Oleh: edratna | Oktober 23, 2013

Apakah anda masih langganan koran dan majalah?

Saat masih di kota asalku, koran langganan datang sore hari, jadi kalau sore, ayah akan sibuk membaca koran yang baru datang sambil minum teh atau kopi. Langganan ayah adalah “Kompas”, dan kami suka rebutan cerita bersambung yang selalu ada di Kompas. Membaca koran ini masih saya lakukan sampai saat ini, bedanya saya menerima koran “Kompas’ pagi-pagi sekali, dan seminggu sekali menerima “Kontan.” Ada beberapa temanku, yang setelah ada internet, hanya membeli koran sesekali, karena membaca di internet beritanya bisa update terus. Namun bagi saya, kalau nggak baca koran di pagi hari rasanya ada yang kurang, ibaratnya seperti belum minum teh pagi hari. Jika waktu libur (Sabtu-Minggu) dan tak ada acara keluar rumah, nikmatnya baca koran sambil  duduk santai, atau tiduran…. dan bunyi kresek-kresek nya itu yang ngangeni.

Secara pribadi, saya mulai langganan koran Kompas saat job training di Sidoarjo akhir tahun 70 an, mengapa saya langganan koran sendiri, karena pemilik rumah saat itu langganan nya koran Suara Pembaharuan. Setelah menduduki jabatan tertentu, saya dapat memilih koran yang akan dibayar oleh kantor. Karena sering tugas keluar kota, saya memilih langganan koran yang di kantor Bisnis Indonesia, sedang yang diantar ke rumah dengan biaya sendiri, tetap koran Kompas.

Namun sekarang lagi ada masalah sama tukang koran. Selama ini koran diantar pagi-pagi sekali, selepas Subuh, jadi pagi-pagi sebelum keluar rumah sudah baca koran. Sejak akhir September, kedatangan koran suka terlambat. Sempat terhenti lima hari, setelah saya telepon, dia bilang sakit, dan pegawainya keluar. Saya agak bingung, mungkin dia mengerjakan semuanya sendiri. Saya pikir, nggak tega juga memutus langganan.

Setelah kosong 5 (lima) hari, koran kembali normal selama seminggu, … ehh kemudian nggak diantar lagi. Padahal saya sangat membutuhkan berita, apalagi saya kurang suka mendengarkan berita dari TV, sedang dari koran on line tidak lengkap. Apaboleh buat, terpaksa saya menelepon, menghentikan langganan … dan mencari agen koran yang lain, yang  bisa mengantar koran ke rumah pelanggan pagi-pagi sekali.


Responses

  1. Ayah saya di rumah masih langganan Kompas sampai sekarang, Bu. Kalau di rumah juga saya lebih suka baca versi cetak ketimbang versi elektroniknya. Apalagi bacanya sambil ngemil, hehehe

  2. Saya type yang suka baca koran online soalnya bisa akses dari henpon dan ga harus beli Bu😀

  3. Tega gak tega sih, Bu. Mending pindah agen kalau begitu memang.

    Saya termasuk yang jarang baca koran, Bu. Dua tahunan lalu barangkali, masih suka baca koran edisi online, Media Indonesia dan Tempo. Tetapi begitu mereka mengubah format untuk yang edisi online-nya, jadilah tidak baca lagi. Di kantor langganan Kompas, tapi saya malas baca. Untuk majalah, saya kadang beli National Geographic. Kalau dulu langganan majalah Vector, dari edisi pertama sampai akhirnya gulung tikar.

  4. Daku malahan sudah bayar langganan kompas 3 tahun kedepan, soale dapat hadiah sepeda bagosss…hi.hi.hi.

  5. sejak pindah sini saya gak pernah langganan koran lagi.
    kalo majalah sih masih langganan kalo pas dapet good deal. kalo pas esther lagi mesen softlense online tuh suka dapet good deal buat langganan majalah2 (bisa up to 4 different magazines), harga langganannya cuma $2 buat 1 th. murah banget kan bu… hampir gratis. hehehe.

  6. Salam bu…
    mudah2anmasih ingat dengan delia🙂

    aq juga tetap langganan koran walau media online memberikan informasi yg luas.. karena baca koran sambil minum teh/ makan mie instan itu ada seni nya.. hhehehe… jadi aq dukung bu ratna ganti agen dari pada nunggu2 gak jelas.. tq

  7. saya beli koran akhir pekan aja bu, atau kalau hari kerja belinya pas isi bbm, di spbu dan juga halte busway tertentu harga Kompas cuma 2 ribu, setengah harga dibanding beli di tempat lain

  8. Ah baca ini jadi ingat almarhum Papa. Papa dulu langganan koran bahkan saat keadaan ekonomi sangat tidak menyenangkan sekalipun. Dan dia juga punya loper langganan yang bahkan sampai seminggu setelah Papa meninggal masih kirim hingga akhirnya distop Mama karena memang tak ada lagi yang membacanya…

    Aku jadi pengen nulis tentang ini, Bu🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: