Menonton film “Soekarno”

Sejak berminggu yang lalu saya menunggu beredarnya film ini, apalagi film ini sutradaranya Hanung Bramantyo, yang merupakan salah satu sutradara favorit saya. Film-film Hanung yang telah saya tonton adalah: Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah. Anak dan menantu saya nonton sejak awal pertama film ” Soekarno” ditayangkan, karena kawatir film yang disutradarai Hanung ini tak jadi ditayangkan.

Rencana awal, saya mau nonton hari Sabtu, apa daya badan lelah sekali karena malamnya baru pulang dari Bali. Minggu pagi itu cuaca cukup cerah, saya dan keluarga menuju Pejaten Village. Anak saya langsung ke Gramedia, setelah sebelumnya mengantar saya ke bioskop 21. Lobby bioskop penuh sekali, rupanya banyak orang tua dan anak-anak antri beli makanan. Walau lapar, saya terpaksa menunda makan karena waktu tak cukup. Saya memesan tiket untuk duduk paling belakang tengah.

Lanjutkan membaca “Menonton film “Soekarno””

Menyusuri Pantai Bali dengan “Bounty Cruises”

Kapal pesiar di pelabuhan Benoa
Kapal pesiar di pelabuhan Benoa

Setiap kali mengikuti seminar, yang kemudian ada acara makan-makan di atas kapal, kebetulan saya dan teman selalu sudah punya acara sendiri. Kali ini, saat ada Konferensi Nasional Profesional Manajemen Risiko di Denpasar, pada sore hari nya ditawari ikut acara menyusuri pantai Bali untuk melihat sun set dengan kapal pesiar (Bounty Cruises), dan makan malam di kapal.

Kebetulan saat itu kami belum punya acara yang lebih menarik, dan apa salahnya ikut pesiar menyusuri pantai Bali. Jika siang harinya saat istirahat saya dan teman sempat menyusuri jalan Tol Benoa-Nusa Dua yang lokasinya di atas laut, maka malam harinya ingin mencoba menyusuri pantai Bali dengan kapal pesiar. Dan ternyata merupakan keputusan yang tak disesali karena acaranya sungguh menarik, apalagi berlayar bersama teman-teman yang baru dikenal selama acara seminar.

Lanjutkan membaca “Menyusuri Pantai Bali dengan “Bounty Cruises””

Semalam menginap di Kebun Raya Bogor

Rumah tempat kami menginap di Kebon Raya
Rumah tempat kami menginap di dalam Kebon Raya

Saat kami merencanakan Field Day ke Bogor-Darmaga, yang dipikirkan adalah  akan menginap dimana. Apakah tidur di hotel, atau di wisma Balai Penelitian Perkebunan? Kami lupa, bahwa teman kami,  mempunyai rumah dinas yang terletak di dalam Kebun Raya Bogor, persis di sebelah Cafe Dedaunan.

Pertanyaan nya, apakah Wati tidak repot menerima tiga nini ceriwis menginap di rumahnya, ditambah teman yang lain yang akan mengobrol sampai malam? Rupanya Wati punya bik Iyem yang serba bisa, yang masakannya enak, jadi akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah Wati. Saat acara mengunjungi kampus IPB Darmaga, Wati tak sempat bergabung, karena menjadi moderator di acara seminar LIPI, dan baru bisa bergabung saat nonton bareng di Botanical Square.

Lanjutkan membaca “Semalam menginap di Kebun Raya Bogor”

Mengunjungi mantan guru yang mengajar 37 an tahun lalu

Kami mulai kuliah di awal tahun 70 an, saat itu hubungan dosen dan mahasiswa sangat akrab, rasio dosen dibanding mahasiswa adalah 1:7. Sebagian dosen kami berasal dari warganegara asing. Kedekatan hubungan dosen dan mahasiswa ini, membuat kami merasa seperti berhubungan dengan ayah atau kakak sendiri. Apalagi setiap tahun mahasiswa yang diterima hanya 300 orang untuk 6 (enam) fakultas, itupun jika sudah mulai masuk departemen perbandingan dosen dibanding mahasiswa hanya 1:3.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi mantan guru yang mengajar 37 an tahun lalu”

Field Day Bogor-Darmaga

Bagaimana ya rasanya napak tilas ke Kampus setelah puluhan tahun lampau?  Gara-gara punya pemikiran ini, kami (3 orang perempuan dari Jakarta, serta tiga dari Bogor, serta dua laki-laki) merencanakan kunjungan ke Kampus IPB Darmaga. Kampus kami dulu di Baranangsiang, di samping Kebun Raya Bogor, jadi sebetulnya kami tidak menikmati kuliah di Darmaga, kecuali saat praktek lapangan, meninjau stasiun klimatologi, mencoba menyopir naik traktor dengan berakibat menabrak pohon karet ….ya, dulu di Darmaga hanya ada Fakultas Kehutanan dan terkenal hutan karetnya. Bahkan asrama putri Kehutanan, yang merupakan bangunan tempat tinggal administratur zaman Belanda dulu, terkenal banyak hantunya. Saya awalnya mau tinggal di asrama putri Kehutanan ini selama praktek lapangan sekitar 6 (enam) bulan, namun hanya tahan seminggu, dan akhirnya memilih berangkat jam 5.30 pagi dari Baranangsiang naik bis IPB yang menuju Darmaga (menjemput para dosen yang tinggal di Darmaga dan mengajar di Kampus IPB Baranangsiang), pulangnya naik angkutan Pedesaan yang suka ngebut. Saat itu jalanan dari Bogor ke Darmaga masih penuh ladang, dan angkutan yang ada hanya angkutan pedesaan.

Lanjutkan membaca “Field Day Bogor-Darmaga”