Oleh: edratna | Oktober 20, 2013

Bermain sambil melatih si Kecil

Mendidik si kecil sebaiknya dimulai dari rumah, dari kegiatan sehari-hari. Memang mudah mengatakannya, namun tak mudah untuk menjalankannya. Apalagi jika di rumah terdiri dari berbagai orang, yang sifat dan kebiasaan nya berbeda-beda, namun demi kebaikan si kecil perlu dibuat aturan yang tegas. Si Kecil, yang merupakan cucu pertama saya, sekarang lagi lucu-lucu nya dan sangat cerewet, setiap hal ditanyakan dan sebagai orang yang lebih tahu harus bisa menjelaskan sesuai kemampuan pemahaman si anak. Kebiasaan setiap hari juga harus diterapkan dengan disiplin, namun dengan kasih sayang sehingga si Kecil tidak stres dalam mengikutinya. Sejak beberapa bulan lalu, si kecil telah mulai sekolah, disini juga perlu ada diskusi terus menerus antara guru dan orangtua, agar apa yang telah dipelajari di sekolah secara konsisten diterapkan di rumah.

Di sekolah, si Kecil diajar untuk berbagi, dan makan bersama. Saat makan, anak-anak mengambil sendiri makanannya, dan jika makanan yang diambil banyak, maka si anak harus bertanggung jawab untuk menghabiskannya. Ternyata hal ini berpengaruh besar sekali, si Kecil setiap kali hanya mengambil makanan sedikit, namun jika makanan tersebut cocok, dia bisa bolak-balik sampai tiga kali untuk mengambilnya. Kehidupan si kecil juga lebih teratur. Karena sekolahnya pagi, maka sekitar jam 19.30 wib, si kecil telah meminta untuk gosok gigi, cuci tangan dan kaki, ganti baju dan bersiap tidur, karena besok jam 6 pagi sudah harus bangun. Pak Bajaj akan menjemput antara jam 07.15-07.30 wib, jika dikondisikan sejak awal, si Kecil pagi-pagi dengan senang hati akan sarapan,  menyiapkan tas yang akan dibawa ke sekolah, dan melambaikan tangan pada babe dan bunda.

Belajar mengisi ketupat, belepotan tidak apa-apa

Belajar mengisi ketupat, belepotan tidak apa-apa

Menjelang Idul Adha, si Kecil ikut sibuk membantu mbak Ti di dapur. Mbak Ti membuat ketupat dan lauk pauknya. Si Kecil belajar untuk memasukkan beras yang sudah dicuci ke dalam ketupat. Si Kecil diberi pisau mainan, kemudian oleh mbak Ti diberi satu kacang panjang, dan si Kecil mulai belajar memotong sayuran tersebut. Lucu sekali melihatnya, mengingatkan saya saat anak-anak saya masih kecil dulu. Dan betapa senangnya, setelah ketupat yang dimasak matang, si Kecil makan ketupat dan opor ayam dengan lahap.

Aku bisa dong isi ketupat

Aku bisa dong isi ketupat

Deg-deg an juga melihat si Kecil mulai menguap

Deg-deg an juga melihat si Kecil mulai menguap

Pagi hari, si Kecil ikut bangun pagi karena mau sholat Iedul Adha. Selama ini, di sekolah telah diajarkan sholat berjamaah, dan sering sekali si Kecil ikut sholat Magrib bersama Yangti. Karena ini pertama kali nya si kecil ikut sholat Ied, maka kami sengaja mengambil posisi yang di luar (bukan di dalam masjid) serta paling belakang. Rupanya si Kecil bisa menikmati sholat, bahkan mendengarkan khotbah sampai sepertiganya, setelah itu si Kecil terlihat resah, sehingga oleh bunda diajak pulang duluan.

Saya teringat anak saya saat seumuran si kecil, saat itu belum mengenal pampers, saat rukuk,  anak saya dengan tenangnya pipis di depan saya….batal deh sholatnya. Saya hanya bisa duduk, tanpa melanjutkan sholat, dan saat imam melakukan khotbah, baru saya berani bangkit mengajak anak saya ke WC untuk mengganti celana nya. Sekarang telah ada teknologi pampers, sehingga kejadian seperti dengan anak saya tak terulang lagi.


Responses

  1. Wah kecil kecil udah bisa bantu biking ketupat, kemaren ini daku dapat kiriman ketupat, asik bangets .ha..ha.ha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: