Oleh: edratna | Juli 13, 2013

Tetangga

Saat pertama kali pindah ke kompleks perumahan ini saya mulai mengenalnya. Orangnya ramah, dan mudah tersenyum. Kepada dia, saya mudah mengobrol apa saja, dari cerita suaminya yang terbaring sakit sejak krisis ekonomi melanda Indonesia tahun 1997-1998, sampai cerita membesarkan anak-anaknya. Tak ada gurat kepedihan, padahal saya melihat banyak cobaan yang menimpanya. Ibu ini dulunya seorang isteri pejabat, yang setelah suaminya sakit, harus berjuang menghidupi keluarga dan anak-anaknya, yang saat itu baru beranjak dewasa.

Betapa jalinan kehidupan yang sulit, namun dia tak pernah mengeluh, dan selalu riang. Anak-anaknya yang semuanya laki-laki dibesarkan dengan kasih sayang, sering sekali jika saya berkunjung, si bungsu ini yang menyuguhkan es sirop kepada tamu-tamu nya. Setelah stroke sekian tahun, akhirnya sang suami meninggal….ini yang terbaik bagi keluarga tersebut. Ibu itu bisa lebih mencurahkan perhatian pada putra-putranya yang makin dewasa, yang semuanya belum menikah walau sudah bekerja. Ibu ini cerita, bahwa putra-putranya mulai merencanakan untuk berkeluarga, saya melihat binar-binar di matanya, saat menceritakannya, betapa dia bahagia karena putranya akan menikah.

Saya menghadiri pernikahan putra-putranya, dan satu persatu meninggalkan rumah orangtuanya. Kemudian putranya mulai memberikan cucu, saya melihatnya ibu tadi setiap pagi mengajak cucunya berjalan-jalan, jika salah satu putranya berkunjung dan menginap di rumahnya. Suatu ketika saya mendengar kesehatan ibu tadi menurun. “Sakit apa?” tanya saya ke asisten rumah tanggaku, yang kebetulan memberi kabar. “Katanya ada tumor di kepala nya bu,” jawab asisten rumah tanggaku. Karena kesibukan saya, tak sempat menengok saat dioperasi di RSCM. Kemudian, suatu pagi, saya melihatnya jalan-jalan, rambut mulai tumbuh di kepalanya, yang harus di gundul saat mau dioperasi. Kami bertegur sapa, senang melihatnya kembali bugar, sebelum saya melanjutkan berjalan menuju ke tempat kerja.

Betapa kagetnya saya, saat mendengar, ternyata tumor di kepalanya tumbuh lagi dan ganas. Setelah itu berulang kali dia terpaksa dirawat di rumah sakit. Saya menengoknya, saya pegang tangannya …. terasa panas. Hati saya trenyuh, si bungsu menunggu ibunya, di sela-sela pekerjaan nya yang makin padat. Lama saya tak mendengar kabarnya, karena ibu tadi akhirnya tinggal bersama salah satu putra dan menantunya. Kemudian asisten rumah tanggaku mengabari lagi kalau ibu tadi kembali masuk rumah sakit. Kebetulan saya lagi flu berat, sehingga tak berani menengok, kawatir malah menulari penyakit.

Minggu siang, saya mendengar ibu tadi telah kembali ke pangkuan Nya…. saya terhenyak. Saya menunggu kabar, akan disemayamkan kemana, karena saya tak tahu alamat putranya. Kabar terakhir,  rumah di dekat rumahku telah dijual…maksudnya agar nanti bisa beli rumah lagi yang bisa dekat dengan rumah putra-putra nya. Namun Tuhan berkehendak lain …syukurlah pembeli rumah memperkenankan jenazah ibu tadi disemayamkan di rumah yang telah dijual, sehingga saudara dan teman-teman dekatnya bisa berdoa dan mengantarkan ibu tadi ke peristirahatan terakhir.

Ada hal yang membuatku berpikir, bahwa pada akhirnya kita akan sendirian. Saat anak-anak kecil, kita berkutat mendidik dan merawat anak-anak agar mereka nanti menjadi seorang yang mandiri. Saat anak-anak berkeluarga, orangtua akan tinggal sendiri. Hal ini memang tak bisa dihindarkan, karena anak-anak kita perlu berjuang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Keberadaan tetangga, asisten rumah tangga yang baik, menggantikan peran anak-anak kita, yang belum tentu tinggal di dekat kita.

Iklan

Responses

  1. aduh.. ikut berduka cita ya bu…
    sekaligus tersentil ama paragraf yang paling bawah… 😦
    itu juga yang selalu jadi pikiran saya bu… pengennya sih bisa selalu deket ama orang tua di masa tua mereka… tapi ya gimana lagi ya.. mereka saya suruh pindah kemari gak mau… 😦

  2. Ikut belajar hidup bertetangga dari postingan ini ibu. Rasa sumeleh yang alm ibu tetangga bu Enny miliki sungguh luar biasa, keiklasan beliau menerima bagiannya jadi sarana berkat bagi sesiapapun yang diperjumpakannya.
    Permenungan di bagian akhir amat menyentuh, kembali sendiri lagi…
    Selamat berakhir pekan ibu. Salam

  3. Turut berduka cita untuk si ibu tetangga yg baik itu, salut dengan ketegarannya… Oya bu… selamat menjalankan ibadah di bulan penuh barokah ini kagem Bu Enny & keluarga.. 🙂

  4. sedih mendengar ceritanya..

  5. ikut berduka bu..

    ya pada akhirnya ketika anak2 dewasa hanya kita yang ada di rumah, semoga nanti saya sesehat ibu yang masih terus beraktifitas, biar nggak terasa sepi bu

  6. ya.. bener banget ya Bu.. saya juga kadang berpikir begitu setiap kali melihat perjalanan hidup rangtua… Dan suatu saat giliran itupun akan tiba pada kita. Ikut berduka cita atas berpulangnya tetangga ya Bu..

  7. Ikut terenyuh, Bu. Segalanya memang akan kembali pada-Nya pada saatnya. Saya juga ingin nantinya tinggal bareng orangtua di masa tua mereka.

  8. sedih bu ceritanya, jadi berpikir kami termasuk yg beruntung diberi kesempatan merawat mama kami yg sdh sepuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: