Oleh: edratna | Oktober 31, 2013

Nonton “Gravity” dan “The Butler”

Sekitar dua minggu yang lalu, saya membaca resensi film di Kompas …”Wahh, film bagus ini“, pikir saya. Saya memberi tahu anak saya, namun biasanya acara bagus apapun bisa terlewat, karena untuk pergi keluar rumah saat ini memerlukan persiapan yang cukup, karena macet dimana-mana. Mendengar teman di Bogor bisa nonton Gravity rame-rame, rasanya iri …. tapi apa boleh buat, ada banyak kegiatan yang tak bisa ditinggal. Jadi setelah lewat dua minggu sejak ada resensi di Kompas, saya masih belum sempat nonton. Bahkan hari Minggu yang kosong acara, saya lalui di rumah, karena sehari sebelumnya acara sudah padat.

Imax Ganci

Imax Ganci

Awalnya cuma iseng-iseng mengobrol, bagaimana kalau kita nonton pas jam istirahat, dan setelah itu kembali bekerja? Ternyata pas waktunya berangkat,  hujan deras mengguyur, padahal film “The Butler” yang dekat dengan daerahku tinggal di Plaza Senayan, sedang di Gandaria City (Ganci) yang masih tayang adalah “Gravity”.

Jadi pertama-tema kami nonton Gravity di Ganci, dan ini pertama kalinya saya nonton di Ganci, padahal saya sempat bekerja di kantor, yang gedungnya menyambung dengan Ganci selama dua tahun. Karena film  Gravity mulai main jam 13.15 wib, kami sempat makan dulu dan sholat Dhuhur, baru berangkat. Bioskop 21 terasa lengang karena hari kerja, saya bersama teman segera membeli karcis, kemudian beli popcorn dan teh leci hangat.

Terpaksa dobel kacamata-kacamata minus dan kacamata 3D

Terpaksa dobel kacamata: kacamata minus dan kacamata 3D

Memasuki gedung bioskop, kami mendapatkan kacamata hitam, karena kami menonton di Imax. Ceritanya tentang Dr. Ryan Stone yang dimainkan oleh Sandra Bullock, yang melakukan misi pertamanya menggunakan pesawat ruang angkasa. Dr. Ryan Stone ditemani oleh Matt Kowalsky (George Clooney).  Kejadian lepasnya salah satu satelit, menghancurkan pesawat ulang alik mereka, pada saat mereka sedang melakukan spacewalk (berjalan-jalan di luar angkasa). Selanjutnya penonton diajak merasakan ketegangan yang terus meningkat, apalagi menonton di layar 3 D, yang serasa sangat dekat dengan kita.

Pemandangan bumi dari luar angkasa sungguh indah…. benar-benar untuk menonton film ini diperlukan layar lebar. Saya bukan ahli untuk menuliskan resensi film, namun menurut pendapat saya, film ini menggunakan teknologi yang bagus, dengan musik yang tepat, walau pemainnya hanya 2 (dua) orang, namun penonton diajak ikut serta dari awal sampai akhir.

Ternyata besoknya, teman yang lain ingin menonton “The Butler” dan kali ini ganti saya  yang ditraktir…..wahh asyiik….. Dan kembali lagi, menjelang berangkat hujan mulai turun, tapi kali ini hujan yang turun tak menghambat perjalanan kami. Ternyata memasuki jalanan di depan Binus cuaca terang benderang, tak terlihat sisa-sisa air hujan. Memasuki Plaza Senayan, pengunjung tak terlalu ramai karena masih jam kantor. Kami langsung menuju lantai P5, setelah membeli tiket, kami turun kembali ke mushola untuk sholat Dhuhur. Kembali ke bioskop 21, karena nggak sempat makan siang, kami membeli nachos, fish n Chips, dan teh panas leci 2 (dua) buah. Kami memasuki gedung bioskop yang relatif sepi, selain hari kerja, juga film ini sudah beredar lebih dari satu minggu.

Film “The Butler” dibuka dengan pemandangan perkebunan kapas di daerah Georgia, yang mengingatkan saya pada film “Gone with the wind“. Digambarkan bagaimana orang kulit hitam mendapatkan pelecehan dari majikan kulit putih, yang membuat suami wanita kulit hitam mempertanyakan kejadian tersebut pada majikannya dan mendapat hadiah tembakan pistol di kepala, di depan anak laki-laki nya yang ikut membantu di perkebunan kapas tersebut. Selanjutnya majikan kulit putih yang tergerak hatinya, mengajak bocah laki-laki ini untuk diajari menjadi pelayan di rumah, diajar cara menyajikan makanan dan minuman. Saat remaja, bocah laki-laki ini (Cecil Gaines), meninggalkan perkebunan kapas, yang kemudian ditolong orang kulit hitam saat kelaparan dan mencuri roti di sebuah hotel. Disini Cecil dilatih menjadi pelayan, yang kemudian mendapat tawaran bekerja di sebuah hotel di Washington DC, menggantikan bosnya yang merasa telah nyaman tinggal di kota kecil.

Akhirnya Cecil Gaines makin dikenal sebagai pelayan yang baik, yang membuat dia ditawari pekerjaan di Gedung Putih, melayani sejak Presiden Lyndon B. Johnson, sampai akhirnya mengundurkan diri saat presidennya dijabat oleh Ronald Reagan, setelah sempat melayani 8 (delapan) presiden. Peran Presiden Ronald Reagan yang dimainkan oleh Alan Rickman, dan Nancy Reagan yang dimainkan oleh Jane Fonda sangat bagus dan mirip sekali. Pemain utama Cecil Gaines dimainkan oleh Forest Whitaker, berpasangan dengan Oprah Winfrey (Gloria Gaines) sungguh memukau. Peran yang dimainkan sejak usia muda sampai dengan usia tua ini digambarkan dengan tepat, didukung oleh tata rias yang sesuai.

Konflik yang dialami Cecil Gaines, karena harus bekerja penuh di Gedung putih sebagai pelayan, meninggalkan isteri seharian di rumah yang kesepian dan kemudian kecanduan alkohol, serta anak-anak yang menjadi remaja, sungguh mengingatkan saya bahwa peran orangtua memang berat. Anak pertama Cecil Gaines menjadi “Pengendara Kebebasan” yang sering demo, ditangkap, dipukuli, masuk penjara, demi memperjuangkan kesetaraan hak orang kulit hitam. Disatu sisi anak keduanya menjadi tentara yang ditugaskan ke Vietnam. Dua sisi cinta negara yang sangat berbeda, digambarkan dengan bagus, berupa konflik dan ketegangan orangtua bersama anak.

Mungkin saya kurang tepat untuk menilai sebuah film, bahwa terlepas dari “Gravity ” mendapat rating lebih baik, dibanding “The Butler“,  bagi saya “The Butler” lebih mengena di hati saya, terutama bagi saya yang anak-anak nya telah dewasa. Betapa sering kali terjadi perbedaan pendapat antara orangtua dan anak, namun akhirnya akan ada pemahaman setelah berlangsung sekian lama, walau pemahaman ini seringnya memakan korban, kalau bukan korban jiwa, namun korban waktu dan tenaga. Betapapun, sebagai manusia, kita terkadang harus melalui proses yang menyakitkan untuk bisa memahami orang-orang lain, bahkan dengan orang yang terdekat dengan kita.


Responses

  1. Wah ibu sedang ‘jalan-jalan’ bersama nonton film nih. Komen OOT…Gancy … jadi ingat habis tilik Mas Tengah dan main ke Gancy, kapan-kapan kontak ibu Enny ah. Salam

  2. Daku sih pengen nonton The Butler, kayaknya sesuai dengan hati deh🙂

  3. Terima kasih Bu, resensi filmnya, lumayan untuk modal pencarian film yg bagus buat sabtu besok😉

  4. pengen banget nonton gravity nih tapi belum kesampean….😦

  5. wah jadi kepingin nonton bu, mudah-mudahan filmnya masih tayang

  6. di Ganci ada Imax nya ya bu…, telat banget aku nih..
    jadi pengen nonton di sana..

  7. Di batam sepertinya belum ada bu filmnya…
    tapi dari resensinya jadi tahu … mudah2an bisa nonto🙂

  8. Di Sydney ada IMAX dengan layar terbesar di dunia… 🙂 Gravity memang TOP, Bu🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: