang ada kaca nya untuk berhias.

Ada contoh uang rupiah

Ada contoh uang rupiah

Ada juga fasilitas laundry, serta jika mau ada mesin untuk beli minuman. Interiornya menarik, dihiasi bendera berbagai negara, yang sayangnya bendera Indonesia tidak ada. Namun ada uang Rp.1000,- (seribu rupiah) dan Rp.2.000,- (duaribu rupiah) dipajang bersama uang negara lain.

Bisa ikut laundry

Bisa ikut laundry

Karena lelah, saya dan si bungsu segera masuk kamar, menyimpan koper, kemudian keluar lagi untuk mencari makanan.

Bisa sewa sepeda untuk jalan-jalan

Bisa sewa sepeda untuk jalan-jalan

Di sebelah kiri hotel Toyo, banyak sepeda berjejer, yang rupanya disewakan bagi siapa pun yang ingin berkeliling kota naik sepeda. Sayang suasana malam, walaupun ada bulan purnama, terasa sepi. Di perempatan kami berhenti menunggu lampu pejalan kaki berwarna hijau … ternyata ada juga sepeda yang menyelonong, juga mobil yang menyelonong. Kami berjalan melalui perempatan, terus berjalan sambil mata menengok ke kiri- kanan mencari restoran yang buka. Adanya hanya warung yang menjual makanan take away, dimakan sambil berjalan atau di hotel.

Penitipan sepeda yang ditumpuk

Penitipan sepeda yang ditumpuk

Saya tertarik memotret tempat penitipan sepeda yang bertingkat …. si bungsu sebetulnya ingin tahu, bagaimana cara menaikkan sepeda tersebut.

Karena tak ketemu restoran, kami menyerah, masuk ke Lawson Supermarket, lagi-lagi membeli onigiri, roti, serta minuman, kemudian kembali ke hostel. Sampai hotel, setelah makan makanan (saya hanya makan pizza yang dibeli di Cafe Danmark stasiun Toyohashi, minum susu), gosok gigi dengan air yang dingin seperti es di wastafel kamar, mencuci muka, kemudian wudhu dan sholat. Si bungsu menyalakan TV, yang tentu saja saya tak paham karena acaranya menggunakan bahasa Jepang. Saya menyalakan alarm jam 4.30 pagi, agar bisa pagi-pagi berangkat ke stasiun Shin Imamiya.

Bagi saya, lebih cepat sampai bandara Kansai Osaka, lebih baik, paling tidak bisa jalan-jalan di bandara serta ngopi-ngopi dulu. Ehh pas tengah malam perutku mulai melilit, saya gosok dengan obat gosok tetap nggak berhenti malah makin sakit, apa boleh buat … saya ke toilet … syukurlah sepi. Waduhh…. mana toiletnya gaya western begini…dan kamar mandi nya jauh…terpaksa deh menghabiskan tiga perempat tisu gulung agar yakin sudah bersih. Akibatnya sampai jam setengah satu malam, mata ini terlanjur melek…. wahh bagaimana ini, kalau kesiangan.

Mungkin karena tidur di tempat baru, tetap saja sebelum alarm berbunyi saya sudah bangun … perasaan ingin tidur lagi…. apalagi hawanya dingin. Saya memaksa diri pergi ke kamar mandi, gosok gigi, mandi dan cuci rambut…. Alhamdulillah, badan terasa segar dan siap melanjutkan kegiatan. Di kamar si bungsu sudah bangun, dan juga segera ke kamar mandi.

Tempat hai dryer

Tempat hair dryer

Setelah make up sederhana, saya mengeringkan rambut menggunakan hair dyer hotel …. lumayan juga. Kami mengobrol, tak terasa, percakapan kami rupanya terdengar dari luar … jadilah di gedor pengurus hotel ….. hahaha. Kami berangkat menuju stasiun Shin Imamiya jam 6.15 waktu setempat … brrr … dingiiin … di stasiun sudah banyak penumpang yang akan menggunakan jasa kereta api. Si bungsu mengajarkan, bahwa saya harus memperhatikan apa yang tertera di layar monitor untuk mengetahui letak kereta.

Setelah itu perhatikan tanda untuk line kereta tersebut bulat atau segitiga …. kemudian kita harus menunggu dan berbaris di tempat nomor gerbong dan tanda bulat atau segitiga. Saya pelajari, kereta di Jepang ini, berhentinya tepat sekali, sehingga jika kita memang menunggu di tanda yang ada tanda bulat atau segitiga (sesuai tiket), dan sesuai dengan nomor gerbong yang akan kita tumpangi, maka pintu kereta akan benar-benar membuka tepat di depan kita.

Dari Shin Imamiya, kereta ini melewati dan berhenti di stasiun Sakaichi, Mikunigoaka, Ohtori, Izumi Fachu, Higashi Kishiwada, Kumatori, Hineno (disini gerbong 5-8 dipisah untuk menuju ke Watayama), Rinku Town … dan akhirnya sampai di Kansai Airport. Kami keluar dari pintu kereta, naik eskalator dan persis di depanku adalah terminal 1 Kansai Airport.

Bagi si bungsu ini juga pertama kalinya ke Kansai Airport, karena sebelumnya Garuda melayani penerbangan Jakarta-Denpasar-Nagoya, yang lebih dekat dengan kota Toyohashi. Hari masih pagi, jadi pertama-tama memastikan dulu ke mana saya harus check in dan loket untuk check in dibuka jam berapa. Kami naik lift menuju lantai 4, dan rupanya check in baru dibuka jam 8.30 pagi …. kami kemudian menuju lantai 3 untuk mencari restoran untuk sarapan.

Restoran Sachi Fukuya

Restoran Sachi Fukuya di Kansai Airport, Osaka

Setelah berkeliling, saya dan si bungsu memutuskan makan di Sachi Fukuya yang makanannya berupa buffee sehingga kami bisa memilih sesuai selera. Tak salah kami berdua memilih restoran ini, karena rasanya sesuai … sayang telor nya masih mentah sehingga terpaksa tak jadi saya makan.

Tempat sambal yang unik ... ternyata hanya ditarik kayu yang menonjol

Tempat sambal yang unik … ternyata hanya ditarik kayu yang menonjol

Saya tertarik dengan  tempat sambal yang dibuat dari kayu … di kocok-kocok nggak terbuka juga, di bolak-balik nggak menemukan … akhirnya saya mendatangi petugas penerima untuk menanyakan … dan rupanya hanya tinggal di tarik kayu kecil yang menonjol…dan keluar lah butiran sambal kering dari botol.

Selesai makan dengan membayar 850 yen per orang, kami kembali ke lantai 4 (empat)  dan mulai antri check in. Di antara rasa gembira akan segera pulang ke Indonesia, ada rasa sedih, terharu karena akan meninggalkan si bungsu di negara orang. Tapi kali ini saya lebih tegar, tinggal bersama si bungsu selama 2 (dua) minggu, saya melihat si bungsu makin dewasa, bisa mengambil keputusan-keputusan penting, sehingga saya tak kawatir seperti halnya saat dia pertama kalinya pergi ke Jepang. Apalagi saya juga ketemu dan mengenal teman-teman nya, baik yang dari Indonesia, maupun teman-teman dari bangsa lain, yang saya nilai sangat ramah dan saling menolong. 

Berpisah di Kansai Airport, kembali ke Jakarta

Berpisah di Kansai Airport, kembali ke Jakarta (Foto by Narp)

Saya berpisah dengan si bungsu, kemudian memasuki imigrasi, dari sini harus turun ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator. Rupanya sudah ada bis yang menunggu, untuk membawa penumpang dari terminal 1 (satu) ke terminal 2 (dua), tempat  landasan pesawat. Betapa leganya melihat burung Garuda yang akan membawaku pulang ke Indonesia.

Karena waktu masih cukup lama, saya jalan-jalan di terminal 2 (dua), melihat toko-toko, saya perhatikan harganya tak berbeda jauh di banding harga di toko. Jika kaos untuk oleh-oleh para si mbak saya beli 990 yen di toko Mega Hamamatsu, di airport di beri label 1050 yen. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak menambah barang bawaan lagi, apalagi masih harus transit di Denpasar, yang bandara nya sedang di renovasi sehingga jalan dari airport international ke domestik lumayan jauh. Dari sana sini mulai terdengar percakapan bahasa Indonesia, terasa sudah pulang ke rumah.


Responses

  1. kalo hotel toyo ini bukan hostel berarti ya bu. kalo hostel kan sekamar gabung ama orang lain kan ya? kalo ini kayaknya kamarnya sih sendiri ya, cuma kamar mandi nya di luar?

    Sebetulnya ada berbagai pilihan kamar…kebetulan kami memang minta yang sekamar berdua….ada juga yang sekamar beramai-ramai.
    Kalau sendirian, saya mikir masuk hotel seperti ini….hehehe, walau terpaksa bayar mahal.
    Ini murah sekali, bahkan untuk ukuran Indonesia.
    Novotel di Osaka 12000 yen (atau Rp. 1,2 juta)…sebetulnya sama dengan harga Novotel di Indonesia, kecuali kita pakai harga corporate…bisa dapat diskon menjadi sekitar Rp.790.000,-

  2. Aku suka paragraf2 terakhir, Bu
    Jadi makin yakin dengan apa yang diomongkan kawanku bahwa bandara itu adalah tempat yang mengharukan, membahagiakan sekaligus menyedihkan🙂

    Setuju Don…mengharukan, namun betapapun senangnya bepergian, tetap senang mau kembali ke rumah…

  3. Not bad isn’t it being a backpacker? Selamat datang kembali di Jakarta, Ibu.

    Hehehe..iya mbak Dian….ternyata tak semenakutkan seperti yang kusangka.

  4. keren keren… Ibu bisa backpackeran…. salut. sudah lama juga tidak backpackeran…

    Hehehe…beraninya bareng anak gadisku

  5. walau sederhana keadaan hotelnya tapi tergantung dengan siapa kita menginap disana…apalagi setelah capek menjadi backpaker, tidurpun tetap nyeyak…

    Dan tergantung siapa teman kita saat itu…

  6. Bu Enny, ceritanya menarik. Saya suka dengan tulisan pengalaman ini, personal sekali.🙂

    Jadi kangen ketemu Bu Enny deh… hehehe

    Ayoo Kris, kapan ketemuan…mengobrol pasti asyik.
    Pas Imel ke Indonesia, kan sudah nggak puasa….ntar saya cadangkan waktu deh seharian kita jalan ya

  7. kebersamaan dengan si bungsu menjelang kepulangan ke tanah air ya Bu En. Pengalaman yang sangat memikat, membawa kami pembaca ke suasana Osaka. Salam hangat

    Iya mbak Prih, apalagi bisa tidur memeluk si bungsu.

  8. ceritanya menarik sekali Bu…
    kalo boleh saya tau, harga 300rb yg dibayarka untuk kamar hotel itu sudah include untuk 2 orang kan Bu? Mohon info.. Terima kasih.

    Sudah include.
    Namun karena kondisi selalu berubah, sebaiknya, tetap harus di monitor melalui web nya, jika mau pesan.

  9. Salam, Bu Enny…

    Saya Inong yang kemarin ketemu di acara kumpul dengan Mbak Imel🙂

    Wah, baca cerita jalan-jalan di Jepangnya jadi teringat pengalaman sendiri waktu jalan-jalan di Jepang April lalu…

    Inong jalan -jalan nya juga bulan April? masih ketemu Sakura?
    Saya menyesuaikan dengan jadual si bungsu dan jadual saya sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: